<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994</id><updated>2012-02-16T01:39:37.752-08:00</updated><category term='Nurul Ta&apos;aj'/><category term='Dokumentasi Video Alhabib Ali Albaar'/><category term='Catatan Agama'/><category term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><category term='Video'/><category term='Catatan koe'/><category term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><title type='text'>Catatan Koe</title><subtitle type='html'>Sekedar Catatan-catatanku..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-9085043560185157742</id><published>2011-01-06T02:26:00.000-08:00</published><updated>2011-01-06T02:33:20.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan koe'/><title type='text'>Kampanye Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TSWZpOv-9qI/AAAAAAAAAgI/TaZjE4Lo0uA/s1600/bismillah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TSWZpOv-9qI/AAAAAAAAAgI/TaZjE4Lo0uA/s200/bismillah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559018248671786658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bismillah ar-Rahman ar-Rahim&lt;br /&gt;Bismillah an-Nur&lt;br /&gt;Bismillah nur an-Nur&lt;br /&gt;Bismillah nur 'ala an-Nur&lt;br /&gt;Bismillah alladzi huwa mudabbir al-Umur&lt;br /&gt;Alhamdulillah alladzi Huwa bi al-'izzi madzkurun wa bi alfakhri masyhurun&lt;br /&gt;Wa 'ala as-Sarra'i wa adh-Dharra'i masykur wa shallallhu 'ala Sayyidina Muhammadin&lt;br /&gt;wa alihi ath-Thahirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, dengan menyebut nama Allah yang maha Pemurah/pengasih lagi maha penyayang. Kalimat suci ini rahasia hubungan antara hamba dan Allah yang maha agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah apa yang diungkapkan Imam Ali bin Abi Thalib tentang makna Bismillah.&lt;br /&gt;Sungguh manusia takkan mampu untuk menguasai makna yang terkandung di dalamnya dalam huruf ba' saja, dalam kata Bismillah, teramat banyak makna yang dibawanya hingga berkata Imam Ali, takkan cukup 40 unta untuk membawa penjelasan beliau akan makna huruf ba'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, adalah kalimat yang mengandung berkah serta rahmat Allah yang diturunkan oleh Allah kepada umat Islam lewat Baginda Muhammad SAW, yang diterangkan oleh beliau sebagai 'ruh' dari aktivitas kita baik dalam beribadah maupun kegiatan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan suatu kenyataan,dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim setan tak mampu mengganggu manusia, dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim api menjadi dingin dan menyelamatkan, dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim sungai tunduk tidak menenggelamkan, dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim tubuh menjadi kuat, dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim pula kunci surga bisa didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sahabat janganlah menganggap remeh dalam mengucapkan dan memaknai kalimat Bismillah ini, atau malah dengan sengaja 'membungkam' mulut dan hati kita dari kalimat Bismillah ini, karena sungguh tak patut dan meruginya kita. Apalagi tidak mempercayai kebenaran dan keajaiban Bismillah lalu melecehkan kekuatannya, sungguh ini merupakan ciri kerendahan hati dan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah adalah segalanya, karena begitu istimewanya kalimat ini, bersabda Rasulullah SAW, "Tatkala seorang guru mengajarkan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim kepada murid, Allah mencatat dalam buku catatan amal milik anak, ayah, ibu, dan guru keselamatan dari api neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keistimewaan lain dari Bismillah ar-Rahman ar-Rahim;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah lambang tauhid, sedang nama-nama selain Allah adalah lambang kekafiran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah lambang kekalan, dan apa saja lambang yang tidak memiliki warna ketuhanan adalah lambang kebinasaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah lambang kerinduan kepada Allah serta berserah diri kepada-Nya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah lambang keluar dari kesombongan dan meyatakan kelemahan di hadapan Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah langkah pertama dari penghambaan dan peribadahan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah lambang pengusiran setan, barang siapa selalu bersama Allah, setan tidak akan pernah bisa mempengaruhinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah hal yang menyucikan pekerjaan dan jaminan atas pekerjaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bismillah adalah lambang pengakuan seorang hamba, bahwa dia tidak pernah melupakan Allah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Banyak kisah yang tak terhingga mengenai faedah yang didapat manusia dimuka bumi ini karena kesungguhan dalam mengamalkan kalimat Bismillah ini yang patut kita teladani, dan banyak pula ayat-ayat Allah SWT yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini untuk diamalkan oleh para hamba-Nya, serta banyak pula hadits-hadits dari Baginda Nabi Muhammad SAW mengenai keistimewaan kalimat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu riwayat, Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;"Tatkala hidangan telah disediakan, 4000 malaikat mengelilingi makanan. Jika hamba Allah membaca Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, para malaikat berkata, 'Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian dan makanan kalian,' kemudian para malaikat mengusir setan. Jika setelah selesai makan hamba Allah membaca Al-Hamdulillah, para malaikat berkata, 'Mereka adalah dari golongan yang diberikan kenikmatan oleh Allah SWT lalu mereka mensyukurinya.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jika hamba Allah tidak membaca Bismillah, para malaikat akan berkata kepada setan, 'Hai fasik kemarilah dan makanlah bersama mereka.' Jika hamba Allah tidak mengucapkan Al-hamdulillah, malaikat akan berkata, 'Mereka adalah orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah SWT, tapi mereka tidak besyukur kepada-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja'far ash-Shadiq berkata, "Setiap kali seorang muslim hendak menikmati makanan dan hendak menyuapkan makanan lalu membaca Bismillah Wal Hamdulillahi Rabbil alamin, sebelum suap makanan masuk ke mulut, Allah telah mengampuni dosa-dosanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahamlah kita begitu besar pahala yang terkandung dari kalimat Bismillah ini, dan lebih besar lagi manfaat yang kita dapatkan di dunia dan akhirat apabila kita menghayati dengan kesungguhan hati dalam mengamalkannya, maka dari itu benarlah apa yang dikatakan oleh Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketahuilah malas beribadah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu ini disebabkan oleh empat hal: yang pertama, Kebodohan, cara mengatasinya dengan menuntut ilmu yang bermanfaat. Yang kedua, Lemah iman, cara mengobatinya dengan bertafakkur mengenai kekuasaan Allah di langit dan di bumi serta tekun beramal sholeh. Yang ketiga, panjang angan-angan, cara mengobatinya dengan mengingat mati dan menyadari bahwa kematian dapat datang setiap saat. Dan yang keempat, makan sesuatu yang syubhat, cara mengatasinya adalah dengan bersifat wara' dan sedikit makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan seperti ini sesuai dengan kisah munajat Nabi Daud kepada Allah SWT, dimana Beliau meminta agar Allah memberinya teman di surga. Kemudian terdengar seruan, "Esok hari keluarlah dari gerbang kota. Orang yang pertama engkau jumpai ia adalah temanmu di surga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Nabi Daud beserta putranya, Sulaiman keluar dari gerbang kota. Ia melihat seorang pria tua membawa seikat kayu bakar dari gunung untuk dijual. Pria tua itu, bernama Matta, berhenti di sisi gerbang kota seraya berteriak menawarkan kayu bakar, "siapa yang ingin membeli kayu bakar?" Seseorang datang dan membeli kayu bakar tersebut. Nabi Daud datang menghampirinya, memberi salam dan berkata, "apakah hari ini engkau bersedia menerima diriku menjadi tamumu?" "Tamu adalah kekasih Allah, silahkan." Pria tua membeli sejumlah gandum dari uang penjualan kayu bakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mereka tiba dirumah, pria tua lalu menggiling gandum untuk membuat tiga keping roti. Mereka lalu mulai menikmati hidangan yang ada. Pria tua senantiasa mengucapkan Bismillah setiap hendak memakan roti. Setelah ia selesai makan, ia mengucapkan Alhamdulillah. Setelah mereka selesai menikmati makan siang sederhana tersebut, pria tua mengangkat tangan kelangit berdo'a sambil menangis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah, kayu bakar yang kujual, engkau yang menanam pohonnya, kemudian engkau yang mengeringkannya, Engkau memberikan kekuatan menebang kayu bakar, Engkau mengirim pembeli yang membeli kayu bakar, dan terigu yang kami makan adalah Engkau yang menumbuhkan benihnya. Engkau beri kemampuan kepadaku untuk menggilingnya menjadi terigu dan memasaknya menjadi roti. Apa yang mampu aku lakukan dalam menghadapi kenikmatan ini yaa Rabb?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Daud memandang ke arah putranya dengan pandangan penuh makna. Inilah yang menyebabkan pria tua itu disatukan dengan para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah lain di jaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah dan tengah di dalam perjalanan menuju medan peperangan, disaat sedang beristirahat dan saatnya untuk makan siang, Beliau duduk dan membuka bungkusan belak beliau, didalam bungkusan tersebut terdapat bungkusan lagi, begitu seterusnya hingga Beliau mendapatkan sebuah roti kecil yang telah mengering. Dengan khidmat Beliau membaca Bismillah dan menyantap bekal bawaan Beliau hingga selesai membaca Alhamdulillah, para tentara anak buah Beliau yang memperhatikan dari kejauhan hal ini, berdiri menghampiri Beliau dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau makan makanan seperti itu, padahal perbelakalan kita banyak makanan yang lebih layak untuk anda nikmati daripada kami yang menyantapnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian Sayyidina Ali menjawab dengan tersenyum, Aku bersyukur dengan nikmat Allah terhadap roti yang kumakan barusan, karena aku sendiri yang bekerja mendapatkan upah untuk membeli gandumnya, dan aku tahu siapa yang mengolah serta memasaknya hingga tenang rasa hati ini dalam menyantap roti tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keadaan orang-orang beriman dalam mengamalkan Bismillah dengan sebenar-benar hati dan tindakan dalam mengamalkannya. Sesuai dengan anjuran Baginda Rasulullah SAW, "Paksalah dirimu dalam beribadah kepada Allah semaksimal mungkin dalam batas kemampuanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu marilah kita paksa segenap anggota tubuh kita dalam beribadah kepada Allah SWT dalam batas kemampuan diri kita masing-masing. Tentunya batas ini hanya kita dan Allah SWT yang tahu. Janganlah kita menyepelekan ibadah dengan beranggapan Allah maha penyayang, sungguh keadaan orang seperti ini adalah orang yang tidak mempunyai semangat akan mendekatkan diri kepada Allah. Padahal semangat mendekatkan diri kepada Allah adalah wadah taufiq dan taufiq berasal dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;InsyaAllah kita semua selalu menjaga dan mengamalkan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim baik di dalam diri masing-masing maupun mengingatkan terhadap keluarga, anak-anak kita dan teman-teman kita akan pentingnya kalimat yang membuka perkara tertutup, mempermudah kesulitan, pelindung kejahatan, meneymbuhkan penyakit hati dan menyelamatkan dari petaka pada hari kebangkitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, sesuai dengan sabda Baginda Nabi Besar Muhammad SAW,&lt;br /&gt;"Do'a yang diawali dengan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim tidak akan tertolak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahualam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alfaqir, Fahmi bin Ali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-9085043560185157742?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/9085043560185157742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/9085043560185157742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2011/01/kampanye-bismillah-ar-rahman-ar-rahim.html' title='Kampanye Bismillah ar-Rahman ar-Rahim'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TSWZpOv-9qI/AAAAAAAAAgI/TaZjE4Lo0uA/s72-c/bismillah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-6138197450579346939</id><published>2011-01-04T21:57:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T22:07:49.996-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><title type='text'>Ziarah keramat Luar Batang bersama Guru yang Mulia Al-Alamah Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidz bin Syech Abubakar bin Salim</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/havppk7Xm7Y?hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/havppk7Xm7Y?hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-6138197450579346939?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/6138197450579346939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/6138197450579346939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2011/01/ziarah-keramat-luar-batang-bersama-guru.html' title='Ziarah keramat Luar Batang bersama Guru yang Mulia Al-Alamah Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidz bin Syech Abubakar bin Salim'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-3733982222429152742</id><published>2011-01-04T21:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T21:55:28.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><title type='text'>Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Keramat Habib Kuncung</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Wa3oBzedC2o?hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/Wa3oBzedC2o?hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-3733982222429152742?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3733982222429152742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3733982222429152742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2011/01/maulid-nabi-besar-muhammad-saw-di.html' title='Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Keramat Habib Kuncung'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-8359851865493134637</id><published>2010-12-23T23:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-23T23:53:11.152-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Mengenal Waliyullah Alhabib Ali bin Ali Albar &amp; Alhabib Umar bin Abdurrahman Albar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TRRQ8z7AvPI/AAAAAAAAAf8/UefscpIzEBE/s1600/bismillah.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 141px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TRRQ8z7AvPI/AAAAAAAAAf8/UefscpIzEBE/s200/bismillah.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554153246114757874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mengenal Waliyullah Alhabib Ali bin Ali Albar &amp;amp; Alhabib Umar bin Abdurrahman Albar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alhabib Ali bin Ali Albar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama dijuluki (digelari) "Al-Bar" adalah Waliyullah Ali bin Ali bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal gelar yang disandangnya karena Waliyullah Ali bin Ali Al-Bar adalah seorang anak yang sangat ta'at (berbakti) kepada kedua orang tuanya dengan sebenar-benar ta'at yang jarang sekali bisa dilakukan oleh setiap orang. Perintah apapun dari kedua orang tuanya, sekalipun yang sukar (kecuali perintah menyekutukan Allah SWT) pasti akan dilaksanakannya (Sam'an Watha'atan). Maka beliau digelari "Al-Bar yang berarti kebaktian yang sangat luar biasa terhadap kedua orang tuanya. Salah satu contoh rasa hormatnya yang besar terhadap orang tuanya, Alhabib Ali tidak akan naik ke tingkat atas rumahnya apabila orang tuanya ada dibawah. Karena sangking ta'atnya beliau menganggap hal tersebut kurang sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waliyullah Ali bin Ali Al-Bar dilahirkan di kota Dau'an (Hadramaut). Dikaruniai 3 orang anak lelaki masing masing bernama : Abdullah, Abubakar, dan Husein. Dari ketiga anak beliau tadi hanya husein lah yang banyak keturunannya; dan diantara anak cucu Waliyullah Husein adalah Al-Imam Umar bin Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Ali Al-bar, seorang Waliyullah yang tersohor murid dari Al-Ghauts Al-Qutb Al Arifbillah Al Alamah Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad(yang wafat di Gerin Hadramaut pada tahun 1158 Hijriyah). Keturunannya Al-Bar banyak yang berada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waliyullah Ali bin Ali Al-Bar pulang ke Rahmatullah di Dau'an Hadramaut. Semoga Allah SWT memasukkan Beliau-Beliau ke dalam surga dan menghimpunkannya bersama-sama para Nabi, Syuhada, Aulia, Shalihin, dan kelak insyaAllah kita juga berkumpul bersama beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin yaa Rabbal Alamin..&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Biografi Leluhur Alawiyyin, alaminjogja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alhabib Umar Abdurrahman Albar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah sufi dan Zahid "Umar bin Abdurrahman Albar dilahirkan di Qarin, sebuah desa kecil di Hadramaut, Yaman pada 15 Jumad al-ula 1099 H. Beliau membuktikan hidupnya dengan berjuang melawan hawa nafsu, beribadah dan menulis. Beliau menimba banyak ilmu dari gurunya Al Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad, seorang tokoh pembaruan abad ke 17 M. Beliau mempelajari semua kitabnya hingga wafat gurunya pada 1132 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Alhabib Umar Abdurrahman Albar menempati tempat kedudukan yang tinggi dalam bidang ilmu. Kebiasaannya adalah bermukim selama satu minggu di Qarin, satu minggu di Khuraibah dan satu minggu beribadah di Syi'ib, sebuah desa kecil di Qarin. Disana beliau membangun sebuah masjid untuk beribadah dan mengajar pada etiap senin dan kamis, untuk pelajaran hadis, tasawuf dan biografi Rasul SAW (Sirah). Pada hari hari lain beliau memberi pelajaran umum lainnya pada waktu antara Dhuhur dan Maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara murid-muridnya yang menonjol, antara lain :&lt;br /&gt;- Hasan, Abdurrahman dan Thaha (anak2 beliau).&lt;br /&gt;- Al-Allamah Ahmad bin Abdurrahman Albar (saudara beliau).&lt;br /&gt;- Al-Allamah Ali bin Hasan AlAttas (Ulama yang bermukim di Masyhad).&lt;br /&gt;- Al-Allamah Muhammad bin Zain bin Smith.&lt;br /&gt;- Al-Allamah Segaf bin Muhammad bin Umar Assegaf.&lt;br /&gt;- Al-Allamah Muhammad bin Abdul Bari Al-Ahdal (Ulama yang bermukim di Zabid).&lt;br /&gt;- Al-Allamah Sayyid Abdurrahman Al-Mirghani (Ulama dari Mekah).&lt;br /&gt;- Al-Allamah Sayyid Isma'il bin Abdullah AnNaqsyabandi (Ulama dari Medinah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau melaksanakan Ibadah Haji dan berziarah ke Madinah pada 1143 H. Dan wafat di Khuraibah pada 30 Rabiul Awwal 1158 H. Semoga Allah merahmati dan melapangkannya. Dan kelak InsyaAllah, kita berkumpul bersama beliau sebagai pencinta Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin yaa Rabbal Alamin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: "Adz-Dzikr al-Jami' wa al-wird an-Nafi' (Alhabib Umar bin Abdurrahman Albar)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-8359851865493134637?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8359851865493134637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8359851865493134637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2010/12/mengenal-waliyullah-alhabib-ali-bin-ali.html' title='Mengenal Waliyullah Alhabib Ali bin Ali Albar &amp; Alhabib Umar bin Abdurrahman Albar'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TRRQ8z7AvPI/AAAAAAAAAf8/UefscpIzEBE/s72-c/bismillah.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-3500322851038110929</id><published>2010-12-18T14:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T14:13:21.795-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurul Ta&apos;aj'/><title type='text'>Nurul Ta'aj Video - Opening Majelis (Hb. Helmy BSA)</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/CXUeBBmLcMo?fs=1" width="425" frameborder="0" height="344"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-3500322851038110929?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3500322851038110929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3500322851038110929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2010/12/nurul-taaj-video-opening-majelis-hb.html' title='Nurul Ta&apos;aj Video - Opening Majelis (Hb. Helmy BSA)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/CXUeBBmLcMo/default.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-8858502103392405346</id><published>2010-12-18T14:08:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T14:09:46.769-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurul Ta&apos;aj'/><title type='text'>Nurul Ta'aj Video Trailer Ramadhan 1431H</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/lB_RlX6VePk?fs=1" width="425" frameborder="0" height="344"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-8858502103392405346?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8858502103392405346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8858502103392405346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2010/12/nurul-taaj-video-trailer-ramadhan-1431h_18.html' title='Nurul Ta&apos;aj Video Trailer Ramadhan 1431H'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/lB_RlX6VePk/default.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1586338294821851416</id><published>2010-12-04T08:16:00.000-08:00</published><updated>2010-12-04T08:36:54.070-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Rindu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TPprFrO4tpI/AAAAAAAAAcI/69fPeWQn_s8/s1600/Almunawar_2006_11.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TPprFrO4tpI/AAAAAAAAAcI/69fPeWQn_s8/s200/Almunawar_2006_11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546863636308866706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wahai Allah..&lt;br /&gt;wahai yang menamakan diri Nya Allah..&lt;br /&gt;wahai yang menginginkan nama Nya dipanggil Allah..&lt;br /&gt;wahai yang menginginkan lidahku memanggil Dzat Nya dengan panggilan Allah. wahai yang menginginkan aku mengharapkan Nya dg mengingat nama Allah. Wahai yang menciptakan lidahku bergetar menyebut Nama Allah.. Wahai yang memberikan kemampuan pada jemariku menuliskan nama Allah.. Maka dengan kemauan Mu kusebut namamu Allah.. Dengan keinginan Mu kurindukan Engkau Allah.. Dengan keinginan Mu aku ingin dekat kepada Mu wahai Allah.. Salahkah aku berkeinginan,  salahkah aku merindukan,  salahkah aku ingin dekat,  sedangkan semua getaran kalbuku itu adalah keinginan Mu wahai Allah.. Maka sebagaimana Kau jadikan cacing merangkak tanpa tangan dan kaki,  maka jadikan aku merangkak kepadamu tanpa hambatan. Sebagaimana Kau jadikan anjing najis bertasbih mensucikan Mu, maka jadikan aku pendosa hina yang mendambakanmu. Sebagaimana Kau jadikan air mengalir menjadi beku, maka jadikan harapanku mengalir kearah Mu dan membeku dipintu Mu. Sebagaimana Kau jadikan gunung batu menjadi debu, maka jadikan seluruh kesalahanku menjadi debu dihadapan Keagungan Mu. Sebagaimana Kau jadikan bumi perkasa terinjak injak, maka jadikan hawa nafsuku terinjak injak kerinduanku kepada Mu. Sebagaimana Kau jadikan Raja berwibawa terkalahkan dan terhinakan, maka jadikan kesombonganku terhinakan oleh kewibawaan Mu. Sebagaimana kau jadikan sesuatu yang bergerak menjadi diam, maka jadikan tubuhku yang bergerak berubah diam dari segala yang tak Kau ridhai. Sebagaimana Kau jadikan semua yang ada menjadi fana, maka jadikanlah gunung dosa ini fana dalam kelembutan Mu, sebagaimana Kau jadikan yang tak mungkin menjadi kepastian, maka Jadikan semua ketidak mungkinanku untuk dekat menjadi janji kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah aku merindukan Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan kerinduanku pada Mu, Salahkah aku menginginkan dekat pada Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan keinginanku untuk dekat kepada Mu, salahkah aku merasa tenggelam dalam samudra Kelembutan Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan perasaan itu dihatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhabib Munzir bin Fuad Almusawa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1586338294821851416?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1586338294821851416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1586338294821851416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2010/12/rindu.html' title='Rindu...'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TPprFrO4tpI/AAAAAAAAAcI/69fPeWQn_s8/s72-c/Almunawar_2006_11.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-780780358733013389</id><published>2010-11-26T13:18:00.001-08:00</published><updated>2010-11-27T00:29:42.713-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Hakekat Haji &amp; Umrah</title><content type='html'>Hakekat Haji &amp;amp; Umrah yang dimaksud disini adalah menyertakan NIAT DIHATI   (tempat sahnya sebuah ibadah), ketika akan memulai dan memasuki ibadah itu.  Bacaan NIAT yang di ucapkan dengan LIDAH (lisan) itu, sifatnya sunnah dalam membantu hati untuk meneguhkan Niat ibadah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOHNYA : Sahnya wudhu adalah Niat di hati, bersamaan pada saat membasuh muka. Dan sahnya  shalat itu terletak pada NIAT dihati ketika TAKBIRATUL IHRAM (Mulai dari huruf Alif sampai pada huruf Ra pada lafad: ALLAHU AKBAR) – demikian pula pada ibadah-ibadah lainnya. Termasuk pada setiap rukun-rukun ibadah Haji &amp;amp; Umrah. Seperti pada saat Memasuki Miqat, Memakai Ihram, Bertalbiyah, Saat Wuquf di Arafah, Mabit di Mudzdalifah, Memasuki Mina, Melontar Jumrah, Saat memulaiTawaf, Memulai Sa’i, dan lain-lain. Niat-niat yang dibaca sesuai petunjuk pada buku Manasik Haji &amp;amp; Umrah. masih termasuk amalan Sunnah, sementara Niat di Hati itulah tempat sahnya sebuah rukun ibadah. – wallahu ‘aalaam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;U M R A H&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.MANDI SEBELUM MEMAKAI IHRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAKNYA MENEGUHKAN NIAT MEMBERSIHKAN DIRI DARI SEGALA PELANGGARAN DAN DOSA KEPADA ALLAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.MEMASUKI  MIQAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEGUHKAN NIAT UNTUK BERHENTI DAN MENANGGALKAN SEMUA PAKAIAN MAKSIAT, DAN SEBAGAI GANTINYA KITA BERNIAT MENGGANTIKANNYA DENGAN PAKAIAN TAAT KEPADA ALLAH. SERTA MENANGGALKAN SEMUA SIFAT RIYA DAN NIFAQ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.KETIKA MANDI DAN BERIHRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK UMRAH ATAU HAJI, HENDAKNYA MEMANTAPKAN NIAT UNTUK MENGHARAMKAN ATAS DIRI ANDA DENGAN CAHAYA TAUBAT YANG TULUS KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA,. PADA SAAT YANG SAMA BERNIAT MELEPASKAN SEGALA KETERKAITAN KEPADA SELAIN  ALLAH SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.PADA SHALAT SUNNAH IHRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAKNYA ANDA BERNIAT SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK BERTAQARRUB KEPADA ALLAH. DENGAN AMALAN-AMALAN YANG UTAMA, YAITU SHALAT WAJIB  &amp;amp; SUNNAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.SAMPAI DI KOTA MEKKAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAKNYA ANDA BERNIAT BAHWA HANYA ALLAH SAJA SATU-SATUNYA TUJUAN ANDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.MEMASUKI MASJIDIL HARAM DAN MELIHAT KA’BAH SERTA SHALAT DI DALAMNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAKNYA MEMANTAPKAN NIAT, MENGHARAMKAN DIRI ANDA DENGAN PERGUNJINGAN TERHADAP KAUM MUSLIMIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII PADA SAAT TAWAF KELILING KA’BAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASTIKAN BAHWA ANDA BERNIAT UNTUK BERJALAN ATAU BERLARI MENCARI KEREDHAAN ALLAH. – ANDA HARUS BERUSAHA UNTUK MENGECUP HAJAR ASWAD, KARENA HAL ITU TERDAPAT SEBESAR-BESARNYA KEUTAMAAN DAN BARAKAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. MAQAM IBRAHIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAKNYA ANDA MANTAPKAN NIAT BERDIRI DIATAS JALAN KETAATAN KEPADA ALLAH DAN MENJAUHI SEGALA BENTUK MAKSIAT KEPADA-NYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. MENDATANGI SUMUR ZAM-ZAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MEMANDANG DAN MEMINUM AIRNYA, NIATKAN BAHWA ANDA MEMANDANG KEPADA SEMUA KEPATUHAN KEPADA ALLAH, SERTA MEMEJAMKAN MATA ANDA DARI SEGALA MAKSIAT KEPADA-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X. SA’I ANTARA SHAFA DAN MARWAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA ANDA BERJALAN PULANG PERGI DIANTARA KEDUANYA, HENDAKNYA ANDA NIATKAN MENEMPATKAN DIRI ANDA DIANTARA “HARAPAN AKAN BEROLEH RAHMAT ALLAH DAN KETAKUTAN AKAN MENGHADAPI AZAB ALLAH”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakekat Umrah hanya sampai disini – Selanjutnya adalah yang berkaitan dengan IBADAH HAJI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H  A  J  I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.ARAFAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDA KINI BERSIAP-SIAP KE ARAFAH, TELITI SEMUA PERLENGKAPAN YG ANDA BUTUHKAN SELAMA DI ARAFAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPAT MIQAT DAN MANDI SERTA BERIHRAM DARI PONDOKAN ANDA DI KOTA MEKKAH (BAGI YG SUDAH BERADA DI MEKKAH) NIATNYA SEPERTI YANG DILAKUKAN KETIKA UMRAH, HANYA NIATNYA DIGANTI DENGAN  “KATA HAJI”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAKNYA ANDA BENAR-BENAR BERMA’RIFAT KEPADA ALLAH  DAN MENGHAYATI BETAPA BESAR KEKUASAAN ALLAH TERHADAPMU. PERBANYAKLAH BERDZIKIR, MEMBACA AL QUR’AN SERTA BERDO’A KEPADA ALLAH UNTUK DIRI, KELUARGA SERTA ORANG YANG ANDA CINTAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASTIKANLAH BAHWA ANDA YAKIN TELAH DIAMPUNI ALLAH ATAS SEGALA DOSA-DOSA SERTA KESALAHAN ANDA SELAMA INI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.JABAL RAHMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MENDAKI JABAL RAHMAH, ANDA BERTEKAD DAN BERNIAT DENGAN SUNGGUH - SUNGGUH MEMPEROLEH  RAHMAT ALLAH SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.MUZDALIFAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MEMUNGUT BATU DI MUZDALIFAH HENDAKNYA ANDA BERNIAT MEBUANG JAUH-JAUH DARI DIRIMU SEGALA BENTUK MA’SIAT DAN KEJAHILAN KEPADA ALLAH SWT. KETIKA MABIT ITU HENDAKNYA ANDA SHALAT DUA RAKA’AT SEBAGAI RASA SYUKUR KEPADA ALLAH SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.MINA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MASUK DI MINA HENDAKNYA ANDA MENEGUHKAN NIAT AKAN BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH AGAR ORANG LAIN AMAN DARI GANGGUAN LISAN, HATI SERTA TANGAN ANDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.MELEMPAR JUMRAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA SAMPAI DI MINA UNTUK MELEMPAR JUMRAH HENDAKNYA ANDA BERKETETAPAN HATI BAHWA ANDA TELAH SAMPAI PADA TUJUAN, SERTA ALLAH SWT TELAH MEMENUHI SEGALA HAJATMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MELONTAR NIATKAN  BAHWA YANG ENGKAU LEMPAR ADALAH MUSUH BEBUYUTANMU SETAN DAN IBLIS DENGAN  MEMERANGINYA. SERTA TELAH SEMPURNANYA IBADAH HAJIMU YANG MULIA ITU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.TAHALUL AWAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH MELONTAR JUMRAH AQABAH. MAKA ANDA SUDAH BISA MENCUKUR RAMBUT ATAU TAHALUL KECIL. ATAU WAKTU TAHALUL AKHIR (WAKTU SELESAI SA’I). PADA SAAT YANG SAMA AGAR NIATKAN BAHWA ANDA TELAH MENCUKUR SEGALA KENISTAAN DARI DIRIMU. KINI ANDA KELUAR DARI DOSA-DOSA SEPERTI BAYI YANG BARU LAHIR DARI RAHIM IBUNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII.MEMOTONG/SEMBELIH QURBAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA SAAT MEMOTONG QURBAN, BERNIATLAH BAHWA ANDA TELAH MEMOTONG URAT NADI KETAMAKAN, KERAKUSAN, DAN BERPEGANG PADA SIFAT WARA YANG SESUNGGUHNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. TAWAF IFADHAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMBALI KE MEKKAH DAN MELAKUKAN TAWAF IFADAH, NIATKAN BERIFADHAH DARI RAHMAT ALLAH KEPADA KEPATUHAN KEPADA ALLAH, SERTA BERPEGANG KEPADA KECINTAAN HANYA KEPADA-NYA, MENUNAIKAN SEGALA PERINTAH-NYA, SERTA BERTAQARRUB KEPADA-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN : SEMUA RUKUN HAJI YANG SAMA DENGAN UMRAH LIHAT/IKUTI YANG ADA PADA RUKUN UMRAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:78%;"  &gt;DIKUMPULKAN DARI BERBAGAI SUMBER &amp;amp; DITULIS OLEH&lt;br /&gt;HABIB ALI MUHSIN ALBAAR – SYA’BAN 1430 H.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-780780358733013389?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/780780358733013389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/780780358733013389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2010/11/hakekat-haji-umrah.html' title='Hakekat Haji &amp; Umrah'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-3152135016142047796</id><published>2010-11-26T12:19:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T00:30:12.926-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Pengaruh Qur'an Terhadap Organ Tubuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TPAYH1rv-5I/AAAAAAAAAb4/zFptV1JOtqg/s1600/quran.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TPAYH1rv-5I/AAAAAAAAAb4/zFptV1JOtqg/s200/quran.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543957664241810322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur'an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur'an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur'an dalam pengulangan-pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:&lt;br /&gt;1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.&lt;br /&gt;2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab&lt;br /&gt;3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur'an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;detailnya disini&lt;br /&gt;&lt;a href="http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1427_0_4_0_M"&gt;http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1427_0_4_0_M&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur'an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama,  seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur'an. Oleh karena  itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara  Al-Qur'an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang  valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan Sungguh sudah  terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur'an pada  penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan  signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini  sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat  pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan  perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan  perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah  yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat&lt;br /&gt;( Al A'raaf : 204 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAHKAH ANDA MEMBACA &amp;amp; MENDENGARKAN AL-QUR'AN HARI INI ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazakallah&lt;br /&gt;_________________&lt;br /&gt;http://ccc.1asphost.com/assalamquran/&lt;br /&gt;http://ccc.1asphost.com/assalam/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-3152135016142047796?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3152135016142047796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3152135016142047796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2010/11/pengaruh-quran-terhadap-organ-tubuh.html' title='Pengaruh Qur&apos;an Terhadap Organ Tubuh'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/TPAYH1rv-5I/AAAAAAAAAb4/zFptV1JOtqg/s72-c/quran.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-4583100786822699507</id><published>2009-03-05T20:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T14:05:14.053-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurul Ta&apos;aj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokumentasi Video Alhabib Ali Albaar'/><title type='text'>Lailahaillallah Muhammadarrasulullah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCrXiOKRqI/AAAAAAAAANw/mB8wSykeyHE/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCrXiOKRqI/AAAAAAAAANw/mB8wSykeyHE/s200/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309932381481354914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.youtube.com/watch?v=7_OuT-6YPw0" onclick="yt.EventManager.fireEvent('PlayVideos', ['7_OuT-6YPw0']); return false;"&gt;Lailahaillallah Muhammadarrasulullah&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Alhabib Ali "sound" - Majelis Rasulullah&lt;br /&gt;di Nurul Taaj  Minggu 18 Januari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/7_OuT-6YPw0&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/7_OuT-6YPw0&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-4583100786822699507?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/4583100786822699507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/4583100786822699507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/03/lailahaillallah-muhammadarrasulullah.html' title='Lailahaillallah Muhammadarrasulullah'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCrXiOKRqI/AAAAAAAAANw/mB8wSykeyHE/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1244152413226439265</id><published>2009-03-05T20:34:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T14:04:47.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokumentasi Video Alhabib Ali Albaar'/><title type='text'>Tanggapan Penolakan Atas Siksa Kubur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCoaZSsOYI/AAAAAAAAANo/kCLj3Ejf9Rw/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCoaZSsOYI/AAAAAAAAANo/kCLj3Ejf9Rw/s200/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309929132089162114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanggapan Atas&lt;br /&gt;Penolakan Siksa Kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/xhn3AmiEbmM&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/xhn3AmiEbmM&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1244152413226439265?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1244152413226439265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1244152413226439265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/03/tanggapan-penolakan-atas-siksa-kubur.html' title='Tanggapan Penolakan Atas Siksa Kubur'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCoaZSsOYI/AAAAAAAAANo/kCLj3Ejf9Rw/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-4255352759796443824</id><published>2009-03-05T19:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T14:04:55.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokumentasi Video Alhabib Ali Albaar'/><title type='text'>Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCe4z4zmHI/AAAAAAAAANg/6Fi_qAYPsY8/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCe4z4zmHI/AAAAAAAAANg/6Fi_qAYPsY8/s200/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309918659508148338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanggapan seputar pertanyaan2 mengenai&lt;br /&gt;Maulid Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/ptl9o68o8jg&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/ptl9o68o8jg&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-4255352759796443824?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/4255352759796443824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/4255352759796443824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/03/tentang-maulid-nabi-muhammad-saw.html' title='Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SbCe4z4zmHI/AAAAAAAAANg/6Fi_qAYPsY8/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-5602326611147141042</id><published>2009-02-16T22:50:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T12:24:04.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Munajat Dalam Kegelapan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpjDGbgNiI/AAAAAAAAANY/hlqa1EaolpU/s1600-h/Almunawar_2006_08.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpjDGbgNiI/AAAAAAAAANY/hlqa1EaolpU/s200/Almunawar_2006_08.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303660416098907682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Munajat Dalam Kegelapan"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Habib Munzir bin Fuad Almusawa disadur dari majelisrasulullah.org&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=49&amp;amp;Itemid=30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sanubariku keruh dan terbenam dalam gelapnya kesulitan dan kesempitan, sanubariku meraung menahan sakitnya benturan benturan permasalahan yg bagaikan hujan lebat terus mendera tubuhku, aku berusaha menghindar dan menyelamatkan diri, namun hantaman hantaman kesulitan tindih menindih membuatku roboh tak berdaya, panca inderaku gelap tak memiliki rasa, mataku terbuka dan seluruh pemandangan berubah menjadi selubung pekat yg mengerikan, telingaku mendengar suara suara namun mendadak bagaikan dihambat dengan ketulian yg kelam, alam pemikiranku lumpuh, kedua telapak tangan dan jari jariku bergetar, hatiku bagai hangus terbakar oleh gemuruh lahar kerisauan..  &lt;p&gt;Apa yg bisa kuperbuat..?, aku tidak tahu, semua jalan keluar yg kutempuh tertutup rapat.., semua orang masa bodoh atas kesulitan dan raunganku, seakan aku hidup sendiri di alam ini..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Aku rebah terhenyak tiba tiba terdengarlah suara lirih dari Firman Tuhanku.. 'WA NAADAA FIDHULUMAAT.. AN LAA ILAAHA ILLA ANTA.., SUBHANAKA INNIY KUNTU MINADDHAALIMIIN.., FASTAJABNAA LAHU WANAJJAYNAAHU MINAL GHAMMI WAKADZAALIKA NUNJIYYIL MU'MININ'.. Aku tersentak kaget.. ah.. Kisah Yunus as.., ketika Allah swt menceritakannya dengan jelas, 'DAN DIA (Yunus) MEMANGGIL (KU) DALAM KEGELAPAN.. BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ENGKAU, MAHA SUCI ENGKAU.. SUNGGUH AKU TERMASUK ORANG YG DHALIM.., MAKA KAMI MENJAWAB DOANYA, DAN KAMI MENYELAMATKANNYA DARI KEGUNDAHAN DAN PERMASALAHAN DAN DEMIKIAN PULA KAMI MENYELAMATKAN ORANG ORANG MUKMIN' (Al Anbiya 87)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Betapa sempit dan adakah lagi kesempitan dan kebingungan lebih dari yg menimpa Nabiyallah Yunus as saat itu?, ditelan oleh seekor ikan raksasa dan hidup merangkak didalam perut hewan itu.. betapa busuknya.. betapa gelapnya.. betapa sempit dan kalutnya Yunus as saat itu, ditelan oleh seekor ikan besar dan dibawa kepada kedalaman Samudera raya.. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia tak mungkin memanggil siapapun, tak pula bisa berbuat apapun.. namun cerita ini dikisahkan kembali oleh Nya seakan Dia berseru : Akulah Raja Tunggal Maha Penguasa Kegelapan Samudera, Akulah yang Maha Menemaninya saat ia dalam kesendirian, Aku Maha Tunggal Mendengar tangisannya yg terbenamkan dalam pekatnya Samudera, Masihkah ada selainku yg mendengar panggilannya? Saat itu memang sudah tak ada lagi yg bisa diharapkan selain Nya, maka Dia menceritakannya dengan indah : 'Maka ia Memangil manggil Ku dalam kegelapan..', kegelapan perut ikan, kegelapan perasaan, kegelapan masalah yg terpekat.. ' ia memangil manggil Ku dalam kegelapan.. Tiada Tuhan Selain Mu, Maha Suci Engkau, sungguh aku dari kelompok hamba yg dhalim..?, &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak ada keselamatan dari Siksa Nya selain dengan Kalimat Tauhid, sebagaimana Hadits Qudsiy yg berbunyi : 'Laa ilaaha illallah adalah Benteng Ku, barangsiapa yg mengucapkannya maka ia masuk dalam benteng Ku, barangsiapa masuk dalam benteng Ku maka ia aman dari siksa Ku'. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka Yunus as memulai doanya, memanggil mangil Maha Raja Penguasa Samudera Kegelapan dan Maha Menemani setiap kesendirian, Maha Raja Yang Menciptakan Terang Benderang dan Kegelapan di Kerajaan Alam Semesta, ia memulai doanya dengan 'Laa ilaaha illan anta' Tiada Tuhan selain Engkau.. Lalu Yunus meneruskan doanya dengan mensucikan Allah..bertasbih kepada Allah.. Dia Yang Tak satupun menghalangi Pandangan Nya, Maha Suci Raja Yang selalu disucikan selamanya oleh sekalian Alam.., dan Dia pula telah berfirman : 'KALAU BUKAN KARENA IA (Yunus) ORANG YG SUKA BERTASBIH MENSUCIKAN ALLAH, NISCAYA IA AKAN TETAP DIDALAM PERUT IKAN ITU HINGGA HARI KEBANGKITAN'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka Yunus meneruskan doanya dengan kalimat SUBHANAKA maha suci Engkau.. Inniy kuntu minaddhaalimiin.. sungguh aku termasuk golongan orang yg dhalim.. (Yunus as marah dan meninggalkan ummatnya sebelum diizinkan Allah), Ia mengadu, mengaku, dan berharap cemas semoga Maha Pemelihara Tunggal ini masih memaafkannya, maka Dia Allah meneruskan firman Nya, MAKA KAMI TERIMA SERUANNYA, DAN KAMI MENYELAMATKANNYA DARI KESULITAN.. Ah, betapa tak berartinya seluruh musibahku ini dibanding orang yg ditelan hewan raksasa lalu dibawa tenggelam ke Dasar Samudera.. muncul harapan dihatiku.. berarti aku harus banyak mengucapkan kalimat Tauhid, Tasbih dan mengakui kesalahanku pada Nya, Niscaya Dia akan menolongku dari kesulitan ini.. Tiba tiba batinku merintih lagi.. ah.. tak mungkin.. itukan untuk Nabi Yunus.., siapakah aku hingga akan pula akan ditolong Allah?, ini hanyalah kekhususan Yunus as, Nabi Allah, tiba tiba aku teringat akhir ayat itu.. WA KADZALIKA NUNJIYYIL MU'MINIIIN, dan begitupula kami menyelamatkan orang orang yg mukmin?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maha Suci Engkau Wahai Menyingkap kegelapan malam dan membuatnya terang benderang, beribu hati gelap dan pekat telah pula kau singkapkan kesedihan mereka dengan pengabulan doa hingga hati gelap dan kelam itu berubah menjadi terang benderang dengan kegembiraan oleh Matahari Keluhuran Mu.. Kau simpan rahasia kelembutan Mu dalam ayat pendek ini.., bahwa Kau Maha Siap mengulurkan jari jari takdir kelembutan yg memutus rantai rantai takdir Mu yg mencekik dan menghanguskan sanubari ini dengan Munajat dan Doa kami, sebagaimana Hadits Nabi Mu SAW, 'Tiadalah Yang Mampu menolak ketentuan Nya, selain Doa'. Hanya doa dan rintihan di Pintu Kemegahan Mu yang akan menyingkirkan segala kesulitan ini.. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka aku bermunajat Sebagaimana Munajat Nabiku Muhammad SAW : Wahai Allah, Demi orang orang yg bermunajat meminta kepada Mu, Demi orang orang yang bersemangat menuju keridhoan Mu, dan juga demi doa Yunus as dan seluruh pemilik sanubari luhur yg menginjak Bumi Mu dari zaman ke zaman, Demi berjuta telapak tangan yg telah terangkat bermunajat pada Mu, Demi Doa Yunus ketika didalam perut hewan raksasa di dasar Samudera.. Yang sebab doanya lah kau bukakan Rahasia pertolongan Mu, dan demi Keteguhan Ibrahim as yg membuat api Namrud menjadi tunduk dan dingin.. dan Demi Munajat Nabi Muhammad SAW, yg merupakan Munajat Terluhur dari seluruh Munajat Hamba Mu di Kerajaan Alam Semesta, bebaskan Aku dari segala kesempitan.., bebaskan aku dari dasar samudera kesulitan yg membuatku tenggelam dan Buta dari kegembiraan, yg membuatku ditelan oleh dosa dan merangkak diperut dosa yg penuh dg busuknya bangkai kehinaan dalam keadaan Lumpuh dari harapan, akulah hamba yg merangkak diperut dosa.. ditenggelamkan ke dasar Samudera kesulitan memanggil manggil Nama Agung Mu.. memanggil manggil satu satunya gerbang harapan bagi para pendosa.. selamatkan aku dari segala kesulitan. Tiada Tuhan Selain Engkau.. aku tak akan menyembah selain Mu.. tak pula akan sujud pada selain Mu.. penghambaanku hanya untuk Mu.. tak pula akan memilih Tuhan Lain selain Mu.. bila muncul dihadapanku Tuhan lain dengan menyiapkan seluruh kenikmatan dan kemewahan abadi diahadapanku.. niscaya kuhempaskan dan kutolak seluruh anugerahnya, aku akan berpaling dan berlari kepada Mu.. Menuju Tuhanku Yang Maha Tunggal Tetap Engkau Maha Tunggal Tuhanku.. hanya Engkau Rabbiy.. hanya Engkau Pilihanku.. hanya Engkau.. Maha Suci Engkau dengan segala kesucian.. maka singkirkanlah segala kesulitan ini sebagaimana Ibu yg menepiskan bekas noda dari wajah bayinya.. Rabbiy Rabbiy.. Sungguh aku telah berbuat kedhaliman.. sungguh aku telah mengingkari perintah Mu.. namun kemana aku akan pergi menyelamatkan diri kalau bukan kepada Mu? Demi Keluhuran Muhammad SAW.. Demi Munajat Muhammad SAW.. Demi Keindahan Muhammad SAW? Demi Kewibawaan Muhammad SAW.. Demi Mukjizat Muhammad SAW.. Demi Syafaat Muhammad SAW.. Yang kesemua itu mencerminkan Keindahan Mu dan Kesempurnaan Mu Rabbiy, Maka Maha Suci Engkau dan segala Puji atas Mu Tuhan sekalian Alam..&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-5602326611147141042?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/5602326611147141042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/5602326611147141042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/02/munajat-dalam-kegelapan.html' title='Munajat Dalam Kegelapan'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpjDGbgNiI/AAAAAAAAANY/hlqa1EaolpU/s72-c/Almunawar_2006_08.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1548867296509418957</id><published>2009-02-16T22:29:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T12:24:04.961-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Meredam Kemurkaan Ilahi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpbeTVwteI/AAAAAAAAANQ/q31yXUHfm3k/s1600-h/singapura11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpbeTVwteI/AAAAAAAAANQ/q31yXUHfm3k/s200/singapura11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303652087327929826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Meredam Kemurkaan Ilahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Habib Munzir bin Fuad Almusawa disadur dari majelisrasulullah.org&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=45&amp;amp;Itemid=30&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria muda (sebutlah ia bernama amir) mendengar hadits-hadits dan ayat tentang mulianya bersedekah di jalan Allah, betapa mulianya ber infaq dengan shadaqatussir (sedekah secara sembunyi-sembunyi), sebagaimana hadits Rasul saw 'Sedekah dengan sembunyi sembunyi memadamkan kemurkaan Allah' (HR Thabrani dg sanad Hasan).&lt;br /&gt;Maka bangkitlah di hati Amir niat luhur untuk melakukannya, ia merasa telah banyak bermaksiat dan ia merasa ibadah-ibadahnya tak cukup untuk memadamkan kemurkaan Allah swt, dan iapun mulai mengumpulkan hartanya, setiap ia mendapat untung dari pekerjaannya selalu ia sisihkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, siang malam ia terus berusaha dengan gigih mengumpulkan uang hingga setahun lamanya, terkumpullah sejumlah uang dinar emas yang cukup banyak jumlahnya.  &lt;p&gt;Malam itu Amir menaruh seluruh uangnya itu dalam kantung besar, lalu ia berpakaian gelap dan penutup wajah hingga tak seorangpun mengenalinya, ia berjalan ditengah malam yang sunyi, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang tertidur di emper jalan, maka ia lemparkan kantong uangnya pada tubuh si wanita, si wanita pun kaget terbangun, dan hanya menyaksikan pria bercadar itu lari terbirit-birit. Amir membatin dalam hatinya, 'ah' wanita itu pasti berharap isi kantung itu adalah makanan, namun? MASYA ALLAH?SETUMPUK UANG DINAR?!!..wah.. dia pasti gembira dan mendoakanku..Puji syukur atas Mu Rabbiy, aku lelah setahun mengumpulkan uang untuk hal ini.., semoga Engkau menjadikannya shadaqah rahasia yang kau terima..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keesokan harinya heboh lah kampung itu dengan kabar bahwa seorang wanita pelacur mendapat sekantung uang dinar emas ketika sedang menunggu pelanggannya??!, mendengar berita itu maka Amir terhenyak lemas.. ia membatin?, Subhanallah.. pelacur.. sedekahku yang kukumpulkan setahun ternyata ditelan pelacur!, ah.. sedekahku tak diterima oleh Allah.. hanya menjadi santapan wanita pezina dan penyebab orang berzina 'audzubillah'!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Amir muram dan sedih.. namun ia tetap penasaran, ingin agar sedekahnya diterima oleh Allah dan tak salah alamat, maka ia mengumpulkan lagi harta dengan lebih gigih lagi hingga setahun lamanya, setelah harta terkumpul ia membeli sebanyak-banyaknya perhiasan emas dan berlian, terkumpullah sekarung perhiasan beragam corak dan jenis.. ah.. ia puas memandang jerih payahnya.., iapun mengulangi perbuatannya, menggunakan penutup wajah dan membawa karung perhiasan itu ditengah malam.., tiba-tiba ia melihat seorang lelaki setengah baya yang sedang berjalan ditengah malam, wajahnya tampak kusut dan penuh kegundahan, maka si Amir pun melemparkan karung itu pada si lelaki dan berkata : 'terimalah sedekahku..!', lalu iapun lari terbirit-birit, agar si lelaki itu tak mengenalinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keesokan harinya kampung itu gempar, semalam ada seorang perampok yang ketiban rizki sekarung perhiasan dari lelaki misterius, ah..ah.. Amir sangat lesu.. dua tahun sudah kukumpulkan uang dengan susah payah, tapi selalu salah alamat. Namun Amir masih juga penasaran.., ia kembali kumpulkan uang.. berlanjut hingga setahun, maka ia berbuat seperti tahun yang lalu lalu, menaruh uang dinar emasnya di kantung kulit, lalu berjalan ditengah malam.. ia melihat seorang tua renta yang berjalan tertatih tatih sendirian.. nah.. ini.. pasti tak salah alamat..gumam Amir.. iapun memberikan kantung Dinar Emasnya pada Kakek itu dan lari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keesokan harinya kampung itu gempar lagi, seorang Kakek yang menjadi orang terkaya di kampung itu mendapat sedekah sekantung emas dinar.. maka Amir pun roboh.. ia kapok.. berarti memang ia adalah pria busuk yang sedekahnya tak akan diterima oleh Allah, 3 tahun ia berjuang namun Allah menghendaki lain.., Amir pun berdoa : 'Rabbiy kalau kau menerima sedekahku itu maka tunjukkanlah'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Zaman terus berlanjut tanpa terasa, puluhan tahun kemudian Amir sudah tua renta, di usia senjanya ia mendengar ada dua orang ulama adik kakak, keduanya menjadi ulama besar dan mempunyai murid ribuan, kedua Ulama itu anak yatim, ayah mereka wafat saat mereka masih kecil, lalu karena jatuh miskin maka ibunya akhirnya melacur untuk menghidupi anaknya, dalam suatu malam ibunya bermunajat pada Allah : 'Rabbiy, kuharamkan rizki yang haram untuk anak-anakku, malam ini berilah aku rizki Mu yang halal, lalu Ibu itu tertidur di emper jalan, lalu ada seorang misterius yang melemparkan sekantung uang dinar emas padanya, lelaki itu menutup wajahnya dengan cadar, maka sang Ibu gembira, bertobat, dan menyekolahkan anaknya dengan uang itu dan hingga kedua anaknya menjadi Ulama dan mempunyai murid ribuan banyaknya...&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Airmata menetes membasahi kedua pipi Amir yang sudah tua renta, oh.. sedekah ku itu ternyata diterima Allah.. dan pahalanya dijaga Allah hingga berkesinambungan dengan anak-anak sipelacur yang menjadi ulama dengan uang sedekahnya, dan memiliki murid ribuan pula, Maha Suci Allah.. Dia tidak menyia-nyiakan jerih payahku.. namun apa nasibnya dengan sedekahku yang tahun kedua?, belum lama Amir membatin, datang pula kabar bahwa seorang Wali Allah barusaja wafat.., dia dulunya adalah perampok, suatu malam ia dilempari sekarung perhiasan oleh pria misterius, lalu ia bersyukur kepada Allah, beribadah dan beribadah, meninggalkan kehidupan duniawi, berpuasa dan bertahajjud, hingga menjadi orang yang Shalih dan Mulia, dan wafat sebagai dengan mencapai derajat Waliyullah (kekasih Allah) dan banyak pula orang yang bertobat ditangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Amir semakin cerah wajahnya dan semakin malu kepada Allah, tak lama sampai pula kabar padanya bahwa telah dibangun sebuah rumah amal, yang selalu tak pernah sepi dikunjungi para pengemis, rumah amal itu selalu membagi-bagikan hartanya pada para Fuqara, rumah amal itu didirikan oleh seorang tua renta yang kaya raya di kampung itu, ia awalnya sangat kikir, namun suatu malam ia dihadiahi sekantung uang dinar emas oleh pria misterius, iapun malu dan bertobat, lalu menginfakkan seluruh hartanya untuk rumah amal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Amir tak tahan menyungkur sujud kehadirat Allah swt, betapa luhurnya Dia Yang Maha Menjaga Amal nya yang tak berarti hingga berlipat-lipat dan berkesinambungan, ah.. Amir benar-benar telah mencapai cita-citanya.. yaitu sabda Rasul saw : 'Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah', dan ia mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti, bagai menaruh saham dengan keuntungan berjuta kali lipat setiap kejapnya, betapa tidak?, apalah artinya sekantung uang dinar emas dibanding pahala sujud orang yang bertobat?, sedangkan kita mendengar hadits Rasul saw : 'Dua raka'at Qabliyah Subuh lebih mulia dari dunia dan segala isinya'. Lalu bagaimana dengan pahala yang bertumpuk dari sebab amal sedekahnya yang tak berarti itu?, betapa beruntungnya si pria ini, dan betapa mulia derajatnya, dan merugilah mereka yang kikir dengan hartanya, yang merasa bahwa makan dan minumnya lebih berhak didahulukan daripada menjadikannya perantara yang mendekatkannya pada Keluhuran yang Abadi, ah.. semoga aku dan kalian dikelompokkan sebagai penanam saham untuk meneruskan tegaknya Dakwah Nabi Muhammad saw, amiin..&lt;/p&gt;    &lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber :&lt;br /&gt;-Penjelasan kitab Al Hikam oleh Al Allamah Alhabib Umar bin Hafidh, pada pesantren kilat 40 hari pada Jumaditsani 1425 H di Darulmustafa Tarim, Yemen.&lt;br /&gt;-Mukhtar Al Hadits&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1548867296509418957?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1548867296509418957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1548867296509418957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/02/meredam-kemurkaan-ilahi.html' title='Meredam Kemurkaan Ilahi'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpbeTVwteI/AAAAAAAAANQ/q31yXUHfm3k/s72-c/singapura11.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-8564115042956938208</id><published>2009-02-16T21:23:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T12:24:04.961-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Oh Bayiku...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpYEJGS1QI/AAAAAAAAANI/a-k_cmKJabw/s1600-h/Fathimah+Nafilah+Albar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpYEJGS1QI/AAAAAAAAANI/a-k_cmKJabw/s200/Fathimah+Nafilah+Albar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303648339367220482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oh Bayiku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di sadur dari majelisrasulullah.org&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt; http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=19&amp;amp;Itemid=30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Mina sedang hamil tua, ia sedang berjalan tertatih tatih disebuah jalan, seraya selalu terbebani oleh kandungannya yang sudah besar, kemanapun ia melangkahkan kakinya, ia dibebani oleh kandungannya, dijalan, dirumah, berdiri, duduk bahkan tidurpun ia selalu terganggu oleh perutnya, hanya satu harapan yang selalu menghiburnya siang dan malam, "aku akan mendapatkan seorang anak yang akan menjadi kebanggaanku kelak", tak ada seorang ibu yang tidak bercita-cita seperti ini, iapun terus bersabar menahan segala penderitaan yang menimpanya, hingga saat-saat melahirkanpun tiba.    &lt;p&gt;Malam itu hujan turun dengan derasnya, Bu Mina merasakan bahwa kandungannya akan segera lahir, suaminya, Imron berlari dikegelapan malam mencari bidan yang rumahnya agak jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki, tiada yang mendorongnya untuk berlari di derasnya hujan selain keselamatan bayinya, kalau ia harus melewati lautan apipun akan ditempuhnya asalkan bayinya selamat, iapun sampai dirumah bidan yang sudah terlelap tidur, ia memaksa bidan untuk mau menolong istrinya, ia rela mengorbankan semua hartanya asalkan bidan mau menolongnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bidan itu dengan enggan mengikuti Imron kerumahnya, ia melayani bidan itu lebih dari pelayanan seorang ajudan terhadap rajanya, ia memayungi bidan seakan-akan jangan sampai setetespun air hujan membasahi tubuh sang bidan, dengan penuh cemas kalau-kalau sang bidan berubah pikiran untuk membatalkan niatnya, dibiarkannya tubuh yang basah kuyup oleh derasnya hujan, mungkin apabila air hujan itu berupa batu sekalipun ia tak akan memperdulikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika mereka tiba ditujuan, bidanpun menyiapkan segala sesuatunya sementara Bu Mina sudah menjerit jerit menahan sakit. Waktupun berjalan dengan lambatnya, sang suami bercucuran keringat dingin menunggu keadaan yang sangat kritis, terlintas dalam pikirannya betapa indahnya kalau kepedihan sang istri dipindahkan kepadanya. Tak lama terdengarlah tangis seorang bayi yang melengking memecah kesunyian malam yang baru saja reda dari hujan lebat, tak lama bidanpun keluar memeluk sesosok bayi mungil yang masih merah, sementara sang ibu masih tak sadarkan diri, Imron menangis sambil memeluk bayi mungilnya, iapun menghadapkan dirinya kekiblat, lalu mendekatkan mulutnya ketelinga sang bayi, &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Allahu Akbar.. Allahu Akbar, Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.., Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah.., Asyhadu anna Muhammadurrasulullah.."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, ia mengadzankan bayinya sambil bercucuran airmata kegembiraan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bayi mungil itu terus diasuh oleh ibunya tanpa mengenal waktu, sang ibu mengatur segala-galanya demi kesehatan bayinya, mengatur kapan waktu bayi itu dimandikan, dengan air yang tak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, mengatur waktu agar bayi itu terkena matahari dipagi hari, memakaikan pakaiannya, membersihkan tubuhnya, membedakinya, dan segala-galanya lebih dari perhatiannya pada dirinya sendiri, dengan penuh kasih sayang. Sepasang suami istri itu terus mengayomi anak mereka tanpa mengenal bosan, seringkali sang bayi mengganggu tidur mereka, tapi itu semua tidak mengurangi kasih sayang mereka, Mereka menuntunnya berbicara, mengenal nama-nama benda, menuntunnya berjalan, dan mengajarinya semua perilaku kehidupan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sang ibu sudah kehilangan waktu untuk merias dirinya, sang ayahpun lupa waktu dalam bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Anak merekapun tumbuh semakin besar, tidaklah sang ayah pergi meninggalkan rumah terkecuali terbayang canda anaknya dirumah, Waktupun berjalan dengan singkatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang lelaki tua terbaring disebuah ranjang, ia tersengal sengal menahan detik-detik sakratulmaut, disampingnya duduklah seorang pemuda berambut gondrong dengan perawakan kusam tanpa cahaya keimanan, pemuda itu tak tahu harus berbuat apa atas ayahnya yang sudah di pintu kematiannya, lelaki tua itu hanya memandangi anaknya tanpa mampu berucap apa-apa, pikirannya melayang beberapa puluh tahun yang silam, saat ia berlari-lari ditengah derasnya hujan dikegelapan malam, ia teringat ketika ia berteriak-teriak mengucapkan salam dirumah sang bidan sambil berharap sang bidan mau membantunya, ia teringat pada saat ia mencucurkan airmata kegembiraan dengan memeluk bayi mungilnya, ia teringat tatkala ia mendekap bayi mungilnya, lalu mengadzankan sikecil, lalu menidurkan bayinya dengan senandung kasih sayang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini bayi mungil itu berubah menjadi pemuda gondrong berwajah kusam dan gelap dari cahaya hidayah seakan akan ia ingin berkata.., "Tak kusangka… tak kusangka.., bayi mungilku yang dulu kuadzankan dan kutimang akan seperti ini..., aku tidak mengharapkan apa-apa darimu nak.., tapi bantulah ayah yang kini sedang dipintu kematian", betapa hancur dan pilunya sang ayah yang harus menerima kepahitan hidup yang paling pedih.., menemui kematian dengan meninggalkan anak yang tidak mengenal keimanan, elaki tua itupun menemui kematiannya dengan menyedihkan, dengan seribu kekecewaan yang terus akan menemaninya dikuburnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pagi hari itu seorang ibu setengah baya sedang duduk diberanda rumahnya memandangi kedatangan seorang pemuda berbaju putih dengan sarung dan peci yang masih dibasahi air wudhu sambil membawakan terompah ibunya dan menaruhnya dikaki sang ibu, seraya mencium tangan ibunya dan berkata "saya ngaji dulu bu" lalu berlari terburu-buru dan hilang dikegelapan malam, tangan sang ibu masih dibasahi bekas air wudhu anaknya, ibu itu memandangi kepergian anaknya sambil termenung, Segala puji bagimu wahai Allah, aku ridho terhadap anakku, limpahkan kasih sayang Mu atasnya.., tanpa terasa ibu itu  mencucurkan airmata kegembiraan melihat keadaan anaknya..,&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka turunlah limpahan rahmat dari Yang Maha Agung terhadap pemuda itu, terhadap ibunya dan ayahnya, mereka terus dinaungi kasih sayang Nya hingga mereka satu persatu dipanggil ke hadapan Nya.&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;Termasuk sosok anak yang manakah dirimu wahai pembaca....?&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-8564115042956938208?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8564115042956938208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8564115042956938208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/02/oh-bayiku.html' title='Oh Bayiku...'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SZpYEJGS1QI/AAAAAAAAANI/a-k_cmKJabw/s72-c/Fathimah+Nafilah+Albar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-3333358971746388001</id><published>2009-01-19T19:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T19:33:53.054-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan koe'/><title type='text'>Gratis Penerbangan Al Jenaza Airlines dgn Layanan Penuh 24 jam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SXVFiE_WC4I/AAAAAAAAAM4/DfV4MKfgToY/s1600-h/Image%28151%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 114px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SXVFiE_WC4I/AAAAAAAAAM4/DfV4MKfgToY/s200/Image%28151%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293213388801182594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Di sadur dari blog Adikku, Wirdah Albar : http://baalwy.ning.com/profiles/blogs/gratis-penerbangan-al-jenaza&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  &lt;div class="postbody"&gt;                                     Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini, ia ibarat penerbangan ke sebuah negara.&lt;br /&gt;Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan,&lt;br /&gt;tetapi melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist.&lt;br /&gt;Di mana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines,atau US Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.&lt;br /&gt;Di mana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.&lt;br /&gt;Di mana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih.&lt;br /&gt;Di mana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci.&lt;br /&gt;Di mana passport kita bukan Indonesia , British atau American, tetapi Al-Islam.&lt;br /&gt;Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi 'Laailaahaillallah'&lt;br /&gt;Di mana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain.&lt;br /&gt;Di mana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.&lt;br /&gt;Di mana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan.&lt;br /&gt;Di mana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapi ruang 2x1 meter, gelap gulita.&lt;br /&gt;Di mana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.&lt;br /&gt;Di mana tidak perlu satpam dan alat detector.&lt;br /&gt;Di mana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah&lt;br /&gt;Di mana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.&lt;br /&gt;Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang.&lt;br /&gt;Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan.&lt;br /&gt;Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba tepat pada masanya.&lt;br /&gt;Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, karena anda telah hilang selera bersuka ria.&lt;br /&gt;Jangan bimbang tentang pembelian tiket, karena tiket telah siap di booking sejak ruh anda ditiupkan di dalam rahim ibu.&lt;br /&gt;YA!BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda. Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini. Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa!&lt;br /&gt;Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa 'Pemberitahuan' . Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan. ....&lt;br /&gt;Saat penerbangan anda berangkat... tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah, atau ungkapan selamat jalan. Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun....&lt;br /&gt;Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.&lt;br /&gt;ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?&lt;br /&gt;'Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya. '&lt;br /&gt;ASTAGHFIRULLAH, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga...&lt;br /&gt;Amiin&lt;br /&gt;WALLAHU A'LAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Penerbangan ini berlaku untuk segala umur... tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini..... sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-3333358971746388001?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3333358971746388001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/3333358971746388001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/01/gratis-penerbangan-al-jenaza-airlines.html' title='Gratis Penerbangan Al Jenaza Airlines dgn Layanan Penuh 24 jam'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SXVFiE_WC4I/AAAAAAAAAM4/DfV4MKfgToY/s72-c/Image%28151%29.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-287392747037950911</id><published>2009-01-19T09:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T10:00:21.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Kedudukan Para Sahabat Nabi SAW Dalam Al Qur'an</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSusPZ5H9UI/AAAAAAAAALw/ZnLuXZv2a-k/s320/abacloseup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 254px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSusPZ5H9UI/AAAAAAAAALw/ZnLuXZv2a-k/s320/abacloseup.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEDUDUKAN PARA SAHABAT NABI SAW DALAM AL QUR’AN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memanjatkan Puji, Puja serta Syukur hanya bagi Allah Swt yang menuntun manusia ke jalan hidayah-Nya. Dengan karunia-Nya, manusia beroleh Rahmat dan Kasih Sayang-Nya. Dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya manusia beroleh ampunan-Nya. Dengan memanggil nama-nama-Nya  yang Agung lagi mulia, manusia dihujani dengan limpahan Rahmat-Nya yang lahir maupun yang batin. Dia mendekati hamba-Nya seolah Dia membutuhkan mereka. Padahal Dia tidak membutuhkan sesuatu juapun, karena seluruhnya tercipta atas kehendak-Nya jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dan shalawat kiranya senantiasa tercurah keharibaan insan pilihan-Nya Sayyidina Muahammad Saw, serta keluarganya, kaum kerabatnya, para istrinya, dan para sahabat-sahabatnya, bahkan seluruh umat manusia yang tersentuh dan mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman. Tiada seorangpun yang mencintainya melainkan ia telah beroleh hidayah Allah Swt. Tiada seorangpun yang memuliakan, serta meng-agungkannya kecuali mereka yang tersentuh oleh keagungan  Yang Maha Agung. Dia (Allah) yang sejak zaman ajali telah memuliakan insan pilihan ini dan memerintahkan umat manusia yang mengaku beriman agar memuliakan Sayyidina Muhammad, agar mereka disentuh oleh sentuhan kasih sayang Ilahi Rabbul ‘Aalamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat dan ringkas ini, ditulis untuk menjawab beberapa pertanyaan jama’ah majelis ta’lim seputar wilayah para sahabat Nabi Saw menurut pandangan Al Qur’an Al Kariim. Sangat disadari bahwa tulisan ini tidak akan mampu menguak rahasia keagaungan Sayyidina Muhammad Saw beserta kebesaran, keutamaan dan kemuliaan para sahabatnya, hanya dengan mengandalkan itelektualisme serta ilustrasi sejarah didalam dunia islam semata. Karena terbukti sejarah islam yang disajikan kepada umat islam terkadang membingungkan, dan ternodai oleh kepentingan atau maksud dan tujuan tertentu, hasil akhirnya adalah karusakan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Ukhuwah Islamiyah”&lt;/span&gt;. Sebabnya adalah keragaman kepentingan yang bersembunyi dibalik label intektual dan sejarahwan berjubah islam yang diragukan kesejatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti inilah yang menyebabkan  terjadi pendangkalan  terhadap pemahaman islam pada zaman kita sekarang ini. Dimana salah satu ciri pendangkalan yang dimaksud itu telah tampak secara kasat mata, ketika orang dengan tidak merasa terbebani oleh kesalahan atau kekeliruan memasuki dan menganggu wilayah kemuliaan para sahabat, para cendekiawan muslim terkemuka pada permulaan perkembangan dunia islam. (abad 1 – 5 hijriyah). Inilah masa hidupnya Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw, serta keluarganya, istri-istrinya, para sahabat-sahabat utamanya, mereka adalah sepupunya, mertuanya bahkan menantunya. Pada periode ini juga adalah masa hidupnya orang-orang pilihan Allah, para hafidz, tabi’in, tabiit tabi’in, para imam madzhab sampai kepada para fuqaha (ahli Fiqih) muhadditsin (pemangku hadits), serta para pemikir dan ilmuan terbaik yang pernah dimiliki oleh umat Islam. Kitab-kitab dan karya mereka telah menuntun milyaran umat manusia yang datang kemudian silih berganti sehingga dapat mengenal Sayyidina  Muhammad ibni Abdillah Saw,  serta mengenal tauhid kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua pada hakekatnya telah mengetahui secara sadar, bahwa upaya-upaya pengrusakan terhadap islam tidak akan pernah terwujud. Tetapi daya rusaknya akan terasa apabila umat islam diadu domba dari dalam komunitas umat islam sendiri. Artinya islam hanya dapat dikacaukan dengan menggunakan tangan umat islam lainnya. Sekalipun kita yakin seyakin-yakinnya akan janji Allah bahwa Dia (Allah) yang akan menjaga kelestarian agama-Nya – (Dienul Islam). Namun demikian kitapun harus sekuat tenaga menjaganya sesuai dengan kemampuan kita, sebagai manifestasi kepedulian kita terhadap Al Islam. Karena kita sekarang berada pada zaman dimana pengrusakan islam itu diarahkan kedalam komunitas islam itu sendiri dengan membangun subuah opini baru, dengan cara menyuguhkan pemahaman yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan sejarah khususnya kepada tokoh-tokoh teladan umat yang hidup pada periode tersebut diatas tadi. Oleh karena itulah tulisan yang sangat terbatas ini, diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran dan jawaban bagi siapa saja, agar setiap memasuki gerbang agama dari cabang ilmu apapun supaya berpegang kepada sumber utama – Al Qur’an serta penjelasan Nabi Saw, yang mulia. Agar jangan sampai kita termasuk kepada kelompok manusia masa kini yang belajar agama dari manusia masa lampau, tetapi menghujat mereka secara membabi buta. Padahal sejatinya kita wajib berterima kasih kepada mereka sebagai wujud syukur kita kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dapat diperoleh dari berbagai tafsir Al Qur’an yang memberikan penjelasan tentang berbagai masalah dengan meriwayatkan penjelasan-penjelasan dari para pelaku sejarah yang mengetahui akan maksud, tujuan serta kejadian tertentu yang menyebabkan turunnya wahyu Allah kepada Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari keterbatasan pengetahuan yang ada pada diri kami, maka materi sebagaimana tertulis pada judul tulisan ini dibahas menurut pandangan Al Qur’an yang berbicara mengenai para sahabat Nabi Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Surah At-Taubah ayat: 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan orang-orang yang terdahulu - yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang "Muhajirin" dan "Ansar", dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda akan mereka dan mereka pula reda akan Dia, serta Ia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tafsir Ibnu Katsier :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt memberitahu tentang redha-Nya kepada orang-orang yang  terdahulu dan yang pertama-tama masuk islam dari golongan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik- baiknya. Bagi mereka itu semuanya Allah menyediakan kehidupan di surga dengan segala ni’mat dan kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut asy-Sya’bi, yang patut dimasukkan ke dalam golongan yang disebut “As-sabiqun al- Awalun” ialah mereka yang turut berbai’at  “Bai’aturridhwan” pada tahun perjanjian Hudaibiyah. Sedang menurut Abu Musa al-Asyari, Said ibnu Muasayyab, al-Hasan dan Qatadah, ialah mereka yang pernah mengalami bershalat di kedua qiblat, Baitul Maqdis dan Ka’bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Allah memberitahu bahwa Dia ridha kepada mereka, dan merekapun ridha kepada-Nya&lt;/span&gt;, maka celakalah orang membenci atau mencerca mereka, terutama pemimpin mereka sesudah Rasullullah, dan terafdhal diantara mereka adalah khalifah pertama, Abubakar as-Shiddiq r,a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Surah At-Taubah ayat: 101&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafiq dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafiqannya. (Kamu Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kami yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsirnya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt memberitahukan kepada Rasul-Nya Muhammad Saw, bahwa diantara orang-orang Arab Badui yang tinggal di sekitar Madinah, dan bahkan diantara penduduk Madinah sendiri, terdapat orang-orang munafiq yang keterlaluan dalam kemunafiqannya. Engkau tidak mengetahui dan mengenal mereka, hai Muhammad. Allah berfirman akan tetapi Kami mengenal dan mengetahui mereka, dan Kami akan menyiksa mereka kelak dua kali, sekali di dunia berupa pembunuhan, penawanan atau kelaparan dan yang kedua kali berupa azab dan siksa kubur. Dan di akhirat nanti, akan dikembalikan kepada azab yang besar, yaitu azab api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw mengetahui bahwa orang-orang yang bergaul dengan beliau, dan yang dilihatnya setiap pagi dan senja daripada pendududuk Madinah ada beberapa yang munafiq, walaupun beliau tidak mengetahui semuanya sebagaimana firman Allah diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Asakir dari Abu Darda, bahwa ada seorang yang benama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Harmala”&lt;/span&gt; datang kepada Nabi Saw dan berkata kepada beliau, “iman adalah di sini, sambil menunjuk ke lidahnya, dan kemunafiqan adalah di sini, sambil menunjuk ke dadanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bersabda Nabi Saw dan berdoa, yang maksudnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Ya Allah berilah dia lidah yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur dan karunialah rasa cinta kepadaku dan kepada orang yang mencintaiku dan jadikan urusannya menuju kepada kebaikan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata selanjutnya “Harmala” kepada Nabi Saw. “Ya Rasulullah, sesungguhnya  aku mempunyai sahabat beberapa orang munafiq yang dulunya aku ketuai dan kupimpin, dapatkah aku bawa mereka kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululullah menjawab ”Barang siapa di antara mereka datang kepada kami, akan kami mohonkan ampun baginya kepada Allah, barang siapa yang membangkang dengan kemunafiqannya, maka Allah yang berkuasa atasnya Dan janganlah engkau membuka tabir (rahasia) seseorang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq bahwa Qatada berkata mengenai ayat ini; “Apa maksud orang-orang yang berlagak sok tahu mengatakan si Fulan di surga, si fulan di neraka, padahal jika engkau tanya salah seorang dari mereka tentang dirinya sendiri, ia akan berkata. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Tidak tahu”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lancang mulut menyatakan sesuatu. Padahal para Nabi pun tidak dapat menyatakannya seperti itu. – Seperti penegasan Allah pada ayat tersebut : diatas “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(engkau ya Muhaammad) tidak mengetahui mereka, Kami (Allah) mengetahui mereka” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Surah Al – Fath : 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad - untuk berjuang menentang musuh), mereka hanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir ibnu Katsier :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya orang-orang yang memberikan bai’at kepadamu hai Muhammad sebagai tanda janji setia, mereka itu seakan-akan memberikan bai’at kepada Allah, sebagai tanda janji setia kepada-Nya. Tangan Allah seakan-akan diatas tangan mereka, tatkala mereka memberikan bai’at kepadamu. Maka barang siapa yang melanggar janji setianya, niscaya akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barang siapa yang menepati janjinya yang telah diberikan kepadamu itu dengan berbai’at, maka berarti ia menepati janjinya kepada Allah, dan untuk itu Allah akan memberinya pahala yang besar. Adapun kejadian-kejadian sekitar Baiturridhwan dan pedamaian hudaibiyah, maka diceriterakan bahwa pada bulan Zulqa’dah tahun 6 (enam) Hijriyah Nabi Saw bersama pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Makkah untuk melakukan umrah dan melihat keluarga-keluarga yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di hudaibiyah Nabi Saw mengutus Usman bin Affan r,a lebih dahulu ke Makkah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman bin Affan r,a sebagai utusan Rasulullah Saw kepada kaum Quraisy, tidak kunjung kembali karena ia di tahan oleh kaum Quraisy Makkah. Dan sampailah kabar kepada kaum Muslimin bahwa Usman bin Affan r,a telah dibunuh. Maka Nabi Saw segera menganjurkan agar kaum muslimin yang berkekuatan lima belas ribu orang (menurut sementara riwayat), agar melakukan bai’at (janji setia) kepada Nabi Saw. Serta merta merekapun menyambut anjuran Nabi Muhammad Saw dengan bersemangat tinggi memberikan bai’at kepada beliau Saw. Berjanji setia kepadanya dan akan memerangi kaum kuffar Quraisy bersamanya sampai kemenangan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian setia ini telah diridhai Allah Swt sebagaimana termaktub di dalam surah ini dengan sebutan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bai’aturridhwan”&lt;/span&gt;  Baiturridhwan ini telah menggetarkan kaum musyrikin Mekkah, sehingga mereka melepaskan Usman bin Affan r,a, dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum Muslimin, yang terkenal sebagai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Shulhul Hudaibiyah“&lt;/span&gt; (perjanjian Hudaibiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh tentang para sahabat Nabi Saw ini – perhatikan ayat-ayat berikutnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Surah Al – Fath : 18&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Terjemahannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi sesungguhnya! Allah reda akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Ibnu Katsier ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman serta memberitahukan dengan tegas bahwa Dia (Allah) telah meredhai orang-orang mukmin, sahabat-sahabat Rasulullah yang telah memberikan biatnya kepada Nabi Saw sebagai tanda janji setia di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah. Allah telah mengetahui apa yang bergelora di dalam hati mereka, orang-orang mukmin itu penuh rasa setia, ta’at dan ikhlas berkorban, Maka Allah menurunkan ketenangan dan ketentraman ke dalam hati mereka, dan memberikan balasan dengan kemenangan yang dekat waktunya yaitu dengan di tanda tanganinya “Perdamaian Hudaibiyah” Kemudian berturut-turut dengan kemenanagan dalam perang “Khaibar”, penaklukan kota Mekkah, dan kota-kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Surah Al – Fath : 29&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nabi Muhammad (s.a.w) ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang (memusuhi Islam), dan sebaiknya bersikap kasih sayang serta belas kasihan sesama sendiri (umat Islam). Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud, dengan mengharapkan limpah kurnia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredaanNya. Tanda yang menunjukkan mereka (sebagai orang-orang yang soleh) terdapat muka mereka - dari kesan sujud (dan ibadat mereka yang ikhlas). Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam Kitab Injil pula ialah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bahawa mereka diibaratkan) sebagai pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya itu menyuburkannya, sehingga ia menjadi kuat, lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengagumkan orang-orang yang menanamnya. (Allah menjadikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad, s.a.w dan pengikut-pengikutnya berkembang biak serta kuat gagah sedemikian itu) kerana Ia hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasut dengki - dengan kembang biaknya umat Islam itu. (Dan selain itu) Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh dari mereka, keampunan dan pahala yang besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tafsir Ibnu Katsier :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah penegasan Allah tentang siapa Sayyidina Muhammad. Bahwa ia adalah Rasul-Nya, dan utusan-Nya yang haq, tidak dapat diragukan.&lt;br /&gt;Rasul yang mememiliki sifat-sifat dan akhlaq yang terpuji. Demikianlah orang-orang mukmin yang besama dengan dia (Nabi Saw), adalah berwatak keras terhadap orang-orang kafir, dan bersikap lemah lembut, kasih sayang terhadap sesamanya sebagaimana maksud firman Allah dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;surah At-Taubah ayat : 123&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir musyrik yang berdekatan dengan kamu; dan biarlah mereka merasai sikap kekerasan (serta ketabahan hati) yang ada pada kamu; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa (dengan memberikan pertolonganNya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dalam menafsirkan Surah Al- Fath : 29 tersebut, dikemukakan pula sebuah Hadits Nabi Saw yang maknanya sebagai berikut “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling cinta dan kasih sayang diantara sesama mereka seperi sesosok tubuh, apabila sesuatu anggota terganggu, maka seluruh tubuh ikut merasa demam dan jaga (tidak tidur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Allah mensifatkan mereka, sebagai  yang tekun melakukan shalat, ikhlas dalam ibadah, rukuk dan bersujud mencari karunia Allah dan menginginkan redha-Nya, tampak pada wajah mereka tanda-tanda sujud. Mereka diumpamakan didalam Turat dan Injil seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas ini menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya. - Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin. Dan Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, diberi-Nya ampunan dan pahala yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam firman Allah yang lain, dapat dilihat bagaimana Dia (Allah) mengkhususkan kehormatan para sahabat Nabi dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kalangan Muhajirin dan Ansar&lt;/span&gt;, bahkan Dia (Allah) juga memberi penghormatan khusus kepada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;generasi yang datang kemudian&lt;/span&gt; (selain orang-orang dari kalangan Muhajirin dan Ansar). Lihatlah bagaimana Allah melalui Kitab-Nya Al-Qur’an Yang Mulia berbicara tentang mereka. dan tidak terbatas kepada sahabat-sahabat  Nabi Saw yang empat saja atau yang sepuluh saja. Juga berbicara tentang orang-orang yang datang kemudian, yang tidak terbatas hanya kepada generasi Muhajirin dan Ansar saja. Bahkan generasi sesudah generasi dua kelampok ini susul menyusul sepanjang zaman, selagi mereka menghormati generasi yang lebih awal beriman kepada Allah, yang mereka telah ridha kepada Allah, dan Allah pun telah ridha kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surah Al-Hasyir ayat : 8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Pemberian itu hendaklah diuntukkan) kepada orang-orang fakir yang berhijrah, yang telah diusir keluar dari kampung halamannya dan harta bendanya (kerana berpegang teguh kepada ajaran Islam), untuk mencari limpah kurnia dari Allah dan keredaanNya, serta menolong (agama) Allah dan RasulNya; mereka itulah orang-orang yang benar (imannya dan amalnya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surah Al-Hasyir ini ayat : 9 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan orang-orang (Ansar) yang mendiami negeri (Madinah) serta beriman sebelum mereka, mengasihi orang-orang yang berhijrah ke negeri mereka, dan tidak ada pula dalam hati mereka perasaan berhajatkan apa yang telah diberi kepada orang-orang yang berhijrah itu; dan mereka juga mengutamakan orang-orang yang berhijrah itu lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan dan amat berhajat. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surah Al-Hasyir ayat : 10 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: "Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasut dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan Rahmat-Mu".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah Al Qur’an yang suci yang menuturkan tentang sifat-sifat, serta kedudukan mereka dihadapan Allah SW. Inilah perkataan, penegasan dan apa yang dikehendaki oleh Yang Maha Rahman. Ada sebahagian hamba yang di puji-Nya, dan adapula sebahagian hamba yang dinistanya. Sang hamba itu sendirilah yang memilih, berkehendak serta menentukan posisinya. Khusus mengenai ketiga ayat dalam Surah Al-Hasyir ini yakni ayat ke 8, 9 dan 10 kiranya penjelasan dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mufasssirin&lt;/span&gt;, patut kita simak,cermati dan mendengarkan ungkapan mereka, disertai pandangan para pelaku sejarah sehubungan dengan masing-masing ayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsirnya Ibnu Katsier, diuraikan makna ketiga ayat tersebutsebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Umar bin Khatab r,a&lt;/span&gt;. dalam wasiatnya mengatakan “Saya berwasiat pada Khalifah sesudahku, supaya berlaku baik terhadap sahabat Muhajirin, supaya mengetahui kedudukan dan kehormatan mereka. Demikian pula aku berwasiat kepada sahabat Ansar supaya dapat menerima segala orang yang baik dari mereka dan memaafkan mereka terhadap kekurangan dan kesalahan mereka.” (R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas r,a, mengatakan bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sahabat Muhajirin&lt;/span&gt; berkata “Ya Rasulullah, kami belum pernah melihat kaum seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sahabat Ansar&lt;/span&gt;, kami datang kepada mereka, dan mereka menyambut dengan baik, baik yang hidupnya sederhana maupun mereka yang kaya. Mereka sendiri yang mengerjakan segala sesuatu, tetapi bila telah berhasil, lalu mereka membagikan kepada kami, sehingga kami khawatir kalau-kalau mereka akan memborong pahala amal perbuatan baik kami semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Rasululullah Saw “Tidak, selama kamu memuji perbuatan mereka dan berdo’a untuk nereka” Kemudian Nabi Saw memanggil sahabat Ansar untuk diberikan kepada mereka sebagian penghasilan dari Bahrain. Merekapun berkata. “Tidak, yaa Rasulullah, kecuali jika engkau memberikan juga kepada sahabat-sahabat Muhajirin yang sama.” Maka Nabi Saw bersabda yang maknanya “ Jika kalian tidak mau, maka bersabarlah, sampai kalian bertemu padaku di hari qiyamat (dihaud alkausar), dan kalian akan menghadapi saingan sepeninggalku kelak.” (R. Ahmad – Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuhurairah r,a, berkata : “Sahabat Ansar mengatakan kepada Nabi Saw bagilah kebun kurma kami dengan sahabat Muhajirin”. – “Tidak“ kata Nabi Saw. – Lalu sahabat Ansar berkata “Jika tidak, maka biarlah kami yang mengerjakan, nanti setelah berbuah, akan bagi dengan engkau hasilnya” –“Baiklah”.Jawab mereka, “ kami mendengar dan kami menaatinya”. (R.Bukhari).&lt;br /&gt;Rasululullah Saw memberitahukan kepada sahabat Ansar; “Sesungguhnya kawan-kawanmu para sahabat Muhajirin telah meninggalkan harta dan anak mereka dan mengungsi ketempatmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab sahabat Ansar, “Baiklah kebun-kebun kami akan kami bagi dua dengan mereka”.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw bertanya, “Apakah tidak ada yang lebih baik dari itu?”. Merekapun bertanya “Apakah yaa Rasulullah?”. Rasululllah Saw bersabda yang maknanya; “Mereka adalah kaum yang tidak biasa bekerja disawah dan ladang, karena kamu kerjakan semuanya kemudian jika berbuah kamu berikan bagian untuk mereka”. Jawab sahabat Ansar, “Baiklah ya Rasulullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abubakar Asshiddiq pernah bersedekah dengan semua hartanya, dan ketika ditanya oleh Nabi Saw.  “Berapa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu”. – Maka dijawab, “Aku tinggalkan untuk mereka jaminan Allah dan Rasulullah Saw”.&lt;br /&gt;Ini adalah sebagaian kecil dari penjelasan ahli tafsir mengenai ayat-ayat tersebut diatas,  serta menggambarkan bagaimana keutamaan sifat-sifat mereka yang di lukiskan  Allah di dalam Al Qur’an, serta kecintaan Nabi Saw terhadap mereka. Patutkah kita berseberangan dengan pandangan Allah dan Rasulnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perhatikan Surah An- Nisa’a : 115&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan sesiapa yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan ia pula mengikut jalan yang lain dari jalan orang-orang yang beriman&lt;/span&gt;, Kami akan memberikannya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bnu Katsier dalam menafsirkan ayat ini sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Allah  berfirman, barang siapa yang menentang Rasulullah Saw dengan jalan yang bertentangan dengan syari’atnya secara sengaja setelah ternyata kebenarannya, serta menyimpang dan tidak mengikuti jalan yang dilalui oleh para mukminin, maka Allah akan membiarkannya dalam kesesatan dan kelak akan dimasukkan kedalan jahannam. Ayat ini oleh Imam Syafe’i dijadikan dalil bahwa apa yang telah menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ijma&lt;/span&gt;’ di kalangan umat Muhammad, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;haramlah dilanggarnya&lt;/span&gt;. Karena umat Muhammad secara keseluruhan dilindungi dari berbuat kesalahan maka apa yang sudah disepakati secara ijma’ wajiblah di taati menurut Imam Safe’i dengan dalil ayat 115 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir bahasan ini, kiranya patut kami kemukakan sebuah ayat yang membatasi diri kita, agar janganlah terjadi pertengkaran dalam masalah yang  menyangkut amalan masing-masing pihak, karena pada akhirnya kita akan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan segala bentuk amal perbuatan kita masing-masing. Karenanya segala bentuk perselisihan faham hendaknya dikesampingkan demi tegaknya sebuah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ukhuwah islamiyah kokoh&lt;/span&gt;. Hanya dengan persatuan dan kebersamaan aqidah kita mampu menjawab tantangan dunia sekarang dan akan datang. Perpecahan diantara kita, mendatangkan keuntungan yang besar bagi musuh-musuh islam. Pada gilirannya kita akan menjadi umat yang rapuh dalam segala segi sekalipun umat islam unggul didalam jumlah yang banyak, namun keropos laksana tiang yang dimakan rayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surah Asy-Syuura  ayat : 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Terjemahannya ;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Oleh kerana yang demikian itu, maka serulah (mereka - wahai Muhammad - kepada beragama dengan betul), serta tetap teguhlah engkau menjalankannya sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka; sebaliknya katakanlah: "Aku beriman kepada segala Kitab yang diturunkan oleh Allah, dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah jualah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu. Tidaklah patut ada sebarang pertengkaran antara kami dengan kamu (kerana kebenaran telah jelas nyata). Allah akan menghimpunkan kita bersama (pada hari kiamat), dan kepadaNyalah tempat kembali semuanya (untuk dihakimi dan diberi balasan)". (Asy-Syuura : 15)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, Juma’at 26 Desember 2008 M – 28 Dzulqaidah 1429 H&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Ali Muhsin Albaar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-287392747037950911?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/287392747037950911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/287392747037950911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2009/01/kedudukan-para-sahabat-nabi-saw-dalam.html' title='Kedudukan Para Sahabat Nabi SAW Dalam Al Qur&apos;an'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSusPZ5H9UI/AAAAAAAAALw/ZnLuXZv2a-k/s72-c/abacloseup.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-7431329541168148650</id><published>2008-12-01T21:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T21:45:43.973-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan koe'/><title type='text'>Surat Terima Kasih buat Umi &amp; Aba tercinta</title><content type='html'>Surat terima kasih yang dibuat oleh adikku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nur Layli S.Farm, Apt&lt;/span&gt; atas kelulusannya yang dipersembahkan untuk Ummi &amp;amp; Aba tersayang. Sangat menyentuh dan mudah-mudahan bisa kita ambil sebagai renungan dan pelajaran buat diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LEMBARAN TERIMA KASIH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTGDiDaPoI/AAAAAAAAAMA/j1kKnFIXOiA/s1600-h/suratei1.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 197px; height: 72px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTGDiDaPoI/AAAAAAAAAMA/j1kKnFIXOiA/s320/suratei1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275058827540708994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTGnunphdI/AAAAAAAAAMI/H-nXJu8KP00/s1600-h/suratei2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 431px; height: 136px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTGnunphdI/AAAAAAAAAMI/H-nXJu8KP00/s320/suratei2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275059449389221330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.Surah Luqman : 13 &amp;amp; 14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupersembahkan rasa syukur dan terima kasihku yang tulus kepada ayah bundaku tercinta, demi syukur dan terima kasihku kepada Allah SWT. Karena Nabi dan Rasulku yang mulia Muhammad SAW pernah bersabda dalam sebuah Hadist yang artinya “Tidaklah seseorang dikatakan pandai mensyukuri nikmat Allah, bila ia tidak pandai berterima kasih kepada manusia”. Maka kedua ayah bundaku adalah manusia pertama yang patut serta wajib aku sampaikan terima kasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku laksana sebuah biduk yang dibangun dan dibentuk sedemikian indahnya, dihiasi dengan fasilitas pendidikan ilmu dan akhlaq yang terpuji. Aku diberi kepercayaan dan kesempatan seluas-luasnya untuk untuk mendatangi dan meniti terjalnya tangga istana ilmu hingga keperguruan tinggi. Aku dipupuk dan dibelai dengan kasih sayang tulus keduanya tanpa pamrih atau harapan balasan dariku. Aku dipupuk dengan pupuk cinta serta kasih sayang seorang ibu dan seorang ayah. Segala bentuk keteraturan serta disiplin iman dan semangat menuntut ilmu yang ditanamkan kedalam sanubariku sejak aku kecil, kini terasa memelukku dengan mesra penuh aroma keharuman wewanginya ilmu yang berhasil aku peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ayah bunda tersayang ! kini aku datang kembali keharibaanmu berdua mempersembahkan segala hasil yang kuperoleh. Walau aku tahu dan sadar. persembahan ini bukanlah sebuah balas budi, karena engkau berdua telah berbisik ditelingaku bahwa apa yang kuperoleh kelak adalah bekal hidupku didunia dan diakhirat. Aku ingin melihat engkau berdua menangis syukur atas pencapaianku ini yang sebenarnya berkat bimbinganmu berdua jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biduk yang engkau bangun dulu, kini telah siap mengarungi samudera hidup yang luas seolah tak bertepi. Do’akan nanda semoga berhasil melayarkan bahtera ini hingga kembali berlabuh dipangkuan Ilahi Rabbi dengan menjunjung syari’atnya sebagaimana telah engkau berdua ajarkan kepadaku menurut sumber yang benar dari junjungan kita Nabi Muhammada SAW. Terngiang selalu dikuping sanubariku akan nasihatmu &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Siapa yang bersandar kepada Allah dan Rasulnya niscaya ia akan menjadi orang bahagia dunia dan akhiratnya, sebaliknya siapa yang bersandar kepada sesama manusia, niscaya hendaklah ia bersiap diri menjadi orang yang kecewa”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda memohon maaf ampun darimu berdua akan segala kesalahan bahkan dosa-dosa yang ananda perbuat selama ini, agar dengan ampun maaf dan redhamu berdua ananda menperoleh redhanya Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimalah persembahan kelulusan ananda ini sebagai sebuah hadiah tanda bakti ananda kepadamu berdua, serta sekali lagi terimalah permohonan ampun maaf dari ananda, sekalipun ananda tahu ampun maafmu berdua telah mendahului pemohonan ananda ini. Semoga ananda mampu mengikuti jejakmu berdua dalam membesarkan, mendidik serta menyangi anak-anak dan keluarga ananda kelak. Kini dengan segala ketulusan hati kubermohon kepada Allah sebagaimana do’a yang Dia ajarkan dalam firman-Nya yang mulia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTHgSpayYI/AAAAAAAAAMQ/AxZackaqAqY/s1600-h/suratei3.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 387px; height: 92px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTHgSpayYI/AAAAAAAAAMQ/AxZackaqAqY/s320/suratei3.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275060421132994946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Artinya :  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".  (Q.Surah Al-Isra’ : 24).   Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Anandamu selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTJnzl32HI/AAAAAAAAAMY/obPfjEOrP50/s1600-h/ei.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 87px; height: 123px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTJnzl32HI/AAAAAAAAAMY/obPfjEOrP50/s320/ei.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275062749258831986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Layli Albar&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-7431329541168148650?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/7431329541168148650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/7431329541168148650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/12/surat-terima-kasih-buat-umi-aba.html' title='Surat Terima Kasih buat Umi &amp; Aba tercinta'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/STTGDiDaPoI/AAAAAAAAAMA/j1kKnFIXOiA/s72-c/suratei1.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1999725162378263055</id><published>2008-11-26T00:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T00:50:40.512-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Dimanakah Ghirroh Ke-Sayyid-anmu?</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Artikel yang sangat menarik ini saya baca dan beri komentar pada blognya &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://blog.its.ac.id/syafii/2008/10/06/dimanakah-ghirroh-ke-sayyid-anmu/"&gt;Mas Syafii&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; seorang Muhibbin. Aslinya artikel ini dari blog &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://luluvikar.wordpress.com/2008/05/28/dimanakah-ghirroh-ke-sayyid-anmu/"&gt;Syarifah Lulu Assegaf&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.  Mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIMANAKAH GHIRROH KE-SAYYID-ANMU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: Intan Agil Al-Attas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikri duduk terdiam seorang diri di warung kopi di sebuah gang sempit. Pikirannya sedang kusut. Ia mengeluarkan kotak Marlboro dari kantongnya dan mulai merokok tanpa henti. Sudah dua jam ia duduk disitu. Batang rokoknya tinggal satu. Ia menyalakan rokok terakhirnya. “Kapan kita menikah?” suara Tasya masih terngiang di telinganya. Ia bukannya tidak ingin menikahinya. Dari segi fisik, mental, dan keuanganpun Fikri sudah siap untuk menikah. Satu-satunya masalah yg sedang dihadapinya adalah bagaimana mengatakannya pada orang tuanya. Dari dulu ia tahu Tasya yang keturunan indo-cina tidak akan bisa diterima di keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau seorang sayid. Menikahlah dengan syarifah. Ini harapan abah dan umimu yang nggak bisa dikompromi. Cukuplah kakakmu saja yang ‘keluar dari rel-nya’.” Itu kata-kata abah yang masih segar di ingatannya saat kakaknya menikah dengan lelaki pribumi lima tahun yang lalu. Fikri membenamkan wajahnya ke meja. “Bagaimana ini Ya Allaah…” Ia tidak sampai hati menyakiti orangtuanya namun ia tidak ingin melepaskan Tasya, apalagi gadis itu sudah cinta mati dengan Fikri. “Cks…Tasya bisa nangis darah jika aku putuskan. Bahkan mungkin bunuh diri.” Setan mulai meracuni pikirannya. Fikri mulai berpikiran yang tidak-tidak. Kedua tangannya memegang kepalanya seakan-akan mau pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, Kri!” Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Fikri. “Bekher ente? Ada apa kok mukamu kusut gitu kayak orang stress?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh..Bang Ali..ana emang lagi banyak pikiran nih bib” jawab Fikri. Bang Ali adalah keponakan umi satu ayah tapi lain ibu. Ia tinggal di depan warung kopi bersama Kak Balqis istrinya, dan ketiga anaknya yang masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit kelegaan di hati Fikri bertemu Bang Ali. Ia mempunyai pandangan yang luas dalam menilai sesuatu. Banyak orang yang minta pendapatnya saat mereka sedang dihadapi masalah. Seperti biasa, Fikri mulai menceritakan masalahnya dari awal hingga akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fikrii..Fikri…” Bang Ali menggelengkan kepalanya. Sebelum berkata lebih lanjut ia memesan satu bungkus rokok dan secangkir kopi. Sambil memasukkan batang rokok ke mulutnya, ia berkata “Ente bahlol ya? Dulu bukannya udah dua kali ngadepin persoalan yang sama. Gak kapok-kapok ente? Cuma orang bahlol yang gak bisa ngambil pelajaran dari pengalamannya. Cape deeeh ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Ali memang benar. Ini merupakan yang ketiga kalinya ia melakukan kesalahan yang sama. Yang pertama, ia bisa melepaskan Dewi dengan alasan masih kuliah. Yang kedua, ia memutuskan Sarah dengan alasan belom punya pekerjaan tetap. Sekarang, ia kehabisan akal bagaimana memutuskan Tasya. Dan lagi ia tidak berani memutuskan Tasya karena pada dasarnya ia lelah hidup membujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ente berani bermain api padahal ente tau betul nantinya kalau bukan Tasya yang terbakar, abah umi ente yang terbakar”. Mendengar itu Fikri terhenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang tinggal pilih deh. Tasya, atau orang tua yang ingin ente bahagiain. Coba, ente lebih sayang siapa? Mata Fikri mulai berkaca-kaca. Melihat itu Bang Ali langsung diam. Kasihan sekali ini anak pikirnya. Sebetulnya masih banyak yang ingin ia katakan tapi rupanya Fikri tidak siap mendengarnya. Ternyata, di balik tubuhnya yang gagah, hatinya sangat rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al afu Kri. Ana gak ada maksud untuk nyudutin ente. Ya udah gini aja. Ente coba ngomong baik-baik sama abah-umi. Kalau mereka tetep gak ridho ente nikah sama Tasya, ya udah putuskan ia secara baik-baik. Beri ia pengertian tentang keadaan ente yang sebenarnya. Memang bakal sakit rasanya Kri. Butuh waktu untuk bangkit kembali. Tapi dengan sabar dan do’a, mudah-mudahan ente dan Tasya masing-masing dapet jodoh yang cocok dan memuaskan. Sebaiknya masalah ini cepat diselesaikan Kri. Jangan berkhayal akan ada moment yang tepat untuk bicara. Sekaranglah saat yang tepat. Karena semakin ente ulur-ulur waktu, semakin besar harapan Tasya ke ente. Semakin besar pula harapan abah-umi ente untuk segera nikah dengan syarifah.” Fikri mengangguk, “Doain ana ya bib”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu rumah seberang warung terbuka. Kak Balqis muncul dari balik pintu. Sambil membetulkan kerudungnya, ia berjalan ke arah warung. “Abang! Gulanya mana? Ditungguin dari tadi ternyata nongkrong di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya! Al afu abang lupa. Ada Fikri nih di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bekher Kri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bekher Alhamdulillah Kak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balqis membeli gula dan duduk di sebelah Bang Ali. Ia melihat kotak rokok di atas meja. Sambil memberikan senyum yang sangat manis ke suaminya, “Udah ngisap berapa batang hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru tiga batang” jawab Bang Ali sambil membalas senyum istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup dulu ya” Kak Balqis menyita kotak rokok, “Rokok itu gak bagus buat pertumbuhan sperma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Bang Ali tertawa terbahak-bahak. Biasanya kata-kata umum yang sering diucap oleh wanita adalah “Rokok tidak bagus buat jantung” atau “Rokok tidak bagus buat paru-paru”. Ali selalu tertawa setiap kali mendengar komentar istrinya yang luar biasa. Baginya, segala perkataan dan kelakuan istrinya dianggap lucu dan menggemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat betul pasangan ini” pikir Fikri. Sudah 7 tahun mereka menikah tapi gelagatnya masih seperti pengantin baru. Padahal Kak Balqis berasal dari keluarga yang sangat kaya dan Ali berasal dari keluarga yang bisa dikatakan berada di bawah standar. Fikri melihat sendiri bagaimana perjuangan mereka untuk bersatu. Bang Ali banting tulang setiap hari untuk membangun bisnis kecil-kecilan. Kak Balqis dengan sabarnya menunggu sampai Bang Ali berhasil mengontrak rumah mungil di gang sempit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, mereka masih diberi ujian. Dengan penghasilan yang sangat kecil, Kak Balqis dengan sekuat tenaga beradaptasi untuk dapat hidup serba pas-pasan. Bang Ali pun bersabar atas masakan istrinya yang terkadang terlalu asin atau terlalu manis. Maklumlah, sangking kayanya, Kak Balqis dulu jarang sekali masuk dapur. Butuh waktu 6 bulan untuk bisa memasak sayur asem dengan rasa selayaknya sayur asem. Tapi sekarang Masya Allah… ia bisa masak macam-macam bahkan mahir membuat kue. Dan dua tahun belakangan ini bisnis Bang Ali mulai menunjukkan titik terang. Ia mempunyai 4 toko. Toko buku dan optik berada di bawah manajemennya dan 2 toko lainnya, toko kue dan batik pekalongan, ia biarkan Kak Balqis yang mengurusnya. Mereka dianugerahi dua anak kembar Hasan dan Husein, berusia 6 tahun, dan Aisyah, berusia 3 tahun. Bulan depan mereka akan pindah ke rumah yang lebih besar. Pasangan ini betul-betul saling melengkapi. Subhanallah… inikah yang disebut sebagai keluarga yang sakinah, ma waddah, wa rohmah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fikri kok nongkrong di sini aja? Kenapa gak mampir ke rumah? Udah sombong ni yaah..” ujar Kak Balqis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak kok Kak. Cuma pikiran lagi kusut aja sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, kenapa Kri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Alipun menceritakan masalah Fikri ke istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Balqis menghela nafas. “Biasa tu.. masalah klasik sayid dan syarifah. Cobaan para sayid jaman sekarang ini, di mata mereka, yang non-syarifah itu lebih menggairahkan, lebih terbuka, lebih agresif, dan sangat nyaman dijadikan pacar. Dan cobaan para syarifah itu, non-sayid itu lebih sabar, tidak tempramen, lebih berpendidikan, lebih mapan, lebih manis kata-katanya, lebih pengertian, hingga lebih nyaman dijadikan tempat berlindung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Balqis menatap Fikri dengan tajam. “Menurut kamu pribadi nih Kri, seorang syarifah harus nikah dengan sayid gak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, harus” jawab Fikri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sayid?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak harus”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa begitu?” lanjut Kak Balqis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang di pikiran Kak Balqis menanyakan sesuatu yang ia sudah tahu jawabannya, namun Fikri tetap menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena laki-laki yang membawa keturunan, nggak masalah siapa yang dinikahinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak masalah ya…” Kak Balqis menahan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini punya pendirian gak sih?” tanya Kak Balqis agak meninggi. Fikri tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau meyakini syarifah harus nikah dengan sayid tapi nggak sebaliknya, padahal kau tau di dunia ini jumlah syarifahnya lebih banyak dari sayid. Jadi, setiap sayid yang menikah dengan non-syarifah artinya ia telah mengorbankan satu syarifah. Daripada mereka menikah dengan non-sayid, kau lebih senang mereka mati perawan? Mana tanggung jawabmu sebagai seorang sayid? Apa ghirroh kesayyidanmu sudah padam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Fikri langsung memerah karena malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau masih juga mau menikah dengan Tasya, ahsan buang saja gelar sayidmu itu ke tong sampah. Gak usah yahanu bersyukur dilahirkan sebagai sayid deh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Fikri rasanya seperti ditampar. Kata-kata itu sungguh menyakitkan. Ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pah…cukup.” Bang Ali menegur istrinya. Kak Balqis langsung diam, namun matanya masih menatap Fikri dengan tajam. Wajar saja ia emosi. Ia punya banyak adik perempuan, keponakan, misan dan saudara perempuan yang belum menikah padahal sudah cukup umur. Hatinya jadi tambah khawatir memikirkan bagaimana nasib anak perempuannya kelak padahal saat ini umur Aisyah baru 3 tahun. Belom apa-apa sudah jadi beban pikiran..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kri..” Bang Ali bertanya “Ente tau kenapa abah ente keras sekali mengharuskan semua anaknya, yang laki-laki maupun perempuan, untuk nikah sekufu?” Fikri tidak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebetulnya itu merupakan salah satu wujud kecintaan abah ente terhadap Baginda Muhammad SAW”. Fikri tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau gak, saat kakak ente nikah dengan non-sayid, abah ente nangis tiap malam sampai berhari-hari. Watak abah ente sangat keras tapi sebetulnya hatinya sangat lembut. Ntar, kalo ente udah punya anak, barulah ente bisa ngerasa betapa lembutnya hati seorang ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikri menunduk. Tenggorakannya terasa perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak kenalin dengan syarifah mau gak Kri? Ada banyak stok nih”, ucap Kak Balqis serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa Pah?” tanya Bang Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada Nasywa, Sabina, Cici, Mona, Rugaya, banyak deh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… ana udah kenal mereka, tapi jarang ngobrol sih..” ucap Fikri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus? Belom ada yang menarik hati? Ntar kakak carikan yang lain deh” ujar Kak Balqis meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan… mereka terlalu tinggi buat ana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terlalu tinggi gimana?” tanya Bang Ali penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasywa terlalu pintar. Ia sudah S2 sedangkan ana cuma S1. Sabina terlalu baik, sedangkan ana bandel dan sembrono. Lalu..Rugaya dari keluarga yang kaya dan terpandang….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Ali dan Kak Balqis saling memandang. Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allaaahhhh Fikriiiiii” keluh Bang Ali. “Pengecut kali ente! Belom apa-apa udah minder duluan. Masa ama harim takut? Ente rejal bukan sih? Coba ente kenalan dulu lebih mendalam. Siapa tau mereka bisa nerima ente apa adanya. Jangan menyerah dulu sebelum berperang”. Bang Ali merangkul istrinya dan berkata ke Fikri “Ente gak liat nih contoh konkrit?” Kak Balqis tersenyum. “Harim ana ini bisa terima ana apa adanya padahal dulu ana kere-nya luar biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikri tersenyum. Ada sedikit rasa iri melihat kemesraan mereka. Ia ingin sekali bisa seperti itu kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu di seberang warung kembali terbuka. Kali ini si kembar yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abah!” teriak Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebaik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, katanya mau maen bola!” sahut Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo! Balas ayahnya. “Abah ambil bola dulu ya?” Sambil bangun dari tempat duduknya, Bang Ali bilang “Kri, ke rumah ana dulu sebentar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Ali menyerahkan 3 buku ke Fikri. “Baca ini dulu Kri” sambil menunjuk buku tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. “Dijamin kecintaan terhadap Rasulullah akan bertambah bagi siapa saja yang membacanya insya Allah. Dibaca ulang terus juga ente gak akan bosan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku lainnya yang diterima Fikri adalah kumpulan doa-doa, wirid, ratib, dan maulud. Dan satu lagi tentang biografi seorang habib zaman dahulu yang terkenal beserta ajaran dan kata-kata mutiaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Fikri pamit, Bang Ali berkata, “Besok ikut ana hadir maulid. Setelah itu kita keliling ziarah dan silaturrahmi ke habib-habib yang dituakan. Mudah-mudahan dengan begini ente kembali ke ajaran salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan menuju rumahnya, Fikri kembali mencerna kata-kata Bang Ali dan Kak Balqis. Kali ini ia biarkan air matanya yang sejak tadi ditahan sekuat tenaga mengalir deras di pipinya. Air matanya terasa panas. Fikri bertanya pada dirinya sendiri, “Apa benar semangat kesayyidanku telah padam?” Ia jadi merinding dan ketakutan. Kedua tangannya mengusap wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam. “Besok aku akan ikut Bang Ali”, tekadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Untuk semua saudara dan kawan2ku; sayid &amp;amp; syarifah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Mei 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1999725162378263055?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1999725162378263055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1999725162378263055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/dimanakah-ghirroh-ke-sayyid-anmu.html' title='Dimanakah Ghirroh Ke-Sayyid-anmu?'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-8777677589881919498</id><published>2008-11-25T00:11:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T00:51:01.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan koe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Biografi singkat Ayahanda tercinta Alhabib Ali bin Muchsin Albaar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSu7mtPey5I/AAAAAAAAAL4/9Alk8TElNjs/s1600-h/abacloseup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 254px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSu7mtPey5I/AAAAAAAAAL4/9Alk8TElNjs/s320/abacloseup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272514062421248914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ayahanda, Sayyid Ali bin Sayyid Muksin Albaar adalah putera pertama dari sepasang suami – isteri yang sederhana, menikah pada tanggal &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;5 Juli 1945 Miladiyah atau bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1365 Hijriyah&lt;/span&gt;. Ayah beliau  bernama Sayyid Muksin bin Al- Habib Ahmad bin Muksin Albaar, dan Ibundanya  benama Syarifah Zena binti Al- Habib Muhammad Bin Musthafa Bin Syech Abubakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahanda lahir pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;hari Selasa tanggal 22 Juli 1946 M, bertepatan dengan tanggal 23 Sya’ban 1366 H. di Sanana sebuah Kota Kecamatan (sekarang Kabupaten) Kep.Sula. Tepatnya di Kampung Fagudu&lt;/span&gt;. Kehidupan  serba kekurangan pada saat itu melanda seluruh wilayah Republik Indonesia yang baru merdeka kurang dari setahun. Pada tahun 1953 Sayyid Muksin membawa seluruh keluarga pindah ke Ternate – ibu kota Kabupaten Maluku Utara ketika itu (sekarang Provinsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tua Alhabib Ali masing-masing diasuh dalam lingkungan keluarga Muslim  yang ta’at menjalankan syariat Islam. Maka sejak dini Ayahanda  telah diperkenalkan kepada dasar-dasar ajaran Islam oleh kedua ayah bundanya.  Alhabib Ali  lebih banyak diasuh oleh sang Ibu, karena ayah beliau  adalah seorang pedagang keliling pulau-pulau di Maluku Utara yang kadang memakan waktu berbulan-bulan lamanya baru kembali ke rumah. Ibundanya Syarifah Zena dengan tekun membesarkan anaka-anaknya yang semuanya berjumalah lima orang, terdiri dari dua orang putera dan tiga orang puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1962, ketika prospek dagang di Ternate dan sekitarnya kurang membuahkan hasil yang memadai, maka kembali ayahanda beliau memboyong seluruh keluarga hijrah kembali ke kota Sanana. Kecuali Alhabib Ali, ditinggalkan di Ternate meneruskan pendidikan sekolah dasar (ketika itu bernama S.R – Sekolah Rakyat). Pada tahun 1963 Alhabib Ali  menyusul kedua orang tua dan adik-adik di Sanana, dan menyelesaikan S.L.T.P. dan S.L.T.A. di Sanana kampung kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari S.M.A. Sanana pada tahun 1967, pada tahun itu juga beliau meneruskan pendidikannya ke Universitas Hasanuddin Makassar jurusan Ekonomi, tetapi hanya mencapai tingkat II ( semester III). Selanjutnya meneruskan pendidikan ke Sekolah Pelayaran Makassar, selagi masih duduk di tingkat Persiapan FEKON – UNHAS (kuliah rangkap) Tahun 1968. Setelah naik ke  tingkat II, Ayahanda meninggalkan fakultas ekonomi. Berkonsentrasi penuh pada Sekolah Pelayaran, dan selesai (tamat) tahun 1969.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Makassar kemudian beliau merantau ke Jakarta, dan mulai mukim di  Jakarta sejak Januari  1970. Memulai karier sebagai pelaut sejak Maret tahun 1970 sampai dengan Oktober 1980. Selama lebih kurang sepuluh setengah tahun sebagai Perwira (Mualim) hingga  Nakhoda Kapal. Sampai di tarik menjadi karyawan darat tetap pada tahun 1981. Pada sebuah Perusahaan Pelayaran swasta terkemuka di Indonesia, yakni PT.Pelayaran Samudera Indonesia. Karier di darat mulai dari Supervisor, Manager Operasi, Branch Manager sampai jabatan Direktur telah pernah dijani hingga  pada saat ini. (pensiun dari PT.Samudera Indonesia tahun 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahanda, Alhabib Ali  menikah dengan seorang puteri Kalimantan Selatan dari kalangan  keluarga serumpun. Bernama &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Syarifah Seihah binti Sayyid Muhammad Al-Kaff pada Oktober 1974&lt;/span&gt;. Ayahanda di karuniai lima orang anak, masing-masing seorang putera dan empat orang puteri. Namun puteri bungsu yang di beri nama Syarifah Shally Rizqiyatuzzahra wafat pada hari kelahirannya pada tanggal 22 Juni 2002 M , bertepatan dengan 11 Rabi’ul akhir 1423 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KARIER DALAM BIDANG AGAMA ISLAM&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai pada sekitar tahun 1977, secara tiba-tiba datang sebuah keinginan merubah sebuah kebiasaan memborong majalah – majalah  mingguan yang terbit pada saat kapal akan berangkat sebagai bacaan selama dalam pelayaran. Diganti dengan buku-buku Agama Islam. Sejak itu Ayahanda  tekun membaca buku-buku Agama (terjemahan). Mempelajari Agama Islam secara otodidak. Namun karena terobsesi dengan salah sebuah Sabda Nabi SAW, bahwa orang yang belajar Agama Islam semata-mata dari buku- kitab Agama, maka gurunya adalah setan. (Al-Hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekalipun masih bertugas sebagai Nakhoda Kapal, Beliau mulai berusaha belajar Agama Islam melalui guru-guru Agama, dan memperoleh Izajah (secara non formal). Diantara guru-guru Beliau adalah : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Habib Hasyim bin Husain bin Thahir di Irian Jaya. Habib Abubakar bin Abdullah Alaydrus di Ambon (Almarhum). Al- Ustadz Nurdin bin Abdullah (guru mengaji Al-Qur’an) – Sanana. Habib Abdullah bin Alwi bin Abubakar Al-Jufri - Jakarta (Almarhum). K.H. Syafei Munandar - Jakarta. Habib Muhammad bin Salim Alhabsyi – Bogor (Almarhum). Habib Musthafa bin Abdulkadir Alaydrus - Jakarta. Habib Hasan Baharun Pimpinan Ponpes Darulluqah – Bangil (Almarhum). Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas - Martapura. Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Kaff – Kuningan Jabar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemar pula berdiskusi Agama Islam dengan para ‘ulama Habaib dan ‘alim‘ulama lain yang lurus perjalanannya serta luas ‘ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mulai berani berda’wah sejak dipercaya masyarakat lingkungan dimana beliau bertempat tinggal di RW.02 Kelurahan Pondok Bambu Kecamatan Duren Sawit – Jakarta Timur menjadi Ketua Masjid Jami’ Nurul Iman sejak tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering pula menyampaikan Khotbah Jum’at, ‘Idil Fitri, ‘Idil Adha, Kotbah Nikah dan ceramah – ceramah Agama Islam di lingkungan Masjid dan Kantor Pemerintah dan Swasta di jakarta. Kalimantan Timur, Pulau Batam, Maluku Utara. Juga di kota-kota lain yang dikunjunginya  apabila diminta atau diundang pada acara-acara pengajian. Semua ini berkat dorongan para guru-guru pembimbing beliau, untuk berani berda’wah demi syiar Al Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1991 beliau berkesempatan menunaikan ‘ibadah Haji ke Baitul Haram dan jiarah ke Maqam Rasulullah SAW di Madinatul Munawwarah bersama ayah bunda serta istri tercintanya. Pada perjalanan ‘ibadah ini pula, ayahanda tercinta beliau Sayyid Muksin Albaar menutup usia di Makkah Al Mukarramah tepat beberapa jam setelah menyelesaikan rukun Haji (Tawwaf ‘Ifadah) usai nafar awal. Tepatnya pada tanggal 26 Juni 1991 M / 13 Zulhijjah 1412 H, pada pukul 03:00 waktu setempat dan dimakamkan dengan tenang di komplek pemakaman di Ma’la Makkah, waktu dhuhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah filosofi hidup yang ditinggalkan kakek saya kepada ayahanda tercinta : “Milik orang lain bukan milikmu, milikmu bukan milik orang lain. Maka hindari milik orang lain, dan pertahankan hak milikmu sendiri sekalipun kepala harus bercerai dari badan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku “PERJANJIAN MANUSIA DENGAN ALLAH” adalah buku yang pertama. Tulisan lain adalah “KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN” – MENGUAK TABIR RAHASIA KEMULIAAN PUTERI-PUTERI AHLUL BAIT NABI MUHAMMAD S.A.W. sebagai Naskah sanggahan atas Buku dengan judull “DERITA PUTRI PUTRI NABI” oleh M.Hasyim Ass.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-8777677589881919498?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8777677589881919498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8777677589881919498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/biografi-singkat-ayahanda-tercinta.html' title='Biografi singkat Ayahanda tercinta Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSu7mtPey5I/AAAAAAAAAL4/9Alk8TElNjs/s72-c/abacloseup.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-4624668589889616212</id><published>2008-11-24T23:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T23:46:07.533-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Do'a untuk sahabatku Al habib Mahmud bin Ahmad Alhaddar..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSusPZ5H9UI/AAAAAAAAALw/ZnLuXZv2a-k/s1600-h/abacloseup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 254px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSusPZ5H9UI/AAAAAAAAALw/ZnLuXZv2a-k/s320/abacloseup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272497169415796034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DO’A UNTUK SANG SAHABAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Sahabat !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terasa masih hangat sentuhan badanmu kala kudekap&lt;br /&gt;Jiwaku berbisik menyadarkanku bahwa engkau telah tiada&lt;br /&gt;Seluruh perasaan jiwaku terpana diantara percaya dan tidak&lt;br /&gt;Airmata bercucuran menangisi kepergianmu, bahkan untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Sahabat !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk tafakkur separohan malam di sisimu, jiwaku bicara padamu&lt;br /&gt;Engkau ketahui yang kudhahirkan maupun yang tersembunyi dalam hatiku&lt;br /&gt;Jasadmu terbujur, namun senyum kepuasan dan kredhaanmu terus menatapku&lt;br /&gt;Aku tahu engkau tidak ingin melihatku berduka melepaskanmu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Sahabat !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat kepergianmu mengungkapkan rahasia besar tentang yang engkau miliki&lt;br /&gt;Ketululusanmu mendatangi majelis ilmu mengangkat martabat akhir hayatmu&lt;br /&gt;Telah engkau capai kebahagian dunia dan kemulian mati hai sahabatku&lt;br /&gt;Engkau tunjukkan manisnya buah iman, bersih hati dan lezatnya amal kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Sahabat !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila dedaunan, rerumputan, pepohonan serta bebatuan diijinkan bicara&lt;br /&gt;Niscaya mereka disepanjang jalan yang engkau lalui menuju maqammu&lt;br /&gt;Mengisahkan pada makhluk dilangit dan dibumi, siapa gerangan engkau&lt;br /&gt;Semuanya memberikan kesaksian sempurna, dan engkau peroleh luas Rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Sahabat !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan wahai karibku, do’aku selalu untukmu untuk sahabatku tercinta&lt;br /&gt;Ya Allah yang Maha Rahman dan Rahiim, terimalah hamba-Mu yang ikhlas ini&lt;br /&gt;Orang yang detak jantung, nafas dan lidahnya selalu tertuju kepada-Mu jua&lt;br /&gt;Ya Rasulullah, inilah cucundamu, dimasa hidupnya berusaha menjaga Sunnahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sahabat qarib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ali Muhsin Albaar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-4624668589889616212?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/4624668589889616212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/4624668589889616212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/doa-untuk-sahabatku-al-habib-mahmud-bin.html' title='Do&apos;a untuk sahabatku Al habib Mahmud bin Ahmad Alhaddar..'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSusPZ5H9UI/AAAAAAAAALw/ZnLuXZv2a-k/s72-c/abacloseup.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1315847546752060956</id><published>2008-11-24T01:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T01:51:08.078-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurul Ta&apos;aj'/><title type='text'>Sekilas Nurul Ta'aj..</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;Nurul Taaj&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Visi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-Membantu mencerdaskan generasi muda islam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-Merangsang keinginan mendalami Agama Islam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-Mencari ilmu agama dari sumber mata air Islam yang valid dan populer.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Misi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menolong generasi muda Islam agar memiliki semangat dan keinginan belajar agama melalui diskusi atau ruang tanya jawab.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyediakan tenaga guru pembimbing yang sesuai dalam ruang lingkup cabang-cabang Ilmu Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencegah kemungkinan generasi muda masuk kealiran Islam yang sesat, serta mereduksi hal tersebut serendah mungkin dan secara dini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Upaya transformasi ilmu agama dalam segala aspek secara cermat dan teliti.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberi dan Membimbing pemahaman akan ajaran Islam kepada generasi muda Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyelamatkan Umat Islam Indonesia dari bahaya dan upaya pengrusakan aqidah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Nama &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Nurul Taaj&lt;/span&gt;  mengandung arti secara harafiah “&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Cahaya Mahkota”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Nama ini diambil dari nama Majelis Ta’lim yang dibentuk oleh Al habib Mahmud bin Ahmad Alhaddar. Majelis Ta'lim ini menjadi &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;tempat kami mengadakan pengajian dan pengkajian ilmu-ilmu agama&lt;/span&gt;. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;Setelah beliau wafat kemudian diteruskan oleh anak beliau Al habib Muhammad Salman bin Mahmud Alhaddar. Setelah Al habib Salman meninggal, maka sampai sekarang Majelis Ta'lim ini diketuai oleh mantu dari Al habib Mahmud yaitu Al habib Helmy bin Alwi bin Syech Abubakar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nama Nurul Taaj sendiri dipilih sebab mempunyai makna yang sangat tinggi, karena nama tersebut merupakan nama shalawat yang dianggap sebagai “Mahkota” dari seluruh shalawat yang pernah ada. Jadi &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;nama Nurul Taaj diambil dari judul shalawat yaitu “Shalawat Taaj”. Shalawat Taaj ditulis dan dijadikan amalan oleh  “Sayyidiy Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Fakhrul Wujud As-Syekh Abu Bakar Bin Salim R.A” yang lebih dikenal dengan “As-Syekh Abu Bakar Bin Salim R.A” .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beliau adalah seorang Wali Allah dan ulama yang sangat termahsyur, yang dikenal karena keluasan ilmu, dan keluhuran akhlaqnya, serta sangat menyayangi dan mengutamakan kaum faqir miskin daripada dirinya sendiri, Begitu banyak Wali Allah setelah jaman beliau yang notabene adalah turunan beliau sendiri. Begitu juga dengan murid-muridnya yang tersebar ke seluruh dunia. Salah satu keturunannya yang menjadi guru besar di Haramaut adalah Al-Habib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidh Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim. Murid murid Habib Umar yang terkenal dan merupakan salah satu guru kami adalah &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Al-Habib Munzir bin Fuad almusawa&lt;/span&gt; yang mendirikan Majelis Ta’lim yang populer dengan nama &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;“Majelis Rasulullah”&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa “wejangan” dari As-Syekh Abu Bakar Bin Salim R.A yang dikutip dari “Managib Sayyidina Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Fakhrul Wujud As-Syekh Abu Bakar Bin Salim R.A” yang ditulis oleh As-Sayyid Muhammad Rafiq Bin Luqman Al-Kaff Gathmyr. Wejangan ini  juga menjadi inspirasi dari visi dan misi Nurul Taaj :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Barang siapa mengenal dirinya, ia tidak akan melihat selain Allah. Barang siapa tidak mengenal dirinya, ia tidak melihat Allah Ta’ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barang siapa bergaul dengan orang-orang yang baik ia akan memperoleh berbagai pengetahuan. Dan barang siapa yang bergaul dengan orang-orang jahat ia akan memperoleh aib dan siksa api neraka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbagai hakekat tidak akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan berbagai penghalang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam qana’ah terdapat ketentraman dan keselamatan sedangkan di dalam tamak terdapat kehinaan dan penyesalan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang arif melihat aib-aib dirinya, sedang orang yang lalai melihat aib-aib manusia lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hendaklah kamu bertawadhu’ dan tidak menonjolkan diri. Jauhilah sikap takabur dan cinta akan kedudukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbagai hakekat terhijab dari hati karena perhatian kepada selain Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dunia adalah anak perempuan akherat, barang siapa telah menikahi seorang perempuan, maka haramlah memperistri ibunya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beristiqamahlahlah kalian dalam setiap amal, karena para ahli kasyaf sekalipun semua bermohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kekuatan dalam beristiqamah agar mereka tidak jatuh dalam keadaan terhijab dari-Nya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketahuilah oleh kalian Ma’rifat kepada Allah SWT adalah dengan kejelasan dan bukan dengan tersamar, dan bilamana seorang hamba diberi-Nya ma’rifat kepada-Nya maka ia pasti akan melihat semua amal yang dicintai oleh Rasul Allah SAW.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1315847546752060956?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1315847546752060956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1315847546752060956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/sekilas-nurul-taaj.html' title='Sekilas Nurul Ta&apos;aj..'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-105381844346614512</id><published>2008-11-24T01:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T01:31:04.834-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurul Ta&apos;aj'/><title type='text'>Shalawat Ta'aj</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 24px; font-weight: bold;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;صَلاَوَةُالتَّاجٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;لسيد نا الامام الشيج أبى بكر بن سالم العلوى لثفاءالآسقام&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;SHALAWAT MAHKOTA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Do’a Tolak Bala’, Serta Penyembuh Segala Penyakit Jasmani / Rohani&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Dari Waliyullah : Assayyid Al-Imam Assyeikh Abu Bakar Bin Salim Al-Alawi (Almarhum Almaghfur)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ صَا حِبِ التَّاجِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Allahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa muhammad shaahibittaaj&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;وَاْلمِعْرَاجِ وَاْلبُرَاقِ وَاْلعَلَمِ دَافِعِ اْلبَلآءِ وَالْوَبآءِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Wal mi’raaji wal buraaqi wal ‘alami daafi’il balaai wal wabaa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;وَاْلمَرَضِ وَالْأَلَمِ جِسْمُهُ طَاهِرَُ مُطَهَّرَُ مُعَطَّرَُ مُنَوَّرَُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Wal maradhi wal alami jismuhu thaahirun muthaharun mu’athatharun munawwarun&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;مَنِ اسْمُهُ مَكْتُوْبَُ مَرْفُوْعَُ مَوْضُوْعَُ عَلَى الَّلوْحِ وَاْلقَلَمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Manismuhu maktubun mar fuu’un mau dhuu’un ‘alaa llawhi wal qalam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;شَمْسِ الضُّحَى بَدْ رِالدُّجَى نُوْرُالْهُدَى مِصْبَاحُالضُّلَمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Syamsi dhuhaa badriddujaa nuurul hudaa misbaahuzhzulam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;أَبِى اْلقَاسِمِ سَيِّدِالْكَوْنَيْنِ وَشَنِيْعِ الثََّقَ لَيْنِ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Abil qaasimi sayyidil kaunayni wa syannii ‘itstsaqalayni sayyidina muhammad&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلََّمَ سَيِّدِ اْلعَرَبِ وَاْلعَجَمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Shallallahu ‘alayhi waaalihi wasallama sayyidil ‘arabi wal ‘azami&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;نَبِيِّ اْلحَرَ مَيْنِ مَحْبُوْبَُ عِنْدَ رَبِّ اْلمَشْرِقَيْنِ وَاْلمَغْرِبَيْنِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Nabiyyil haramayni mah buu bun ‘indarabbil masyriqayni wal maghribayni&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;فَيَا أَيُّهَا اْلمُثْتَاقُوْنَ إِلَى رُوْيَةِ جَمَا لِهِ صَلُّوْا عَلَيْهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Fayaa ayyuhal musytaaquuna ilaa ru’yabi jamaa lihi shallu ‘alaihi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Wasallimu tasliimaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;S H A L A W A T    T A ’ A  J&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Terjemahan (Shalawat Mahkota)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ya Allah, wahai dzat yang maha agung kerajaannya, yang qadim (terdahulu) kebaikannya, yang kekal nikmatnya, yang banyak kebaikannya, yang luas pemberiannya, yang melapangkan rezekinya, yang tersembunyi kelembutannya, yang indah ciptaannya, yang bijaksana lagi tidak tergesa-gesa, yang maha pemurah lagi tidak kikir, Berilah shalawat serta keselamatannya ya Tuhanku, kepada penghulu kami Muhammad dan keluarganya, semoga Allah ridha terhadap para sahabatnya sekalian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ya Allah, bagimu sekalian puji sebagai tanda syukur dan bagimu segala karunia hambamu yang faqir dan engkau senantiasa menerima (segenap permohonan kami).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ya Allah yang memudahkan tiap-tiap yang sulit, yang menolong tiap-tiap yang kesulitan, menjadi sahabat bagi yang kesepian, pemberi kekayaan bagi yang faqir, pemberi kekuatan bagi yang lemah, pemberi rasa aman bagi yang takut, mudahkanlah bagi kami segala yang sulit, karena memudahkan yang sulit itu bagimu amatlah mudah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami amatlah takut kepada-Mu, takut kepada orang yang takut kepada-Mu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ya Allah, dengan hak orang yang takut kepada-Mu selamatkanlah kami dari orang-orang yang tidak takut kepada-Mu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ya Allah, dengan hak kekasihmu Muhammad SAW, jagalah kami dengan pandangan matamu yang tak pernah tidur, tempatkanlah diri kami dari tempat yang tidak dikehendaki. Rahmati diri kami dengan kekuasaan-Mu atas kami hingga tidak binasalah kami. Sungguh engkau adalah tumpuan harapan kami dan tempat kepercayaan kami. Ya Allah dengan kasih sayang-Mu wahai dzat yang maha penyayang dari yang penyayang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Shalawat serta salam atas junjungan Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, Beliau pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan, pelita penerang yang selalu menerangi dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-105381844346614512?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/105381844346614512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/105381844346614512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/shalawat-taaj.html' title='Shalawat Ta&apos;aj'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1122449585524682148</id><published>2008-11-24T01:04:00.001-08:00</published><updated>2008-11-24T23:14:45.183-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Kaifiyah &amp; Fadhilah Shalat Hadiah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSpuewMCHGI/AAAAAAAAALo/ZJ8KXXrkyrc/s1600-h/abacloseup.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSpuewMCHGI/AAAAAAAAALo/ZJ8KXXrkyrc/s320/abacloseup.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272147788401089634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Mengenai shalat hadiah kepada orang yang baru meninggal dunia atau yang sudah lama meninggal dunia, dapat dilakukan setiap saat bagi sanak keluarga atau sahabat almarhum / almarhumah. Amalan ini telah dilakukan oleh para shalaf dan khalaf dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Oleh karenanya, maka bagi yang mengamalkannya disyaratkan memenuhi salah satu syarat yaitu bertaqlid kepada Imam Syafi’i.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasanya Beliau bersabda : “Tiada jua datang atas mayit yang terlebih keras pada malam yang pertama, maka kasihanilah kamu akan dia dengan shadaqah. Maka barang siapa tidak mampu olehnya akan shadaqah, maka hendaklah ia sembahyang dua raka’at, pada tiap-tiap raka’at membaca : &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Surat Al-Fatihah (1x),  Ayat Qursi (1x), Surat Al-Hakumuttakattakasur (1x),  dan Surat Al-Ikhlas (10x)”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adapun lafadh niat sembahyang hadiah adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;اَُصَِلّىْ سُنَّةَالْهَدِيَهِ اِلَى فُلاَنِ بِنْ فُلاَنِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;اَللَّهُ اَكْبَرُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ushallii sunnatal hadiyah ilaa fulan bin fulan rak’atayni lillahi ta’alaa, Allaahu akbar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesudah salam baca do’a dibawah ini, dan boleh ditambah do’anya untuk almarhum / almarhumah :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;أَلَّهُمَّ َصلِّ عَلَى َسِّيدِ نَا مُحَمَّدٍ َوعَلَى آلِ َسِّيدِ نَا مُحَمَّدٍ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;اَللَّهُمَّ اِنّىِ صَلَيْةُ هَذَ الصَّلَوةَ وَاَنْتَ تَعْلَمُ مَا اُِرْيدُ اَلَّهُمَّ ابْعَثُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;ثَوَابَهَا اِلَى قَبْرِ فُلاَنِ بِنْ فُلاَنِ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Bissmillaahirrahmanirrahiim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ali sayyidinaa Muhammad,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;allahumma innii solaytu hajaasolaata wa anta ta’lamu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;maa uriydu allahummaab’atsu tsawaabahaa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ilaa kobri fulan bin fulan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jakarta, 25 Nopember 2004 – 13 Syawal 1425 H&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Habib Ali Albaar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1122449585524682148?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1122449585524682148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1122449585524682148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kaifiyah-fadhilah-shalat-hadiah.html' title='Kaifiyah &amp; Fadhilah Shalat Hadiah'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSpuewMCHGI/AAAAAAAAALo/ZJ8KXXrkyrc/s72-c/abacloseup.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-8806487050352169414</id><published>2008-11-19T21:41:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T23:14:45.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Mengenal  Kedudukan  Puncak Kewaliyan  As-Syech Abdul Qadir Al Jailani &amp; Sayyidina Al-Ustadz Al-Azham Al Faqih Muqaddam Ra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSU0we9cIMI/AAAAAAAAALg/kJl1YqFf8gs/s1600-h/abacloseup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 254px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSU0we9cIMI/AAAAAAAAALg/kJl1YqFf8gs/s320/abacloseup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270676946456158402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dengan memanjatkan Puji Syukur kehadirat Ilahi Rabbi Allah Rabbil ‘Aalamiin, Penguasa Tunggal, Raja langit dan bumi, Maha mengawasi dan Maha memberi balasan. Maha Agung dan Maha Luhur. Tempat bergantung segala makhluq-Nya. Qudrat dan Iradat-Nya meliputi serta menjangkau segala sesuatu pada seluruh ‘lam ciptaan-Nya. Dengan sifat Rahman dan Rahiim-Nya itu, maka jangkauan kelembutan kasih sayang kepada hamba2-Nya mendahului murka-Nya. Salam dan Shalawat teruntai se-indah2nya Shalawat dihaturkan keharibaan junjungan dan penghulu sekalian umat manusia. Sayyidil ahlil ardhi was samawat. Sayyidil Al- Anbiya’i wal Mursaliin, wa afdalul Habaib, Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. – Amma ba’du.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik ini sengaja ditulis sebagai sebuah upaya mengenalkan kedua tokoh Waliyullah sebagaimana tertulis pada judul tulisan diatas, dengan maksud agar kita lebih mengenali keduanya diantara sekian banyak para Wali Allah yang tersebar dimuka bumi dari zaman ke zaman. Tulisan ini ini sama sekali bukan hendak membanding-bandingkan mereka. Masing2 mereka mempunyai keunggulan di zamannya. Kehadiran mereka serta yang lainnya, adalah sebuah karunia besar dari Allah Jallajalaluh. Mereka semuanya adalah pelita yang menerangi bumi sepeninggal Rasulullah Saw. Kita yang hidup pada zaman ini adalah orang2 yang patut bersyukur ke hadirat Allah kerena manfaat dari mereka yang datang sambung menyambung dari generasi demi generasi. Kita berhutang budi kepada mereka, karena sekalipun kita tidak meneguk langsung sejuknya air dan madu manisnya ilmu pengetahuan agama dari lisan mereka. Tetapi sebenarnya kita belajar agama dari ilmu2 mereka melalui murid2 mereka baik dari keturunan mereka sendiri maupun dari murid2nya yang lain yang menjadi ‘ulama2 besar dari zaman ke zaman. Nama besar kedua tokoh bahasan kita ini kami susun menurut tahun kelahiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat sadar akan keterbatasan pengetahuan yang ada pada diri kami untuk membicarakan kedua tokoh puncak ini. Semulanya kami sangat takut membicarakan mereka secara terbuka. Kalaupun sekarang kami turunkan tulisan ini, semata-mata ingin membagi pengetahuan tentang kedua tokoh kita yang mulia ini, karena masih terdapat sebahagian orang yang ingin tahu lebih jauh akan Nasab &amp;amp; Kedudukan Puncak Kewalian mereka pada zamannya masing-masing. Kepada (arwah) kedua tokoh mulia ini kami memohon ampun maaf apabila dalam tulisan kami terdapat banyak kekurangan atau bahkan kesalahan. Hal ini mungkin saja terjadi dikarenakan kebodohan dan kemiskinan ilmu pengetahuan kami. Dan kepada mereka yang lebih tahu tentang kedua tokoh mulia ini, atau memiliki dokumen sejarah yang lebih kuat dapat memperbaikinya. Tulisan ini sendiri di ambil dari sumber bacaan yang terbatas. Namun paling tidak diharapkan agar setiap orang yang berbicara tentang tokoh mulia ini atau wali yang lainnya agar menahan diri serta lisan dari kemungkinanan ucapan salah atau keliru ketika membicarakan hal ikhwal mereka, apalagi bagi kita yang tidak hidup sezaman dengan mereka, bahkan mereka telah mendahului kita berabad-abad lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AS-SYECH ABADUL QADIR AL-JAILANI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelahiran dan Nasabnya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailani – Irak pada bulan Ramadhan tahun 470 H, bertepatan dengan tahun 1077 M. Ayahnya disebut Abu Shalih. Seorang yang taqwa, keturunan Hadhrat Imam Hasan ra, cucu pertama Raulullah Saw, putera sulung Imam Ali ra. Dan Fathimah ra, puteri tercinta Rasulullah Saw. Ibu beliau adalah puteri seorang Wali Abadullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husain ra. Putera kedua Imam Ali dan Fathimah, dengan demikian, Sayyid Abdul Qadir adalah Hasani, sekaligus Husaini. - Dari kitab {Futuh Al-Gaib } &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Selengkapnya : Sayyid Abdul Qadir Al Jailani, bin Musa (Abu Shalih), bin Muhammad, bin Abdullah, bin Yahya Az Zahid, bin Muhammad, bin Daud, bin Musa, bin Abdullah, bin Musa, bin Aljun, bin Abdullah Al Muhdar,bin Alhasan Al Matsna, bin bin Al Hasan As Sibti, bin ‘Ali Karamallahu Wajhah. Dari {Kitab Manaqib).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Abdul Qadir , bersifat pendiam, 'nerimo' dan gemar bertafakkur sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering berbuat kebaikan yang mengarahkan dirinya kepada pengalaman-pengalaman mistik. Pada usia 18 tahun beliau mulai terlihat kehausan akan ilmu agama, dan kegairahannya untuk selalu dekat kepada para shalihin yang akhirnya membawanya merantau mencari ilmu ke Baghdad. Yang dikala itu memang merupakan pusat ilmu pengetahuan dan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikemudian hari ia digelar Gauts Al-‘Azham, atau Wali gauts terbesar. Dalam terminology sufi, seorang gauts menduduki jenjang rohaniyah dan keistimewaan kedua dalam memohon ampunan dan ridha Allah bagi umat manusia setelah Nabi Saw. Para ‘ulama besar masa kini menggolongkan beliau sebagai &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;shiddiqin&lt;/span&gt;, sebagaimana sebutan Al-Qur’an bagi orang semacam itu. Para ’ulama mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada permulaan perjalanan Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad. Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang telah menjanda membekalinya dengan delapan puluh kepingan emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantel persis dibawah ketiaknya sebagai bekal. Uang ini adalah warisan ayahnya yang dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Dikala hendak berangkat sang ibu berpesan agar jangan berdusta dalam segala keadaan. Sang anak pun berjanji didepan ibunda nya untuk senantiasa menjaga pesan tersebut. Sahadan, ketika kereta yang ditumpanginya sampai di satu tempat yang bernama Hamadan, kafilah mereka dihadang oleh segerombolan perampok. Dalam aksi penjarahan itu, para perampok sama sekali tidak memperdulikannya, karena beliau terlihat sederhana lagi miskin. Salah seorang anggota perampok yang melewatinya bertanya kepadanya apakah ia mempunyai uang. Ingat akan janji kepada ibundanya sebelum berangkat, Abdul Qadir kecil ini segera menjawab “Ya, aku mempunyai delapan puluh keping emas yang dijahit didalam baju oleh ibuku”. Tentu saja hal ini menjadikan para perampok itu terperanjat dan keheranan. Heran karena ada manusia sejujur ini. Mereka membawanya kehadapan pimpinan mereka lalu menanyainya, maka beliau pun memberi jawaban yang sama seperti tadi. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, maka mereka pun mendapati delapan puluh keping emas itu. Pemimpin perampok itu terhenyak kagum. Abdul Qadir lalu mengisahakan segala yang terjadi antara beliau dengan ibundanya ketika akan berangkat dari rumahnya, bahkan ibunya berkata apabila ia berbohong maka akan tidak berguna ia menimba ilmu agama. Mendengar ini, maka menangislah sang kepala perampok tersungkur di kaki Abdul Qadir, menyesali segala dosa yang pernah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala perampok inilah murid pertama dalam pengembaraannya. Peristiwa ini merupakan sebuah proses Illahiyah yang mengantarkannya menjadi Shiddiq. Andaikata ia tidak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama belajar di Baghdad, ia terkenal jujur dan murah hati serta tabah menghadapi penderitaan. Dengan bakat keshalehannya ia dengan mudah cepat menguasai semua cabang ilmu pada masa itu. Ini terbukti ketika dirinya berhasil menjadi ahli hukum terbesar dimasanya. Namun kerinduaan rohaniyahnya yang lebih dalam membuatnya gelisah, ingin mewujudkan diri lebih dari itu. Bahkan dimasa mudanya ia hanya gemar belajar dan tenggelam dalam belajar,&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; ia gemar mujahadah (menyaksikan langsung kekuasaan dan keadilan Allah melahi mata hati)&lt;/span&gt; Ia sering berpuasa, tidak mau meminta dari seseorang, meski dalam bepergiaan berhari-hari tanpa makanan. Ia gemar berkumpul dengan orang-orang yang berfikir secara ruhani. Dalam masa pencarian inilah beliau bertemu dengan seorang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;wali besar&lt;/span&gt; masa itu yang dhahirnya adalah penjual sirup yang mernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syech Hadhrat Hammad&lt;/span&gt;. Lambat laun wali inilah yang membimbing Abdul Qadir dengan sangat ketat, disiplin dan keras. Sekalipun diperlakukan sedemikian keras, tapi Abdul Qadir sang sufi muda yang baru tumbuh ini, menerima semuanya dengan gembira dan merasa sebagai koreksi atas kecacatan ruhaninya. ( calon ghauts ini merasa ruhaninya cacat - Subhannallah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latihan Ruhaniyah&lt;/span&gt;, Setelah melalui fase pendidikan/belajar berbagai disiplin ilmu agama. Ia kian keras terhadap dirinya sendiri, ia mulai memantangkan diri terhadap segala kesenangan hidup. Kecuali untuk mempertahankan hidup. Seluruh waktu dan tenaganya tercurahkan hanya untuk Shalat dan membaca Al-Qur’an. Shalat yang menyita waktunya itulah, maka beliau selama hidupnya lebih banyak shalat subuh dengan wudhu’ waktu isya’a. Diriwayatkan bahwa sang Syech sering menamatkan bacaan Al-Qur’an pada setiap malamnya.. Selama latihan ruhaniyah ini beliau menghindari berhubungan dengan manusia, sehingga ia tidak bertemu atau bicara dengan seorangpun. Apabila ingin berjalan-jalan, maka ia berjalan berkeliling padang pasir. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Setelah 11 (sebelas) tahun sang Syech menutup diri dari dunia luar&lt;/span&gt;. akhir masa ini menandai berakhir latihan (riyadah) dirinya. Pada tahap ini Syech Abdul Qadir Al- Jailani menerima “NUR” yang dicarinya. Diri hewaninya kini digantikan oleh wujud mulia karunia Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diuji Iblis&lt;/span&gt;. Diriwayat oleh banyak tokoh-tokoh keagamaan dalam sejarah perihal pengalaman puncak spiritual yang dialami oleh Syech Abdul Qadir seusai masa riyadahnya / uzlahnya berakhir, Pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu hari Iblis menghadap kepada Syech Abdul Qadir, dan memperkenalkan diri sebagai Jibril yang diutus Allah. Sambil berkata bahwa ia membaca Buraq dari Allah yang mengundangnya untuk menghadap Allah dilangit tertinggi. Sang Syech spontan menjawab bahwa si pembicara tidak lain adalah Iblis karena Jibril atau Buraq tidak akan pernah datang kedunia selain kepada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sayyidina Muhammad Saw&lt;/span&gt;. Setan toh masih punya cara lain. Katanya baiklah Abdul Qadir engkau telah menyelamatkan dirimu dengan keluasan ilmumu. Enyalah! bentak sang wali, Jangan kau ganggu aku, bukan karena ilmuku tapi karena Rahmat Allah aku selamat dari perangkapmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : “Ketika Syech berada dihutan belantara tanpa makanan dan minuman dalam waktu yang lama. Tiba-tiba awan menggumpal diudara dan turunlah hujan. Sang Syech melepaskan dahaga dengan air hujan itu, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tiba-tiba muncul cahaya terang dicakrawala sambil berseru Akulah Tuhan-Mu, kini Aku halalkan bagimu Segala yang haram&lt;/span&gt;. Sang Syech menjawab aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Tiba-tiba cahaya terang tadi berubah menjadi awan. Terdengar suara berkata “dengan ilmumu dan Rahmat Allah engkau selamat dari tipuanku”. Lalu ia bertanya tentang kesigapan sang Syech dapat mengenalinya. Sang Syech menjawab perkataan menghalalkan yang haramlah yang membuatnya tahu. Sebab pernyataan seperti itu sudalah pasti bukan dari Allah Swt. Dalam bagian lain digambarkan bagaimana sang Syech dalam perjuangannya melawan kebanggaan akan ilmu. Atau perjuangannya melawan kesulitan ekonomi yang menghalangi seseorang dalam perjalanan ruhaniyahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abdul Qadir akan tampil ditengah masyarakat untuk memberi bimbingan, sebelum itu beliau mempunyai sebuah mimpi yang di kemudian hari merupakan bukti dan sesuai dengan hasil da’wah dan bimbingan sang Syech kepada umat manusia dizamannya. Kisahnya “ Beliau melihat didalam mimpinya seolah-olah sedang menelusuri sebuah jalan dikota Baghdad. Didapatinya seseorang yang kurus kering sedang berbaring disisi jalan menayalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang Syech menjawab salamnya, orang itu memintanya untuk membantunya duduk. Begitu beliau membantunya, orang itu duduk dengan tegap, dan secara menakjubkan tubuhnya menjadi besar. Melihat sang Syech terperanjat, orang itupun menentramkannya, dengan kata-kata &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“ Akulah agama kakekmu (Sayyidina Muhammad Saw), yang menjadi sakit dan sengsara, tetapi Allah menyehatkanku kembali melalui bentuanmu”&lt;/span&gt; Singkatnya dalam penempilan / kehadirannya didepan umum, dan dari hasil pencerahannya kepada umat Islam secara luas, maka masyarakat kemudian menamainya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhyiddin&lt;/span&gt; {pembangkit keimanan} gelar yang kemudian di sandang sebagai bagian namanya yang termasyhur. Beliau adalah seorang yang dermawan, setiap berbuka puasa menjelang maqrib para tetangga dan orang-orang miskin diajak makan bersama, sedang beliau sendiri saat itu adalah saatnya berbuka puasa, karena beliau berpuasa sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehidupan Rumah Tangga&lt;/span&gt;, Beliau baru menikah pada tahun 521 H, pada usia 51 tahun, karena sebelumnya beliau menganggap perkawinan merupakan hambatan terhadap upaya penjernihan ruhaniyah. Akhirnya beliau menjalankan Sunnah Rasulullah Saw dan menikah pada usia tersebut diatas. Dari pernikahnnya ini beliau di karuniai 49 anak, terdiri dari 20 orang anak laki-laki dan selebihnya wanita, dari 4 (empat) orang istri. Ada 4 (empat orang putera yang sangat menonjol di dalam ilmu agama dan sebagai khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Sech Abdul Wahab bin Abdul Qadir, putera tertua. Adalah seorang alim besar pada zamannya. Beliaulah yang mengelola madrasah ayahnya sejak tahun 543 H. Sesudah sang Wali wafat, ia juga banyak menyumbangkan pikirannya dalam masalah-masalah syariat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Syech Isa bin Abdul Qadir, adalah seorang ‘ulama dan guru hadits, dan seorang hakim besar dizamannya. Dikenal juga sebagai penyair dan sebagai sufi. Ia mukim di mesir hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Syech Abdur Razaq Bin Abdul Qadir, beliau seorang ahli, penghafal hadits. Sebagaimana ayahnya ia terkenal taqwa. Ia mewarisi beberapa kecenderungan spiritual ayahnya, dan sedemikian masyhurnya di Baghdad sebagimana ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Syech Musa Bin Abdul Qadir, beliau juga seorang alim besar pada zamannya. Beliau hijrah ke Damaskus hingga wafat disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kewafatannya, Syech Abdul Qadir Al Jaelani, sang wali yang telah dibuka Allah baginya rahasia alam Malakut dan Jabarut, wafat pada 11 Rabi’ul Akhir tahun 561 H (1166 M) pada usia 91 tahun&lt;/span&gt;. Hari wafat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Haul) &lt;/span&gt;beliau diperingati seluruh umat islam di dunia oleh pencinta serta pengikut &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Thariqah Qadiriyyah&lt;/span&gt;, setiap tahun. Beliau seorang wali qutb yang sangat cemerlang di zamannya dan dikenal luas oleh para &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;mutasawwufin&lt;/span&gt; diseluruh penjuru dunia islam. Didalam dunia thariqah dan tasawuf, nama beliau dikenal dengan gelar didepan namanya : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Al Ghauts Al ‘Azham Al Qutbur Rabbaniy Syech Muhyiddin, Sulthanil Auliya, Al Qauts, Al Imam, Syech Abdul Qadir Al Jaelani ra.&lt;/span&gt; Tidak terbilang banyaknya murid-murid sebagai anak didik yang lahir dari halaqah dan madrasahnya menjadi wali-wali dan ‘ulama-‘ulama besar dizaman mereka masing-masing. Ilmu yang ditinggalkan adalah warisan abadi yang hidup dan diamalkan oleh diseluruh umat Islam di dunia yang mengikuti thariqah dan ilmu tasawuf yang dibangun dan diajarkan beliau kepada manusia terus menerus, sambung menyambung. Banyak orang yang bertawassul kepadanya melalui amalan manaqibnya yang sangat terkenal itu, karena didalam tawassul itu yang dikedepankannya adalah dengan tawassul al akbar Sayyidina Muhammad Saw sebagai pembuka jalan. Begitulah pada umumnya para wali dan syech mengajari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Syech Abdul Qadir wafat, maka putera-putera serta murid-muridnya mendirikan sebuah thariqah untuk menyuburkan spiritualitas islami dan ajaran-ajaran islami dikalangan umat islam di dunia, yang dikenal dengan nama Thariqah Qadiriyyah, yang hidup berkembang di seluruh penjuru dunia hingga saat ini. Thariqah ini diakui telah sedemikian berjasa bagi kebangkitan kembali dunia Islam, dan sumbangannya pada Tasawuf yang tidak terkira. Tiga di antara catatan-catatan nasihat dan pengajarannya mencapai reputasi dunia. Yang paling luar biasa adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FUTUH Al - GHAIB&lt;/span&gt;. Yang intinya adalah mutiara pelajaran berharga tentang bagaimana manusia mendidik hati, mengendalikan nafsu. Terapi uzlah dan riyadah dari yang ringan sampai yang berat. Makna dzikir, berbuat kebaikan, membangun hubungan dengan Allah, menjauhi yang diharamkan Allah., Menjalankan sunnah Rasul Saw serta mahabbah, cinta ‘ulama, menjaga hubungan dengan manusia serta makhluk lain dan ‘alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam memilih sahabat, dan lain sebagainya dalam upaya meraih keridhaan Ilahi untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Kini sang Wali telah wafat hampir sembilan abad yang lalu. Namun ia hidup bagai pelita yang tidak pernah padam dalam hati umat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan ringkas penuh kekurangan mengenai sang wali ini mampu mengubah pikiran dan pandangan sebagian orang tentang Nasabnya, perjuangannya, ajaran tauhid dan thariqahnya, sampai pada kedudukan kewaliyannya. Hendaknya kita sadar bahwa yang memperoleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;maqam (martabat kewaliyan)&lt;/span&gt; seseorang bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi disana ada kehendak Yang Maha Tinggi yang membimbing-Nya jua, sehingga mereka sejak kecil telah menunjukkan sifat, bakat serta kemampuan diri mereka masing-masing. Mereka (para Waliyullah) berperilaku sangat jauh berbeda dengan manusia lainnya sejak dini. Pada umumnya para waliyullah (wali Allah) mempunyai kecenderungan Ilahiyah yang sangat jauh berbeda dengan kebanyakan manusia. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah dan berada dibawah kedudukan para Nabi &amp;amp; Rasul Saw. Allah jualah yang menentukan kadar kemuliaan sifat, kejeniusan, kekuatan menyerap ilmu Allah, ketundukannya dihadapan Allah, dermawan, kuat beribadah, uzlah dan riyadah serta seluruh sifat mulia mereka sedemikian rupa sehingga menakjubkan seluruh makhluk penghuni langit dan bumi. Mereka, sebagaimana para Nabi &amp;amp; Rasul memiliki &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tuah atau ijjah (baraqah) dibawah derajad para Nabi &amp;amp; Rasul itu. Oleh karenanya segala perlakuan kita yang dinilai buruk oleh Allah, baik sikap, kata-kata, bahkan prasangka buruk yang tersimpan didalam hati sekalipun, akan dibalas Allah dengan kadar balasan yang hanya Dia (Allah) yang Maha Mengetahui, dan Maha berkehendak membalasnya, demikian pula sebaliknya. Wallahu ‘alam bissawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=== /// ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAYYIDINA AL-USTADZ AL-AZHAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AL FAQIH MUQADDAM, MUHAMMAD BIN ‘ALI BA’ALAWI R,A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelahiran, Wafat dan Nasabnya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali ra, dilahirkan 574 H, 1176 M, disebuah kota kecil di Tarim Yaman Selatan, yang dipenuhi keberkahan oleh Allah Swt. Makmur, serta dipenuhi oleh para wali, ‘ulama-‘ulama besar serta orang-orang shalihin Hadhramaut Yaman Selatan. Beliau yang mulia wafat pada malam Jum’at dibulan Dzulhijjah, tahun 653 H, atau dimalam Ahad akhir bulan Dzulhijjah tahun 653 H, 1255 M, dalam usia 79 tahun. Dimakamkan di &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Zambal”.&lt;/span&gt; Beliau lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan kaum shalihin. Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam adalah keturunan Rasulullah Saw dari Al Imam Sayyidina Husain ra. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang keabsahan Nasab beliau, karena telah diakui oleh para ahli Nasab. Bahkan lebih dari itu, dimana beliau tidak saja merupakan penghubung dalam garis keturunannya keatas dan kebawah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(silsilah nasabiyah)&lt;/span&gt;. Tetapi merupakan mata rantai emas yang kokoh dalam&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; silsilahtul ‘ilmiyah&lt;/span&gt; pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Thariqah Bani Alawi&lt;/span&gt;. Dilihat dan diukur dari sumber ilmu yang diterima dari ayahnya, dari ayahnya lagi demikian seterusnya hingga bertemu kepada asal dan sumber ilmu yang murni, bening, terpelihara dari segala bentuk kekurangan, yakni Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw, dari Jibril as dan dari Allah Swt. yang tergambar dari susunan Nasab sang Imam yang mulia : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sayyidina Al Imam Al Faqih Al Muqaddam Muhammad, bi Ali, bin Muhammad Sahib Marbath, bin Ali Khali Qasam, bin Alwi, bin Muhammad, bin Alwi, bin Ubaidillah, bin Imam Al Muhajir Ilallah Ahmad, bin Isa, bin Muhammad An Naqib, bin Ali Uraidhi, bin Al Imam Ja’far As Shadiq, bin Al Imam Muhammad Al Baqir, bin Al Imam Ali Zainal Abidin, bin Al Imam Husain As Sibti, bin Al Imam Ali Karamallahu Wajhah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh nama-nama yang tersambung dalam Nasab Sayyid Al Faqih Al Muddam ra, dari ayahnya sampai kepada Al Imam Sayyidina Husain bin Ali ra, seluruhnya adalah Imam dan Wali Allah, serta ‘ulama-‘ulama terbesar pada zamannya masing-masing. Dengan keberadaan mereka, umat manusia mereguk manisnya air keimanan, ketaqwaan, sehingga memperoleh hidayah Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lain perkataan, bahwa tidak seorang wali atau ‘ulama pun di muka bumi yang tidak memperoleh ‘ilmu agama melalui mereka. Ini dapat dibuktikan bahwa para wali dan ‘ulama pasti memiliki &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;silsilahtul ‘ilmiyah (silsilah – sanat guru) &lt;/span&gt;yang jelas, sehingga tiadalah ‘ilmu itu diperolehnya melainkan akan bertemu, dan diambil ilmu itu dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;pintunya (Al Imam ‘Ali Kw)&lt;/span&gt; melalui salah satu diantara mereka sambung-menyambung hingga sampai kepada Al Imam Ali bin Abu Thalib kepada Rasulullah Saw dari Jibril as, dari Allah Swt. Seperti inilah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;simpul emas Thariqah Bani ‘Alawi&lt;/span&gt; dari zaman ke zaman di seluruh permukaan bumi Allah, sampai kepada kita yang hidup dizaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumah tangga Sayyidina Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali ra menikah dengan seorang wanita Shalehah, sekaligus sepupunya dari pihak ayahnya, yang kemudian dikenal sebagai &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Ummul Fuqara” (Ibunda kaum fakir miskin) bernama Syarifah Zainab binti Ahmad bin Muhammad Sahib Marbath r,anha., yang juga adalah seorang Waliyah”&lt;/span&gt;, dan memiliki pula banyak kekeramatan. Beliau kembali keharibaan Allah Swt pada 12 Syawal 669 H, atau lebih kurang 16 tahun sesudah wafat sang Imam suaminya Al Faqih Al Muqaddam ra. Hanya dari pernihan inilah Imam Al Faqih Al Muqaddam dikaruniai 5 (lima) orang anak, dan semuanya laki-laki. Di kemudian hari mereka semuanya menjadi ‘Ulama besar, bahkan sebahagian besar keturunannya menjadi penunjuk jalan keimanan kapada manusia. Mereka adalah Wali dan ‘Ulama-‘ulama terbesar rujukan umat manusia umumnya, dan khususnya umat Sayyidina Muhammad Saw dari abad keabad, zaman ke zaman. Mereka bukan saja sebagai pelita dikegelapan malam. Lebih dari itu, mereka laksana binntang-bintang, bulan dan matahari islam yang tidak pernah berhenti bersinar dan bercahaya sepanjang masa dan zaman sehingga datang kehendak dan taqdir Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para Syech Al Kabir : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(1) Alwi Al Ghuyur, (2) Abdullah (‘Ubaidillah), (3) Abadurrahman, (4) ‘Ali dan (5) Ahmad&lt;/span&gt;. Mereka adalah generasi penerus ayahanda mereka Al Faqih Al Muqaddam ra, Dan di kemudian hari anak dan cucu mereka yang terbaik dari segi ‘ilmu dan akhlaq diwujudkan Allah Swt di permukaan bumi sebagai penerus datuk-datuk mereka, menunjuki umat manusia menuju jalan hidayah guna mencapai ampunan dan keridhaan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa Pendidikan dan Para Gurunya Al Faqih Muqaddam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqih Al Muqaddam menimba ‘ilmu dari para ‘ulama besar dan terkemuka dizamannya. Beliau terdidik dalam berbagai disiplin ‘ilmu pengetahuan seperti ‘ilmu Fiqih, Lughah, Tasawwuf serta berbagai cabang ‘ilmu lainnya langsung dari para ahlinya masing-masing antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menimba ‘ilmu Fiqih dari guru beliau,As Syech Abdullah bin Abdurrahman Ba’ubayd, meski begitu sang guru sangat memuliakan muridnya yang satu ini Al Faqih Al Muqaddam. Sang guru As Syech Abdullah Ba’ubayd tidak mau memulai pelajarannya sebelum Al Faqih A; Muqaddam dilihatnya telah hadir dalam majelis beliau. Bahkan beliau tidak mengajar tanpa kehadiran Al Faqih Al Maqaddam.Perilaku sang guru yang dipandang tidak lazim ini, mengundang banyak pertanyaan orang. As Syech Abdullah Ba’ubayd pun menjelaskan ; “Aku Sesungguhnya menunggu isyarat / izin untuk mengajar dari Allah Swt” Jawaban ini menunjukkan betapa mulia dan tingginya derajat Al Faqih Al Muqaddam, sekalipun beliau adalah seorang murid, sehingga guru beliau menunggu izin dari Allah seperti yang beliau katakan. Hal ini menunjukkan dengan tegas bahwa “mestilah” sang murid Al Faqih Al Muqaddam hadir, baru beliau dizinkan Allah untuk mulai mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Qadhy Ahmad Ba’isa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru beliau dalam bidang ‘ilmu Ushul serta beberapa cabang ‘ilmu lainnya kepada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Al Imam As Syech’Ali bin Ahmad bin Salin Bamarwan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medalami pula ‘ilmu tafsir dan ‘ilmu hadits dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Al Imam Muhammad bin Abu Al Hub.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mendalami ‘ilmu Tasawwuf dan Hakekat dari A&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;l Imam Salim bin Basri, dan dari Al Iman Muhammad bin ‘Ali Al Khatib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqih Al Muqaddam juga mengambil ‘ilmu dari pamannya sendiri yakni &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;As Syech Al Imam Al Habib ‘Alwi bin Muhammad Shahib Marbath.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengambil ‘ilmu dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;As Syech Sa’id Al Amudy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua guru-guru beliau mengisyaratkan dan mengakui bahwa Al Imam Al Faqih Al Muqaddam ra, telah mencapai maqam yang sangat luar biasa, sehingga menjadi kecillah maqam-maqam yang lainnya, bila dibandingkan dengan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; “MAQAM”&lt;/span&gt; yang telah dianugrahi Allah Swt kepada Al Imam Al Faqih Muqaddam ra. Pada masa beliau, ‘ilmu yang sedang berkembang di Tarim Hadhramaut adalah ‘Ilmu Fiqih, oleh karenanya para ‘Ulama disana adalah ahli Fiqih, sementara ‘ilmu tasawwuf pada masa itu, belum terlalu berkembang. Kelak dikemudian hari sang Imam Al Faqih Al Muqaddamlah yang menjadi pelopor, menghidupkan serta menjadi Imam yang pertama bagi kaum Mutasawwifin di Tarim Hadhramaut. Hal ini mengikuti sebagaimana yang ditegaskan oleh Al Imam Al Habib Abdullah bin ‘Alwi bin Hasan Al Attas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Riwayat Al Khirqah&lt;/span&gt;, Sebagaimana diketahui bahwa Al Khirqah merupakan sebuah perlambang teramat penting dalam dunia tasawwuf. Yang bermakna sebagai pertanda pengalihan “Maqam”, dari seorang wali kepada wali pengganti, yang wujudnya adalah sepotong &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“kain sorban”&lt;/span&gt; para wali. Definisinya sendiri, bila kita mengikuti apa yang dimaksud oleh seorang tokoh Sufi sebelumnya yakni &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;As Syech Muhyiddin Ibn Al Arabi&lt;/span&gt; dalam kitabnya Al Futuhat, beliau mengatakan Al Khirqah itu adalah lambang dari persahabatan para wali. Sebagai tambahan Ibn Arabi yang bergelar As Syech Muhyiddin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Al Haitami. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bukan Ibn Al ‘Arabi&lt;/span&gt;, sekalipun keduanya berasal dari Negara Spanyol – Andalusia. Diriwayatkan bahwa ayah Ibn Arabi yang bernama ‘Ali lama tidak mempunyai anak, sampai pada suatu saat ia bertemu dengan seorang wali yaitu As Syech Muhyiddin Abdul Qadir Al Jaelani. Ia memohon doa dari Syech Abdul Qadir Al Jaelani kepada Allah agar kiranya dikaruniai seorang anak laki-laki. Sang Syech yang ketika itu sudah mendekati akhir hayatnya, memohon kepada Allah agar “Ali beroleh anak laki-laki- Kemudian beliau berpesan kepadanya agar anak itu kelak bila lahir supaya diberi nama Muhuyiddin Pembangkit Agama. Syech Abdul Qadir Al Jaelani juga menggambarkan bahwa anak ‘Ali yang akan lahir itu akan jadi orang besar dan Wali dalam ‘ilmu Ketuhanan, dialah Ibn Al Arabi , lahir pada tanggal 17 Ramadhan tahun 560 H, atau bertepatan dengan 29 Juli 1165, 3 tahun sebelum sang Syech yang mendo’akannya wafat. Dikemudian hari ia dikenal dengan nama As Syech Muhyiddin Ibn Al Arabi - (bukan Ibn Al ‘Arabi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ketopik semula “Al Khirqah” Selanjutnya apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi itu, diberi komentar oleh Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al Attas ra sebagai berikut : “sedangkan (kain) Khirqah sendiri tidak selalu harus dari Rasulullah Saw secara langsung. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Al Libas (baju / pakaian sufi)&lt;/span&gt; itu sendiri sebenarnya adalah simbol dari Al Libas yang Haqiqi yaitu Al Libas At Taqwa. Bahwa telah menjadi kebiasan mereka (wali), bila mereka merasa ada yang kekurangan pada dirinya, maka mereka segara mencari seorang guru atau Syech dari jama’ah mereka untuk menyempurnakan segala kekurangan mereka, Lahiriyah maupun Bathiniyah. Bilamana semua kekurangan mereka telah menjadi sempurna, maka mereka diberi “Al Libas” sebagai simbol penyempurnaan. Inilah Al Libas yang kita ketahui dari para ‘&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ulama ahli HAQEQAT&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Khirqah bagi para wali merupakan nilai dan prestasi tertinggi masing-masing wali. Al Khirqah Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali ra, memiliki nilai keistimewaan tersendiri yang melampaui dimensi pemikiran manusia. Al Khirqah yang beliau terima adalah “Khirqah Imam Qutb Al Kubra” Ini merupakan perlambang dari “derajat kepemimpinan tertinggi bagi para wali dimasa itu. Adapun silsilah Al Khirqah Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam ra. Ada dua yaitu yang diterima langsung dari ayahanda beliau sendiri, dan yang kedua diterima dari As Syech Abu Madyan Syu’aib Al Maghriby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah yang pertama adalah yang berasal dari ayahanda beliau sendiri Al Imam, Al Habib ‘Ali Ba’alawi, yang menerima dari ayahandanya Muhammad Shahib Marbath dan bersambung terus keatas sebagaimana urutan pada Nasab Al Faqih yang telah disebut sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang kedua diterimanya dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1. As Syech Abu Madyan Syu’aib bin Abu Husain Al Maghriby, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   2. Imam Abu Ya’la, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   3. Al Imam Nur Ad-Din Abu Al Hasan Ali bin Hirzihim, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   4. Al Imam Al Hafizd Al Faqih Al Qadhy Abubakar bin Abdullah Al Ma’afiri dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   5. Al Imam Hujjah Al Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazaly, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   6. As Syech Al Islam Wal Muslimin Imam Al Haramain Abdul malik, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   7. As Syech Muhammad bin Abdullah bin Yusuf Al Juwainy, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   8. As Syech Al Arif Bi Ta’ala Abu Thalib Al Makky Muhammad bin Ali bin Athyyah dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;   9. Al Imam Al Kabir Abu Bakar Dullaf bin jahdar As Sybly, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  10. Al Ustadz Ahli Thariqah Wa Imam Ahli Al Haqiqah Abu Qasim Al Junaid bin Muhammad Al Baghday, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  11. As Syech Asyahir Abu Hasan As SirryAl Mughallis As Siqty (As Saqaty, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  12. As Syech Al Arif Billah Ta’ala Abu Mahfuzd Ma’ruf bin Fairuz Al Karakhy, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  13. Al Imam Abu Sulaiman Daud bin Nushair Al Ta’iy, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  14. As Syech Muhammad Habib bin Muhammad Al Ajami Al Kharasany, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  15. Al Imam Al Kabir As Syahir Abu Sa’id Al Hasan bin Abu Al Hasan Al Bashry, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  16. Al Imam Ahli Masyriq Wal Magharib Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib ra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Al Imam ‘Ali bin Abu Thalib ra, dari Sayyidina Wa Habibana Rasulullah Saw.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Dari Al Imam Ma’ruf Al Karakhy (NO 12), terdapat dua arah silsilah (bercabang dua), yang pertama seperti tersebut ditas, dan yang kedua, dari Ahlul Bayt yang susunannya sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  12. As Syech Al Arif Billah Ta’ala Abu Mahfuzd Ma.ruf bin Fairuz Al Karakhy, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  13. Al Imam ‘Ali Ar Ridha ra, dari ayahnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  14. Al Imam Musa Al Kazhim ra, dari ayahnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  15. Al Imam Jafar As Shadiq ra, dari ayahnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  16. Al Imam Muhammad Al Baqir ra, dari ayahnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  17. Al Imam ‘Ali Zainal Abidin ra, dar ayahnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  18. Al Imam ‘Ali bin Abu Thalib ra. Dst….. sama seperti yang pertama tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Keutamaan Kelebihan Al Faqih Muqaddam ra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mempunyai Keutamaan dan Kelebihan yang luar biasa Yakni berbagai keistimewaan yang dikaruniai Allah Swt kepada Imam AlFaqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali. Kekhususan pemberian Allah Swt itu menempatkan posisi beliau sebagai &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Khawas Al Khawas”&lt;/span&gt; Maqam Kewaliyan beliau menjadi sebuah fenomena mistik yang sangat menakjubkan, serta selalu menjadi bahan analisa para ‘Ulama terkemuka dan terbesar dan bahkan para wali dizamannya. Diantara gambaran para kaum Al Arifin dimasa itu berkata antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh telah membuat tercengang para sufi dan para wali akan Ahwal As Syech Al Faqih Al Muqaddam , dimana mereka semua tidak mampu menafsirkan dengan penafsiran yang sempurna. Disebabkan yang dimiliki dan dikuasai oleh Al Faqih Al Muqaddam melampaui batas pengetahuan mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa As Syech Al Kabir Ibrahim bin Yahya Bafadhal, yang karena didorong oleh penasaran keinginan tahunya maka beliau berkeinginan untuk menemui As Syech Abu Al Ghayst Ibnu Jamil, untuk menanyakan (hal) tiga orang yang pada saat itu mulai dikenal dikalangan masyarakat Hadhramaut.Yaitu Al Faqih Al Muqaddam, As Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair, dan seorang lagi yang tidak diketahui namaya. As Syech Ibrahim sengaja datang menemui As Syech Abu Al Ghayst hanya untuk menayakan perihal ketiga orang tersebut. Ketika telah sampai di majelis As Syech Abu Al Ghayst, beliau duduk pada deretan paling belakang. As Syech Ibrahim bin Yahya Bafadhal menceriterakan sendiri tentang pertemuan beliau dengan As Syech Abu Al Ghayst Ibnu Al Jamil. “Dalam duduk ku dibelakang itu hatiku berbisik, apakah aku datang dari Hadhramaut kesini hanya hendak menanyakan tiga orang ini” Maka sebelum habis aku berkata dalam hati, As Syech Abu Al Ghayst telah mengetahui tujuan kedatanganku, beliau berdiri dan berkata “Siapakah diantara yang hadir yang bernama As Syech Ibrahim?” Lalu aku mendatanginya. Beliau berkata apakah yang Syech Ibrahim hendak tanyakan., lalu selanjutnya beliau berkata “Wahai Syech Ibrahim sesungguhnya engkau datang hendak menanyakan As Syech Muhammad bin ‘Ali bukan? As Syech Abdullah Baqusyair dan lelaki yang tidak dikenal namaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;As Syech Ibrahim menjawab ya “benar” As Syech Abu Ghayst meneruskan “Aku akan jelaskan kepadamu perihal mereka bertiga. Yang pertama : Yaitu “As Syech Sayyidina Al Faqih ra.” Tidaklah kami (para sufi dan wali dapat menyamai derajat beliau walaupun hanya setengahnya). Adapun As Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair adalah seorang Shaleh. Adapun yang satu lagi adalah orang yang kupandang tidak mempunyai kelakuan yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Menurut Al Habib Muhamad bin Husin Al Habsyi dalam kitab beliau Kepemimpinan para Wali diserahkan dari As Syech Abdul Qadir Al Jaelani kepada As Syech Abu Madyan Syu’aib Al Maghriby, yang akhirnya diserahkan kepada Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam ra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pemuka tasawwuf berpendapat bahwa As Syech Abdul Qadir Al Jaelani pemimpin para Wali Masyhur, sedang Sulthan para Wali Mastur adalah Al Faqih Al Muqaddam ra, sedang perbandingan jarak derajat masyhur dan mastur tersirat dalam Qaul Tasawwuf &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“ WA KAM MASYHUR FII BARAKATI MATSTUR” Artinya “ Sesungguhnya sudah berapa banyak orang telah masyhur menjadi para wali, hanya karena baraqah dari satu wali mastur”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ditanya Al Imam Al Habib Abdullah bin ‘Alwi Alhaddad (shahib Ar Ratib) oleh kalangan ‘Ulama mengenai Al Imam Al Qutb Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Alwi dan Al Imam Al Qutb Ar Rabbany As Syech Abdul Qadir Al Jaelani. Yang manakah diantara mereka yang lebih utama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkomentar “Sesungguhnya mereka berdua adalah tokoh besar kaum sufi dan wali yang agung. Akan tetapi kami (Bani Alawi) bernisbah dan mendapatkan baraqah dan Al Madat dari penghulu kami Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali lebih besar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina Al Qutb Al Ghauts Al Habib Abdurrahman As Segaff berkata : “Tidaklah kami memuliakan seorang walipun diatas Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam ra, dan setiap maqam wali itu berubah sesudah wafatnya, kecuali maqam Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam ra. Mempunyai akhlaq yang mulia, beliau melazimkan Al Khumul ( menghindari kemasyhuran), memiliki sifat tawdhu yang luar biasa. Dermawan, welas asih, mencintai fakir miskin, menghormati tamu, mencintai ‘ilmu, ahlih fiqih terkemuka, seorang yang berada dipuncak kesufian dan kewaliyan. Seluruh anak-anaknya menjadi ‘Ulama dan wali dizaman mereka masing-masing. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Semua keturunannya bercahaya dan cemerlang, kecuali mereka yang meninggalkan pokok-pokok ajarannya.&lt;/span&gt; Semua ‘Ulama dan wali-wali besar diseluruh penjuru dunia terbanyak adalah dari keturunan beliau yang penuh baraqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Riyadhah, Mujahadah dan ‘Uzlah yang sangat luar biasa menjadikan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;beliau tokoh legenda Habaib&lt;/span&gt;. Suatu hari putera beliau As Syech Ahmad diam-diam mengikuti beliau sampai di Wadi An Nu’air. Tatkala ia sampai ditempat tersebut beliau melihat sang ayah sedang berzikir jahr (bersuara). Dilihat pula oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;As Syech Ahmad seluruh yang berada dilembah itu, dari pepohonan dan bebatuan sama berzikkir mengikuti Al Faqih Al Muqaddam ra&lt;/span&gt;. Maka pingsanlah putera beliau ini (As Syech Ahmad) yang ketika itu masih muda usia. Manakakala ia sadar Sayyidina Al Faqih Al Muqaddam ra, memperingatinya agar tidak lagi mengikuti beliau ketika sedang ber-Uzlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit kisah tentang kedua tokoh puncak yang diperkenalkan ini. Adapun tulisan ini belumlah mencakup semua hal-ikhwal mereka secara lengkap. Bahkan yang diangkat disini, laksana sebutir padi dari sekarung beras. Karena tujuan utama tulisan ini hanya untuk saling mengingatkan. Semoga kita mampu meneladani mereka, mengambil pelajaran dari mereka, insya Allah kita tidak mudah terperosok ke jalan yang salah dan keliru. Ilahi, jadikanlah kami diantara orang-orang mencintai mereka (para waliyullah). Jadikanlah kami diantara orang-orang yang beroleh manfaat dari ilmu ajaran mereka. – Akhirnya kami bermohan kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“ Allahumma Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami menjadi orang-orang yang hidup dalam penyesalan kelak, karena tidak mengikuti jalan mereka – Auliya was shalihin. Ilahi curahkan kepada kami dengan Hidayah, Rahmat serta pengampunan-Mu. Jangan biarkan kami tersesat jalan, padahal kami berada di bawah cahaya terang benderang leluhur kami yang mulia. Yaaa Raaabb, jadikanlah kami diantara orang-oarang yang mempunyai rasa takut atas penyesalan yang tidak bertepi ketika sudah dialamul barzakh. Rabbiii, sadarkan dan insafkan kami dalam sisa-sisa masa hidup ini, jauhkan kami dari kekhilafan dan kesalahan ilmu. Tempatkan kami pada shaf-shaf terdepan bersama orang-arang yang mengikuti jalan Sayyidina Muhamad Saw seperti para leluhur kami yang telah nyata-nyata Engkau muliakan. Wa Shalallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbii ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ;Alamiin” – Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber Bacaan :&lt;br /&gt;- Fatuh Al Qulub – Aftabuddin Ahmad&lt;br /&gt;- Manaqib Al Faqih Al Muqaddam Mhammad bin Ali ra – As Sayyid Muhammad Rafiq Alkaaf Gathmyr&lt;br /&gt;- Manaqib As Syech Abdul Qadir Al Jaelani – Habib Hasyim bin Husen bin Thahir&lt;br /&gt;- Tokoh Tasawwuf &amp;amp; Filsafat Agama – Prof DR H Abubakar Aceh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakarta : Jumat 14 Nopember 2008 M – 16 Zulkaidah 1429 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Ali Albaar – Pondok Bambu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSUxGKMyX6I/AAAAAAAAALY/RsIoLX9N-24/s1600-h/abacloseup.jpg"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSUxGKMyX6I/AAAAAAAAALY/RsIoLX9N-24/s1600-h/abacloseup.jpg"&gt;  &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-8806487050352169414?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8806487050352169414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8806487050352169414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/mengenal-kedudukan-puncak-kewaliyan-as.html' title='Mengenal  Kedudukan  Puncak Kewaliyan  As-Syech Abdul Qadir Al Jailani &amp; Sayyidina Al-Ustadz Al-Azham Al Faqih Muqaddam Ra'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSU0we9cIMI/AAAAAAAAALg/kJl1YqFf8gs/s72-c/abacloseup.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-1518743166512868608</id><published>2008-11-13T20:18:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T23:43:26.264-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan koe'/><title type='text'>The wed to remember..</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://lilafahmi.cjb.net/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 207px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRz8lsB3JMI/AAAAAAAAAKQ/MxgMSRgyYOA/s320/weddingpage.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268363388520965314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tidak sengaja hari kamis kemarin sebelum pulang kantor, saya iseng browsing dengan menggunakan opera kembali, &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;(setelah sekian lama asyik dengan firefox nya mozilla)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;  setelah menekan ctrl+T untuk menampilkan new tab terlihatlah tampilan khas quick dialnya opera yang sudah saya set pada windows2 kecilnya halaman2 favorit yang sering saya kunjungi. Pada salah satu halaman ternyata masih ada halaman website wedding yang saya buat di cjb.net pada tahun lalu. Akhirnya sambil senyum2 sendiri saya klik dan muncullah web kenangan tersebut.. Dalam hati saya bergumam "kalo di rumah browsing sama lila berduaan trus ngobrol2 tentang pernikahan kita yang sebentar lagi akan memasuki tahun pertama ini mungkin seru kali ye.. hehehe"&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pernikahan yang baru seumur jagung ini akan genap berusia 1 tahun pada tanggal 18 november mendatang, Begitu banyak pelajaran hidup yang kami dapatkan sehingga membuat kami merasa waktu seakan akan berjalan begitu cepat, apalagi dengan lahirnya buah hati kami &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;'&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;fathimah Nafilah Albar'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pada bulan oktober kemarin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SR0pAbNTRZI/AAAAAAAAAKo/I8IRFHOF8MM/s1600-h/DSC_7746.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SR0pAbNTRZI/AAAAAAAAAKo/I8IRFHOF8MM/s320/DSC_7746.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268412226373633426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Teringat kembali waktu pertama kali bertemu, masa-masa pacaran dulu,  sampai dengan mempersiapkan diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Klise bahwa kita dulu merasa gamang mempertimbangkan kesiapan diri untuk menikah. Is it the right momment?, what if i'm not ready? is he/she my true love? what about her/him after the marriage? if he/she still love me? Bersukur saya banyak berdiskusi dengan keluarga, orang tua dan adik2 saya. Dari mereka saya banyak mendapat masukan2 &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSJt3KfH92I/AAAAAAAAAKw/OqSH3gVgSKI/s1600-h/awal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 208px; height: 176px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SSJt3KfH92I/AAAAAAAAAKw/OqSH3gVgSKI/s320/awal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269895308452034402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yang bermanfaat. Terutama dari ayahanda tercinta habibana Ali bin Muchsin Albar, secara khusus beliau menghadiahkan kepada saya tulisan mengenai &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;'Risalah Rumah Tangga'&lt;/span&gt; yang juga saya muat pada &lt;a href="http://lilafahmi.cjb.net/"&gt;Web Wedding&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/wejangan-pernikahan.html"&gt;blog saya&lt;/a&gt; ini. Syukur alhamdulillah, pernikahan ini membawa perubahan besar kearah yang lebih baik pada diri saya.. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;New beginning, new chapter of my life..&lt;/span&gt; (Thanks lila)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/XiY9aOlugKc&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/XiY9aOlugKc&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-1518743166512868608?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1518743166512868608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/1518743166512868608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/wed-to-remember.html' title='The wed to remember..'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRz8lsB3JMI/AAAAAAAAAKQ/MxgMSRgyYOA/s72-c/weddingpage.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-481587279681445823</id><published>2008-11-06T00:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T23:14:45.185-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>Wejangan Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKub__mxTI/AAAAAAAAAEg/cV-7wIwNkFU/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKub__mxTI/AAAAAAAAAEg/cV-7wIwNkFU/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265462710407447858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: left; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;" Wejangan "&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;dari yang saya cintai dan saya muliakan Ayahanda,&lt;br /&gt;                  Alhabib Ali bin Muchsin Albar " &lt;/p&gt;                   &lt;p style="text-align: left;" class="MsoTitle"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoTitle"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoTitle"&gt;&lt;strong&gt;I. RUMAH TANGGA MUSLIM&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoTitle"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rumah tangga muslim adalah sebuah rumah tangga yang dibangun diatas dasar dan landasan menurut syari'at Islam yang kokoh. Karena ia merupakan sebuah amanah Allah. Artinya seorang suami menerima istrinya atas dasar amanah Allah. Demikian pula bagi seorang istri terhadap suaminya. Prosesnya melalui sebuah peristiwa sakral dan mulia yakni &lt;b&gt;aqad nikah atau ijab qabul&lt;/b&gt;. Tujuan sebuah perkawinan adalah selain ia merupakan sebuah Sunnah Rasul, lebih dari itu ia adalah sebuah Sunnahtullah yang harus diterima dengan ikhlas, sabar, demi memperoleh kredhaan-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sunnahtullah dalam artian ketentuan Allah segala menjadikan segala sesuatu&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;berpasang-pasangan. Manusia yang berlainan jenis kelamin, dilengkapi dengan isntik. emosi serta kecenderungan untuk berkumpul manjadi satu kesatuan yang saling membutuhkan dan melengkapi. Oleh karenanya maka pada batas usia tertentu manusia yang berlainan jenis tersebut saling tertarik antara satu dengan yang lainnya. Agar komunitas manusia tidak hidup seperti komunitas hewan (binatang), maka Allah melengkapinya dengan sebuah ketentuan, aturan dan hukum yang disebut syari'at . Dengan begitu maka komunitas manusia ini hidup dalam sebuah tata kehidupan yang teratur, seimbang, terhormat dan mulia. Begitulah maksud penciptaan manusia oleh Allah SWT sejak manusia yang pertama yakni Nabi Adam a.s dan Siti Hawa a.s. Syari'at atau aturan, ketentuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hukum Allah, diberikan kepada setiap Nabi a.s untuk diberlakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada komunitas manusia sebagai umat dari masing-masing Nabi dan Rasul tersebut. Ketentuan dan hukum Allah itu terus berkembang sejak Nabi Adam a.s sebagai Nabi yang pertama sampai kepada Nabi Muhammad Saw sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir. &lt;b&gt;Paling tidak harus kita ketahui bahwa ada &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Kitab yang diturunkan kepada &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Nabi dan Rasul. “Shuhuf” Nabi Ibrahim As, Kitab “Taurat” Nabi Musa As, Kitab “Zabur” Nabi Daud As, Kitab “Injil” Nabi Isa As, serta Kitab “Al-Qur'an Al-Karim”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada Nabi Muhammad Saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Yang kita bicarakan adalah esensi sebuah perkawinan sebagai Sunnahtullah, dimana prosesnya melalui Sunnahtur Rasul sebagai sebuah syari'at atau ketentuan serta hukum Islam. Yang harus dipatuhi oleh seluruh umat Islam demi patuh serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Islam sebagai agama yang terakhir, diturunkan Kitab-Nya melalui Nabi dan Rasul-Nya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terakhir Muhammad Saw, merupakan petunjuk terlengkap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guna melengkapi semua ketentuan hukum syari'at yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi - Nabi dan Rasul-Nya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebelum itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Kini kita lihat beberapa ketentuan Allah yang berkaitan dengan pembinaan sebuah rumah tangga atau perlunya manusia diikat dengan tali perkawinan melalui pernihahan : &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt; ( S. AN-NISA : 1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (S. AR-RUM : 21)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;(S. AL-HUJURAT : 13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (S.Al-Isra' : 32)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;(S. AL- FURQAN : 54)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Dari beberapa ayat tersebut diatas secara umum menunjukan kepada kita bahwa Allah menghendaki manusia itu bekembang biak, berketurunan, bersuku-suku bangsa. Semua itu dapat dilaksanakan melalui hubungan perkawinan yang sah dan benar sesuai dengan ketentuan Agama Allah. Ketentuan Allah tersebut disampaikan melalui Nabi kita Muhammad Saw, yang kemudian menetapkan semua hukum-hukum Allah dengan sebuah syari'at Islam. Inilah yang kemudian disebut sebagai Sunnah Rasul atau Sunnah Nabi Saw yang patut serta harus diikuti oleh seluruh umatnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Petunjuk Nabi Saw perihal bangunan rumah tangga muslim itu dapat kita simak dari beberapa hadist Rasulullah Saw yang sangat populer antara lain :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Nikah itu adalah sunnahku, maka barangsiapa yang mengikuti sunnahku, dia adalah dari golonganku (pengikutku), dan barang siapa yang meninggalkan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Menikah, kawinlah supaya bilangan kamu bertambah, maka aku akan bangga dengan bilangan kamu yang banyak sebagai umatku di “Hari Qiamat”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apabila seorang hamba menikah (kawin) maka telah sempurnalah setengah agamanya. Kini hendaklah ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Letakkan nutfah (sperma) kamu pada tempat yang benar, karena urat keturunan itu sangat penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dunia sangat indah, namun yang lebih indah lagi adalah seorang istri shalehah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Aku wasiatkan kepada kamu (suami) berhati-hatilah dengan urusan perempuan (istrimu) karena engkau mengambilnya dengan amanah Allah. Ia (istri) kamu itu berlindung dibawah kekuasaanmu, dan dihalalkan bagimu kehormatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang berbuat baik terhadap istrinya, dan aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Nabi Saw) adalah yang paling baik terhadap istriku. Tiadalah seorang yang memuliakan istrinya melainkan ia seorang yang mulia. Dan tiadalah menghinakannya melainkan ia seorang yang hina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Setelah semua ketentuan syari'at&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terpenuhi, maka pertemuan antara dua insan manusia yang berlainan jenis kelaminnya hanya dapat disatukan secara sah melalui sebuah proses &lt;b&gt;aqad nikah.&lt;/b&gt; Selanjutnya manusia mendambakan sebuah rumah tangga yang bahagia, harmonis, sejahtera lahir dan batin.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Dan inilah yang dikenal didalam Islam sebagai sebuah rumah tangga dan keluarga yang &lt;b&gt;SAKINAH, MAWADDAH, WARAHMAH&lt;/b&gt;. Manusia khususnya semua umat Islam berpeluang mencapai kebahagian hakiki seperti itu dengan syarat harus senantiasa berada didalam koridor dan bingkai syariat Islam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan demikian akan terpenuhi semua hak, kewajiban serta tanggung jawab setiap individu baik sebagai ayah atau ibu, sebagai suami atau istri dan sebagai anak atau orang tua. Betapa tidak, ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist Nabi Saw seperti disebut diatas adalah bagian ayat-ayat Allah dan hadist Rasulullah Saw yang dibacakan pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sitiap prosesi upacara aqad nikah, dan disudahi dengan do'a. Maka kini terbentuklah subuah bangunan rumah tangga muslim dengan segala harapan, cita-cita serta usaha dan ikhtiyar guna mewujudkan kehidupan yang berhagia &lt;b&gt;“fiddunia hasanatan wafil akhirati hasanatan” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;II. SEBAGAI SUAMI DAN ISTRI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Ketika melangkah memasuki pintu gerbang rumah tangga, setiap orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan sendirinya akan merasa bahwa ia telah memikul sebuah tanggung jawab sesuai dengan kedudukan dan fungsinya didalam rumah tangga itu. Pada umumnya pasangan suami istri yang baru memasuki kehidupan rumah tangga akan memanfaatkan seluruh waktunya guna mereguk manisnya madu perkawinan. Hal hal berlangsung untuk waktu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tertentu, yang bagi tiap pasangan relatif berbeda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang menikmatinya selama setahun, dua tahun, tiga tahun atau lebih terserah kepada masing-masing pasangan tersebut. Yang pasti mereka kini telah hidup berdua membangun rumah tangganya, dan berusaha memperoleh apa-apa yang diinginkan. Paling tidak keinginan itu adalah, memiliki rumah sendiri, memperoleh anak-anak sebagai generasi penerus keturunannya. Untuk mencapai hal semacam itu, alangkah sempurnanya apabila pasangan suami istri ini tidak melepaskan diri dari tuntunan agama. Karena tuntunan agama itu adalah tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Adapun syaratnya adalah; &lt;b&gt;“Jadikan perkawinan dan hidup berumah tangga itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai sebuah ibadah kepada Allah Swt”. &lt;/b&gt;Beberapa nasihat berikut ini mungkin bermanfaat bagi kehidupan rumah tangga yang mengharapkan redha Allah Swt.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama, mengenai seorang suami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Sebagai seorang suami, ia memmpunyai tanggung jawab dalam segala aspek bagi keluarganya yakni anak dan istrinya. Mereka berada dibawa perlindungannya secara utuh lahir dan batin.Ia bertanggung jawab atas nafkah mereka seperti, makan minum, pakaian, perumahan serta pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Ia harus mampu memimpin mereka kejalan yang diredhai Allah Swt. Seperti menunaikan tugas-tugas dan kewajiban malaksanakan perintah-perintah agama. Yang akan menjamin keselamatan mereka semua baik di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“dunia dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di hari akhirat”. Seorang istri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memiliki hak yang sama dan seimbang dari suaminya hal ini dapat kita lihat pada ayat Allah yang berbicara perihal tersebut. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;“Kaum perempuan itu mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara patut” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(S.AL-BAQARAH : 228)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: Tahoma,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pergaulilah istri-istri kamu itu secara patut” (S. AN-NISA 19)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;“Jika mereka telah menuruti kemauan kamu, maka janganlah mencari-cari jalan untuk menganiaya mereka” (S. AN-NISA : 34) &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sebagai seorang suami sedikit banyaknya ia harus mengetahui tatacara mempergauli istrinya sesuai syari'at yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad Saw. Dalam hal ini perhatikan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Buhkari dan Muslim, dari Ibnu Abbas r.a. bahwa &lt;b&gt;&lt;i&gt;Rasulullah Saw telah bersabda ; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya seseorang bila ia hendak mendatangi istrinya (menggaulinya), hendaklah ia membaca&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:”Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkan kami dari syaithan, dan jauhkan syaithan itu dari barang yang Engkau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beri rezeki kepada kami”, karena sesunggahnya jika ditakdirkan ada anak antara keduanya di waktu itu, tidak dapat syaithan menyakitinya selama-lamanya.”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Dalam hal bercumbu, bermesra-mesraan antara suami istri adalah sesuatu yang tidak dilarang, sepanjang hal itu untuk menambah rasa cinta dan kasih sayang diantara keduanya. Suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian suaminya. Ciptakan suasana intim, mesra penuh kasih sayang dilandasi oleh iman dan taqwa kepada Allah semata. Dalam kaitan ini Allah menegaskan dalam firmannya :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menegenai seorang istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Sebagai seorang istri. Ia juga mempunyai tugas, kewajiban serta tannggung jawab didalam rumah tangga, yang peranannyapun tidak kecil bahkan sangat menentukan. Ia telah ditetapkan Allah Swt sebagai makhluk yang berkemampuan reproduksi atau melahirkan anak sedang suami tidak. Tanpa istri suami tidak mungkin memiliki generasi penerus nasab atau keturunannya. Ia juga mempunyai sebuah kewjiban yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat berat menurut agama, sebagaimana sabda-sabda Rasulullah Saw yang antara lain : &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“ Kiranya boleh aku menyuruh seseorang untuk menyembah seseorang yang lain, niscaya aku akan menyuruh seorang istri menyembah suaminya”(H.R. Tirmizi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Kiranya seorang perempuan (istri) itu bersembahyang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya : “Masuklah engkau kedalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Jika ia diajak suaminya kepembaringan (berhubungan suami istri) sedang ia tidak memenuhi keinginan suaminya, sehingga menyebabkan suaminya tidur dalam keadaan marah sepanjang malam, maka para Malaikat akan mengutukinya hingga pagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Oleh sebab itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hendaknya seorang istri menjalani kehidupan rumah tangganya sebagaimana yang telah diatur didalan syari'at Islam. Dengan demikian ia akan memperoleh pahala yang sangat besar serta kerdhaan Allah Swt., sehingga terhindar dari kemurkaan Allah. Begitupun suaminya dituntut untuk memaafkan istrinya dari kesalahan-kesalahannya. Tidak terlalu banyak tuntutan yang mungkin akan memberati istrinya sendiri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bahkan agar ia (suami) memenuhi kewjibannya terhadap anak dan istrinya secara baik. Apabila didalam sebuah rumah tangga terjadi saling maaf memaafkan, jujur dan tidak berdusta diantara suami istri, niscaya masing-masing mereka akan dimaafkan dan diampuni pula dosanya oleh Allah Swt. &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; text-align: left;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. &lt;/span&gt;                     &lt;strong&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     MENDAMBAKAN KEHADIRAN ANAK&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Anak-anak atau keturunan merupakan dambaan setiap suami istri, rasanya belum lengkap sebuah rumah tangga apabila belum dihiasi dengan tangisan bayi putera maupun puteri. Oleh karena itu pasangan suami istri ketika baru menikah, mereka akan menikmati manisnya madu rumah tangga dalam kurun waktu tertentu sepuas-puasnya. Bagi setiap pasangan suami istri itu mempunyai target yang berbeda-beda. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang ingin cepat memperoleh anak, ada pula yang ingin berlama-lama hidup berdua. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang sudah mandabakannya tetapi belum memeperolehnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang ingin menunda kelahiran tetapi dikaruniakan anak oleh Allah. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang sebaliknya sudah sangat menginginkan kehadiran anak dirumahnya tetapi belum diberi oleh Allah Swt. Adapula yang harus menunggu dalam waktu yang lama, padahal telah berusaha dengan bermacam-macam jalan. Melalui jalan medis bahkan secara alternatifpun telah dilakukannya. Bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terjadi saling menyalahkan diantara keduanya, suami menuduh istrinya mandul, sebaliknya istri menyangka suaminya yang mandul. Sehingga situasi ini kadang diakhiri dengan cara dan keadaan yang sangat buruk. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Hal-hal seperti itu hendaknya tidak perlu terjadi, kita mestinya menyadari bahwa betapa terbatasnya kemampuan manusia. Dan betapa manusia seharusnya mengakui bahwa pada akhirnya kita harus kembalikan segala urusan rahasia hidup dan kehidupan ini kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Setiap pasangan suami istri hendaknya mempersiapkan diri untuk menerima kehadiran anak-anak mereka. Persiapan dimaksud adalah, kesiapan keduanya menjadi ayah dan ibu bagi anak-anak mereka. Yang dimaksud bukanlah persiapan secara materi saja, tetapi yang penting adalah kesiapan secara ukhrawiyah (agama). Karena suka atau tidak suka, ayah dan ibu adalah guru serta contoh teladan yang utama bagi anak-anak mereka. Pendidikan anakpun dimulai dari rumah mereka sendiri. Anak-anak belajar dari apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh kedua orang tuanya. Pendidikan yang baik bagi seorang anak yang diperoleh dari orang tuanya itu sangat tergantung kepada kwalitas akhlaq, moral dan agama orang tuanya. Itulah sebabnya Nabi kita Muhammad Saw bersabda dalam sebuah hadist yang sangat dikenal, yang artinya : &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Semua anak dilahirkan dalan keadaan fitrah (suci), ayah dan ibunya (kedua orang tuanya) yang kemudian menjdikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Pada masa kita sekarang, bahkan pada masa-masa lampau terdapat banyak generasi muda Islam yang tidak mampu melaksanakan kewajiban agama. Sebahagian besar diantara mereka ternyata tidak mendapat didikan agama yang baik didalam rumahnya. Bahkan banyak diantaranya yang mengakui bahwa orang tua merekapun tidak menjalankan kewajiban-kewajiban agama secara benar dan teratur. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Oleh karena itu perlu ada &lt;b&gt;guidance&lt;/b&gt; – panduan secara umum dan sederhana bagaimana seharusnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah rumah tangga muslim di &lt;b&gt;“manage”&lt;/b&gt; atau dikelola dengan baik. Hal ini jelas memerlukan kesiapan seorang ayah dan ibu secara prima. Karena mereka berdua akan menjadi teladan serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru bagi anak-anak mereka. Orang tua dituntut harus mengerti bagaimana menyambut kelahiran anaknya, apa saja yang harus diperbuat pada semua tahapan usia sang anaknya itu. Untuk maksud tersebut, akan kami tunjukan beberapa keharusan dan kebiasaan yang dilakukan didalam rumah tangga muslim, menurut tradisi suci islam, Sesuai contoh-contoh yang ditunjukan oleh &lt;b&gt;Nabi Saw&lt;/b&gt; dan yang dilakukan oleh para &lt;b&gt;“shlafus shalehiin”&lt;/b&gt; yang menjadi ikutan kita sampai sekarang. Walaupun hal seperti itu sebagian telah ditinggalkan oleh kalangan islam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;“moderat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Namun begitu masih lebih banyak kaum muslimin yang tetap menjaga serta melakukan kewajiban terhadap anaka-anak mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagaimana mestinya. Kegiatan suami istri sampai dengan mengasuh dan mendidik anak-anak sejak lahir hingga dewasa, terdapat beberapa tahapan-tahapan antara lain adalah :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Sebelum memasuki pintu gerbang rumah tangga hendaknya seorang wanita telah banyak belajar tentang kehidupan rumah tangga, baik dari ibunya atau keluarga dekatnya. Yang perlu diketahui adalah bagaimana harus bersikap sebagai seorang istri yang beiman. Bagaimana cara yang baik mengurus suami, mengurus dapur, dan bagaiman menghadapi masa kehamilan sampai melahirkan, mengasuh anak dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Demikian halnya seorang pemuda, hendaknya ia banyak bertanya dan belajar bagaimana cara-cara serta do'a apa yang baik ketika berhubungan suami istri. Ia juga mempersiapkan dirinya untuk menjadi Imam (pemimpin) terhadap istri dan bagi anak-anaknya kelak Apa saja yang harus diperbuatnya ketika nanti istrinya hamil dan melahirkan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Banyak berkonsultasi mengenai rumah tangga dengan keluarga dekat yang dianggap baik dan berhasil dalam kehidupan rumah tangganya akan sangat bermanfaat. Dengan melakukan hal-hal semacam ini, akan mendatangkan keinginannya memperdalam ilmu agama, karena ia merasa sangat membutuhkannya sebagai bekal memasuki alam kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mandiri..&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ketika memasuki kehidupan berumah tangga paska aqad nikah, kedua insan ini sedikit banyaknya telah memahami teori-teori kehidupan suami istri. Keduanya kini ini mulai mempraktekan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semua teori-teori yang telah diperoleh sebelumnya. Apabila keduanya berbekal iman dan taqwa kepada Allah Swt insya Allah semuanya akan berjalan dengan baik. Karena ukuran dan pendekatan yang mereka pakai bukanlah pendekatan dan ukuran materi semata, tetapi mereka hidup dengan berpijak pada keimanan serta ketaqwaan kepada Allah. Dengan tatacara hidup seperti ini, nicaya rumah tangganya dinaungi oleh Rahamat dan Ridha Ilahi Rabbi. Sungguh Allah tidak membatasi dan mencampuri urusan rumah tangga hamba-Nya yang ingin mereguk manisnya madu rumah tangga. Karena mereka telah berbekal iman dan taqwa, sehingga mereka akan terpelihara dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan dilarang agama. Pada tahapan ini alangkah baiknya pasangan suami istri ini, banyak membaca buku-buku mengenai kehidupan rumah tangga dalam keluarga muslim.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kegiatan seperti ini selain memperluas wawasan keislaman,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia juga merupakan ilmu yang berharga. Apalagi mereka mampu mengatur waktu sehingga dapat menghadiri majelis-majelis ilmu baik bagi kaum pria maupun kaum ibu. Banyak suami istri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang masih muda melupakan hal semacam ini, karena dimabukan manis dan mesranya rumah tangga baru. Akibat terlalu lama meninggalkan pergaulan dengan majelis-majelis ilmu, atau jauh dari orang-orang ‘Alim (‘Ulama) menyebabkan mereka tumbuh tidak seimbang, sehingga sangat berpengaruh pula pada anak-anak mereka kelak. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Boleh jadi mereka sukses pada urusan duniawiyah tetapi mereka mungkin bisa gagal meraih keuntungan ukhrawiyah.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Oleh karena itu, kita harus adil bijaksanalah menjalani kehidupan rumah tangga dalam masa hidup manusia yang singkat ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;agar kita dapat menggenggam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dunia, sekaligus meraih akhirat.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berusaha, berikhtiyar serta berdo'a dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt agar kita mencapai sukses dunia dan akhirat.”&lt;b&gt;hasanah di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dunia dan hasanah di akhirat”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Bagi pasangan suami istri yang menginginkan memperoleh keturunan, hendaknya mereka bersiap menghadapi kelahiran putera puteri mereka. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa langkah-langkah yang baik perlu dilakukan. Keduanya selalu melazimkan Shalat berjamah pada waktu-waktu sang suami dirumah, membaca Al-Qur'an setiap hari sekalipun sedikit tetapi bekekalan setiap harinya &lt;b&gt;(istiqamah)&lt;/b&gt;, sesuai dengan waktu anda masing-masing.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada setiap malam Jum'at sebaiknya keduanya meluangkan waktu membaca Al-Qur'an. Suami membaca Surah Yusuf, sementara sang istri membaca Surah Maryam, hal ini baik sekali dilakukan bagi mereka yang belum mempunyai anak. Mengawali membaca Al-Quran itu dengan bacaan Surah Al-Fathihah kepada Nabi Saw serta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Bacaan yang sama juga ditujukan kepada orang tua-tua dan guru-guru kita, juga kepada para Aulia Allah dan kepada kaum Muslimin dan Muslimat yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Bacaan seperti itu haruslah disertai niat yang sungguh-sungguh kepada Allah serta mohon dikaruniakan anak. Perbanyak membaca Shalawat kepada Nabi Saw disertai niat dan hajad yang sama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada Allah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keempat; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Kalau mungkin, hendaknya banyak mengunjungi majelis-majelis ta'lim atau majelis zikir. Ketika hadir pada majelis seperti ini, tanamkan niat didalam hati kita kepada Allah dan Rasulnya, tentang segala sesuatu yang menjadi hajad dan niat kita itu. Hal yang sama dilakukan pula pada setiap selesai Shalat wajib, dan Shalat sunat pada malam hari (kalau dilakukan). Sesering mungkin meminta ampun kepada Allah dan minta pula keredhaan dan do'a dari orang tua kita masing-masing.(bila mereka masih hidup). Perbanyak shadaqah secara sukarela, disertai niat semoga kita menjadi semakin dekat kepada Allah Swt. Untuk itu agar keduanya memelihara rukun Islam secara sungguh-sungguh, terutama Shalat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; waktu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kelima;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Ketika istri dalam keadaan hamil, maka hendaknya kedua suami istri itu, terus menerus mengamalkan kegiatan seperti tersebut diatas. Ketahuilah bahwa janin didalam rahim ibunya itu ikut menikmati semua kegiatan dan bacaan-bacaan Al-Qur'an, shalawat, zikir yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, terutama yang dilakukan oleh ibunya. Kalau para ahli ilmu kedokteran mengatakan bahwa pengaruh merokok dari seorang ibu perokok yang sedang hamil itu sangat tidak baik bagi pertumbuhan anak dalam kandungannya kitapun percaya. Lalu mengapa kita tidak percaya kalau suara bacaan – bacaan yang baik dari seorang ibu hamil pasti berpengaruh kebaikan pula terhadap pertumbuhan anak yang dikandungnya?.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;IV.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;MENYAMBUT&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KELAHIRAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ANAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Inilah tahapan kebahagiaan sebuah rumah tangga yang sangat didambakan, rasa bahagia seorang istri disebabkan ia merasa telah mampu memenuhi harapan semua orang. Harapan suaminya, harapan keluarga suaminya, dan harapan keluarganya sendiri. Ia kini telah mempunyai sebuah bukti kemampuan sebagai seorang ibu.. Ini adalah saatnya keluar tangisan serta air mata kebahagiaan penuh syukur kepada Allah Swt. Hal yang sama terjadi pada diri sang suami, ia merasa benar-benar telah menjadi seorang lelaki-pria sejati. Ia telah membuktikan bahwa ia mampu menjadi seorang ayah. Hatinya kala itu di penuhi oleh rasa bahagia yang tiada taranya, ia menyambut setetiap ucapan selamat dengan rona wajah bahagia. Begitulah gambaran umum ketika orang menghadapi kelahiran anak keturunan, buah hati sibiran jantungnya, apapun jenis kelaminnya. Selanjutnya ada beberapa tindakan yang tidak boleh dilupakan yaitu ;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;Mengumandangkan kalimat azan shalat di telinga kanan bayi, serta iqamat pada telinga kirinya (bagi bayi laki-laki). Dan bagi bayi perempuan cukup dengan iqamat saja ditelinga kanannya. Hendaknya disertai do,a untuk masing-masing&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bayi-bayi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut setelah azan dan iqamat, agar dijauhkan dari gangguan syaitan, dan gangguan dari pandangan manusia atau makhluk lain yang mengganggunya.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;Agar dibacakan pula ditelinga bayi tersebut ayat-ayat Al-Qur'an yakni surah&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Al-Qadr, Surah Quraisy masing-masing 1 X dan Surah Al-Iklaas 3 X.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;Agar membawa buah kurma yang lunak kepada ‘Ulama Ba'alawi yang shaleh untuk dido'akan serta dicicipinya. Kemudian buah kurma tersebut diberikan kepada bayi yang baru lahir untuk disapnya. Hal ini dilakukan sebelum bayi tersebut meminum apa-apa, termasuk sebelum memminum air susu ibunya. Ini adalah sebuah barakah dari ‘Ulama Habaib yang shaleh tadi. Menurut tradisi kalangan Alawiyyin – dzurriat Rasulullah Saw.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;Mengambil plasenta (ari-ari) bayi tersebut untuk dibersihkan dan dikuburkan sebagaimana mestinya.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;Kewajiban Aqiqah atas bayi yang lahir tersebut.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;                     &lt;!--[if !supportLists]--&gt;                     &lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                     &lt;!--[endif]--&gt;                     &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;Tasmiyah atau upaca pemberian nama anak.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama ;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Masalah azan dan iqamat terhadap bayi yang baru lahir, terdapat perintah dan sesuai contoh yang telah ditunjukkan oleh Nabi kita Muhammad Saw. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalam sebuah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hadist yang dirawikan oleh Abu Daud dan Tirmizi dari Abi Rafi' r.a. ia berkata : “Pernah aku melihat Nabi Saw azan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(sebagai) azan sembahyang di telinga kanan Hasan bin Ali ketika ia dilahirkan oleh Fathimah r.a”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalam riwayat Ibnu Sunny, dari Hasan Bin Ali r.a. berkata ia :”Siapa-siapa yang lahir seorang anak baginya, hendaklah diazankan di telinga kanannya, dan dibacakan iqamat sembahyang di telinga kirinya, maka tidaklah ia akan disakiti oleh ummushibyan (jin).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua ;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Mengenai Aqiqah, kewajiban aqiqah ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan ia adalah sebuah kebiasaan yang telah berlangsung bersamaan dengan tibanya fajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Al-Islam. Yang perlu diingatkan adalah bagaimana kita memahami dan menjalankannya. Serta harus didasari oleh pengetahuan kita yang baik perihal tersebut. Aqiqah ini dilaksanakan dari generasi kegerasi Islam berlandaskan kepada hadist-hadist Nabi Saw yang merupakan landasan hukumnya. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Samurah r.a. dari Nabi Saw, berkata ia : “Tiap-tiap bayi itu tergadai dengan aqiqahnya, yang harus dipotongkan kambing pada hari ketujuh (dari hari lahirnya), dan guntingkan rambutnya pada hari itu dan diberi nama” (Hadist riwayat Abu Daud)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Berkata Imam Ahmad dan Baihaqi : Yang dimaksudkan dengan anak tergadai dalam hadist aqiqah ini, ialah bahwa anak itu terlarang memberikan safaat andai kata ia mati selagi kecil. Atau anak itu tergadai (tertahan) jiwanya dari pertumbuhan yang baik , dan tertahan jiwanya menghadapi kebahagiaan dirinya, sampai ia diaqiqahkan. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Tentang aqiqah ini, sekalipun ada pendapat lain yang menganggapnya sebagai ibadah sunat saja, namun hampir seluruh umat Islam menjalankan sesuai hadist-hadists Nabi Saw diatas. Adapun mengenai hewan dan jumlahnya pada aqiah itu, maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dijalankan sesuai pula dengan hadist Nabi Saw. Yaitu untuk bayi laki-laki 2 (dua) ekor kambing dan untuk bayi perempuan 1 (satu) ekor kambing saja. Hal ini didasarkan kepada sabda Rasulullah Saw. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Habibah Binti Maisarah berkata ia : pernah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda; “Untuk laki-laki dua ekor kambing yang sama besar, dan untuk bayi perempuan seekor kambing”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Aisyah r.a.: “Yang sunat dua ekor kambing yang sekufu (sama besar) untuk bayi laki-laki, dan untuk bayi perempuan seekor kambing dimasak secara berangkai-rangkai dan jangan dipecah tulan-tulangnya”. (Hadist riwayat Baihaqi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Yang perlu diperhatikan pula bahwa hewan yang digunakan untuk aqiqah ini, syarat-syaratnya sama seperti pada hewan qurban (tidak cacat). Demikian pula tatacara penyembelihannya sama seperti sembelihan biasa, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Niatnya :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baca Bismillahumma laka wa ilaika aqiqatu fulan bin fulan (nama anak dan nama ayahnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pada anak perempuan “ Bismillahumma laka wa ilaika aqiqatu fulana binti fulan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Dengan nama Allah ya Tuhan, karena Engkau dan kepada Engkau aqiqah si fulan bin fulan bin fulan”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(fulana binti fulan bin fulan untuk perempuan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga; Tasmiyah, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Mengenai pemberian nama anak. Rasulullah Saw menyuruh umatnya agar dalam hal memberi nama kepada anak-anak mereka dengan nama-nama yang baik. Artinya hendaklah nama itu mengandung arti atau makna yang baik. Memang nama itu akan senantiasa disebut-sebut ketika orang memanggil kita. Maka apa bila nama itu nama yang baik, niscaya seolah-olah kebaikan itu disebut terus menerus. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pula nama yang mengandung do'a dengan arti dan makna yang bagus. Pada pokoknya setiap orang tua berkewajiban memberi nama kepada anank-anaknya dengan nama yang baik-baik. Pengertiannya adalah agar nama itu tidak saja enak pada pendengaran tetapi hendaknya indah pula dalam arti nama tersebut.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Abi Darda r.a. ia berkata : Sabda Nabi Saw : “Sesungguhnya kamu akan dipanggil dihari qiyamat dengan namamu dan nama bapakmu oleh sebab itu hendaknya dipakai nama-nama yang baik” (Riwayat Abu Daud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi Saw ia berkata : “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman. (Riwayat Imam Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Abdul Wahab Jasya'i&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bersabda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nabi Saw; “Berilah nama anakmu dengan nama Nabi-nabi, dan nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan nama yang paling besar (boleh dijadikan nama) ialah Haris dan Hammam, dan nama yang paling keji adalah Harab dan Murrah.(Riwayat Abu Daud dan Nasai)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Adapun Haris dan Hammam masih dinamakan nama yang baik, karena nama-nama itu baik artinya, &lt;b&gt;Haris artinya orang bertani,&lt;/b&gt; sedang &lt;b&gt;Hammam artinya orang tinggi cita-citanya. &lt;/b&gt;Sedang &lt;b&gt;Harab dan Murrah&lt;/b&gt;, dikatakan &lt;b&gt;nama yang paling keji,&lt;/b&gt; karena &lt;b&gt;artinya yang keji pula, yaitu “perang” dan “pahit” (dikutip dari kitab fiqih Safei'i)&lt;/b&gt; Jadi seseorang yang akan memberi nama kepada seseorang, supaya sekurang-kurangnya yang berarti baik, jangan yang berarti buruk, sebagaimana yang dinyatakan pada hadist diatas. Dan seseorang yang hendak menyerupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nama itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada nama Tuhan, hendaklah ditambah Abdu didepannya, seperti Abdusshamad, Abdussalam, Abdurrazak, Abdul Djalil, Abdul Hakiim dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-481587279681445823?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/481587279681445823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/481587279681445823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/wejangan-pernikahan.html' title='Wejangan Pernikahan'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKub__mxTI/AAAAAAAAAEg/cV-7wIwNkFU/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-8013096543613275152</id><published>2008-11-06T00:28:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:50:46.620-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (VI)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKqzMuLmmI/AAAAAAAAADs/4h1wwUkeiwc/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKqzMuLmmI/AAAAAAAAADs/4h1wwUkeiwc/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265458710914505314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KALAM PENUTUP &amp;amp; DO’A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhiri  tulisan ini sampai disini saja dahulu, sekalipun masih menyisakan begitu banyak keterangan dan penjelasan diseputar sinar matahari “KAFA’AH SYARIFAH &amp;amp; KEMULIAAN NASABNYA” serta sejumlah  masalah-masalah yang mengitarinya, baik dari kebencian orang yang membenci, maupun orang-orang yang menyayangi dan mencintai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hendak dituruti kata hati, dan membiarkan jari jemari tangan ini terus bergerak menulis kisah tentang mereka, atau akal pikiran dibiarkan mencurahkan seluruh pengetahuan tentang mereka, niscaya hampir tidak ada waktu sedikitpun yang tertinggal kecuali akan senantiasa ingin bersama mereka Ahlul Bait Rasul pilihan yang mulia ini. Membicarakan atau menulis riwayat-riwayat mereka akan memenuhi berjilid-jilid buku. Karena ketika anda membicarakan mereka, maka anda pasti akan membicarakan pula datuk mereka Muhammad ibni Abdillah Saw, dan apabila anda membicarakan Nabi Saw, artinya anda sedang membicarakan Allah SWT. Oleh karena itu tahanlah lidah kata-kata anda dari pembicaraan yang buruk dan tidak  bermanfaat tentang Ahlul Bait Nabi Saw, sebab mereka itu beredar disekitar matahari dan cahaya purnama datuk mereka Rasul Saw. Yang senantiasa berada didalam rangkulan Rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Itulah diantaranya alasan mengapa saya tidak meneruskan pembahasan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan kita mampu mengumpulkan nama-nama seluruh manusia yang buruk perilakunya terhadap mereka (Ahlul Bait Rasul Saw).  Baik orang yang mencaci dengan kebencian, maupun orang yang menghina karena kedengkian. Niscaya akan kita dapati nama-nama mereka terkubur bersama segala kehinaan dan kenistaan yang mereka bawa menemui Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan andaikan kita mempunyai kemampun menghimpun nama-nama dari orang-orang ingin sebiduk dengan mereka (Ahlul Bait Rasul). Yaitu orang yang mencintai Muhammad Saw, dan aal Muhammad Saw. Orang yang mengasihi dan menyayangi  Ahlul Bait Nabi Saw  dengan ketulusan iman, serta orang-orang  yang melindungi dan menolong aal Muhammad demi cinta mereka kepada Nabi Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscaya kita dapati tidak lain hanyalah keharuman nama-nama mereka menghiasi bibir dan membasahi lidahnya kaum Muslimin sejagad dalam do’a ketika mereka berdo’a bermohon Rahmat Allah. Sungguh mereka telah memperoleh kebahagiaan hidup dan kemulian mati. Sebagai buah cinta dan kasih sayang mereka kepada Ahlul Bait Muhammad ibni Adlillah Saw. Demi cinta mereka kepada Allah Dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hanya akan ada kemulian bagi siapa saja yang didalam hidupnya bergaul dengan orang-orang yang mulia. Betapa tidak, setiap anda berada ditengah-tengah mereka, maka anda tidak akan mengingati yang selain Allah. Terjadi sebuah transformasi barakah dari pihak mereka kepada anda tatkala anda menyalami dan mencium tangan serta pipi mereka (Habaib dan ‘Ulama shalihin). &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hal ini hanya diketahui dan dimengerti oleh orang-orang pilihan dalam Agama, mempunyai pengalaman spiritual yang tinggi kualitasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya ingin menutup perbincangan ini, dengan memohon ampun kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang mulia, atas segala kekhilafan, kesalahan serta kebodohan saya dalam menjelaskan ayat-ayat Allah yang Agung dan hadits-hadits Nabi Saw. yang mulia. Yang benar dari tulisan saya ini, adalah datang dari Allah SWT, sedangkan yang tidak benar, salah dan keliru dari isi bahasan saya ini, semuanya karena kekurangan, kebodohan dan kealpaan saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maka maafkan dan ampunilah saya yang dhaif ini wahai Allah Zat yang Maha Suci lagi Maha Sempurna. Dan dengan bertawassul kepada Nabi-Mu yang mulia saya mohon dikuatkan Iman dan Islam agar sanggup menghadapi bahya-bahaya zaman. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berilah saya kekuatan Wahai Yang Maha Kuat, agar saya kuat menunaikan hak-Mu, wahai Allah Yang Rahman dan Rahim, tambahkan pula kepada saya Ilmu yang bermanfat agar saya lebih mengenal-Mu yaa Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah, apabila telah Engkau cukupkan masa hidup saya, maka wafatkanlah saya sebagai Muslim yang sejati, dan akhirilah hidup saya dengan akhir kehidupan yang baik ya Allah pemilik Rahmat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah hindarkanlah malapetaka serta bencana fitnah dari kaum Muslimin semuanya ya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai Allah Zat Yang Maha Agung dan Maha Mulia, singkirkanlah permusuhan, jauhkanlah semua bentuk pertikaian dari kaum Muslimin semuanya ya Allah, satukanlah hati kami semuanya didalam bimbingan amal dan berkasih sayang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karuniakan kami semua ya Allah dengan kesabaran seperti sabarnya tanah hingga hari kemudian. Ya Allah Yang Maha Lembut, lembutkan hati kaum Muslimin semuanya agar mampu menjalin kesatuan dan persatuan didalam memelihara dan menjaga tegaknya Agama Tauhid yang Engkau karuniakan kepada kami.Akhirnya tetapkan kalimat Tauhid didalam jiwa dan tingkah laku perbuatan kami kaum Muslimin semuanya ya Allah yang Maha Perkasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai Allah yang memiliki Kerajaan yang di Langit dan di Bumi, kami mohon perlindungan-Mu atas Dzurriyat Rasul-Mu yang telah Engkau muliakan, lindungilah mereka semuanya dari segala jenis kejahatan yang datang dari setan, iblis, jin dan manusia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karunikanlah kepada mereka kefahamn tanggung jawab sebagaimana yang dikehendaki oleh datuk mereka Nabi-Mu dan Kekasih-Mu Muhammad ibni Abdillah Saw. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui, berikan kesabaran dan kearifan yang hakiki bagi mereka dari sisi-Mu ya Allah, agar mereka mampu menghadapi segala rintangan dan kecaman para penghasut dan pendengki dengan kesabaran dan akhlak mulia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai Allah Yang Maha Memelihara, peliharalah mereka didalam benteng-Mu yang kokoh agar mereka tetap istiqamah serta menjadi wadah kelangsungan Nasab bagi datuk mereka Nabi Muhammad Saw. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai Allah Yang Maha Adil Dan Maha Memelihara, tumbuhkan sifat-sifat adil itu didalam setiap diri aal Muhammad, baik diantara sesama mereka maupun diantara kaum Muslimin semuanya. Berikanlah kepada mereka kekuatan agar mampu menjaga dan memelihara Nasab mereka agar tetap ada dzurriyat Rasul Saw dimuka bumi. Jauhkan dari diri-diri mereka akan perasaan angkuh dan sombong karena hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi Saw. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi kelembutan-Mu Ya Allah, sinarilah setiap jiwa dan hati Ahlul Bait Rasul Saw, dengan perangai dan akhlak yang memikat, hati yang lapang serta jiwa yang jujur karena mereka ditakdirkan oleh-Mu untuk menjadi panutan ummat Muhammad Saw, serta manusia semuanya. Ampunilah kami, tolonglah kami, serta masukkanlah kami semua keluarga aal Muhammad kedalam benteng Rahmat-Mu yang kuat sempurna. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akhirnya ampunilah kami, maafkan kami juga kedua orang tua kami serta Ahlul Bait Nabi Saw semuanya, dan jadikanlah kami semuanya orang-orang yang bersyukur atas semua ni’mat yang telah, dan akan Engkau karuniakan kepada kami semuanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah Yang Maha Agung Teguhkan kaki kami agar senantiasa kuat berpijak dijalan para pendahulu kami yang baik lagi mulia, agar dengan itu kami dapat mencapai kebahagiaan hidup dan kemuliaan mati sebagaimana yang telah engkau karuniakan kepada mereka ya Allah, wahai Tuhan segala makhluk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah ya Tuhan Yang Rahman dan Rahim, kami rela untuk menghinakan diri kami sehina-hinanya diharibaan-Mu ya Allah, demi mencapai matabat mulia pendahulu kami itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah Yang Maha Medengar, hati kami tidaklah menanngis dan menjerit hanya karena hinaan manusia yang menghina, dan kami tidaklah merasa sakit atas segala perbuatan manusia yang menyakiti kami ya Allah. Tetapi kami menjerit menangis dan menangis, tatkala mendapati sebahagian kami yang telah dengan angkuh, pongah, sombong dan zalim melakukan perbuatan yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andaikan tidak karena malu kepada-Mu yaa Allah, niscaya akan kami gunakan semua hari-hari yang kami lalui untuk meminta dan memohonkan semua hajat kami untuk saudara kami Ahlul bait Rasul Saw yang mulia agar mereka mengetahui dan mengenal dirinya sendiri. Maafkan dan ampunilah mereka ya Allah, mereka memang orang yang bodoh lagi zalim atas dirinya sendiri, sehingga mereka mencela dan dan menghinakan Nasab mereka sendiri, padahal itu adalah seutama-utamanya karunia dari-Mu, yang Engkau berikan kepada manusia ya Allah. Ilahi ya Rabb, sesungguhnya mereka itu bodoh dan tidak mengerti, maka ampuni dan maafkanlah serta sadarkan mereka. Kepadamu ya Allah kami berserah diri, Ya Allah Yamg Maha Terpuji, segala Puja dan Puji hanya bagi-Mu ya Allah pemilik ‘alam semesta. Aamiin yaa Rabbil ‘aalamiin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;01 Pebruari,  2001 M&lt;br /&gt;Jakarta,  ---------------------&lt;br /&gt;07 Dzulqa’dah  1421 H &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Sayyid ‘Ali bin Muhsin Albaar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-8013096543613275152?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8013096543613275152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/8013096543613275152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kesucian-syarifah-dalam-gugatan-vi.html' title='KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (VI)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKqzMuLmmI/AAAAAAAAADs/4h1wwUkeiwc/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-743041798167798048</id><published>2008-11-06T00:17:00.001-08:00</published><updated>2010-11-25T20:50:46.621-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (V)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKoOVr2crI/AAAAAAAAADk/cyDo-pfXs0A/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKoOVr2crI/AAAAAAAAADk/cyDo-pfXs0A/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265455878642234034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENGENAI  KEKECEWAAN  SITI  FATHIMAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah (l.k. 30 tahun silam) yang berhubungan dengan kekecewaan Siti Fathimah – Terjadi di kota Surabaya sekitar awal tahun 1970. Kisah ini benar-benar terjadi, hanya saja saya sudah tidak ingat lagi nama dua orang pelaku-pelaku utama pada kisah nyata ini, maka kita beri nama samaran saja. Kedua orang itu adalah seorang pemuda Alawiyyin saya  beri nama “Sayyid Walid”. Usia kira-kira 20 tahun Dan seorang tua penjaga Masjid Ampel Surabaya, Haji asal Madura, saya beri nama ‘Pak Haji”. Berusia sekitar 55 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Haji, adalah seorang tua yang shaleh serta istiqamah. Disamping menjaga kebersihan Masjid Ampel yang memang berada dibawah tanggung jawabnya, beliau dengan tekun tidak pernah absen mengikuti setiap pengajian rutin, dan Majelis Ta’lim yang secara tetap diadakan di Masjid itu. Beliau ini sangat mencintai ‘Ulama Habaib, seperti Habib Shaleh Bin Muhsin Al-Hamid Tanggul (Allah yarham), Habib Abubakar Assagaf Gresik (Allah yarham). Dan ‘Ulama Habaib lainnya. Pak Haji ini sangat baik hati, dan sayang sekali terhadap anak-anak kecil dan remaja Ba’alawi yang memang sangat banyak bermukim disekitar Masjid Ampel, Nyamplungan, Suko Rejo, Suku Dono, dan sepanjang jalan K.H. Mas Mansyur - Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon mennurut ceritera Pak Haji ini semakin bertambah sayangnya kepada para sayyid kecil dan remaja tadi. Dari hari kehari semakin ceria saja wajahnya, ada apa gerangan? Ternyata Pak Haji ini diberi amalan berupa wirid dan bacaan shalawat khusus, sehingga dengan amalannya itu Pak Haji sering kali bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Tidak terlalu jelas amalan itu diperoleh dari siapa. Mungkin Habib Shaleh Tanggul atau kalau tidak mungkin dari Habib Abubakar Assagaf Gresik, atau mungkin pula dari kedua ‘Ulama Habaib yang memang sangat terkenal pada zamannya. Bahkan sampai hari ini sekalipun kedua beliau itu telah tiada. Namun wafatnya seorang Waliyullah berbeda dengan orang kebanyakan, karena Maqam-maqam mereka setiap hari dijiarahi ummat Islam dari segala pelosok dan penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahadan!, Pak Haji yang sangat ramah baik dan rajin itu mulai sering kerepotan menghadapi sekelompok kecil para sayyid muda kira-kira 15 sampai 20 orang, termasuk sayyid Walid. Kelompok anak muda ini biasa menghabiskan waktu begadang hingga larut malam, kemudian tidurnya di Masjid Ampel dimana Pak Haji dinas. Dari hari kehari anak-anak muda ini semakin merepotkan Pak Haji terutama pada waktu menjelang shalat Shubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang katanya sejak anak-anak muda ini, mulai tidur di Masjid, dan hampir setiap malam, apalagi pada malam Minggu. Akibatnya Pak Haji semakin kerepotan saja. Karena keadaan seperti itu terus berlangsung, Pak Haji mulai agak kurang bersahabat. Tetapi namanya juga anak-anak muda, mereka merasa biasa saja. Mereka terus setiap malam tidur di Masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Haji mulai bertambah marah, karena kadang-kadang mereka makan makanan kecil di dalam Masjid juga, sehingga kerja Pak Haji jadi lebih repot lagi karena harus ngurusin sampah. Yang paling menyakitkan hati Pak Haji, karena dari mulut anak-anak muada ini mulai tercium bau minuman keras. Wah kalau begini kata Pak Haji saya tidak bisa sabar lagi. Akahirnya anak-anak muda itu lalu diusir dan tidak diizinkan tidur di Masjid lagi. Lebih kurang sebulanan mungkin anak-anak muda ini tidak lagi datang tidur Masjid maka Pak Haji pun menjadi lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu ternyata  tidak bertahan lama karena pada suatu malam pak Haji menemui sayyid Walid dan beberapa temannya datang tidur lagi Masjid. Pak Haji mulai bertindak keras, dan selain memberi nasihat, beliau juga sering marah besar kepada mereka. Tindakan Pak Haji ini ternyata ada hasilnya. Jumlah yang datang tidur di Masjid Ampel makin sedikit, hanya tinggal 4 atau 5 orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari waktu menjelang shalat shubuh, para jama’ah yang mulai berdatangan dikejutkan oleh suara ribut Pak Haji yang mara-marah tidak seperti biasanya, usut punya usut ternyata anak-anak yang tidur di Masjid pada mabok dan sulit dibangunkan. Mulai  hari itu mereka diultimatum Pak Haji, tidak ada yang boleh lagi tidur diteras Masjid. Beberapa hari memang kelihatan Masjid sepi dari anak-anak muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi beberapa hari kemudian ada lagi yang tidur diteras Masjid, kali ini cuma  S.Walid dan seorang temannya saja, namun keadaannya sama mereka berdua ini mabuk berat. Pagi itu Pak Haji antarkan  mereka kerumah orang tuanya masing-masing. Sesudah itu Masjid sepi lagi. Tidak terlalu lama berselang, pada suatu malam sayyid  Walid yang memang paling bandel, paling badung diantara semua temannya kedapatan tidur diteras Masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Haji makin dongkol saja. Seperti biasanya menjelang shubuh Pak Haji mulai bebenah Masjid karena sebentar lagi adzan shubuh. Ketika pemuda sayyid Walid yang bandel ini akan dibangunkan Pak Haji, tiba-tiba Pak Haji berteriak sambil memukul menendang tubuh sayyid Walid, ada apa gerangan? Ternyata tempat dimana sayyid Walid tidur itu sudah dipenuhi muntahnya seketika itu teras Masjid itu menjadi kotor dan bau apak bekas muntahan minum keras. Tak ayal lagi Sayyid Walid disikat babak belur, ditendang dan diusir pokoknya Pak Haji marah besar, sayyid Walid lari terbirit-birit, Pak Haji terus mengejar dan dihajar habis-habisan. Sayyid Walid jatuh bangun dibuatnya, pikir Pak Haji yang betul-betul sudah naik pitam itu menghajar Walid sampai sudah hampir tidak berbentuk lagi pokoknya benjolan disekujur muka dan badan tidak dapat dihitung banyaknya, untung saja tidak sampai patah tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Masjid Ampel benar-benar bersih dari anak-anak muda memang sudah tidak ada lagi yang berani tidur di Masjid lagi. Apalagi sayyid Walid lewat di depan Masjid saja sudah tidak berani lagi.Ketenangan di Masjid sudah tidak terusik lagi. Beberapa bulan kemudian Pak Haji selalu terihat termenung, wajahnya seperti orang kesusahan dan tidak bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut sana usut sini, akhirnya Pak Haji berceritera mengenai kesusahannya itu. Kata Pak Haji sejak kejadian beberapa bulan yang lalu itu, sampai sekarang kata Pak Haji saya tidak lagi bermimpi bertemu Rasulullah Saw. ceritera Pak Haji sambil berurai air mata. Orang yang memahami kondisi spritual Pak Haji ini, menasehatinya agar menemui salah satu ‘Ulama Habaib dan coba konsultasi. Mendengar itu beliau tambah keras tangisnya. Akhirnya Pak Haji bercetera dengan suara parau dan tersendat sendat bagai anak kecil kehilangan mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pak Haji setelah saya tidak lagi bermimpi bertemu Nabi Saw, saya lebih meningkatkan amalan saya, tetapi bahkan sekalipun sudah berhari-hari saya mengamalkan wirid dan bacaan shalawat sepanjang malamnya, toh tidak pernah dapat bermimpi seperti dulu lagi bertemu dengan Nabi Saw. Sampai pada suatu malam ketika saya kelelahan dan tertidur sebentar, tiba-tiba saya merasa bertemu dan melihat seorang wanita Muslimah yang sangat cantiknya dan belum pernah saya melihat seperti itu sebelumnya. Tetapi wajahnya muram dan cemberut,tetapi penuh wibawa menatap saya. Lalu saya bertanya; “Sampeyan ini siapa?, wanita itu diam saja dan menatap saya dengan tajamnya sehingga ada rasa takut yang amat sangat dalam diri saya, Saya ulangi pertanyaan itu sampai berulang-ulang. Akhirnya pada pertanyaan saya yang ketiga kalinya ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Haji   :  “Maaf sampeyan ini siapa?,&lt;br /&gt;Fathimah :  “Saya Fathimah binti Rasul Saw.”&lt;br /&gt;Pak Haji   :  “Saya mau minta maaf – menangis keras”&lt;br /&gt;Fathimah :  “Redhaku ada pada cucuku (Sayyid Walid)”&lt;br /&gt;Pak Haji   :  “Ampun maaf Kanjeng Puteri Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Fathimah :  “Aku yang mengurus anak cucuku”.&lt;br /&gt;Pak Haji   :  “Ampun maaf Kanjeng Puteri Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Fathimah :  “Cintai, nasehati jangan sakiti  mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini beliau (Siti Fathimah) hilang dari penglihatan saya, kata Pak Haji masih dalam keadaan menangis terisak-isak. Karena mimpi tersebut diatas sudah lewat beberapa bulan tetapi Pak Haji itu belum juga bertemu dengan sayyid Walid. Ternyata sejak kejadian pemukulan dan pengusiran terhadap sayyid Walid itu, Pak Haji tidak pernah bertemu dengan sayyid Walid.  Bahkan setelah kejadian mimpinya bertemu Siti Fathimah itu Pak Haji sudah mencari kerumah orang tuanya, dan teman-temannya tetapi tidak ada yang tahu dimana sayyid Walid berada. Hal inilah yang membuat susah hatinya. Pak Haji merasa sangat bersalah atas raibnya sayyid Walid. Singkat ceritera pada suatu hari ada salah seorang teman sayyid Walid mengabarkan kepada Pak Haji bahwa sayyid Walid selama ini bersembunyi di Pulau Bali, dan sering kelihatan berada disekitar Pantai Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat gembira Pak Haji lalu berangkat ke Bali mencari sayyid Walid. Setelah mencari dengan bertanya kesana kemari, maka diketahui bahwa S.Walid beserta teman-temannya setiap hari berada disuatu tempat di pantai Kuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hajipun begegas menuju ketempat tersebut, lalu mengawasi dari jauh. Hati Pak Haji begitu girang gembira, manakala ia melihat S.Walid benar sedang bermain bersama teman-temannya ditempat itu. Dengan perlahan-lahan Pak Haji mendekati tempat S.Walid.&lt;br /&gt;Namun apa lacur? S.Walid begitu melihat Pak Haji ada didepannya, iapun lari dan berlari sekuat tenaga, Pak Haji pun berlari mengejarnya. Terjadilah kejar mengejar antara mereka berdua tanpa dimengerti oleh teman-teman S. Walid, maka mereka juga mengejar dari belakang. Sampai beberapa saat kemudian Pak Haji dapat menangkap S.Walid, maka dirangkul dengan sekeras-kerasnya, lalu tak ayal lagi S.Walid diciumi Pak Haji sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S.Walid yang tidak mengerti, karena dikiranya Pak Haji akan menghajarnya, ia tetap berusaha melepaskan diri dari kempitan Pak Haji. Pak Haji tidak melepaskannya, bahkan mulai menangis seperti anak kecil. S.Walid sangat terpamjat melihatnya. Dan berkatalah Pak Haji “ Ya Habib! Maafkan dan ampuni saya, memang saya telah bersalah dan berbuat dosa memukuli Habib dulu, tolong Habib maafkan saya, ampunkan saya!, begitulah Pak Haji berkata berulang-ulang, sementara ia tetap tidak mau melepaskan S.Walid dari pelukannya. Teman-teman S.Walid yang kemudian tiba disitu, menjadi terbengong-bengong dibuatnya. Mereka memang sangat bingung menyaksikan kejadian peristiwa itu sebab mereka tidak tahu ada masalah apa antara Pak Haji dan temannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Walid tadinya menyangka ia dicari Pak Haji dan mau dipukul lagi maka ia lari ketakutan tadi. Kini ia terperangah, mengapa pula Pak Haji minta maaf dan ampun padanya?, ia menjadi kasihan melihat Pak Haji begitu sedih dan menangis. Pak Haji mulai dapat mengendali diri dan emosinya, maka diajaklah S Walid ketempat yang teduh jauh dari teman-teman S.Walid. Setelah keduanya menyendiri, mulailah Pak Haji mengisahkan semua kejadian yang menimpanya sejak ia bertindak memukuli dan menyakiti S.Walid dengan keras dahulu, sampai ia kehilangan mimpi bertemu Nabi Saw, hingga akhirnya ia didatangi oleh Siti Fathimah, terus sampai ia ke Bali mencari S.Walid dengan maksud minta ampun, maaf dan ridha dari Sayyid Walid, begitu kisah Pak Haji. Setelah mendengar kisah Pak Haji, tiba-tiba Sayyid Walid yang kini jadi menangis dengan sangat sedih seolah ditinggal mati orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anak manusia ini akhirnya berpelukan, bartangis-tangisan terbawa perasaan masing-masing. Keduanya kini saling memaafkan satu sama lain. Betapa gembiranya hati Pak Haji sekarang. Sementara Sayyid Walid seolah menemui kesadaran baru. Kemudian hari itu juga Sayyid Walid pamitan dari kawan-kawannya, dan mengikuti Pak Haji kembali ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah kejadian di Pulau Bali itu, Pak Haji terlihat kembali ceria seperti sebelum kejadian dahulu. Tetapi ada yang merisaukan hati Pak Haji yaitu setelah berpisah dengan S.Walid dirumah orang tuanya itu, Pak Haji tidak lagi berjumapa dengan S.Walid betahun-tahun lamanya. Konon ceriteranya kejadian di Pulau Bali itu dan mendengar seluruh kisah Pak Haji, jiwa Sayyid Walid seperti diguncang sebuah kesadaran akan dirinya. Sayyid Walid, setelah tiba dirumahnya kembali di surabaya, hanya berselang beberapa hari, ia meminta izin orang tuanya untuk mondok di salah pesantren asuhan salah satu Habaib di Jawa Timur. Setelah berselang beberapa tahun kemudian, orang bertemu lagi dengan Sayyid Walid sangat berlainan keadaannya. Ia kini bukan lagi seorang sayyid muda ugal-ugalan. Ia telah menjadi seorang Ustadz muda jebolan pesantren, pakaiannya sehari-hari adalah gamis dan surban yang tidak pernah lepas dari pundaknya. Orang tidak pernah  menjumpainya kecuali di majelis-majelis Ta’lim para Habaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah nyata ini, sekaligus menjadi i’tibar bagi hati orang yang mau percaya, bahwa persoalan tinggi rendahnya kondisi spriritual seseorang, tergantung kepada pengalaman spiritualnya itu sendiri. Kita bisa berkata mustahil Pak Haji di datangi Siti Fathimah karena telah mengganggu cucunya. Bagaimana wirid dan bacaan shalawat Pak Haji sebanyak apapun ternyata ia tidak lagi dapat melihat Rasulullah Saw dalam mimpinya seperti sebelumnya, karena ia telah menyakiti sebagian dari darah daging puterinya Fathimah, yang sekaligus darah daging Nabi Saw, sendiri yang menjadi pelanjut keturunannya itu. Hendak dipercaya ataupun tidak, terserah kepada masing-masing orang, tetapi begitulah kisahnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masihkah anda ingat sebuah Hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan ola Ibnu Sa’ad bahwa Nabi Saw telah bersabda : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Berbuat baiklah terhadap ahlul bait-ku karena kelak aku akan memperkarakan kalian tentang mereka. Barang siapa yang aku perkarakan, maka Allah pun akan memperkarakannya, dan siapa yang diperkarakan Allah, maka orang itu dimasukan kedalam neraka”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada halaman 288, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahwasanya hujjah anda tentang masalah keadilan dalam persoalan kafa’ah atau Nasab, dengan mengedepankan dalil QS.57 : 25), hal ini sungguh sangat mengherankan. Karena ayat ini sedikitpun tidak terkait dengan permasalahan yang anda perbincangkan. Ketahuilah!, Ayat ini turun ketika Nabi masih di Mekah sebelum hijrah. Turunnya ayat ini, Allah mengizinkan Nabi Saw berhijrah, dan menghadapi kaum musyrikin dengan senjata dst…….. Periksa terlebih dahulu kitab-kitab rujukan yang benar baru bicara. Ini ayat-ayat Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia ke jalan yang lurus dan benar. Jangan di bengkok-bengkokkan nanti anda dihinakan oleh ayat-ayat Allah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada halaman 289, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ayat yang anda maksudkan itu adalah QS. 5 : 8  -  (bukan 5 :9),  kemudian QS. 4 : 135. Ketahuilah, bahwasanya kedua ayat tersebut (5 :8 &amp;amp; 4:135) sama sekali tidak ada kaitannya denagan masalah Nasab dalam pengertian kafa’ah, anda sangatlah ceroboh, dan dari sekian banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang ada dalam buku anda itu ternyata tidak ketemu antara masalah yang dibicarakan dengan dalil Al-Qur’an yang diketengahkan. Ini benar-benar melecehkan orang lain dan termasuk dianggap sengaja berdusta atas nama Allah. Perhatikan baik-baik yaa! :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    QS.5:8, Berbicara mengenai, perintah untuk menegakkan keadilan , juga menjadi saksi dengan adil, dan terhadap keadilan, yakni agar jangan menjadi saksi untuk sesuatu yang tidak adil.&lt;br /&gt;•    Qs.4:135, Juga berbicara mengenai penegakkan keadilan. Memerintahkan agar hamba-hamba-Nya yang mukmin supaya berlaku adil. Dalam menegakkan keadilan hendaklah tidak takut kepada orang yang mencerca. Hendaknya dalam menjalankan tugas suci itu mereka bantu membantu, tolong menolong, dan tunjang menunjang diri sendiri, terhadap ibu bapak, dan sanak keluarganya sekalipun. Janganlah hendaknya keadilan dikorbankan karena kekayan yang diharapkan atau belas kasihan kepada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah lebih mengetahui kemaslahatan yang kaya maupun yang miskin. Janganlah karena hawa nafsu, karena cinta bangsa atau suku,atau benci kepada seseorang kamu meninggalkan sikap yang adil dalam segala urusan dan hal ikhwalmu. Tetapi peganglah teguh sikap adil itu dalam keadaan bagaimanapun,dan terhadap  siapapun. Allah juga melarang orang memutar balikkan kata-kata dalam kesaksian.Karena perbuatan demikian itu merupakan dosa, dan Allah tidak akan membiarkannya tanpa balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ayat-ayat diatas semuanya berlaku umum sesuai hukum syari’at Islam yang sudah ditetapkan. Kata-kata berlaku adil sekalipun terhadap ibu, bapak atau sanak keluarga. Baik didalam menegakkan keadilan ataupun didalam kesaksian. Secara eksplisit (tegas) tidak ada hubungannya dengan pengertian Nasab dalam kafa’ah, atau kafa’ah dalam nasab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 290, 291 &amp;amp; 293; Mulai dari fatwa ‘Ulama Madzhab Hambali, Ijtihad ‘Ulama Ba’alawi, semuanya sudah terang dan jelas baik dengan nash Al-Qur’an maupun Hadits-Hadits Nabi Saw. Apabila pengertian Salaf itu  adalah ahli Agama sejak  abad pertama sampai abad ketiga Hijriyah, yaitu para Sahabat Nabi Saw, Tabi’in – Tabi’it Tabi’in Dan ‘Ulama Alawiyyin sesudahnya adalah benar. Maka apa-apa keterangan yang menurut anda, terdapat didalam kitab Habib Abdullah bin “Alwi Alhaddad, bukanlah sesuatu hal yang harus dipertentangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah kekeliruan yang amat besar, kalau saudara M.H. Ass. mengatakan bahwa Fatwa mengenai kafa’ah  dari “Ulam Ba’alawi baru sekitar tiga abad sesudah Salaf terakhir Ba'a’awi Hadhramaut. Dengan memperhatikan bahwa Imam Al-Faqih Al-Muqaddam ( w 1254 M / 664 H ) .Oleh karena keempat Imam Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Suni) itu, wafat terakhir adalah Imam Syafe’I 204 H. yang lain telah wafat sebelum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa-fatwa mengenai masalah kafa’ah sendiri sudah terdapat pada kitab-kitab fiqih keempat Imam Mdzhab tersebut bukan?. Sementara para ‘Ulama Ba’alawi dalam hampir semua hal Agama lebih banyak kecederungannya  kepada Imam Syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan kata lain ‘Ulama Ba’alawi yang datang kemudian tidak memiliki karakter orang-orang jahil yang berfatwa semaunya. Justru mereka para ‘Ulama Habaib serta ‘Ulama Islam lain yang baik-baik, tampil sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya bahwa mereka itulah lenteranya ummat manusia, khususnya ummat Islam. Mustahil bagi mereka mengeluarkan fatwa-fatwa Agama yang menyesatkan ummat manusia. Orang yang menolong, serta mengikuti ilmu dan akhlak mereka akan menempuh jalan selamat dan bahgia di ‘alam dunia, serta akan hidup bersama-sama dengan  mereka di ‘alam akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran mereka ditengah-tengah ummat Islam mendatangkan kesan yang sangat mengagumkan. Baik dikala hidup mereka, maupun ketika mereka telah tiada. Nama-nama mereka menghiasi lisan kaum muslimin, yamg mengingat mereka didalam setiap do’a dan dzikir mereka. Kalaupun ada sementara pemuda kaum Ba’alawi yang kadang kala tampil dengan perangai yang kurang baik, maka hal itu sangatlah bersifat sementara belaka. Mungkinkah hal seperti itu merupakan ujian bagai ummat Islam?, Wallahu ‘alam. Namun ada satu hal yang pasti, bahwa pada saat dewasa, atau ketika mereka berusia matang, pada umumnya mereka kembali kepada qudrat mereka yakni menjadi Habaib yang baik-baik hingga mereka kembali menemui Allah Tuhan semesta ‘alam. Janganlah mereka dicaci dan dicerca apalagi disakiti, karena yang demikian itu pada hakekatnya anda mencaci, mencerca dan menyakiti diri dan keluarga anda sendiri.&lt;br /&gt;Wallahu ‘alam..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-743041798167798048?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/743041798167798048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/743041798167798048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kesucian-syarifah-dalam-gugatan-v.html' title='KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (V)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKoOVr2crI/AAAAAAAAADk/cyDo-pfXs0A/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-6951562444784248814</id><published>2008-11-05T23:52:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:50:46.621-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (IV)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKirMsUkpI/AAAAAAAAACw/BPccNDE_T80/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKirMsUkpI/AAAAAAAAACw/BPccNDE_T80/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265449777374728850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOREKSI ATAS BUKU “DERITA PUTRI PUTRI NABI”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lanjutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada prinsipnya masalah keturunan Nabi Saw dan masalah sayyid, syarifah ini, sudah berada dalam perbincangan sejak berabad-abad silam. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hal itu disebabkan adanya unsur-unsur kemuliaan dari Allah dan Rasul-Nya yang menyertainya.&lt;/span&gt; Tinggalah kita sekarang, apa yang bisa kita petik dari segala macam bentuk polemik sampai konflik pendapat yang hadir ditengah kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam halaman 71, Mengenai undang-undang perkawinan. Pada masa kini tidak ada yang rumit semua sudah tahu dan menjalankannya menuruti kaidah syari’at yang benar, dalam hal ini peran aktif kita haruslah maksimal. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa anda tidak kasih komentar pada sebuah pernikahan dengan penetapan Mahar berupa Al-Qur’an dan seperangkat alat shalat yang sering terjadi belakangan ini. Lihatlah mahar bagi sebuah aqad nikah seperti itu ambil contoh dari mana? Kesalahan itu kalau hendak diuraikan disini terlalu panjang. Ada lagi saat aqad nikah pengantin laki dan wanita disandingkan didepan penghulu, adab seperti ini kapan sih mulainya?, mengapa orang tidak menulis buku untuk itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah persetujuan mempelai adalah masalah yang bersifat teknis. Orang tuapun tidak ingin mengambil resiko dengan memaksakan puterinya menikah dengan seseorang sekalipun itu antara syarifah dan sayyid. Apalah gunanya menikahkan anak-anak dengan cara paksaan. Sedangkan tidak secara paksa saja kadangkala bisa bubar, apalagi yang kawinnya dipaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang ada dikalangan Alwiyyin itu adalah mendidik anak-anak sejak dini agar mereka mengetahui dan mengenal apa itu sayyid, dan siapa itu syarifah, apa itu kufu atau kafa’ah dalam perkawinan. Penyimpanagan yang terjadi dikalangan keluarga Ba’alawi antara lain : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.    Orang tua bergaya moderen (over moderat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    Tidak mengetahui makna ahlul bait.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    Kurang bergaul dalam lingkungan Habaib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    Terlanjur menikahkan puterinya dengan selain sayyid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.    Mendapat informasi dari sumber yang membenci Ba’alawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.    Ingin mendapat pembenaran atas tindakannya yang salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.    Keakuannya berlebihan (egoisme).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.    Merasa malu mencarikan jodoh untuk puterinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.    Dan lain-lain alasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini belum pernah ada keluarga Ba’alawi yang bermadzhab Suni maupun Ahlul Bait yang dalam hal menikahkan anak-anaknya dengan cara yang melawan atau bertentangan dengan Undang-Undang Perkawinan yang berlaku, namun tidak pula meninggalkan prinsip dan aturan-aturan dalam masalah nasab. Selama ini berjalan lancar, antara petugas K.U.A. dan Habaib terjalin sangat baik dan saling pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 3, Menguraikan lintasan sejarah kehidupan Ba’alawi di Hadhramaut ditandai dengan hijrahnya Imam Ahmad Al-Muhajir beserta keluarga dan pengikutnya dari Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang menarik untuk diberi komentar adalah apa yang dinyatakan saudara M.H. Ass. pada halaman 92, dengan hujjah menggunakan ayat QS.2 : 204 dan mengatakan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan Imam Ali k.w. yang mulia. Kami tidak habis pikir bagaimana bisanya menyajikan karangan ceritera penuh kebohongan dengan memakai dalil Al-Qur’an yang suci? sulit dibayangkan dosa yang dibuat dengan sengaja seperti ini. Disatu sisi pembodohan terhadap ummat Islam. Sementara disisi lain  berbuat kebohongan dengan dan atas nama Allah SWT Yang Mahasuci. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Supaya M.H. Ass. dan pembantunya ketahui ya!, bahwa QS.2: 204 dan 207, itu diturunkan berkenaan dengan hal apa?. Secara singkat ceriteranya sebagai berikut : Assuddi berkata:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; “Ayat 204 ini diturunkan mengenai Al-Akh nas bin Syuraiq Atstsaqafi, ketika datang kepada Nabi Saw, dan menyatakan Islam padahal hatinya bertentangan dengan lahirnya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibnu Abbas r.a. berkata : “Ayat 204 ini turun ketika orang-orang munafiq membicarakan Khubaib dan kawan-kawannya ditempat Arraji, sehingga Allah memuji mereka dalam ayat 207 ini. Penjelasan lebih lanjut hendaknya M.H. Ass. dan pembantu-pembantunya periksa lebih dahulu dengan teliti kitab-kitab tafsir, sebab apabila kami turunkan tulisannya semua disini selain terlalu panjang, juga terlalu mudah mengajari anda dkk. Yang jelas kedua ayat-ayat tersebut banyak berceritera tentang kekafiran dan kemunafikan orang kafir dan orang munafik, maka siapa yang mengikutinya niscaya mereka ikut pula menjadi kafir atau munafik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 133, maka komentarnya adalah; Bagaimana mungkin keterangan-keterangan dari orang-orang kafir seperti Van den Berg atau Snouch Hurgronje atau lainnya itu kita pergunakan sebagai hujjah? Selain kejujuran mereka sangat diragukan, lagi pula apakah anda kekurangan sumber lain yang lebih baik? Apalagi keterangan mereka berkaitan dengan para tokoh dan ‘Ulama Habaib yang mereka benci? Dan juga apakah mereka mampu memberi gambaran spiritual para ‘Ulama Habaib pada zaman itu? Yang jelas sudah pasti mereka akan membuat pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan dan mencemarkan nama baik tokoh-tokoh dan ‘Ulama Habaib yang mulia itu bukan?, karena kebencian yang ada didalam dada mereka itu lebih dahsyat daripada yang mereka perlihatkan pada dhahirnya (secara lahiriah) mereka. Anda lihat sendiri bukan? &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapa yang mempercayai mereka itu yang dengan zalimnya menuduh tokah Habaib yang mulia seperti Habib Utsman bin Yahya, apalagi Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (Waliyullah) sebagai “Ulama mata duitan? Siapa di Batavia kala itu yang akan percaya propaganda dan fitnah mereka?&lt;/span&gt;, mungkin tuan M.H.Ass. dkk boleh percaya tetapi kaum Muslim sejati tidak akan pernah dapat dikelabui oleh fitnahan kaum kuffar yang licik – harap diingat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda ingin mengenal siapa mereka (para Auliya Allah), cobalah anda periksa Al-Qur’an khususnya QS.10 : 62-64, lalu carilah penjelasan ayat-ayat itu dari sumber yang bersih, karena pada (keterangan) itu mengandung ilmu Agama yang banyak dan luas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja tidak saya turunkan penjelasan itu disini, dengan tujuan supaya anda bisa mandiri, tidak didikte orang lain yang dengki lagi jahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 143-151, Anda menulis pula tentang Jamiat Kheir, dan Ahmad Surkati guru Agama Islam dari Sudan. Bagaimana tuan M.H.Ass dkk. Menjadikan Surkati sebagai tokoh teladan yang hebat disatu sisi, serta pendeskreditan ‘Ulama dan tokoh Habaib pada sisi yang lain. Seakan-akan anda paling tahu kiprahnya Surkati, bisa menjadikan anda melebihi Van den Berg dan Snouch Hurgronje.- Ceriteranya begini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Ahmad Surkati itu adalah seorang guru Agama –Madrasah, bukanlah datang sendiri ke Indonesia – Jakarta atau diundang. Melainkan diajak oleh salah seorang pimpinan Jamiat Kheir kala itu yakni Habib Muhammad bin Abdullah Al-Masyhur, ketika mereka bertemu di Mekah. Habib Muhammad Al-Masyhur lalu mengajak Surkati ke Indonesia untuk diperbantukan sebagai guru Agama di Jamiat Kheir Jakarta. Hal ini bukan karena Jamiat Kheir kekurangan guru, tetapi Habib Muhammad bermaksud menjadikan  Surkati lebih maju dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa nyana, siapa sangka, setelah beberapa lama ikut di Jamiat Kheir rupanya secara diam-diam Ahmad Surkati ini sangat cemburu karena menyaksikan bahwa kedudukan para ‘Ulama Habaib di Jakarta (Indonesia) yang sangaat dihormati dan dimuliakan. Singkatnya A.Surkati lalu hengkang dari Jamiat Kheir lalu mendirikan Pendidikan Al-Irsyad, kemudian menjadi sebuah Yayasan yang begerak dibidang Pendidikan Islam dan Sosial Kemasyarakatan sebagaimana pendahulunya Jamiat kheir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya soal kebencian Surkati kepada Habaib, sudah tidak ada takarannya. Ini terbukti sampai-sampai A.D &amp;amp; A.R.T. Yayasan Al-Irsyad ditulis dengan jelas keturunan Ba’alawi tidak boleh dimaksukkan jadi pengurus yayasan Al-Irsyad. Kebencian itu ditumbuh kembangkan melalui fatwa-fatwa agama yang sering beliau keluarkan. Diantara fatwanya yang menyerang Habaib itu bahwa syarifah boleh dikawini siapa saja sekalipun orang Cina katanya. Pandangan orang ketika itu Cina indentik dengan Majusi, jadi secara explisit sebenarnya Syarifah itu tidaklah berharaga lebih dari Majusi. Jadi pada pokoknya fatwanya itu bertujuan menghina  Ahlul Bait Nabi Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ceritera yang tuan M.H.Ass. buat, bahwa Pak Ahmad Surkati bermaksud baik mau menolong seorang Syarifah yang hidup seatap dengan orang Cina. Itu adalah sebuah dusta besar. Apakah anda tidak menangkap maksudnya kalimat itu? Sebenarnya dengan kata-kata itu secara halus beliau mengumumkan kepada khalayak ramai….. nih lihat ada seorang Syarifah tinggal seatap dengan orang Cina !!!. Begitu sebenarnya tujuannya. Mengapa demikian?; Sebab :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dia – Ahmad Surkati sudah sering mengeluarkan fatwa-fatwa serupa, yakni bahwa seorang Syarifah tidaklah perlu dimuliakan karena ia bisa dikawini sipa saja, sekalipun orang Cina.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beliau tidak pernah menunjukkan sifat persaudaraan sebagai sesama Muslim kepada kelompok Habaib (Ba’alawi).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ceritera diatas tadi mengandung dua sasaran yaitu secara strategis  martabat Habaib dihancur luluhkan, dan secara politis ia bermaksud mendapatkan sebuah pujian umum bahwa beliau orang baik dan mau menyelamatkan seorang Syarifah (kejadiannya kira-kira di sekitar 1913).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada tahun 1920 saja, orang-orang keturunan Arab (Alawiyyin) di kota Solo masih dapat dihitung dengan jari, lagi pula kedudukan mereka  (syarifah) pada ketika  itu sangatlah terpelihara dan terjaga dengan baik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Menurut sebuah riwayat yang kami terima langsung dari sumber yang sangat dipercaya yakni ceritera dari Habib Muhammad bin Salim Alhabsy di kota Bogor, beliau berceritera kepada saya mengenai Ahmad Surkati, waktu itu sekitar tahun 1986. Habib Muhammad berkata; “Setelah untuk yang kesekian kalinya orang datang melapor ke Jamiat Kheir mengenai fatwa-fatwa Ahmad Surkati yang selain tendensius dan sumir, maka   yang paling menyakitkan adalah pernyatan-pernyataannya yang menjurus kepada penghinaan terhadap kalangan Ba’alawi, terutama diseputar masalah perkawinan dilingkungan keluarga ‘Alawi dengan prinsip kufu pada nasab Ahlul Bait. Fatwa-fatwa seperti itu kadang menimbulkan kemarahan masyarakat Islam yang sangat mencintai Habaib, terutama dikalangan ‘Ulama bekas murid-murid mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk kesekian kalinya pula mereka disabar-sabarkan oleh tokoh-tokoh Alawiyyin Jamiat Kheir ketika itu, dengan nasihat-nasihat yang menyejukkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada suatu ketika karena pengaduan yang datang bertubi-tubi seperti itu, serta telah mencapai klimaksnya, maka berkatalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Habib Muhammad bin Abdullah Al-Masyhur dengan singkat; “Soal Ahmad Surkati saya sudah tahu semuanya, kalian tidak perlu mengadukan dia kepadaku lagi. Kamu sekalian tunggu nanti akan muncul kebenaran dari Allah. Perhatikanlah Ahmad Surkati itu nanti matinya dijamban (w.c.)”.&lt;/span&gt; Habib Muhammad Alhabsy melanjutkan ceriteranya, bahwa beberapa lama kemudian dijumpai kenyataan bicaranya Habib Muhammad Almsyhur itu, dimana Ahmad Surkati ditemukan matinya dijamban (w.c)”. Demikianlah ceritera mengenai Ahmad Surkati yang kami ketahui dari Habib Muhammad Alhabsy dan beliau masih hidup sampai sekarang. Ceritera ini juga dibenarkan oleh tokoh-tokoh Jamiat Kheir yang sezaman dengan Habib Muhammad Almasyhur dan Surkati sendiri. Anda boleh datang kesana dan mengecek ulang (check &amp;amp; recheck?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritera &amp;amp; kisah ini ditulis disini semata-mata sebagai respon atas klaim saudara M.H. Ass. sendiri yang mengangkat topik ini. Sedikitpun tidak ada niatan kami untuk mengecilkan Ustadz Ahmad Surkati, tetapi semata-mata mengemukakan sebuah kisah hidup yang berhubunagan dengan beliau, karena anda sendiri yang menghendakinya. Bahkan kebiasaan kita (Ba’alawi) selalu mendo’akan yang baik-baik bagi saudara kita sesama Muslim agar senantiasa didalam Rahmat Allah SWT, apalagi bagi mereka yang sudah meninggal dunia. Sekalipun orang itu semasa hidupnya menyakiti kita, sebab persoalan sekarang adalah bahwa ia (almarhum) akan dibalas Allah sesuai amal-amal perbuatan masing-masing orang. Begitulah orang tua dan guru-guru kami dari kalangan Alawiyyin mengajari kami, dan begitu pula kami mengajari anak-anak kami. Kalaupun didalam kata-kata yang dipandang agak kasar seperti tulisan ini, itu semata-mata mengikuti gaya tulisan dan kata-kata pembicara atau penulis yang menjadi mitra bicaranya. Bukankah kata-kata, bodoh, jahil atau zalim, sombong atau angkuh itu adalah bahasa Al-Qur’an yang dapat kita pergunakan dengan sesuai dan tepat menurut kasusnya?.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketahuilah bahwa sebuah kemuliaan pemberian Allah tidak akan sanggup dipudarkan oleh hinaan manusia sekalipun bersekutu manusia didunia ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Begitu pula sebaliknya sebuah kehinaan yang telah ditetapkan Allah, tidak akan mampu manusia merubahnya menjadi mulia sekalipun untuk maksud itu manusia didunia ini bersekutu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 168-176, tulisan Saudara M.H.Ass. berisikan sebuah celaan dan cercaan atas cara hidup kaum wanita ‘Alawi yang katanya hidup mereka dikurung dan dipingit, serta hanya diajarkan membaca Al-Qur’an dan Maulid. Pada hakekatnya pembicaraan seperti ini dimaksudkan sebagai sebuah koreksi terhadap orang tua kaum Alawiyyin dimasa itu, yang dipandang oleh sementara pihak sebagai sebuah kekangan yang berlebih-lebihan terhadap anak-anak wanita mereka (syarifah). Apakah sikap dan pola hidup kalangan Alawiyyin itu salah?. Jawabnya kalau diukur dengan pikiran-pikiran kaum moderat, kemungkinan ada benarnya. Tetapi apabila tolak ukurnya, manusia sebagai hamba Allah dan keluarga itu sebagi amanah, maka jawabannya adalah tiiidaaak, mengapa?:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama;&lt;/span&gt; Tindakan orang tua dari kalangan Ba’alawi pada masa itu justru harus ditiru dan dicontohi oleh generasi kini. Mengapa?, bayangkan kehidupan dikala itu (sebelum Indonesia merdeka) pendidikan yang ada hanyalah pendidikan milik kaum penjajah (Belanda). Selain kesempatan sekolah disitu sangat sulit, juga tidaklah pantas bagi wanita Muslimah apalagi Syarifah. Apa sih yang dicari dari sekolah itu bagi kaum syaraif?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua;&lt;/span&gt; Manakah yang paling utama bagi seorang Muslimah, belajar membaca Al-Qur’an dan pengetahuan Agama Islam ataukah belajar pelajaran yang umum disekola-sekolah kaum kuffar?. Apakah kaum wanita  Muslimin dikala itu mempunyai target tertentu untuk mencapai pendidikan Belanda, kemudian melalaikan pendidikan Agamanya?. Ataukah hembusan angin surga emansipasi kaum wanita kala itu menjanjikan keadaan yang lebih baik bagi kaum wanita khususnya syrifah?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga;&lt;/span&gt; Apakah mereka (syarifah) yang kala itu ditahan dirumahnya untuk mempelajari Al-Qur’an dan ilmu Agama Islam mengikuti perintah Allah itu dipandang lebih hina dari yang belajar ilmu umum kepada kaum kuffar?.&lt;br /&gt;Apakah kita yang hidup pada zaman ini telah lebih berhasil mendidik anak-anak kita dibidang Agama Islam? Seharusnya kita malu kepada generasi tua (Alawiyyin) kita, sebab ternyata mereka lebih berhasil mendidik anak-anaknya dibidang Agama dibanding kita sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keempat;&lt;/span&gt; Keberhasilan orang tua (Ba’alawi) kita didalam mendidik puteri-puteri (syaraif) mereka, menjadikan anak-anak mereka berhasil  mencapai  dan meraih kebahagian dunia dan serta kemuliaan akhiratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan pola dan metode mereka dalam melaksanakan fungsi kehambaannya kepada Allah mencapai kualitas tertinggi. Perhatikan QS. 33 : 33-34) Yang arti lengkapnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikan shalat, tunaikan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sessungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan (mensucikan) kamu sebersih-bersihnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dan ingatlah apa yang dibaca di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sessungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS.33:33,34)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan penjelasan yang komprehensif atas ayat-ayat diatas hendaknya anda cari dalam salah satu dari beberapa kitab tafsir yang ada. Itulah cara yang terbaik bagi anda bila ingin bertanggung jawab kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada makhluk-Nya seperti yang tuan M.H. Ass. maksudkan didalam kata pengantar bukunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kelima;&lt;/span&gt; Marilah kita berbicara jujur pada diri kita masing-masing apakah kita lebih berhasil didalam mendidik anak-anak kita terutama kaum wanitanya (syaraif)?, karena kita konon lebih moderen dan maju dalam berfikir.? Ataukah kita yang gagal?, dan orang tua kita yang lebih berhasil karena menggunakan metode Al-Qur’an yang menurut ukuran M.H.Ass. adalah kolot dan kuno?. Apakah anda lebih berhasil dari mereka?. Sudahkah kita siapkan dengan baik sebuah biduk rumah tangga yang kokoh, ketika kita memgarungi samudera kihidupan yang konon sangat luas tak bertepi ini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita pada suatu saat akan sendirian, sehingga membutuhkan ketermpilan yang cukup agar mampu mengambil keputusan yang benar, serta pandai menentukan arah yang tepat, guna mencapai tujuan dengan selamat sejahtera lahir dan batin. Kalau pola hidup orang tua kita lebih benar dan berhasil meliputi aspek duniawi dan ukhrawi, maka  mengapa pula kita harus mencela mereka?. Mereka ternyata sangat berhasil ketika mengarungi smudera kehidupan, dan selamat menjelajahi belantara hutan dunia. Hanyalah orang-orang picik  yang malu meneladani mereka yang baik lagi mulia itulah yang terperosok kedalam bala bencana yang menghinakan baik didunia maupun diakhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda berbicara mengenai Husain Haikal yang melukis suara hati didalam surat, atau tesis, atau apapun namanya, itu tidak lain hanyalah gambaran sebuah suara jeritan anak manusia. Biasanya keberhasilan apalagi kegagalan seorang anak manusia, lazimnya kegembiraan atau kekecewaannya disalurkan melalui bahasa-bahasa jiwa yang berbeda-beda pula. Tidak ada sesuatu yang istimewa disana, karena begitulah umumnya sifat-sifat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita berbicara masalah Kafa’ah dalam kalangan ahlul bait Rasulullah Saw. berarti kita memasuki wilayah Rasulullah Saw, yang berarti pula kita memasuki wilayah Allah SWT.Karenanya membutuhkan kejujuran, kerendahan hati serta kecermatan, akhlak  dan ilmu yang cukup. Orang yang memasuki wilayah ini hanya ada dua kemungkinan. Yaitu pembicaranya akan menjadi “mulia” atau akan menjadi “hina”. Kalau kita tidak pernah dapat menerima nasihat-nasihat orang pilihan dizamannya, yang mereka itu redha kepada Allah dan Allah-pun redha kepada mereka. Maka jangan sekali-kali anda mencoba menasihati orang lain, karena anda hanya berbicara dengan dalil dan nash yang diperoleh dari sumber yang serba sedikit, kabur dan sangat lemah karena anda mengabaikan hak-hak Allah, walaupun anda berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya. Mungkin ada sebahagian manusia yang karena keawamannya dalam ilmu Agama Islam dapat dengan mudah dikelabui dengan kata-kata dan kalimat yang memikat. Tetapi yang harus diingat adalah, bahwasanya anda sama sekali tidak akan mampu mengelabui Allah dan Rasul-Nya, itu sebuah kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Bab 4- Kaum Sayyid;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita teliti isi bab ini dengan cermat, maka hasilnya akan membawa kita kepada pertentangan yang sangat tajam. Betapa tidak, pada bab 4 ini saudara M.H. Ass. berbicara mengenai keunggulan dan kemuliaan Nasab Ahlul Bait Rasulullah Saw. Sehingga isi bab 4 ini menjadi bertentangan dengan isi tulisan pada bab-bab yang sebelumnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadikan buku ini “Derita Putri Putri Nabi”&lt;/span&gt; sangat membingungkan. Buku ini selain membingungkan, juga ia sangat melecehkan kaum Alawiyyin – padahal  menurut pengakuannya sendiri, bahwa penulisnya berasal dari kalangan ini juga. Aneh, tetapi itulah sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada halaman 182 – 194.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraannya disini mengitari matahari Keutamaan Keluarga  Rasulullah Saw dengan nash Al-Qur’an yakni QS. 3: 59 , 61 serta QS. 33 : 33. Juga QS. 42 : 23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil hadits yang dikemukan disini antara lain mengenai pernyataan Nabi Saw. bahwa ; “Keturunannya (Nabi Saw) melalui Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fathimah, serta anak cucunya dari Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikemukakan juga Hadits Al-Kisa’ – yakni pernyataan Nabi Saw bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait pada QS. 33 : 33 adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Anak cucu Rasulullah yang laki-laki disebut Sayyid atau Syarif dan yang perempuan adalah Sayyidah atau Syarifah. Semua anak cucu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang laki-laki maupun perempuan adalah Dzurriyat Nabi Saw. Sampai disini semuanya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang tidak benar adalah: Pernyataan M.H.Ass. bahwa anak-anak perempuan(para Syarifah) yang melahirkan anak dari suami yang bukan Sayyid juga termasuk dzurriyat, yang berarti bernasab juga kepada Rasulullah Saw, adalah keliru dan tidak benar. &lt;/span&gt;Pengertian seperti ini tidak ada nash-nya, hal ini telah kami jelaskan sebelumnya (periksa kembali halaman sebelumnya dengan judul “Pembukaan” No. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang benar adalah : “Bahwasanya anak perempuan yang benasabkan kepada ayahnya yang Sayyid ia adalah Syarifah dan termasuk dzurriyat Rasulullah Saw. Tetapi seorang Syarifah yang melahirkan anak dari hasil perkawinannya dengan pria bukan Sayyid, maka anak tersebut benasab kepada ayahnya, maka ia bukan seorang Sayyid atau Syarifah. Oleh karenanya ia tidak termasuk Dzurriyat Rasulullah Saw.&lt;/span&gt; Adapun yang menyatakan bahwa anak dari seorang Syarifah yang bersuamikan pria bukan Sayyid bisa mengikuti nasab ibunya adalah tidak benar dan melanggar Syari’at Islam, karena anak itu tidak memakai nasab ayahnya. Perhatikan !!. Hanya anak hasil perbuatan zina yang bernasab kepada ibunya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak patut disamakan dengan kasus Nabi Isa a.s, karena ia bersifat khusus dari Allah Swt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terdapat didalam isi khotbah Nabi Saw pada Hajil Wada’ dipadang ‘Arafah yang berbunyi sebagai berikut : “Hai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah telah bagikan bagi tiap-tiap warits bagian masing-masing dari harta pusaka dst……….. sampai pada kalimat; “Barang siapa memanggil (menyatakan sebagai) Ayah / Bapak kepada (seseorang} yang bukan Ayahnya / Bapaknya sendiri atau mengaku (menyatakan sebagai) tuan kepada seseorang yang bukan maulanya, maka atasnya adalah la’nat dari Allah, Malaikat dan manusia kesemuanya, tak diterima dari dia pergantian dan tak diterima tebusan; Dan mudah-mudahan bercucuranlah Rahmat Allah dan berkatnya atas kamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah telah kami katakan sebelumnya bahwa tulisan kami ini bertujuan meluruskan yang bengkok, mengingatkan yang keliru dan salah. Tidak ada pretensi apapun apalagi dengan maksud berdebat itu semuanya tiada berguna. M.H.Ass. adalah saudara saya juga. Yang saya takutkan adalah jangan sampai orang mengikuti jalan anda yang keliru. Bukankah Nabi Saw, telah bersabda ; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Barang siapa membuat (mengadakan) satu sunnah yang baik kemudian diikuti oleh orang banyak, maka ia mendapat pahala sebanyak orang yang mengikuti itu, tanpa dikurangi pahala mereka masing-masing. Sebaliknya barang siapa yang membuat (mengadakan) satu sunnah yang tidak baik (jahat-buruk}, dan kemudian diikuti oleh orang banyak, maka ia memikul dosa sebanyak orang yang mengikutinya itu tanpa dikurangi dosa mereka masing-masing”. (H.R. Bukhari , Muslim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya segan menulis telaah atas buku M.H. Ass itu, karena saya juga sedang mempersiapkan penerbitan buku saya sendiri yang saat ini naskahnya saya minta diperiksa oleh salah sorang Doktor pada bidang Agama Islam pada salah satu Universitas. Namun guna memenuhi permintaan saudara-saudara kita juga, maka tulisan ini, nanti akan  digabung dengan tulisan dari saudara kita yang lain yang akan disajikan berupa sebuah buku - “Bunga Rampai” sebagai klarifikasi atas buku anda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang dimaksudkan dengan pemutusan hubungan kekerabatan itu adalah, bahwa bagi seorang syarifah yang kawin keluar, artinya menikah dengan pria bukan sayyid, jelaslah keturunannya tidak masuk kepada aal Muhammad&lt;/span&gt;, karena ayah anak itu bukan aal Muhammad. (Perhatikan Khotbah Nabi Saw.seperti tersebut diatas – banyak buku-buku Agama Islam yang merekam isi khotbah itu secara lengkap – carilah kalau anda belum punya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila terminologi nasabiyah itu mengikuti jalan pikiran saudara M.H. Ass. yakni anak dari seorang syarifah yang ayahnya bukan sayyid tetap mengambil nasab pada jalur nasab ibunya bisa diterima maka ; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang pertama ; “Tentu saja tidak akan ada pelarangan atau pencegahan atau pencekalan kepada syarifah. Tetapi oleh karena perkawinan semacam itu memutuskan hubungan dzurriyat maka dicegah sebisa dan semampu kita. Perhatikan uraian saya sebelumnya (kalau mau),  mengenai untung ruginya pemutusan nasab atau nasab yang terputus itu”.(Tidak lagi termasuk dzurriyat Rasulullah Saw.). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dan Yang kedua; “Dengan begitu berarti secara sadar kita telah berani melegalisir subuah dosa besar karena anak itu kita biarkan tidak menggunakan nama dan nasab ayahnya sendiri, tetapi menunggangi nasab ibunya dengan secara paksa. Menurut  sabda Nabi Saw pada khotbah di ‘Arafah yang tersebut diatas tadi, maka hanya ada laknat dari Allah, malaikat dan manusia semuanya keatas dirinya.serta tidak ada tebusan baginya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Bab 5, halaman 271 –&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bahwa Nabi Saw. menikahkan puterinya Rugayyah dan Ummu Kultsum kepada Utsman bin Affan. Hal yang demikian ini tidaklah pantas dijadikan hujjah atas masalah kafa’ah. Disini masalahnya sangat berlainan dengan masalah kafa’ah pada syarifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena Nabi Saw, sudah dengan tegas menyatakan bahwa keturunannya melalui Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah titik. Selain itu juga Rugayyah dan Ummu Kultsum tidak punya keturunan. Hal ini harus difahami benar-benar lebih dahulu baru anda bicara. Ingat apa kata Sayyidina Ali? Beliau berkata “Kata-kata (bicara) yang masih tertahan artinya belum dikeluarkan. Maka ia akan keluar bersama kotoran, maksudnya tidak berharga. Tetapi apabila kata-kata itu sudah keluar melalui bibir seseorang, maka ia berubah menjadi emas”. Maksudnya kalau kita sudah bicara maka itu menjadi pegangan orang yang mendengar. Jadi sulit ditarik kembali. Begitu pula tulisan, kalau orang sudah baca, dan pembacanya pun tersebar dimana-mana, tentu sangat sulit anda menjangkau mereka. Apalagi mengingat anjuran anda yang keliru tetapi sudah dilakukan orang. Bagaimana anda membayangkan susahnya anda bertanggung jawab baik kepada manusia apalagi kepada Allah dan Rasul-Nya?. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terus terang saja saya sangat mengasihani anda sekalipun anda tidak menghendakinya. Karena saya tidak sanggup membayangkan kesulitan apa yang menghadang anda ketika menghapi masa-masa akhir hayat anda. Tanpa sadar anda telah memasang ranjau dan bom waktu bagi diri anda sendiri.&lt;/span&gt; Ini bukan menakut-nakuti tetapi karena saya punya banyak pengalaman melihat tokoh agama yang berbuat salah namun tidak separah yang anda lakukan itu, toh mereka mengakhiri hidupnya dengan sangat buruk. Salah satu kisahnya sudah saya kemukakan dihalaman sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk halaman 272, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dapat kami beri komentar sebagai berikut: “Setiap orang dari kalangan Allawiyyin harus dihormati hak asasinya masing-masing”. Sehingga mereka bebas menentukan apakah anak-anak perempuan mereka hendak dikawinkan kepada pria yang manapun apakah Sayyid atau bukan Sayyid terserah kepada kerelaan mereka dan puteri mereka, karena mereka sendiri yang akan bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Karena mereka sudah tahu tugas dan kewajibannya. Namun begitu mereka semua sadar bahwa Syarifah yang dikawinkan kepada seorang Sayyid itu jauh lebih sempurna, karena tidak merusak atau memutuskan dzurriyat (nasab kepada Rasulullah Saw), seperti kalau ia (Syarifah) itu dikawinkan kepada pria bukan Sayyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai adanya fatwa-fatwa “Para ‘Ulama” seperti apa yang dilakukan Ahmad Surkati atau lainnya tidak ada masalah, itu bukan hal yang mengganggu, boleh diikuti siapa yang mau mengikuti, dan boleh pula menolak siapa ingin menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tulisan yang ada pada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaman 273 – 281&lt;/span&gt;, Komentarnya; Sebenarnya semua telah jelas. Bahwa terdapat banyak ‘Ulama-‘Ulama besar baik dari kalangan selain Ba’alawi, maupun dari kalangan Alawiyyin sendiri (Ahlul Bait Nabi Saw.). Mereka telah menulis sedemikian banyaknya kitab-kitab atau buku-buku yang menerangkan panjang lebar mengenai masalah kafa’ah didalam lingkungan keluarga Ahlul Bait Nabi Saw. sebagai pelajaran dan pedoman – panduan. Kitab atau buku mereka disertai penjelasan-penjelasan sesuai nash Al-Qur’an dan Hadits-Hadits yang shahih serta pandangan-pandangan para Sahabat Nabi Saw. sampai pendapat dan pandangan ‘Ulama-‘Ulama  Salaf maupun Kahlaf. Sekarang  terserah kepada kita, generasi kemudian apakah mau mengikuti jalan mereka, atau hendak mengikuti jalan selain mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada halaman 282 – 283&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;Mengenai kebanggaan Nasab. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang disampaikan memang sudah benar dan tidak ada salahnya. Tetapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan  Nasab Nabi Saw. Haruslah diingat, bahwa orang yang menjaga kesucian Nasabnya tidak harus diartikan membanggakan diri. Kalau anda berasal dari Nasab yang dimuliakan dan disucikan Allah (QS.33:33), lalu anda menjaganya, hal itu bukan berarti anda membanggakan diri. Tetapi itu artinya anda mensyukurinya dengan cara menjaga, melindungi serta memeliharanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai QS. 49 : 10, 13, Ayat-ayat ini tidak berada didalam koridor QS. 33 : 33. Karena kasusnya lain. Ayat 10, berbicara mengenai tata cara mendamaikan kaum muslimin yang bertengkar, bekelahi atau berperang, karena sesungguhnya kaum muslimin itu bersaudara. Bersaudara karena se-Agama, se Iman, dan se-Aqidah. Sehingga ketika Sahabat Anas r.a bertanya : “Ya Rasulullah, ini aku menolongnya dalam keadaan ia dizalimi, maka bagaimana aku menolongnya dalam keadaan ia zalim?”. Rasulullah menjawab; “Dengan mencegahnya berbuat kezaliman”. Ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah kafa’ah yang menjadi topik buku saudara M.H. Ass. itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal ayat 13, Sebenarnya sudah sangat terlalu jelas. Dan lagi tidak ada hubungannya dengan masalah kafa’ah. Sesungguhnya ayat ini berbicara mengenai penciptaan manusia yang brasal dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (yakni Adam dan Hawa a.s}, kemudian menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sessungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pengertian ayat ini sudah kami terangkan pula secara panjang lebar (periksa penjelasan koreksi kami untuk buku anda halaman 18}. Tetapi tidak ada salahnya  kami  menjelaskan  sekali lagi agar lebih jelas serta mudah difahami. Didalam ayat tersebut sudah jelas dan gamblang bahwa semua manusia berasal dari sepasang manusia pertama yakni Adam a.s. dan Siti Hawa a.s. Orang Arab tidak lebih utama dari Ajam (selain Arab), begitu juga warna kulit merah atau hitam, semuanya sama-sama manusia. Tidak ada yang lebih utama antara satu dengan yang lain. Dalam hal apa?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sebagai makhluk manusia, mereka itu mempunyai kewajiban dan fungsi kehambaan yang sama terhadap Allah. Sehingga nanti ketika manusia kembali menghadap kepada Allah, maka yang termulia diantara hamba-hamba-Nya itu adalah bagi orang yang lebih takwa kepada Allah. Ini tercermin dari beberapa sabda Rasulullah Saw. yang antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama ; “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk-bentuk tubuhmu, dan harta kamu akan tetapi melihat isi hatimu dan amal-amalmu” (HR.Muslim dar Abu Hurairah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua; “Semua orang muslim adalah saudara, tiada kelebihan seseorang terhadap yang lain, melainkan dengan takwa kepada Allah”. (H.R.Abul-Qasim Khirasy r.a.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga; “Kamu semua adalah anak Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, maka hendaklah kaum yang selalu membangga-banggakan nenek moyangnya menghentikan aksinya itu atau mereka menjadi lebih hina dihadapan Allah daripada  seekor kepik” (kecoak?). (H.R. Abubakar Albazzar dari Hudzaifah r.a.). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah semua Hadits diatas tadi adalah penjelasan ahli tafsir ketika menafsirkan Surat Al-Hujurat : 13 {QS.49:13}. Ketiga Hadits diatas tadi berbicara mengenai fungsi kehambaan manusia sebagai makhluk terhadap Allah SWT, semasa hidup didunia yang fana ini. Dan ketika dikembalikan kepada Allah yakni pada hari perhitungan atau hisab. Maka semua kelebihan apapun yang dikaruniakan Allah kepada manusia semasa hidupnya di dunia itu, tidak di persoalkan oleh-Nya. Yang menjadi pokok sorotan dan penilaian Allah adalah takwa. Maka siapa yang paling bertakwa kepada Allah ketika di dunia, niscaya ialah yang paling mulia disisi Allah. Kelebihan derajat antara manusia yang satu terhadap yang lainnya tidak boleh diabaikan begitu saja. Mengapa demikian?, karena kelebihan seseorang terhadap orang yang lain adalah pemberian dan karunia dari Allah juga bukan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berani katakan irislah kuping saya ini, kalau ada orang yang waras mau diperlakukan sama dengan orang gila. Atau Orang kaya dengan gelandangan?. Atau seorang Raja mau diperlalukan sama dengan tukang kebun istana?. Seorang Menteri apakah mau di samakan dengan supirnya?. Apakah Saudara M.H. Ass. mau disamakan derajatnya dengan seorang narapidana? Apakah seorang Engineer mau diperlakukan sama derajatnya dengan seorang kuli bangunan? Dan banyak lagi, dalam hal tidak mau diperlakukan sama seperti yang dimaksud itu, tidak cuma oleh orang yang tinggi kedudukannya, tetapi orang yang kecil kedudukannya pun tidak mau diperlakukan sama seperti itu, karena ia sendiri merasa tidak pantas. Termasuk Habaib, bukan dia saja yang tidak mau dibilang sama dengan yang bukan Habaib, tetapi mereka yang bukan Habaib juga tidak mau disamakan derajatnya  dengan Habaib. Itulah gambaran apa yang terjadi pada manusia normal. Mereka sangat menghargai karunia Allah, dan ketentuan Allah seperti itu diterima dengan rasa syukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Contohnya seperti yang dilakukan oleh  salah seorang tokoh central para Habaib  yakni Imam Ali Zainal ‘Abidin.&lt;/span&gt; Ketika ia sujud kepada Allah di Baitullah, ia berbisik kepada Allah dalam sujudnya itu, “Ya Allah kalau kami berbuat kesalahan dan dosa, itu bukan karena kami tidak mengetahui ancaman-Mu Ya Allah, dan bukan pula karena kami tidak takut kepada-Mu Ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu terjadi karena kami tidak mampu mengendalikan hawa nafsu sendiri. Wahai Allah! Pada saat semua manusia digiring kepada-Mu melintasi jembatan  Shirathal Mustaqim. Kala itu ada orang yang melintasinya dengan cepat laksana kilat menyambar. Adapula yang berlari dengan sangat kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapula orang melintasinya dengan berjalan. Tetapi ada juga orang yang merangkak ketika melintasinya. Tidak sedikit pula orang-orang  yang tejatuh, ketika melintasinya. Dan bahkan banyak sekali orang yang tertahan tidak dapat melintasinya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Allah! Bagaimana dengan aku ini? apakah aku termasuk pada kelompok orang yang cepat melintas, atau yang tertahan Ya Allah!, lalu iapun menangis terisak, tersedu-sedu didalam sujudnya itu. Sehingga menangis pula seorang muridnya benama Thaus yang sejak tadi terpaku menyaksikan dan mendengarkan permohonan sang Imam didalam sujudnya tadi. Ketika telah rampung shalatnya, maka berkata muridnya Thaus. Wahai ibni Rasul (Wahai Putera Rasul) begitulah beliau biasa dipanggil, kalaulah orang seperti tuan sampai begitu risau hati bermohon kepada Allah padahal datuk  tuan adalah Muhammad utusan Allah, bagaimana pulakah dengan kami ini? Kata Thaus sambil berurai air mata. Sang Imampun menjawab; “Wahai Thaus, ketahuilah aku sangat malu bertemu datukku Muhammad bin Abdillah, aku sangat malu apabila orang-orng dari ummatnya datang menghadap Allah dengan setumpuk amal ibadah yang baik-baik, sementara aku ini ya Thaus datang mengahadap Allah dengan hanya berbekal Nasabku yang tersambung kepada datukku Muhammad bin Abdillah Saw. Maka iapun menangis dengan tangisan yang mengharukan dan memilukan hati. Thaus-pun tidak  dapat lagi menahan airmata turun deras menyirami wajah dan janggutnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti inikah yang anda namakan keturunan Abdul Muthalib yang dari sulbinya muncul generasi Quraisy yang congkak, angkuh, sombong dan membangga-banggakan diri?. Karena alasan ini pula saya katakan kepada anda diawal bahasan saya ini, bahwa secara sadar anda sendiri telah mengundang bala bencana dan malapetaka yang cepat atau lambat, didunia atau diakhirat pasti akan menimpa diri anda, dipercaya atau tidak, itu urusan anda sendiri. Saya jadi teringat kisah Nabi Musa a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yakni kita Nabi Musa minta kepada Allah untuk menjadi ummat Muhammad Saw. maka Allah menjawab dengan firman-Nya : khuj maa ‘ataituka wakum minassyakiriin – “ambil (terima} saja apa yang telah diberikan kepadamu, dan jadilah kamu  orang yang mensyukuri (bersyukur)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang dikaruniakan Allah kepada kita apakah, harta kekayaan, kekuasaan, pangkat dan jabatan yang tinggi, ilmuan, menjadi ‘Ulama, atau menjadi murid, keturunan bangsawan sampai kepada yang ditakdirkan menjadi Ahlul Bait Nabi Saw, patutlah kita terima sebagai amanah, kita jaga, pelihara dan kita lindungi, serta tidak lupa kita bersyukur kepada Allah seraya bermohon selalu kepadanya supaya kita diberi-Nya kekuatan serta kemampuan supaya dapat menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap karunia dan pemberian Allah itu. Begitulah orang tua dan guru-guru saya para Habaib yang mulia mengajari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan keterangan-keterangan sebagaimana yang tersebut diatas tadi, maka ketahuilah olehmu wahai kawan dan saudaraku, bahwa ada ayat-ayat Al-Qur’an dan  Hadits-Hadits Nabi Saw. ada yang bersifat umum, dan ada pula yang bersifat khusus. Saya yakin bukannya anda tidak mengerti tetapi kadang kala hawa nafsu manusia mengalahkan akal sehatnya. Sehingga dengan begitu orang kadang-kadang menulis atau berbicara tidak sesuai dengan hati nuraninya sendiri. Kadang kala orang sadar bahwa ia  telah berbuat sesuatu hal yang keliru atau salah, hati nuraninya telah pula menegurnya, tetapi karena hawa nafsu telah menguasi jiwanya sedemikian rupa sehingga ia kehilangan sifat-sifat baik dan mulia yang ada pada dirinya. Maka ia menjadi orang pengecut  yang kerdil, tidak mempunyai sedikitpun keberanian untuk mengakui kekeliruan atau kesalahan yang dibuatnya. Jangankan kepada orang lain, terhadap dirinya sendiripun ia tidak mampu lagi bersikap dan berlaku jujur serta adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada halaman 284 –285, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saudara M.H. Ass. masih belum bisa membedakan mana pembicaran atau pernyataan-pernyataan yang bersifat umum dan yang khusus. Hal ini terungkap ketika anda mengetengahkan khotbah atau pidato Imam Ali k.w. untuk mendukung analogi yang anda buat, namun anda kurang atau memang tidak faham bahwa kata-kata imam Ali k.w. disitu berisifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sangat tidaklah tepat bila anda ingin menggunakannya sebagi hujjah bahwa Imam Ali k.w. begitu membenci orang yang membanggakan nasabnya.Cobalah anda periksa bagaimana bunyi isi surat Imam Ali k.w. kepada Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Diantaranya ia Imam Ali berkata: “Pihak kami (Imam Ali dan keturunannya} Yang paling berhutang budi kepada Allah, dan orang selain kami sangat berhutang budi kepada kami. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini demi menyebutkan nikmat Allah bukan menyombongkan diri”, begitu kata beliau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain suratnya itu Imam Ali k.w. berkata : “Putera-putera kami (Al-Hasan &amp;amp; Al-Husain) adalah pemuka ahli surga. Dan putera-puteramu (keturunan Mu’awiyah} adalah pembawa kayu bakar api neraka”. (Periksa Buku Mutiara Nahjul Balaghhah). Sepantasnyalah Nasab Al-Hasan &amp;amp; Al-Husain patut dijaga dan dipelihara oleh dzurriyatnya (anak cucunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sungguh anda harus berusaha  (ini bukan sok ngajari) membedakan hal-hal yang bersifat umum dan hal-hal yang sifatnya khusus. Ini sangat penting apalagi buku anda itu tidak hanya menyentuh bahkan bersinggungan dengan masalah-masalah pelik bermuatan hukum syari’. Anda harus juga memikirkan keselamatan orang lain. Jangan sampai ada orang menuai dosa dari buku anda itu, pada hal mungkin anda beniat  menabur benih pahala bukan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada halman 286 &amp;amp; 287, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber beritanya sangat diragukan (dikutip dari Hurgronje}. Sementara itu cobalah memahami pernyataan Muthahhari. Menurut faham saya, yang dimaksud Muthahhari disitu adalah ; “Cinta dan benci hendaknya didasarkan karena Allah semata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halaman 288&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;Bebicara mengenai sunnah Allah, tetapi apabila tidak memahami terninologi “Sunnah Allah” itu apa?, adalah pembicaraan yang sia-sia belaka. Adapun mengenai kekecewaan Fathimah (bukan kemurkaan) dalam masalah kafa’ah janganlah dibicarakan tanpa dimengerti. Anda boleh setuju boleh juga tidak setuju. Karena soal yang anda bicarakan ini sebenarnya mengaburkan semuanya yang sudah jelas. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Janganlah menjadi seperti seorang berkaki pincang berada dalam ruangan sebuah pesta manari, tiba-tiba ia berkata ukh.. sayang lantainya miring, kalau tidak saya pun dapat melantai”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kita tidak harus memaksa orang lain untuk menyetjui pendapat kita.&lt;br /&gt;Sama pula artinya kita tidaklah perlu dan harus menghalangi orang lain mempercayai sesuatu hal yang kita tidak mengerti atau yang tidak kita sukai. – &lt;span style="font-style: italic;"&gt;you go with your own way, and I’ll go by my own way. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an ada ayat yang artinya : “Dan kamu beramal dengan amalan kamu, dan kami beramal dengan amalan kami”. (bagi sesama Muslim). Lain halnya bagi orang non Muslim maka “Bagimu Agama-mu. Bagiku Agama-ku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau berbicara mengenai kezaliman dalam hal kafa’ah, maka didalam lingkungan Allawiyyin ada anggapan, bahwa bagi sebahagian keluarga yang dengan kerelaannya sendiri melepaskan puterinya (syarifah) menikah dengan selain sayyid, adalah termasuk orang yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itulah maka para Habaib yang berpegang teguh kepada prinsip kafa’ah, ia tidak berani menghadiri acara aqad nikah seperti itu, maupun acara resepsi – pesta perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada juga sebahagian Habaib yang agak toleran, ia tidak hadir pada acara aqad nikahnya, tetapi ia masih mau hadir pada acara resepsi. Alasannya ; Hadir pada acara aqad nikah, berarti ikut menyetujui dan menjadi saksi. Oleh karena itu ia menghidarinya. Tetapi pada acara pesta – resepsi, ia masih mau hadir, karena sifatnya ceremonial belaka, toh orang itu sudah nikah, demikian kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya seorang Sayyid yang menikahkan dan mengawinkan anak perempuanya (syarifah) dengan seorang pria bukan sayyid, hal itu merupakan hak keluarga yang absolut (absolutely right). Jadi bagi yang tidak mau menghadiri sekalipun diundang, maka itu juga adalah hak mutlak orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, bagaimana mungkin anak yang lahir dari hasil perkawinan syarifah dengan pria bukan sayyid bisa disebut dzurriyat? &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padahal anak itu bila perempuan tidak disebut syarifah, dan bila lelaki dia juga bukan sayyid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-6951562444784248814?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/6951562444784248814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/6951562444784248814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kesucian-syarifah-dalam-gugatan-iv.html' title='KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (IV)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKirMsUkpI/AAAAAAAAACw/BPccNDE_T80/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-9012412679523079773</id><published>2008-11-05T23:25:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:50:46.622-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (III)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKcIEtveYI/AAAAAAAAACk/2oiZy-9xCO8/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKcIEtveYI/AAAAAAAAACk/2oiZy-9xCO8/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265442576868014466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOREKSI ATAS BUKU “DERITA PUTRI PUTRI NABI”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada halaman sebelum “Kata Pengantar” (tanpa nomor halaman) terdapat semacam “Ilustrasi” menggunakan Surah Al-A’raf. (QS. 7 : 156-157). Selain terjemahan ayat-ayat tersebut tidak selengkapnya, ayat-ayat ini apabila dimaksudkan sebagai sebuah referensi umum atas buku tersebut diatas, maka sangatlah tidak tepat  lagi keliru.  Karena tidak ada kitannya sama sekali dengan Judul Buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa sebenarnya ayat-ayat itu berkaitan dengan Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil yang membangkang dan menyembah berhala. Dan Nabi Musa mengumpul 70 orang dari kaumnya untuk mohon tobat kepada Allah. Lebih lanjut lagi Nabi musa melanjutkan do’anya. Dibagian lain adalah penjelasan Allah bahwa sifat dan tanda-tanda ke Nabian Muhammad Saw telah termaktub didalan kitab Taurat dan Injil dan seterusnya. Apabila kisah ini hendak diangkat dalam tulisan, maka ceriteranya harus dimulai dari ayat 148-158. Silahkan periksa kitab-kitab Tafsir Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kata pengantar penulis diperoleh kesan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penulis sangat mungkin mepunyai pengalaman tersendiri berkaitan dengan masalah perkawinan kufu (kafa’ah) yang tidak menyenangkan hatinya. Apakah itu dari kalangan keluarga dekatnya ataupun keluarga sahabatnya atau alasan lain seperti itu. Dan mungkin sekali Saudara Muhammad H. Ass.  ini terlibat secara langsung dengan masalah kafa’ah (kufu) dalam perkawinan yang tidak menyenangkan itu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis mengemukakan pendapatnya secara emosional yang  berlebihan, serta bersifat idividualistis. Namun mencoba berlindung dibalik kalimat “menyadari tanggung jawab kepada Al-Khaliq dan makhluk-Nya” yang tanpa disadari bak pepatah mengatakan menepuk air didulang kepercik muka sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buku ini merupakan sebuah upaya keras penulis untuk mempengaruhi pikiran kaum Alawiyyin.Terutama pada kalangan Sayyid dan Syarifah yang muda belia dan awam, sekaligus memberikan (new spirit) atau semangat baru bagi mereka yang mempunyai pengalaman yang sama dengan penulis sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis tidak jujur ketika  mengatakan pendapatnya bahwa tidak ada seorangpun dari kalangan sendiri (Ba’alawi atau Alawiyyin) yang berani mengkaji masalah kafa’ah secara terang-terangan. Demikian penulis memulai tulisannya dengan kesombongan dan kebohongan yang sangat besar. Bukankah telah terdapat banyak kajian mengenai masalah kafa’ah tersebut. Bahkan disajikan dengan indah dan menawan hati, bukan kajian murahan  seperti yang dilakukan oleh penulis buku itu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis mengedepankan teorinya seraya menepuk dada bahwa ia tidak takut dengan apa yang dinamakan tulah, kualat (bala). Dari cara ia menyampaikan kata-kata itu terkesan didalam hati penulis sendiri ada rasa takut dan khawatir atas kemungkinan itu. Namun demikian ketahuilah bahwa anda telah mengundang tulah, kualat atau bencana dan malapetaka keatas diri anda sendiri. &lt;/span&gt;Mengapa? Karena secara sadar anda telah mencela begitu banyak orang-orang mulia dari para ‘Alim ‘Ulama Salaf maupun Khalaf yang baik-baik serta para Faqih dizamannya. Tidak itu saja, andapun secara sadar telah menyerang para “Ulama Ba’alawi”. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lebih-lebih lagi secara sadar anda telah berani mengoreksi ucapan dan sabda Nabi Saw yang mulia, yang sepatutnya anda berterima kasih.  Percaya atau tidak, itu adalah hak anda sendiri tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, kecuali diri anda sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seharusnya buku itu  diberi judul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Derita Putri Putri Muhammad Hasyim Assagaf” yang demikian itu selain lebih obyetif, juga beresiko rendah.&lt;/span&gt; Karena dengan demikian anda tidak melibatkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Institusi Habaib” (Al-Alawiyyin) &lt;/span&gt;secara keseluruhan, yang justru membahayakan diri anda sendiri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis sama sekali tidak menyaadari dirinya bahwa ia menguraikan masalah-masalah yang ia sendiri awam. Celakanya lagi ia telah memasuki dan menggangu Wilayah Kerasulan Muhammad Saw, yang karena itu ia mengganggu pula Wilayah Allah SWT. Dengan ilmu seperti apakah, dan dengan wajah seperti apakah anda menghadapi Nabi-mu Muhammad Saw dan juga Allah Subhanahu Wata‘alaa?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis sedikitpun tidak mempunyai keberanian untuk mengkonsultasikan buku yang ditulisnya dengan seorang tokoh Agama Islam pun sebelum diterbitkan. Ini dapat dilihat, ketika buku ini hadir tanpa pengantar dari seorang ‘Ulama pun juga. Yang demikian sebenarnya memang merupakan ciri-ciri ilmuan yang sombong, angkuh lagi zalim atas dirinya sendiri, tidak patut diikuti.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 1, pada halaman 13, alenea kedua dst. Saudara M.H.Ass.mengukur kualitas keimanan Abdul Muthalib yang berpegang teguh kepada Agama Ibrahim a.s itu, sebagai awal sebuah kesombongan suku Quraisy akan nasabnya.&lt;/span&gt; Padahal Abdul Muthalib mmiliki keimanan dan Tauhid kepada Allah yang sangat prima. Lihatlah ketika ia berdo’a kepada Allah untuk melindungi Ka’bah (Baitullah) milik-Nya dari serangan pasukan Abrahah yang hendak menghancurkannya. Ketahuilah seribu orang seperti anda dalam hal ilmu dan Tauhid kepada Allah, niscaya tidak mampu mengungguli seorang Abdul Muthalib. Pernyataan anda yang miris atas Abdul Muthalib itu memberikan sebuah gambaran betapa kurangnya pengetahuan anda mengenai beliau yang mulia itu, sangat disayangkan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halam 18, Terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an ditulis tanpa nama surah dan urutan ayatnya, dan juga tanpa penjelasan yang memadai. Ketahuilah, makna ayat-ayat Allah itu multi dimensional artinya ada makna yang tersurat dan ada pula makna yang tersirat. Yang disebut terakhir ini dapat dicapai dengan menggunakan bantuan dari kitab-kitab Tafsir Al-Qur’an yang ada, yang telah dikenal dan diakui. Hal ini diperlukan agar jangan sampai ayat-ayat Allah yang mulia itu hanya hendak dipergunakan sebagai alat pembenaran terhadap pikiran seseorang saja. Sebab yang demikian itu sangatlah berbahaya tidak saja bagi dirinya sendiri, bahkan juga dapat menyesatkan  orang lain. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nabi Saw telah memperingatkan bahwa orang yang menafsirkan ayat-ayat Allah menurut jalan pikirannya sendiri akan membawanya ke neraka  jahannam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh haruslah diingat bahwa persamaan manusia dihadapan Allah, adalah hal yang jelas dan pasti. Dan bahwa kemuliaan seseorang dimata Allah adalah karena taqwanya kepada Allah, itupun sudah pasti dan telah diketahui secara luas dan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Namun itu tidak berarti karunia Allah sekaligus sebagai amanah kepada seseorang berupa pangkat, harta kekayaan, kekuasaan (Raja atau Presiden), kebangsawanan atau keturunan (Nasab) tidak lantas dinafikan begitu saja. Toh semuanya itu adalah pemberiaan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tahu bahwa asal usul manusia dari Nabi Adam dan Siti Hawa a.s. Tetapi tidak semua orang tahu bahwa dari anak-anak keturunan Nabi Adam a.s. itu ada yang baik dan kemudian menjadi Nabi-Nabi seperti Nabi Syth a.s. Tetapi diantaranya pula ada keturunan orang-orang jahat yang menjadi pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya apakah sama martabat anak-anak keturunan Nabi Adam a.s. itu?, tentu tidak bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula orang yang berilmu dan orang yang bodoh tentu berbeda. Orang yang kaya pasti berbeda pula martabatnya dengan orang yang miskin. Oleh karenanya kelebihan seseorang dengan orang yang lain itu tidaklah harus disalah gunakan sebab didalam perbedaan itu terdapat amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada yang memberi yakni Allah SWT. Begitu juga seorang Raja atau Presiden ia sudah pasti berbeda dengan rakyatnya. Semua itu ada, karena karunia dan ketetapan Allah jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi firman Allah dan sabda Nabi Saw, mengenai tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non Arab (Ajam), atau yang berkulit merah atau hitam. Dihadapan Allah kemuliaan itu diukur dengan parameter ketaqwaan kepada Allah. Ini artinya memang ada perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain, dan itu pemberian dari Allah juga. Namun tidak ada perbedaan didalam fungsi kehambaan mereka kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain; Orang kaya, orang miskin, orang Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Atau pejabat tinggi atau rendahan, Raja, Presiden atau rakyat biasa, Habaib, atau Sayyid, orang Indonesia atau orang Cina semuanya mempunyai kewajiban yang sama kepada Allah SWT. Tetapi mengenai urusan kehidupan dunia, adalah urusan masing-masing orang. Maksudnya tidak ada halangan seorang Raja atau Presiden misalnya hendak mengawinkan anaknya dengan anak seorang tukang kebun sekalipun, itu tergantung kerelaan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula apabila Saudara Muhammad H Ass. hendak menikahkan puterinya seorang syarifah dengan kerelaannya  sendiri kepada seorang Ajam atau seorang Majusi sekalipun misalnya, itu adalah haknya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tetapi adalah merupakan sebuah kesalahan yang sangat besar apabila tuan M.H. Ass. lalu memproklamirkan semua syarifah boleh berbuat seperti itu. &lt;/span&gt;Ingat Syarifah yang lain adalah anak orang lain, dia dan orang tuanya mempunyai hak sendiri, terserah mereka, tuan tidak perlu mencampuri. Lebih celaka, lebih salah lagi bila tuan M.H.Ass. menggunakan alasan Agama, atau alasan Bani Hasyim, Dzurriyat Rasulullah Saw. jangan sekali-kali tuan memasuki wilayah orang lain yang sama sekali bukan hak anda. Soal hukum Agama semua orang tahu, kita patut memberi nasihat tetapi kita tidak berwewenang untuk memaksakan kehendak kita kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau tuan M.H.Ass. merasa bahwa menyandang gelar Sayyid itu tidaklah penting, dan bahkan hal itu hanyalah sebuah kesombongan belaka, maka sebenarnya yang paling bijak adalah,  anda pertimbangkan sendiri haruskah  gelar sayyid itu anda tanggalkan? Karena ia  tidak penting bagi diri anda?, buktikanlah.&lt;/span&gt; Dari pada anda harus menulis buku yang anda sendiri menjadi tidak tenang dibuatnya?  karena anda sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang anda bicarakan (tulis itu). Sebenarnya anda cukup secara diam-diam tidak perlu mengikuti aturan yang menurut anda bahwa itu hanyalah sebuah tradisi saja. Dengan begitu andapun bebas menentukan sikap anda dan keluarga anda sendiri bukan? Itu lebih aman bagi diri anda.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa manfaatnya anda menulis buku yang nyata-nyata mendiskreditkan leluhur anda sendiri, kemudian anda sebar luaskan, lalu untuk sementara anda tersenyum, mendapat banyak uang, sambil melihat fitnah itu beredar ditengah-tengah masyarakat, tetapi tanpa anda sadari justru hal itu merusak citra diri dan keluarga anda sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Betapa tidak, begitu anda berbuat kekeliruan atau salah mengimplementasikan salah satu ayat saja, padahal itu telah tersebar luas dalam bentuk buku anda, cobalah anda bayangkan mana yang lebih banyak antara anda mereguk keuntungan secara materi dan jumlah dosa-dosa yang diakibatkan olehnya. Bayangkanlah kini bagaimana anda harus bertanggung jawab. Jadi janganlah sekali-kali anda memasuki wilayah bahasan yang anda sendiri tidak mengenalinya dengan baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai sabda Rasulullah Saw, dan ucapan Imam Ali k.w. yang anda kemukakan pada Alinea 1, dalam halaman 19 &amp;amp; 20, anda berkata seperti itu karena anda tidak mempunyai literatur yang cukup. Perhatikan tulisan kami pada halaman sebelum ini, yang diberi judul “Pebukaan”. Apabila masih kurang coba anda periksa dalil-dalil yang anda perlukan itu pada buku (yang tertulis pada halaman pembukaan No.11) dan buku “Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw”  oleh K.H.Abdullah bin Nuh sekalipun nanti anda tidak menerimanya, itu urusan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun isyarat dari Imam Ali k.w. silahkan periksa Buku Mutiara Nahjul Balaghah, Penerbit Mizan, M Al-Baqir halaman 77, anda akan menjumpai ungkapan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kemulian keturunan oleh Imam Ali k.w, ketika ia berkata; “tanpa menyombongkan diri” tetapi gambaran bahwa Mu’awiyah dan keturunannya berbeda dengan keturunan Nabi Saw.- bacalah sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain dari Bab 1 ini, adalah sekedar ilustrasi sejarah sudah terdapat dalam banyak buku sejarah yang jauh lebih lengkap, serta dari sumber yang lebih baik dan lebih populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Bab 2, halaman 32, setelah mengutip beberapa ayat Al-Qur’an mengenai hukum perkawinan dalam Islam yang nyata-nyata berbicara mengenai kesepadanan atau kesetaraan secara umum yaitu antara lain : Orang kafir dengan orang kafir, tidak patut dengan orang beriman. Laki-laki berzina tidak setara melainkan dengan perempuan berzina. Atau perempuan yang musyrik begitu sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara M.H.Ass. mengatakan ayat-ayat yang dikutip disitu sebagai ketetapan bahwa masalah kafa’ah sama sekali tidak berhubungan dengan nasab. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ya sudah jelas!, karena ayat-ayat itu memang tidak berbicara mengenai perkawinan nasab.&lt;/span&gt; Tetapi bukan berarti tidak ada. Ayat yang dikutip itu secara khusus hanya berbicara mengenai hukum perkawinan dilingkungan pezina, kafir dan musyrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi halnya, ketika Nabi Saw melamar Zainab binti Yahsy untuk anak angkatnya Zaid bin Harits, dan pinangan itu ditolak, maka turunlah ayat itu, yang menyatakan bahwa orang Mukmin hendaknya menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi ayat ini memang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kafa’ah. Saya benar-benar tidak mengerti bahasan ini maksud penulisnya apa?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafa’ah dalam perkawinan dilingkungan keluarga Alawiyyin memang harus dijaga ketat dan dipelihara karena siapakah yang akan menjaga dan melestarikan kelangsungan dzurriyat – keturunan Nabi suci Muhammad Saw? Kalau anda ingin tahu bacalah buku Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. oleh K.H. Abdullah bin Nuh khususnya halaman 36-42.(pasti anda punya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setiap orang mempunyai hak kafa’ah, terserah kepadanya apakah ia akan mempergunakannya atau tidak. Pada umumnya orang Tionghoa (Cina) misalnya, dalam masalah  perkawinan, mereka sangat ketat menjaga garis keturunan mereka dengan baik, dan itu adalah hak asasi mereka. Keturunan Raja-raja di Jawa juga sangat ketat pula menjaga silsilah keturunannya, terutama didalam hal perkawinan, mereka memang juga berhak untuk itu. Keturunan bangsawan di Sulawesi, di Sumatera, di Malaysia, sampai pada Raja-raja di Benua Eropa, Lord di Inggris, dan Baron di Prerancis semuanya sangat hati-hati dalam urusan perkawinan, dan itu adalah hak mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahwa masalah sebenarnya tergantung kepada kesediaan dan kerelaan pada pihak yang dipinang (dilamar) mau menerimanya atau tidak. Tetapi pada umumnya yang dijaga ketat adalah pada pihak puteri (wanitanya), sebab apabila kaum puterinya menikah keluar (bukan kufu) niscaya anak-anaknya nanti telah terputus hubungan nasabnya dengan nasab keluarga ibunya, karena anak-anak itu akan bernasab menurut garis keturunan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam Islam, orang yang hendak menikah (kawin) itu dapat memilih dari 4 (empat) kriteria utama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.    Keimanannya (Agama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    Keturunannya (Nasabnya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    Kekayaannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    Kecantikannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada umumnya kalangan Alawiyyin ( Ba’alawi) mengutamakan Nasab. Sebab dengan Nasab ahlul bait itu telah dipastikan Agamanya. &lt;/span&gt;Sementara urusan Kekayaan maupun kecantikan bukanlah yang primer (utama). Itulah sebabnya pula, maka calon penganten pria diteliti dengan benar dan cermat silsilah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya silsilah itu harus dapat dijamin kebenaran dan keabsahannya. Yang demikian itu adalah hak mereka, dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keunggulan lainnya bahwa nasab ahlul bait yang benar, sudah pasti akan tersusun dan tersambung dengan jelas, serta tetap berada pada jalur Agama Islam. Oleh karena itu kafa’ah dalam keluarga Ba’alawi dipastikan silsilah Agamanya tidak kabur, bahkan terang benderang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu dari keturunan Ba’alawi itu, banyak pula diantara mereka yang dengan suka rela melepaskan hak dirinya dalam urusan perkawinan sebagaimana mestinya. Yakni banyak keluarga Ba’alwi yang menikahkan anak puterinya dengan pria yang bukan sayyid, itu adalah hak dan tanggung jawab mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain yang diangkat didalam Bab ini, oleh M.H.Ass. adalah kafa’ah menurut para Imam Madzhab. Sebenarnya semua orangpun sudah memahami soal itu. Kita sepatutnya menghormati mereka, karena ketentuan-ketentuan yang mereka tetapkan itu sudah menjadi kesepakatan ummat Islam. Didalam kalangan Alawiyyin mereka lebih faham lagi, serta mengambil dan mengikuti yang paling sesuai dan dekat  dengan Madzhab dan tariqah mereka sendiri yakni Madzhab  Ahlul Bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, mereka kalangan Ba’alawi lebih banyak bersikap bijaksana dengan menyerahkan keputusan dalam masalah perkawinan itu kepada setiap person (hak individu) untuk memutuskan sendiri. Apabila kemudian perkawinan itu tidak terjadi sebagaimana mestinya, maka mereka tidak harus disalahkan, apabila enggan menghadiri upacara akad nikahnya. Alasannya sederhana saja yaitu tidak mau menjadi saksi pada upacara akad nikah yang berlangsung antara seorang syarifah dengan pria bukan sayyid. Hak mereka seperti itu haruslah dihargai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa masalah kafa’ah ada dimana-mana karena ia adalah hak semua orang. Tetapi kalau kemudian masalah syarifah yang menjadi sorotan, bahkan yang paling banyak mendapat kritikan tajam serta cenderung tidak masuk di akal, maka hal seperti itu harus pula dicari jawabannya. Ternyata menyoroti syarifah identik dengan menyoroti nasab serta dzurriyat Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa demikian, ternyata disana tersimpan kemuliaannya tersendiri, dan pada diri syarifah itulah lambang kemuliaan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini hampir-hampir sulit dipahami, sehingga banyak kaum sayyid yang awam tidak mengerti kemuliaan miliknya ini, dan karena itulah ia kawini wanita diluar kalangannya sendiri. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah satu kemuliaan yang tidak dapat ditukar dengan apapun juga ialah predikat aal Muhammad. Bayangkan anda di do’akan oleh seluruh kaum Muslimin dan Muslimat sejagad raya  paling sedikit didalam shalat mereka lima kali sehari semalam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan ini tidak diberikan Allah kepada selain dzurriyat Rasul saw. Tetapi manakala sang syarifah itu dilepas dan menikah dengan pria bukan sayyid, maka setiap anak yang dilahirkannya menjadi terputus hubungan nasab dan keturunannya dari jalur ibunya karena anak itu mengikuti nasab ayahnya yang bukan sayyid itu. Sekalipun anda berhujjah dengan dalil dan alasan apapun niscaya anda, bahkan sekalian manusia tidak akan mampu merubah apalagi mengungguli ketetapan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 57, analisis dan tinjuan pendapat Madzha-Madzhab. Sesungguhnya perbedaan pendapat diantara mereka itu bukanlah hal yang mengganggu. Karena ketetapan yang mereka buat telah diakui dan diterima oleh seluruh ummat Islam di dunia. Disamping itu kredibilitas, keikhlasan, serta keluasan ilmu mereka menjadikan kita patut berterima kasih kepada mereka, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;celakalah orang yang belajar dari ilmu mereka kemudian mencela mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan sudara M.H.Ass. mengenai Imam Khomeini yang menikahkan puteri-puterinya dengan pria bukan sayyid itu adalah haknya. Boleh diikuti siapa yang  bersedia  mengikuti, sebaliknya silahkan ditinggalkan siapa yang tidak hendak  mengikutinya. Soal ijab qabul dengan segala tata caranya juga terserah kepada bersangkutan, yang terpenting dapat dibenarkan secara syari’at Islam. Barang siapa yang  melanggar syari’at Islam, dia pula yang bertanggung jawab kepada Allah dan Rasul-Nya, bukankah begitu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalangan Ba’alawi pada umumnya melakukan tata cara aqad nikah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw ketika menikahkan Fathimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Pada halaman 59, Lagi-lagi saudara M.H. Ass. membuat pernyataan aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa  penganut kafa’ah dalam nasab tidak mempunyai nash Al-Qur’an dan Hadits atau dalil ilmiah, melainkan kelaziman diseluruh tempat dan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sanggupkah anda mempertanggung jawabkan statemen anda diatas tadi kepada Allah dan Rasul-Nya?. Pernyataan anda ini serta merta menunjukkan ketidak mampuan dan kekuranganmu  belaka. Kalau hendak tulis buku apalagi dengan topik yang sensitif  begini, anda harus punya persiapan yang matang lebih dahulu. Jangan sampai membentur  tembok-tembok  hukum syari’at, tidaklah perlu berbuat sesuatu yang bersifat sensasional. Hendaknya anda mempunyai referensi yang lengkap, jangan hanya baca buku-buku berkualitas rendahan,  dan dari sumber-sumber yang kabur. Dua referensi buku yang sudah kami sebutkan sebelumnya akan sangat membantu anda. Satu hal yang harus anda ingat, janganlah menyoroti masalah yang sensitif dan rawan kalau ilmu anda sangat terbatas. Sebab diatas langit ada langit yang lain. Sebenarnya buku “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AHLUL BAIT DAN KAFA’AH” TULISAN  S. UMAR MUHDOR SYAHAB &lt;/span&gt;sangat bermanfaat bagi anda, sajiannya cukup ilmiah, dan sungguh anda tidak akan dapat mengunggulinya. Hanya saja anda terburu-buru memusuhinya, bahkan anda tanggapi secara tidak bijak. Seharusnya anda belajar memahami dan menjabarkannya dengan baik sebagai seorang ilmuan sejati. Anda tergoda menghujatnya karena adanya kata &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;haram&lt;/span&gt;, dan kata &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;fasakh&lt;/span&gt; atas subuah pernikahan . &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Anda belum bisa membedakan pengertian sebuah hukum yang absolut (mutlak) dengan pendapat-pendapat hukum.&lt;/span&gt; Andaikan saja anda sedikit luwes, tentunya anda tidak akan malu bukan? Ataukah anda dihasuti orang lain yang dasarnya memang membenci kaum Alawiyyin?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian kami tidak heran, hal seperti itu sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Segala kebaikan dan kemuliaan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya akan tetap kekal abadi. Sebaliknya segala jenis kejahatan manusia siapa saja, baik lisan atau tulisan ia akan menjadikan penulis atau pembicaranya terperosok dalam sebuah kehinaan, kehancuran, kenistaan yang membinasakan dalam kurun waktu sesuai dengan ketentuan Allah SWT, apakah seseorang itu akan disiksa didunia atau kelak diakhirat. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 65, Kafa’ah pada masa kini, memuat pendapat Buya Hamka, dan memaknai hadits Nabi Saw sampai kepada soal wanita yang berhak atas dirinya sendiri baik janda atau perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini bukan barang baru, semuanya telah ada kaidah-kaidah agama dan hukum syari’at-nya. Tinggal bagimana atau apa kasusnya, karena penyelesaiannya sesuai dengan kuwalitas masing-masing kasus yang bermacam ragamnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan-pandangan seperti itu sama sekali tidak bermaksud merubah masalah kafa’ah dilingkungan kaum syaraif itu. Pandangan-pandangan Buya Hamka tidak mengandung makna seperti yang anda maksudkan.  Dalam buku-buku tertentu yang menyangkut ahlul bait, dimana beliau tampil memberi kata pengantarnya  setahu kami beliau (Hamka) tidak pernah berbicara seperti yang anda katakan.  Buya Hamka adalah salah satu tokoh ‘Ulama dan Ilmuan Islam yang punya nama baik dan dihormati di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-9012412679523079773?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/9012412679523079773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/9012412679523079773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kesucian-syarifah-dalam-gugatan-iii.html' title='KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (III)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKcIEtveYI/AAAAAAAAACk/2oiZy-9xCO8/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-2985715956650071503</id><published>2008-11-05T23:08:00.001-08:00</published><updated>2010-11-25T20:50:46.622-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (II)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKY9EfhNGI/AAAAAAAAACc/nhRzj9io5sM/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKY9EfhNGI/AAAAAAAAACc/nhRzj9io5sM/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265439089294914658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P E M B U K A A N&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini disajikan dengan berpedoman kepada beberapa ayat-ayat suci Al-Qur’an berserta Tafsirnya dan Hadits-hadits Nabi Saw yang mulia.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Allah berfirman; Artinya : “Janganlah engkau turut apa-apa yang tidak ada pengetahuan engkau tentang keadaannya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, masing-masing akan diperiksa (diminta pertanggung jawabannya). (QS. 17 : 36)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab tafsir, dijelaskan pengertian ayat ini Sebagai berikut; Berkata al- Aufi tentang maksud ayat ini: “Janganlah engkau menuduh seseorang tentang sesuatu yang engkau  tidak punya pengetahuan dalam hal itu”. Sedang Qatadah berkata “Janganlah engkau berkata; “Aku telah melihat, padahal engkau tidak melihat, aku telah mendengar, padahal engkau tidak mendengar, aku mengetahui padahal engkau tidak mengetahui”. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawabanmu tentang itu semuanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Firman Allah; Artinya : “Demi bintang bila ia terbenam. Tiadalah sesat temanmu (Muhammad) dan tidak pula salah (keliru). Dan tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”. (QS. 53 : 1-4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsirnya; Berkata As-Sya’abi dan beberapa ‘ulama lain bahwasanya dengan segala yang dikehendaki-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya seperti dalam surat ini, dengan bintang dan dengan bukit “At-Thuur” dalam surat terdahulu, sedang makhluk-Nya ialah manusia tidak boleh bersumpah melainkan dengan nama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman demi bintang ketika terbenam, tidaklah kawanmu Muhammad, hai kaum Quraisy, seorang yang sesat yang bertindak tanpa pengbetahuan dan tujuan, dan bukanlah pula ia seorang yamg dengan sengaja berpaling dari jalan yang hak dan benar kepada jalan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukanlah sekali-kali dibawa dengan hawa nafsunya apa yang diucapkannya dan dibacakan kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah Al-Qur’an, kalam Allah yang diwahyukan kepadanya dengan perantaraan Malaikat Jibril untuk disampaikan kepadamu secara tuntas, tidak dikurangi ataupun dilebihkan, sesuai dengan amanat yang diterima dari Tuhan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwasanya Abdullah bin Amr berkata; ”Aku biasa mencatat (menulis) segala yang kudengar dari Rasulullah untuk kuhafalkan, maka aku ditegur oleh beberapa pemuka Quraisy dengan berkata; “Mengapa engkau mencatat (menulis) segala yang engkau dengar dari Rasulullah, padahal ia adalah seorang manusia juga yang kadangkala dapat berbicara atau mengucapkan sesuatu disaat ia dalam keadaan marah”. Teguran orang Quraisy itu segera  kusampaikan kepada Rasulullah Saw. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maka bersabdalah beliau kepadaku. Artinya: “Catatlah (tulislah) seperti biasa, demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, tidak keluar dari padaku melainkan yang hak (benar).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Firman Allah; Artinya : Kami anugerahkan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya’qub. Keduanya itu Kami beri petunjuk, dan Kami telah menunjuki Nuh sebelum itu dan diantara keturunannya Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikian Kami balasi orang-orang yang berbuat kebaikan. * Dan kami tunjuki juga Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya itu orang-orang yang shaleh.* Dan begitu juga Isma’il, Ilyasa’ Yunus dan Luth. Semuanya itu Kami utamakan derajatnya melebihi orang-orang (semua ummat) dimasanya.* Dan (begitupun) diantara bapak-bapak mereka dan anak cucu mereka dan saudara-saudara mereka, dan Kami pilih mereka itu, dan Kami tunjuki ke jalan yang lurus. (QS. 6 : 84 – 87)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsirnya; Allah menyebutkan, bahwa Allah memberi putera kepada Ibrahim ketika ia sangat tua usianya, dan telah putus harpan untuk mendapatkan putra dari istrinya yang bernama Sarah, tiba-tiba datang kepadanya beberapa Malaikat yang akan pergi kepada kaum Luth, lalu kedua Malaikat itu memberitakan kepadanya akan mendapat putera yang bernama Ishaq. Sehingga Sarah merasa sangat ajaib dan berkata: Aduhai aku akan beranak padahal aku sudah tua, dan suamiku pun tua. Ini sungguh suatu yang ajaib. Para Malaikat bertanya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah anda ajaib dari kehendak Allah, Rahmat Allah dan berkat-Nya selalu turun atasmu dari keluarga yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Allah Maha Terpuji dan Maha Mulia. Bahkan diberi kabar bahwa puteranya itu akan menjadi Nabi dan beranak yang bernama Ya’kub. Sehingga keluarga itu akan merasakan bahagia dengan putera dan cucu yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kekuasaan Allah disaat manusia tidak dapat menjangkau dengan kekuatan otak serta akal pikirannya akan sesuatu hal. Tiba-tiba Allah memberitahu yang akan terjdi semata-mata dengan kekuasaan Allah, sebab akal manusia sudah tidak dapat meraba lagi atau menjangkau sesuatu yang tidak lazim dan tidak umum terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini sebagai balasan Allah terhadap Ibrahim a.s. karena ia telah sanggup meninggalkan kaumnya semata-mata karena ibadat kepada Allah, maka Allah memberi ganti padanya turunan yang shalihin. Sebagai yang tersebut dalam surat Maryam: “ Fa lamma tazalabahum wamaa ya’buduna min dunillahi wahabna lahu Ishaqa wa ya’quba wakulan ja’alna nabiyaa. ( Ketika ia Ibrahim meninggalkan kaumnya dan semua yang mereka sembah selain Allah. Maka Kami berikan kepadanya putera Ishaq dan cucu bernama Ya’qub, dan masing-masing kami jadikan Nabi utusan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelum mereka kami telah beri hidayah kepada Nabi Nuh a.s. dan dari turunan Ya’qub, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun a.s., demikianlah Kami membalas orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyasa a.s. kesemuanya termasuk orang shaleh. Dan msing-masing dari Nuh dan Ibrahim a.s. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mempunyai kelebihan-kelebihan yang khusus ketika Allah telah menenggelamkan kaumnya kecuali yang beriman yang ikut kepadanya  diatas bahtera. Maka semua manusia yang ada ini dari keturunan Nabi Nuh a.s.&lt;/span&gt; Sedang Nabi Ibrahim, maka tiada Nabi yang diutus sesudahnya melainkan dari turunannya. Sebagaimana tersebut dalan surat Alhadid ayat 26 – &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;walqad arsalnaa Nuuhan wa Ibraahima  waja’alna fi dzurriyatihiman nubuwaata wal kitaaba.&lt;/span&gt; (“Sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan dari keturunan keduanya kenabian dan kitab”) Wamin Dzurriyatihi: Dan turunannya dalam kalimat ini, termasuk juga kemenakan, sebagaimana Nabi Luth putera Haran bin Aazar. Juga termasuk turunan dari puteri-puterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhajjaj memanggil Yahya bin Ya’mur dan bertanya padanya: Saya mendengar anda menyatakan bahwa Alhasan dan Alhusain termasuk turunan Nabi Saw. Apakah itu anda dapatkan dalam kitab Allah, sebab saya telah membaca dari awal hingga akhir tidak ada keterangannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Yahya : Tidakkah anda membaca surat Al-An’am: Wamin dzurriyatihi Daawuuda wa Sulaimaana hingga wa Yahya wa Isa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Alhajjaj: Benar. Tidakkah Isa termasuk turunan Ibrahim meskipun ia tidak berbapak? Jawab Alhajjaj: Benar anda. Sebab inilah jika orang berwasiat atau mewakafkan untuk dzurriyah (turunan) termasuk juga cucu dari anak perempuan. Adapun jika ia memberi pada putera-puteranya atau mewakafkan untuk mereka, maka khusus untuk turunan anak laki-laki. Juga mereka berdalil dengan sebuah syair yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Baanu naa banuu abnaa inaa, wa wabanaa finaa banuu hunna abaa’urrijaa lil ajaa nibi. – Putera-putera kami ialah putera-putera dari putera kandung kami. Dan puteri-puteri kami, anak mereka adalah putera orang lain”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pendapat yang menyatakan bahwa putera dari puteri itu masuk dalam turunan cucu, berdalil pada hadits Bukhari bahwa Rasulullah Saw. Bersabda kepada Alhasan : Inna ibni hadza sayyidun, wa la’alla Allah an yush liha bihi baina fiataini adhimataini minal muslimin. – (Sesungguhnya anakku (cucuku) ini seorang yang mulia, semoga Allah akan mendamaikan dengannya  di antara kedua golongan yang besar dari kaum muslimin). Nabi Saw menyebut Alhasan  Ibni (puteraku) menunjukan putera dari anak perempuan masuk dalam turunan. (Sumber kitab Tafsir Ibnu Katsier)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maksudnya,  ini merupakan sebuah kekhususan, artinya cucu Nabi Saw dari anak perempuan hanyalah putera-puteri dari Fathimah saja. Generasi berikutnya bernasab kepada ayah mereka masing-masing. Sehingga apabila seorang anak berayahkan dari aal Muhammad, maka ia termasuk aal Muhammad. Sebaliknya apabila seorang anak yang berayahkan bukan dari aal Muhammad maka jelaslah ia bernasab kepada ayahnya itu sekalipun ibunya adalah seorang syarifah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah adanya, sehingga kondisi seperti inilah yang dimaksudkan sebagai pemutusan hubungan dzurriyat dengan Nabi Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh ; Al-Dailami, Al-Thabarani, Abu Syaikh, Ibnu Hibban dan Al- Baihaqi, bahwa Nabi Saw bersabda : ‘Tidaklah beriman seseorang hamba sehingga aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, dan keturunanku lebih dicintai dari pada keturunannya sendiri, dan keluargaku lebih dicintai daripada keluarganya sendiri, dan zatku lebih dicintai dari zatnya sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Karena itulah Abubakar Al-Shiddiq berkata : “Menjalin hubungan kepada sanak keluarga Rasulullah lebih aku sukai, daripada menjalin hubungan dengan sanak keluargaku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Diwayatkan oleh Ahmad marfu’: “Barang siapa membikin marah ahlul bait ia adalah seorang munafiq”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dari Abu Sa’id bahwa Nabi Saw bersabda : “Tidaklah seseorang membikin marah kami ahlul bait, melainkan orang itu akan dimasukkan Allah kedalam neraka”. Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hakim dan disahihkannya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dari Abu Sa’id, bahwa Nabi Saw bersabda : “Allah sangat murka terhadap orang yang menyakiti aku dalam urusan keturunanku”. (HR Al-Dailami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Diriwayatkan dari Abu Syaikh dari Ali karamallahu wajhahu, ia berkata; “Suatu ketika Rasulullah keluar dalam keadaan marah menuju kemimbar, kemudian setelah menyampaikan puji-pujian kepada Allah, beliau berkata : “Betapa teganya orang yang menyakiti aku dalam urusan ahlul bait-ku. Demi Zat yang nyawaku berada didalam genggaman-Nya, tidaklah beriman seseorang hamba hingga ia mencintai aku, dan tidaklah ia mencintai aku hingga ia mencintai keturunan-ku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Dari Imam Ali k.w. Rasulullah Saw bersabda : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Ya Allah karuniakanlah kepada orang yang membenci aku dan keluargaku harta dan anak yang banyak”. (HR Al-Dailami). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ibnu Hajar mengomentari hadits ini sebagai berikut : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Dengan banyak harta, maka mereka akan bertambah lama dihisab, dan dengan banyak anak, maka akan bertambah banyak pula setan-setan mereka. Hal ini tidak sama bagi orang yang tidak membenci beliau dan keluarganya, sekalipun do’anya sama. Karena harta dan anak itu dapat menjadi nikmat yang menyampaikan kepada berbagai kebutuhan, berbeda dengan orang-orang yang membenci beliau dan keluarganya tersebut”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Dari Imam Ali k.w. yang berkata kepada Mu’awiyah : “ Janganlah sekali-kali anda membenci kami, karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Rasulullah telah bersabda; ‘Tidaklah seseorang yang membenci atau merasa iri kepada kami, melainkan orang itu akan diusir dari &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Al-Haudh&lt;/span&gt; (telaga Nabi Saw) pada Hari Kiamat dengan cambuk dari api”. (Diriwayatkan oleh Al-Thabarani dalam Al-Ausath-nya). &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadits-hadits 5 – 11 diatas bersumber dari Muhammad Ali Shabban dalam buku “TELADAN SUCI KELUARGA NABI” – Akhlaq dan Keajaiban-Keajaibannya – Alih bahasa : Sayyid Idrus H Alkaf.- Diberi kata pengantar oleh; jalaluddin Rakhmat.– Penerbit; Al-Bayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Hadits yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim ialah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam ‘Shahih”-nya berasal dari ‘Urwah bin Zubair yang mendengar sendiri Siti ‘Aisyah r.a. berkata, bahwasanya pada suatu hari Rasulullah Saw menyuruhnya membawa se-ekor kambing tidak bertanduk dan berwarna ke-hitam-hitaman guna disembelih. Setelah kambing itu dibaringkan, sebelum disembelih Rasulullah Saw berdo’a &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Bismillah ya Allah, terimalah dari Muhammad, dari aal Muhammad dan dari ummat Muhammad"&lt;/span&gt; kemudian kambing itu disembelih. Imam Muslim meriwayatkan hadits itu selengkapnya dan menerangkan urutan maknanya yang berlainan, yaitu bahwa “ummat Muhammad” mempunyai arti umum, sedang “keluarga” adalah menunjukkan kekhususan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang menafsirkan kata “aal” bermakna “keluarga Muhammad Saw”. yang diharamkan menerima Shadaqah”, mengatakan bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penafsiran yang berdasarkan ucapan Rasulullah Saw, lebih utama daripada penafsiran yang berdasarkan pendapat orang lain,(apa, dan siapapun dia orangnya - pen).&lt;/span&gt;  Demikianlah dalil-dalil yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim mengenai penafsiran-penafsiran orang yang mengandung faham pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya semua keturunan ahlul bait Rasulullah saw, diharamkan menerima shadaqah atau zakat. Yang dimaksud keturunan ahlul bait, khususnya ialah mereka yang berasal dari keturunan Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma. Bukan keturunan dari dua orang saudara perempuan mereka, kendatipun semuanya adalah putera-puteri Fathimah binti Muhammad Rasulullah Saw. Ketentuan tersebut berdasarkan pada sebuah hadits shahih berasal dari Jabir r.a. diketengahkan oleh Al-Hakim didalam “al-Mustadrak” dan oleh Abu Ya’laa dalam “Musnad”-nya; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahwasanya Siti Fathimah r.a. meriwayatkan, ayahandanya saw, berkata: “Semua anak Adam yang dilahirkan oleh seorang ibu termasuk di dalam sutu ‘ushbah – yakni kelompok dari satu keturunan – kecuali dua orang putera Fathimah. Akulah wali dan ‘ushbah mereka berdua”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud “dua orang putera Fathimah “ dalam Hadits tersebut ialah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Hasan dan Al-Husain Radhiyallhu ‘anhuma&lt;/span&gt;. Dengan memperhatikan lafadz Hadits tersebut kita dapat mengetahui dengan jelas bagaimana Rasulullah Saw. mengkhususkan pengelompokan Al-Hasan dan Al-Husain r.a. sebagai keturunan beliau Saw. sedang dua orang saudara perempuan mereka (Zainab r.a. dan Ummu Kultsum r.a, dua orang puteri Siti Fathimah juga} dikecualikan dari pengelompokkan nasab tersebut diatas. Karena anak-anak dari kedua orang puteri Siti Fathimah r.a. itu bernasab kepada ayahnya masing-masing yaitu Abdullah bin Ja’far dan Umar bin Khattab demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Itulah sebabnya kaum Salaf dan kaum Khalaf memandang anak laki-laki seorang Syarifah (wanita keturunan ahlul bait Rasulullah Saw.) tidak dapat disebut syarif (atau sayyid), jika ayahnya bukan seorang syarif (sayyid). Kalau pengkhususan tersebut diatas berlaku umum bagi semua anak yang dilahirkan anak cucu perempuan Rasulullah Saw. tentu anak lelaki seorang syarifah adalah syarif yang diharamkan menerima shadaqah, walaupun ayahnya bukan seorang syarif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karena itu Rasulullah Saw. menetapkan kekhususan tersebut hanya berlaku bagi dua orang putera Siti Fathimah r.a., tidak berlaku bagi puteri-puteri Rasulullah Saw. selain Siti Fathimah r.a. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karena kakak perempuan Siti Fathimah r.a., yaitu Zainab binti Muhammad Saw. tidak melahirkan putera lelaki, tetapi hanya melahirkan anak perempuan yaitu Amamah binti Abul-‘Ash bin Ar-Rabi’, dengan seorang pria bukan kalangan ahlul bait Rasulullah Saw. Ketentuan itu diambil Rasulullah Saw. semasa hidupnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak Amamah tidak bernasab kepada Nabi Saw. karena Amamah adalah anak perempuan dari puteri beliau, Zainab r.a. yang menjadi istri seorang pria bukan dari ahlul bait Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seandainya Zainab r.a. melahirkan seorang anak lelaki dari suami seorang ahlul bait&lt;/span&gt; tentu bagi anak lelakinya itu berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma, yaitu bernasab kepada Rasulullah Saw. Demikian itulah sebuah kenyataan yang patut diterima karena datangnya dari Rasulullah Saw. yang mulia. Masih sangat banyak lagi berita-berita mutawatir &amp;amp; sahih dari berbagai sumber yang menjelaskan perihal kedudukan ahlul bait Rasulullah Saw. dan kaitannya dengan masalah “Kufu” atau “Kafa’ah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibnu Sa’ad meriwayatkan sebuah Hadits bahwa Nabi Saw. bersabda; “Berbuat baiklah kepada ahlu bait-ku, karena kelak aku akan memperkarakan kalian tentang mereka. Barang siapa yang aku perkarakan, maka Allah pun akan memperkarakannya, dan barang siapa yang diperkarakan Allah, maka orang itu dimasukkan kedalam neraka”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-2985715956650071503?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/2985715956650071503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/2985715956650071503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kesucian-syarifah-dalam-gugatan-ii.html' title='KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (II)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKY9EfhNGI/AAAAAAAAACc/nhRzj9io5sM/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-6131659100191794049</id><published>2008-11-05T22:29:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:50:46.623-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesucian Syarifah Dalam Gugatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alhabib Ali bin Muchsin Albaar'/><title type='text'>KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (I)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKQaKIlYsI/AAAAAAAAABI/qP_yu0Lc6-g/s1600-h/thumb_aba.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 146px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKQaKIlYsI/AAAAAAAAABI/qP_yu0Lc6-g/s320/thumb_aba.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265429693420888770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENGUAK TABIR RAHASIA KEMULIAAN PUTERI PUTERI NABI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KAFA’AH DALAM ISLAM &amp;amp; MASALAHNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut ini adalah  sebuah telaah atas tulisan Saudara M. Hasyim Assagaf dalam bukunya yang diberi Judul : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“DERITA PUTRI PUTRI NABI”&lt;/span&gt; – STUDI HISTORIS KAFA’AH SYARIFAH, PENERBIT PT REMAJA ROSDAKARYA BANDUNG – SEPTEMBER 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sebenarnya kami tidak mempunyai kepentingan menanggapi buku ini, atau buku siapapun, andaikan saja isinya tidak merupakan sebuah pelecehan terhadap komunitas Habaib secara keseluruhan. Disamping itu ayat-ayat Al-Qur’an serta beberapa Hadits Nabi Saw, yang dipergunakan sebagai hujjah untuk mendukung isi buku tersebut tidak saja merupakan pembodohan terhadap ummat Islam, tetapi lebih dari itu penulisnya sangat berani manafsirkannya sesuai dengan keinginan jalan pikarannya belaka. Dimana hal yang demikian itu telah melanggar hukum normatif kaidah syari’at Islam yang mulia. Oleh karena itulah maka tinjauan atas buku ini dirasakan sangat perlu disebabkan oleh beberapa  alasan yang sangat mendesak  antara lain :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;; Isi buku tersebut sangat mengganggu dan melukai hati kaum Alawiyyin. Terutama sebahagian besar kalangan Syarifah yang baik, bersih dan istiqamah. Mereka merasa sangat berkeberatan dijadikan obyek pembicaraan untuk masalah yang tidak benar diselimuti dusta yang dinisbatkan kepada mereka (syarifah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;; Berbeda pandangan mengenai kafa’ah dan pembelotan yang terjadi pada sekelompok kecil  masyarakat Ba’alawi yakni kaum  Sayyid dan Syarifah yang sedikit jumlahnya itu, tidak harus berarti mewakili seluruh anggota keluarga kalangan Ba’alawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;; Bahwa sesungguhnya setiap individu mmpunyai hak dan kewajiban amanah yang patut ditunaikan. Sehingga selaku seorang anak ia bebas menentukan pilihan pasangan hidupnya  dalam masalah perkawinan. Sebagai orang tua iapun bebas menentukan kepada siapakah anaknya itu akan dinikahkan dan dikawinkannya. Sangat tidaklah patut bagi orang yang telah memperbuat kekeliruan dan kesalahan fatal secara individual dalam masalah kafa’ah ini, kemudian memcari sebuah pembenarannya dengan cara-cara kurang bermoral dan beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu menisbatkan kesalahan itu kepada orang-orang yang mulia sebelum mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;; Masalah kafa’ah atau kesetaraan didalam perkawinan tidak di  monopoli oleh kaum Alawiyyin semata. Syarat hukum kafa’ah itu sendiri telah diatur didalam hukum perkawinan Islam. Bahkan orang-orang Islam yang bukan dari kalangan Ba’alawi pun menggunakan hak kafa’ah itu menurut cara mereka masing-masing. Dan orang-orang yang bukan beragama Islampun didalam soal perkawinan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip  kesetaraan (kafa’ah) itu, dengan cara-cara serta alasan-alasan mereka sendiri pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;; Menjaga dan melindungi serta memelihara kelangsungan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“nasab” – keturunan yang baik&lt;/span&gt;, tidaklah serta merta identik dengan sebuah kesombongan dan kecongkakan. Tidak juga merusak syari’at Islam yang mulia, tidak identik pula dengan diskriminasi rasial. Ia bahkan merupakan sebuah kewajiban orang beriman, bukankah urat keturunan itu sangat penting? Mungkinkah hak asasi seseorang itu harus kita batasi?, kemudian kita perjuangkan kepentingan kita dengan mangatas namakan hak asasi?. Alangkah zalimnya tindakan dan perbuatan seperti itu. Apakah orang yang menolak sebuah permintaan, atau ia enggan memenuhi keinginan  orang lain harus diartikan pelanggaran atas hak asasi orang tersebut?, lalu dimanakah hak asasi kita sendiri?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;; Bagi mereka yang menentang hukum kafa’ah dalam perkawinan, mengabaikan semua hujjah baik itu nash Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Sebaliknya mereka menghendaki agar semua orang mengikuti faham dan cara mereka dalam mengimplementasikan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Saw. Begitu pula fatwa-fatwa ‘Ulama dari berbagai Madzhab dan para ‘ulama salaf maupun khalaf baik dari kalangan Ba’alawi atau lainnya yang membenarkan hukum kafa’ah tersebut ditolak oleh mereka. Lebih jauh lagi, mereka menganggap fatwa-fatwa seperti itu sebagai orang yang tidak berilmu, tanpa petunjuk dan kitab yang jelas. Padahal mereka sendiri sebenarnya sadar bahwa mereka bukanlah orang yang patut dan pantas disejajarkan dengan orang-orang yang mereka cela itu, baik dari segi ilmu agama apalagi akhlaqnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;; Penolakan atas hukum kafa’ah dalam perkawinan dan membolehkan serta membenarkan syarifah dikawinkan dengan pria non sayyid, didasarkan kepada beberapa contoh semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti katanya anak cucu Zaid bin Ali Zainal ‘Abidin tidak melarang. Bahwa tokoh Mazhab Zaidi menikahkan puteri mereka dengan pria Muslim non sayyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ada tiga orang anak Imam Khomeini dinikahkan dengan yang bukan sayyid. Kejadian seperti itu bukanlah sebuah alasan hukum, yang mana mengikuti atau menolaknya bukanlah sebuah kewajiban. Namun demikian alasan yang dikemukakan itu sangatlah diragukan kebenarannya. Mereka mengedepankan nama-nama tokoh terhormat itu agar orang mempercayainya. Mereka dengan berani mengambil resiko dan mengundang bencana besar yang bakal menimpa mereka sendiri atas segala bentuk pemutar balikkan fakta dan kebohongan seperti itu, dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedelapan&lt;/span&gt;; Mereka sama sekali belum atau tidak faham akan adanya pengertian dan makna khusus ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah Saw. Ini terlihat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dikemukakan dalam buku tersebut diatas banyak diantaranya sama sekali tidak ada relevansinya dengan masalah yang mereka perbincangkan itu. Hal seperti ini akan kami tunjukan nanti ketika telaah ini sampai pada topik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kesembilan&lt;/span&gt;; Buku Derita Putri-Puri Nabi, sangat jelas sekali yang dimaksudkan oleh penulisnya adalah “Puteri-Puteri Nabi Muhammad Saw”. Yaitu anak cucu Rasulullah Saw termasuk Siti Fathimah al-batul binti Rasulullah Saw. Padahal penulis tidak tahu persis Puteri-Puteri Nabi Saw yang manakah yang menderita itu?, ataukah puteri-puteri penulis sendiri dan segelintir syarifah lainnya?. Adakah penulis buku itu menyadari bahwa berapa banyak syarifah yang terlanjur kawin atau menikah dengan pria bukan sayyid yang sesungguhnya hidup dalam penyesalan?, menderita karena kemauannya sendiri. Begitu pula tahukah penulis buku itu bahwa berapa banyak Sayyid atau Ba’alawi yang saat ini meratap, menangis menyesali dirinya sendiri yang telah melepaskan puterinya  (syarifah) yang dinikahkan dan dikawinkannya sendiri kepada pria yang tidak kufu (kafa’ah?). Apakah tuan M.Hasyim Ass.mengetahui berapa besar penyesalan mereka. Dapatkah anda tunjukan Syarifah manakah yang hidup berbahagia secara hakiki ketika dia bersuamikan seorang lelaki bukan sayyid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun suaminya itu adalah orang yang berada dan mampu secara materi? Apakah anda  pernah mengadakan survey dan mendalami masalah ini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda pula ada berapa banyak wanita kita (syarifah), yang dikawini oleh pria bukan sayyid yang kemudian menghina mereka?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperlakukan mereka sangat buruk dan menjadikan mereka tidak berharga? Itukah yang tuan M. Hasyim Ass. mengartikan sebagai suatu kebahagiaan?. Atau inikah jalan kebahagiaan yang anda tunjukkan bagi anak-anak perempuan anda sendiri dan lainnya? Apakah kerelaan anda itu sudah yang paling benar sehingga anda mengajak orang lain mengikuti jalan anda?. Ataukah anda sendiri adalah orang yang sadar dari keterlanjuranmu sendiri, kemudian ingin mengajak orang lain dari saudara-saudara anda yang awam dan buta ilmu, serta tidak terlalu memahami masalah kafa’ah itu untuk menemani anda?. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Memperhatikan kapasitas Saudara  M.Hasyim Ass. kami yakin se-yakin-yakinnya bahwa ada tokoh-tokoh lain dibelakangnya, yang hati mereka telah diracuni kebencian kepada kaum Ba’alawi yang sudah berlangsung sejak berabad abad lamanya.  Saudara Muhammad H. Ass. dimanfaatkan dan tampil menjadi kenderaan tunggangan mereka. Untuk pembuktian atas konspirasi licik mereka ini, perhatikan saja akhir hidup mereka kelak seperti apa nantinya, kita serahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kesepuluh&lt;/span&gt;; Menggunakan batasan bahwa semua manusia itu  berasal dari Adam dan Siti Hawa a.s, adalah sebuah hujjah yang sangat lemah lagi bodoh. Bukankah semua orang tahu bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa melahirkan anak kembar pasangan pria dan wanita. Pengembangan biakannya melalui perkawinan silang diantara anak-anaknya ketika itu, yang secara khusus memang dibolehkan. Diantara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat. Contoh soalnya terdapat didalam kisah Qabil yang memebunuh adiknya Habil. Dari anak-anak Adam dan Hawa a.s. ada yang kemudian melahirkan orang-orang mulia yakni para Nabi-Nabi. Sementara adapula anak-anak keturunan Adam dan Hawa a.s. melahirkan generasi keturunan yang jahat. Soalnya sekarang adalah tahukah kita dari anak Adam dan Hawa yang mana kita berasal? Apakah karena kita berasal dari Adam dan Hawa lalu kita semua harus sama secara hitam putih? Siapakah yang memberikan keunggulan keturunan diantara anak cucu Adam dan Hawa? Mengapa garis keturunan para Nabi harus keluar dari dzurriyat Adam yang telah ditentukan Allah yakni Nabi Syth a.s?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Allah memuliakan Rasulullah Muhammad Saw melebihi Nabi-Nabi yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa hanya nama Muhammad Rasulullah yang mendampingi nama Allah pada Dua Kalimat Sahadat Islam padahal ia Nabi yang terakhir?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa Nabi harus bersabda bahwa “Semua anak Adam benasab kepada orang tua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi Saw tersebut terdapat didalam berbagai kitab antara lain “Mustadrakus-Shalihain”, “Ad-Dur Almantsur” tulisan As-Sayuthiy, “Kanzul Ummal”,”Sunnah A-Tirmudziy”, “Tafsir At-Thabraniy”, “Khasha’ish an-Nasa’iy”, “Tarikh Baghdad”, “Al-Isti’ab”, “Ar-Riyadh an-Nadhrah”, “Musnad Abi Dawud”, “Asad Al-Ghabah dan lain-lain. Penulis Tafsir Al-Manar”, Syeikh Muhammad  ‘Abduh  dalam menafsirkan ayat 84 Surah Al-An’am.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Nabi Saw tersebut diatas sangat gamblang jelas dan tegas. Bahwasanya hanya anak-anak Fathimah dan Imam Ali (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain) sajalah yang mengambil Nasab kepada beliau. Karena keturunan beliau Saw melalui Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah Azzahra. Sedangkan keturunan selanjutnya mengikuti Nasab ayah mereka masing-masing. Disinilah nanti akan terlihat siapakah yang terpelihara Nasabnya dan siapakah yang teputus Nasabnya. Apabila kemudian ada seorang Syarifah menikah dengan seorang yang bukan Sayyid dan mempunyai anak,maka jelaslah Nasab anaknya itu tersambung kepada ayahnya, dan tidak tersambung kepada Nasab ibunya lagi. Artinya anak-anak sang Syarifah yang kawin selain Sayyid tadi tidak termasuk lagi kepada aal Muhammad. Perhatikan pembahasan yang akan datang mengenai penetapan Nabi Saw perihal “nasab” ini dalam kothbah di Padang ‘Arafah. Dalam hal Nasab Rasulullah ini, janganlah kita buat definisi yang lain kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena sangatlah mustahil ketetapan Nabi Saw itu bertentangan dengan kehendak Allah SWT, ingat itu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa alasan dari sekian banyak alasan mengapa kami harus bersusah payah selama lebih kurang sepuluh hari menulis telaah atau tinjauan atas buku yang berjudul Derita Puteri-Putri Nabi yang jelas merupakan sebuah pembodohan dan  kontroversial, serta bahkan lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ia dipandang sebagai sebuah upaya pelecehan terhadap “institusi Habaib yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya”.&lt;/span&gt; Ketahuilah bahwa tidak ada sebuah kenikmatan dan kemulian pemberian Allah itu mampu dilecehkan oleh sebuah tipu daya, kebohongan, dusta dan pembodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula sebuah kehinaan yang datang dari Allah tidak akan pernah sanggup manusia menutupi, merubahnya menjadi mulia, sekalipun dengan persekutuan semua orang-orang berilmu sedalam dan setinggi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah lebih baik kita merenungi diri masing-masing seraya bertanya kepada jiwa fitrah dimanakah sesungguhnya kita berada. Apakah setiap perbuatan kita itu  termasuk perbuatan orang yang baik lagi mulia, ataukah orang yang zalim lagi bodoh dan hina. Bukankah Allah-pun telah berfirman : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Sesusungguhnya manusia itu aniaya (zalim) lagi jahil (bodoh tidak berilmu)”  QS.33 : 72. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah atau koreksi atas tulisan buku yang dimaksud, bertujuan meluruskan yang bengkok, menyadarkan yang keliru, menasehati yang awam, mengingatkan yang lupa sombong, angkuh lagi jahil. Oleh karenanya telaah ini ditulis seringkas mungkin tanpa meninggalkan kaidah dan norma-norma Agama Islam, disertai hujjah-hujjah dari sumber yang populer. Yakni Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw yang mulia, yang disajikan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; kepada siapa saja yang menginginkan kebenaran menyingkirkan kezaliman guna meraih kebahagiaan hidup, mencapai kemuliaan mati.&lt;/span&gt; Telaah ini bukanlah dari orang pandai dalam Agama, dan bukan pula pahlawan seorang dzurriyat Rasulullah Saw, tetapi hanyalah pandangan pribadi   dari seorang hamba Allah yang dhaif dengan sedikit ilmu dari-Nya, serta masih terus dan terus belajar, dan tidak hendak berpolimik, karena tidak memperoleh manfaat apapun dari arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan  atas tulisan Saudara M.Hasyim Ass. itu disusun secara berurutan dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Dengan memberi ulasan, koreksi  dan penjelasan atas bagian-bagian yang dipandang perlu. Adapun tujuan tulisan ini, sebagai sebuah upaya menyadarkan semua pihak yang berkepentingan. Baik dari pihak penulis maupun pembaca buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Derita Putri Putri Nabi”&lt;/span&gt;, agar tidak terperosok dan tergilas bencana akibat kelalaian  diri sendiri. Terutama tulisan ini lebih ditujukan secara khusus kepada seluruh kalangan dan keluarga Alawiyyin (Ba’alawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu copy naskah ini akan kami serahkan kepada : ALMAKTAB ADDAIMI – KANTOR PEMELIHARAAN SEJARAH DAN STATISTIK ALAWIYAH – ARRABITHA AL-ALAWIYAH – PENGURUS PUSAT JAKARTA – INDONESIA – JALAN KH.MAS MANSYUR 17, JAKARTA 10240 – INDONESIA, melalui Saudara saya Sayyid Abubakar bin Abdillah Assagaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apabila di pandang perlu dapat disebar luaskan kepada seluruh keluarga Ba’alwi secara cuma-cuma. Agar dapat diketahui betapa kemuliaan yang memyertai ithrah Rasulullah Saw. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sehingga dengan demikian setiap orang yang merasa mempunyai hubungan “N a s a b” dengan beliau Saw akan terpanggil jiwa dan hatinya secara qudrati untuk bangkit menjaga dan memeliharanya. &lt;/span&gt;Tindakan seperti ini adalah bahagian dari realisai rasa syukur kepada Allah SWT, dari orang-orang beriman dengan sebenar-benarnya keimanan kepada-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Koe.. http://fahmi.albar.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4057074229987998994-6131659100191794049?l=fahmi-albar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/6131659100191794049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4057074229987998994/posts/default/6131659100191794049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fahmi-albar.blogspot.com/2008/11/kesucian-syarifah-dalam-gugatan-i.html' title='KESUCIAN SYARIFAH DALAM GUGATAN (I)'/><author><name>Fahmi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04678910484859637203</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKSz-oytXI/AAAAAAAAAB8/1xuqohC6lfE/S220/fahmi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WE47gRPs40s/SRKQaKIlYsI/AAAAAAAAABI/qP_yu0Lc6-g/s72-c/thumb_aba.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4057074229987998994.post-4535479206397523568</id><published>2008-11-05T21:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T21:26:41.396-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Agama'/><title type='text'>Seklumit Manfaat Pernikahan Kaffah</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;                    &lt;span class="style3"&gt;Seklumit Manfaat Pernikahan Kaffah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tinjauan segi AlQur'an, Hadis dan Genetika&lt;br /&gt;                  &lt;/strong&gt;Banyak para Syarifah menanyakan masalah seputar pernikahannya yang agak dibatasi oleh kaum anak-cucu Rasul Saw. Terdapat Polemik dari kalangan ulama mengenai hal ini ada yang menfatwakan pelarangan syarifah untuk tidak menikah dengan non-sayyid namun ada pula yang membolehkannya. Kita berbaik sangka pada para Ulama karena mereka menyimpulkan fatwa dilatarbelakangi oleh pemahaman keluasan ilmu dan taufik dari Allah s.w.t dalam mengkaji Al-Quran, Hadis, kemudian keadaan lingkungan yang berbeda saat itu. Disini hanyalah membahas selain dari segi Al-Qur'an dan hadis juga seklumit segi genetika dan manfaatnya.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Menyikapi perbedaan Ijtihad yang terjadi diantara para ulama akibat kondisi dan situasi masyarkat yang ada, maka alangkah baiknya kita mengkaji secara sistematis dari pembahasan umum terhadap Ahlul bayt. Kemudian kita petik hikmah yang terkandung dari suri tauladan Rasul saaw dalam melaksanakan pernikahan putrinya Fatimah albathul ra ini, selanjutnya memaparkan ilmu genetika, mengkaji hipotesis genetika secara umum dan secara khusus didalam diri beliau s.a.w segi AlQur'an, AlHadis dan teori genetika itu sendiri. Alfakir akan mengemukakan perbandingan secara umum dilanjutkan pembahasan genetika pada anak cucu rasul s.a.w dan berakhir pada kesimpulan yang bersifat persuasif dan contoh-contoh masa lalu terhadap anak cucu rasul s.a.w agar pemahaman mereka lebih terbuka hingga mereka lebih menghargai dan menjaga anuegrah yang diberikan Allah s.w.t&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Di zaman Rasul terdapat 3 kelompok yang dapat dipilih segi penasaban/genetika secara struktural. Pertama Rasul s.a.w sendiri sebagai sumber kemuliaan, yang kedua Ahlul Bayt baik isteri-isteri Nabi maupun ahlul kissa dan yang ketiga para sahabat itu sendiri. Kita tempatkan sesuai pada tempatnya dan kadar kemuliaan masing-masing disisi Rasul s.a.w. Kemudian secara stuktural dilihat dari hadis-hadis maka Ahlul Bayt secara bahasa terbagi tiga pertama Keluarga karena hubungan pernikahan, keluarga karena hubungan kerabat yaitu hubungan genetika secara horisontal dan keluarga karena hubungan genetika secara vertikal. Bagi pengertian pertama yaitu ditujukan pada Isteri-isteri Nabi s.a.w, untuk pengertian yang kedua yaitu segi horizontal tertuju bagi para paman dan sepupu serta kemenakan Nabi s.a.w, sedang yang ketiga Imam Ali kw, Fatimah ra, Al-Hasan ra dan Al-Husain ra secara vertikal. Bahkan berdasarkan beberapa hadis lain ahlul bayt yang dimaksud yaitu kaum mukmin yang mengikuti petunjuk Nabi hingga Akhir zaman, Namun penafsiran dari ayat 33 itu secara spesifik ditujukan pada Ahlul Bayt Ahlul Kissa dari Rasul s.a.w berdasarkan Hadis-hadis Sahih. Kemudian ada sebagaian ulama membagi Ahlul bayt Nabi segi maknawiyah yaitu Ahlul bayt alzuwaid yaitu ahli rumah karena hubungan pernikahan yaitu isteri Rasulullah s.a.w biasa dalam Al-Qur'an menggunakan kata ganti (dhamir) buyutikunna dan Ahlul bayt Alkisa (yang diselimuti) menggunakan kata ganti (dhamir) Buyutikum kedua Ahlul Bayt itu terdapat dalam surah Al-Ahzab tentang ahklak dan etika bagi isteri Nabi saaw dan penyucian bagi Sayidatunna Fatimah Al Batul ra, Imam Ali kw dan Imam Hasan ra serta Imam Husain ra. Arti ayat tersebut:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah s.w.t bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya"&lt;br /&gt;                    (Q.S.33:33).&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Adapun Hadis–hadis yang menafsirkan ayat diatas adalah:&lt;br /&gt;Imam Muslim rhm dalam kitab sahihnya membawakan sebuah hadis riwayat A'isyah. Ia menyata kan bahwa pada suatu pagi, Nabi saaw keluar dengan menggunakan selimut yang terbuat dari wool berwarna hitam. Hasan datang dan Nabi memasukannya dalam selimut, lalu datang pula Husain dan dimasukkan kedalam selimut, kemudian datang Fatimah, beliau sertakan masuk dalam selimut, setelah itu Ali datang dan beliau masukkan juga ke dalam selimut sambil mem baca: "sesungguhnya Allah s.w.t bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya" (Q.S 33:33).&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Riwayat yang disampaikan oleh ulama Hadis lainnya seperti:&lt;br /&gt;Al-Hakim rhm dalam Mustadrak Juz III halaman 147. Ia mengatakan bahwa hadis itu sahih menurut syarah Bukhari dan Muslim,&lt;br /&gt;                    Al-baihaqi rhm dalam Sunan Baihaqi juz II hal 149&lt;br /&gt;Ibnu jarir Al-Thabari rhm dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Thabari jus 22 hal 5, melalui jalur lain dari A'isyah.dll&lt;br /&gt;Ibnu hajar Al-haitami rhm mensahihkaan riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saaw mengerudungkan selimut kepada mereka dan berkata: "Ya Allah s.w.t mereka adalah ahlul baytku dan orang-orang yang khusus bagiku. Hilangkanlah dari mereka noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Kemudian Ummu Salamah ra berkata,."Dan aku bersama mereka! tetapi Nabi menjawab, kamu berada dalam kebaikan"&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Riwayat yang serupa namun agak berbeda kalimatnya disampaikan oleh ulama Hadis:&lt;br /&gt;                    Imam Ahmad Bin Hambal rhm dari Ummu salamah ra&lt;br /&gt;                    Imam Ahmad rhm dari Syaddad bin Ammar ra&lt;br /&gt;                    Ibnu Jarir rhm dari ummu salamah ra.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Selain itu terdapat ayat Al-Mubalah surah Al-Imran dimana ketika Nabi saaw ditantang oleh para Pendeta Yahudi mengenai ketauhidan maka turun ayat itu mengajak bermubalah mengajak mereka makna kata dalam surah tersebut sebagai berikut yaitu "anak-anak mereka" adalah Hasan ra dan Husain ra, "wanita-wanita mereka" dimaksudkan Fatimah ra dan "diri-diri mereka" berarti Rasuullah s.a.w dan Imam Ali kw banyak hadis mengenai turunnya ayat ini dan pasti kita semua sudah tahu. Kemuliaan Imam Ali kw itu cukup dari yang lain segi nasab dengan Rasulullah s.a.w mengenai penyebutan diri-diri mereka. Mereka dalam ayat itu, terbatasnya Ahlul bayt pada kelima orang itu yaitu ahlul baytul kissa (selimut), dan merekalah yang dinisabkan ke Rasul s.a.w sedang yang lain termasuk anak-anak imam Imam Ali kw (pernikahan antara Imam Ali dengan selain Fatimah ataupun anak-anak dari Fatimah selain Hasan dan Husain). lalu bagaimana dengan saudara lain Fatimah azzahra yang menikahi sahabat lain? Ustman bin Affan ra sendiri menikahi putri nabi yang lain hingga dijuluki dzun nur (2 cahaya)? Mereka (Para Isteri Rasul s.a.w dan puteri Rasul s.aw. selain Fatimah r.a.) berada dalam kebaikkan namun tidak masuk ahlul kissa sebagaimana telah disampaikan Rasul s.a.w melalui hadis yang diriwayatkan dari ummu salamah bahwa ahlul Kissa (Fatimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain) adalah ahlul bayt sedang ahlul bayt sebagaian lain bukan Ahlul Kissa (Isteri dan kerabat lain Rasul saaw). Allah s.w.t berfirman dalam Alquran (kandungan) bahwa yg berada disisi nabi mengikuti islam secara sempurna merupakan umat terbaik yang dinyatakan Allah s.w.t, diantara mereka jika kita pilah ada 2 yaitu ahlul bayt dan sahabat. Disurah Alahzab 33, Allah s.w.t mensucikan Ahlul bayt nabi saaw dari noda dan dosa sesuci-sucinya. dilihat secara umum mereka disisi Rasul saaw diberi kemuliaan dan kadar tertentu masing-masing oleh Allah s.w.t, Ahlul bayt dengan kemuliaannya dan sahabat dgn kemuliaannya sendiri. Diantara para sahabat ada menonjol kemuliaan segi ahli pencatatan AlQur'an, penghafal hadist, ada yang terpercaya, ada yang dermawanan, ada yg tegas dan keras dan ada pula yang mulia segi nasab dekat dengan Rasul saaw dan Imam Ali memiliki kemuliaan itu (segi nasab). Pertanyaan yang perlu direnungkan dengan akal fikiran dan hati yang bersih yaitu Mengapa Rasul s.a.w menjadikan Imam Ali kw pendamping Fatimah ra? Mengapa pernikahan putri bungsu Rasul saaw berbeda dengan saudarinya yang lain. Pijakan pembahasan yang mendasari pernikahan kaffa sekarang ini tak lain adalah diambil dari pernikahan Fatimah albatul ra dengan Imam Ali kw. Peristiwa pernikahan Imam Ali kw dan Fatimah Azzahra adalah pernikahan sayyid-syarifah pertama, mengapa tidak, terdapat sejumlah hadist-hadist yang menunjukan bahwa mereka berdua ra merupakan sayyidina dan sayyidatuna pada zaman itu.&lt;br /&gt;Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Rasulullah saaw "Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang paling engkau cintai aku atau fatimah?" Beliau saaw mejawab, "Bagiku engkau lebih mulia daripada Fatimah, dan Fatimah lebih aku cintai daripada kamu" (Dinukil Kitab as-sammadi dalam buku Fatimah Az-zahra Ummu Abiha Dr. Taufik Abu 'Alam Al Mishri&lt;br /&gt;Al Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak sanadnya dari Jami' Ibn Umar. Ia berkata :"Aku bersama ibuku menemui Aisyah. Aku mendengarkan perkataannya dibalik tirai. Ibuku bertanya kepadanya tentang Ali. Aisyah menjawab, "Engkau bertanya kepadaku tentang seorang laki-laki. Demi Allah s.w.t, aku tidak tahu kalau ada laki-laki lain yang lebih dicintai oleh Rasulullah saaw daripada Ali. Dan dimuka bumi ini tidak ada perempuan yang sangat dicintai Rasulullah saaw kecuali Fatimah".&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra diriwayatkan bahwa ia berkata: Rasulullah saw bersabda, " Ada satu malaikat yang tidak pernah mengunjungiku. Ia memberi kabar gembira kepadaku bahwa Fatimah adalah penghulu kaum wanita umatku"&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas ra : "Pada suatu hari aku menyaksikan Rasul s.a.w membuat empat garis diatas tanah sambil berkata : "Wanita-wanita yang paling mulia disurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asia isteri Fir'aun…" (Dinukil buku Riwayat Hidup Sitti Fatimah Azzahra r.a H.M.H Al Hamid Al Husaini.&lt;br /&gt;Rasul s.a.w pernah berkata kepada puterinya : "Hai Fatimah, sesungguhnya Allah s.w.t marah karena kemarahanmu dan ridha karena keridhoanmu" (At-Thabriy, halaman 30, 39, 40 dan 42&lt;br /&gt;Hadis Riwayat Imam Ahmad rhm dan imam Hakim rhm berasal dari Musaawwar bin Makhramah ra, menyatakan bahwa Rasul s.a.w bersabda: "Fatimah adalah bagian dari diriku, siapa yang membuatnya marah akan membuatku marah, dan siapa yang menyenangkan dan melegakannya akan menyenangkan dan melegakanku. Sesungguhnya bahwa semua nasab akan terputus pada hari kiyamaat; kecuali nasabku dan sababku" (tela'ah kitab masnad imam Ahmad dan Masnad Al-Hakim).&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Jika kita membaca sejarah Nabi s.a.w bersama Ahlul bayt terutama masalah pernikahan sayidatuna Fatimah Al-batul ra, kita dapat melihat kehati-hatian Rasulullah s.a.w dalam memilih calon suaminya, Karena beliau sendiri mengetahui anugerah Allah s.w.t pada puterinya tercinta sebagai seorang wanita yang sedemikian tinggi martabat dan kedudukannya dilkalangan keluarga Nubuwah. Siapakah di antara para sahabat terkemuka atau kaum muslim yang terpandang, yang tidak ingin memperoleh kemuliaan menjadi teman hidup dan sekaligus menantu Rasul s.a.w. Setiap tokoh dan para sahabat yang mulia silih berganti menghadap Rasul s.a.w untuk mengemukakan keinginan mereka untuk mempersunting puteri beliau. Bahkan Abubakar Ash-Shiddiq r.a, Umar bin Khattab r.a, yang paling dekat dengan Rasul s.a.w dan para sahabat lain segi ilmu agama, harta benda maupun kedudukan yang terpandang sangatlah tinggi ikut mengajukan lamaran untuk memperistrerikan Sitti Fatimah r.a, Akan tetapi beliau hanya berkata : "Belum tiba suratan takdirnya" itu dikarenakan setiap sahabat yang melamar tidak sepadan dengan Fatimah r.a. segi keutamaan nasab. Coba kita renungkan apakah penolakan Rasul s.a.w pada mereka, menyebabkan mereka mencerca dan mengkritik Rasul s.a.w? Apakah keluar dari mulut sahabat yang mulia ayat AlQur'an yang artinya: "Sesungguhnya yang termulia diantara kalian dalam pandangan Allah s.w.t ialah yang paling bertakwa" (Al-Hujurat ayat 13)? Mengapa engkau menolak lamaran kami? Bukankah kami mengikutimu dan bertakwa pada Allah s.w.t? Apakah kita menemukan sejarah dimana para sahabat mengingatkan kembali kepada beliau s.a.w. tentang sabdanya menyatakan "Semua kaum Muslim adalah saudara, tak ada yang lebih afdhal dari yang lain kecuali karena takwa?"Tiada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam (bukan arab), dan tiada kelebihan orang ajam atas orang arab kecuali karena takwanya. Para sahabat begitu memahami hikmah penolakan Rasul s.a.w dalam masalah Fatimah r.a hingga mereka tidak pernah mengkritik penolakan Nabi s.a.w bahkan berlapang dada. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Demikian pula Asalafuna-asholihun tidak ada yang berbuat demikian apalagi menganjurkan pernikahan sayyid dengan bukan syarifah ataupun sebaliknya. Karena mereka semua mengetahui banyak Hadis Nabi yang menekankan kewajiban bagi seorang muslim untuk menghormati, menjaga dan memelihara hubungan nasab seseorang dengan Nabi Muhammad S.a.w. "Jagalah kehormatanku didalam perihal sahabat-sahabatku dan orang yang bersambung kefamilian denganku. Barang siapa menjaga aku dalam hal tentang mereka. Allah s.w.t akan melihatnya didunia dan diakhirat (dengan pandangan Rahmat). Dan barang siapa tidak menjaga kehormatanku dalam hal tentang mereka itu. Maka Allah s.w.t akan membiarkannya (jauh dari pandangan Rahmat). Dan barang siapa dibiarkan Allah s.w.t, kelak tentu akan ditindak oleh Allah s.w.t (HR Al-baghawi dari iyadh Al-Anshori ra Jami'us Shogir 267)". Merekapun mengetahui apa yang Rasul lakukan bukanlah atas dasar hawa nafsunya dan ashobiah (suku). Bahkan mereka mengetahui padanan Fatimah r.a adalah Ali bin Abi Thalib hingga mendorongnya untuk melamar puteri Rasul s.a.w. Para sahabat dan salafus sholihin adalah umat terbaik dan orang mulia dan bertakwa dan mereka memuliakan orang mulia disisi Rasul. Ketika dalam majlis Rasul saw kedatangan Imam Ali k.w. Abubakar berusaha memberikan tempat duduk yang berdekatan dengan Rasulullah s.a.w sebagai penghormatan kepada Imam Ali k.w. Dikala itu tidak ada yang bersedia memberikan peluang untuk duduk. Rasulpun bersabda: "Sesungguhnya orang yang mengenal kepada orang mulialah termasuk orang mulia.(Al-Hadist). Beliau saw menerima lamaran Imam Ali k.w karena Imam Ali kw sepadan segi ilmu, nasab dan kedudukan dengan puteri beliau. Pernikahan Fatimah r.a dan Imam Ali k.w bukan atas dasar hawa nafsu dan ashobiyah dari Rasulullah s.a.w tetapi melainkan wahyu. Anas bin Malik berkata, "Aku pernah disamping Rasulullah ketika suatu wahyu turun kepadanya. Kemudian beliau berkata padaku, Wahai Anas, tahukah engkau apa yang disampaikan malaikat Jibril kepadaku?' Aku balik bertanya,'Demi ayah dan ibuku, apa yang disampaikan Malaikat Jibril?' Rasulullah s.a.w menjawab.'Jibril berkata kepadaku,'Sesungguhnya Allah s.w.t memerintahkanmu untuk menikahkan Fatimah dengan Ali. Kemudian Rasulullah berkata lagi panggilah Abubakar, Umar, Ustman, Talhah, Zubayir dan kaum Anshar.' (Dinukil dari buku Fatimah az-zahra umu Abiha dr Taufik Abu Alam Al-Mishri halaman 137). Bukankah bagi pemuda, Rasul s.a.w bersabda nikahilah karena 4 hal yaitu agama, keturunan, kecantikan dan kekayaan dan menekankan keutamaan agama. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Prioritas utama agama memang merupakan keharusan, namun kita lihat Rasulullah saw mencontohkan pernikahan puteri beliau s.a.w, walaupun banyak para sahabat sholeh dan utama dalam masalah agama namun beliau s.a.w menerima Imam Ali kw. Hal itu karena kemuliaan nasab Imam Ali kw sendiri yang dekat dengan Rasul s.a.w. dibanding sahabat lain. Bukan berarti hal tersebut merendahkan sahabat Nabi yang lain tapi sesungguhnya mereka dalam kemuliaan sesuai kadarnya disisi Allah s.w.t dan Nabi s.a.w dan Imam Ali kw memiliki kemuliaan itu segi nasab selain kesalehan. Sesuai Hadis Nabi ada empat wanita yang mulia yaitu Asia isteri Firaun, Khadijah isteri Nabi, Maryam ibu Nabi Isa dan Fatimah putri beliau. Kemuliaan mereka sesuai kadar yang di berikan Allah s.w.t dan ada kesamaan sitti Maryam dengan Fatimah mengenai penasaban yaitu anak Maryam dinisabkan pada Maryam begitu pula Fatimah. Bukan cuma satu hadist yang menyatakan hal ini tapi masih banyak hadis lain yang sahih. Adapun beberapa Hadis mengenai ini:&lt;br /&gt;Hadis riwayat Al-Imam Ahmad rhm oleh Assyuyuthiy "Kitab Al-jami'il Kabir" Rasulullah saaw bersabda : "Semua anak yang dilahirkan oleh ibunya bernasab kepada Ayah mereka, kecuali anak-anak Fatimah akulah wali mereka akulah Nasab mereka dan akulah Ayah mereka".&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bahwa semua nasab akan terputus pada hari kiyamaat; kecuali nasabku dan sababku"(tela'ah kitab masnad imam Ahmad dan Masnad Al-Hakim).&lt;br /&gt;Bahwasanya Allah s.w.t a'ala menjadikan turunanya tiap-tiap Nabi disulbinya dan Allah s.w.t menjadikan Turunanku disulbinya Ali bin Abi Thalib (Suami Fatimah r.a)&lt;br /&gt;"Tiap-tiap anak turunanya seorang perempuan maka turunan mereka itu dari ayah-ayah mereka itu kecuali anak turunanya putriku Fatimah maka akulah wali mereka dan akulah Ashabah mereka dan akulah ayah mereka itu.".&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Maka dari itu berkata syaikh Fakhruraazie didalam tafsirnya demikian: "Bahwasanya anak cucu sayyidatuna Fatimah dan anak keturunan mereka itu dinamakan anak Turunannya Rasulullah s.a.w dan dinisbahkan mereka itu kepada turunan yang sahih lagi bermanfaat didunia dan akhirat.". Demikian pula dalam kitab Tuhfat Syeikh Ibnu Hajar yang menyatakan : "Karena sesungguhnya dari keistimewaan/kekhususan yang ditentukan Allah s.w.t ta'ala bagi Nabi s.a.w. Bahwasanya anak turunan dari putrinya dinisbahkan kepada beliau s.a.w.Didalam perkara kufu dan lainnya sebagaimana telah disahihkan oleh sekalian ulama". Dari kitab "Masyariqil Anwaar" tertulis " sekiranya sebagian orang yang tidak mengerti itu ingkar nasabahnya Sayidinal Hasan dan Husain serta anak cucu keduanya bertalian kepada Rasulullah s.a.w maka niscaya mereka itu mendapat dosa besar yang wajib mendapat siksaan Allah s.w.t adanya". Sebenarnya dalam mencarikan suami bagi Fatimah azzahra ra tidaklah sulit bagi Nabi s.a.w karena umat saat itu adalah umat yg terbaik, banyak para sahabat yang saleh berilmu dan mulia namun ditolak halus nabi, ada apa gerangan dibalik itu? Kitapun telah mengetahui sikap para sahabat sedemikian rupa menghormati nasab Rasul s.a.w lalu mengapa kita sebagai orang awam yang baru lahir diakhir zaman berani mengomentari dan mengkritik para Ulama yang mendukung dan mewajibkan pernikahan anak cucu Rasul s.a.w dalam rangka mengikuti sunnah yaitu menikahkan sayyid dan syarifah seperti yang dilakukan Rasul s.a.w terhadap Fatimah r.a dan Imam Ali k.w? Jika kalau ada diantara kita yang mengatakan bahwa berbeda antara pernikahan Fatimah r.a dan Imam Ali k.w dengan penentuan pernikahan kaffa sayyid dan syarifah, maka mari bersama-sama kita telah lebih lanjut segi genetika hingga kita mengetahui sesungguhnya hukum pernikahan kaffah berasal dari suri tauladan Rasul s.a.w dalam menikahkan puterinya Fatimah r.a dengan Imam Ali k.w. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Genetika memiliki kemampuan mewarisi sifat-sifat segi fisik dan tabiat manusia. Jika seorang arab baduwi memiliki isteri dari kalangannya maka genetika suami isteri tersebut menurun pada anaknya hingga yang terlahir adalah anak baduwi juga. Begitupula seorang suami dan isteri berkebangsaan eropa pasti memiliki anak berkarakteristik eropa bukan asia, negro atau arab. Sapi bali yang dikawinkan dengan sejenisnya pasti melahirkan anak-anak sapi bali bukan sapi brahmana. Begitupula suami isteri Ahlul bayt rasul s.a.w yang pertama yaitu Fatimah r.a. dan Imam Ali k.w akan memiliki anak cucu keturunan Ahlul bayt oleh karena Rasul s.a.w menjaga dan memeliharanya.Oleh karena itu untuk melestarikan anak cucu Rasul s.a.w seyogyanya kita wajib menikahkan sayyid dan syarifah sebagaimana perbuatan Rasul s.a.w memilihkan Fatimah r.a seorang yang kuffu dari ahlul baytnya yaitu Imam Ali k.w agar kelestarian genetika Rasul s.a.w terjaga. Hikmah pernikahan yang dicontohkan Rasul s.a.w terhadap Ahlul baytnya pada anak cucu beliau s.a.w saat ini yaitu selain kriteria agama diharuskan juga segi nasab keturunan (manfaat dalam bidang genetika). Apakah tidak baik kalau kita mengikuti Rasul saw dalam masalah pernikahan Imam Ali dan fatimah azzahra? Apakah kita tidak perlu mengikuti beliau s.a.w (dengan menikahkan para anak-cucu Rasul saaw sebagaimana Rasul menikahkan mereka ra) sedang Rasul s.a.w contoh teladan dan inilah yang diikuti Saadah baalwi dihadramaut dalam memelihara keturunan Nabi saaw. Penjelasan mengenai genetika itu sendiri akan dijelaskan dalam bab selanjutnya Allah s.w.t hanya memuliakan segi nasab dua wanita ini penyambung keturunan secara non alamiah nasab jalur ayah (Sitti Maryam dan Fatimah Az-zahra) sedangkan anak Fatimah yaitu para syarifah telah ditetapkan sesuai sunnah alamiah yaitu nasab segi ayah bukan lewat ibu, jika ada yang menanyakan hal ini cukup Nabi Isa as dan ibunya dalam Al-Qur'an bukti kekuasaan Allah s.w.t menghendaki hal yang tidak alamiah sebagai bukti selain pensaban anak cucu Fatimah azzahra terhadap Rasul s.a.w. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Dahulu kala dizaman sahabat dan tabi'in pernikahan kaffa'ah ini tidak begitu dipermasalahkan karena mereka sangat menghormati dan memuliakan cucu Rasulullah saaw hingga mereka berijtihad berdasarkan Al-Qur'an dan hadis mengenai kaffaah dan melarangnya seperti halnya Imam syafi'I rhm, Imam Ahmad bin Hambal rhm, Imam Abu Hanifah rhm namun ada juga yang membolehkan masalah yaitu Imam Malik dan sebagian penganut mazhab Jafariah dan zaidiyyah. Mereka sangatlah obyektif dan menghormati anak cucu Rasul saaw walaupun mereka bukanlah dari kalangan anak cucu Rasul saaw baik Imam Abu Hanifah rhm maupun Imam Syafi'I rhm. Sedangkan pengabaran sebagian ulama bahwa Imam Ahmad rhm termasuk salah seorang anak cucu Rasul saaw. Seklumit mengenai Imam Syafi'i rhm dia bukan seorang sayyid namun ibunya seorang syarifah ayahnya non sayyid. diceritakan ayah Imam Syafi'i dahulu alim dan sholeh dia mengembara ketika itu dia tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan maka dia mengambil buah disungai dan memakan, karena sikap wara'nya beliau menginginkan kehalalan dari pemilik buah beliau menelusuri sepanjang sungai hingga suatu lembah ditemukan rumah yg terpencil seorang ayah dan putrinya yang belum menikah mereka cucu Rasul s.a.w. karena terpencilnya daerah itu maka untuk melaksanakan sunnah Rasul s.a.w. seorang sayyid menikahkan anaknya dengan pemuda yang menjadi ayah imam Syafi'i. Segala sesuatu yang darurah maka diperbolehkan jika keluarga itu tinggal ditengah masyarakat kaum sayyid yang sholeh niscaya ayahnya akan menikahkan putrinya dengan sayyid Imam Syafi'i yang mengetahui keadaan orang tuanya, sangat menghormati ibunya selain sebagai ibunya sekaligus seorang cucu Rasul s.a.w, bahkan ketika beliau telah menjadi ulama masyhur yang mengajar ditempat yang banyak keturunan anak cucu Rasul saaw, ada seorang syarifah yang menginginkan agar Imam Syafi'i menikahinya, namun Imam Syafi'i ra sambil bersedih menolaknya dan mengatakan bahwa beliau sangat malu jika bertemu dengan Fatimah Az-zahra ra diakhirat kelak. Imam Syafi'i ra memfatwakan pelarangan syarifah menikahi non sayyid untuk mengarahkan sayyid dan syarifah tetap pada jalurnya dalam rangka memuliakan dan menghormati beliau s.a.w. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Berbicara masalah aqli (logika) maka jika kita mau lihat dengan hati dan logika yang benar maka manfaatnya pernikahan sayyid dan syarifah lebih bermanfaat dan sedikit mudharatnya kecuali jika kita melihat dengan logika yang kurang baik dan hawa nafsu. Allah s.w.t melindungi akal kita dengan ilmu agama dan hati. Sebelum pembahasan lebih lanjut kita akan membahas seklumit tentang genetika untuk memudahkan pemahaman kita mengenai pernikahan kaffah. Genetika manusia sangat dihargai Al-Qur'an bahkan tentang kejadian sperma dan ovum tentang pencampurannya, masa embrio dirahim dan kelahiran bayi jelas dalam Al-Qur'an antara lain terdapat pada surat Ar-Rahman silahkan merujuk pada buku yang berjudul Kelahiran menurut prespektif Al-Qur'an dan hadis segi kedokteran karya dr Ali Muhammad Al-barr ,mekkah. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia mahkluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah s.w.t, Pencipta Yang Paling Baik. (Surat 23 ayat 12-14). Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari anatar tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah s.w.t benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati) (surat 86 ayat 5-8) Dalam kebanyakan organisme multisel, kedua kelamin terpisah dalam dua individu yang berbeda, yakni jantan dan betina. Sel-sel kelamin disebut gamet; sel kelamin jantan disebut spermatozoa; sel kelamin betina disebut telur (ovum). Kesatuan kedua sel tersebut disebut zigot. Proses perpaduan itu disebut pembuahan. Separuh kandungan zigot berasal dari ibu yaitu ovum dan separuh lainnya dari Ayah yaitu sperma. Dengan demikian, Individu baru yang dihasilkan mewarisi sifat keturunan dari kedua orang tuanya dan leluhurnya. Hukum hereditas pertamakali dikemukakan oleh Mendel 1866 dalam artikelnya experiments with Plant Hybrids. Hukum dasar genetika sempat terabaikan hingga morgan pada tahun 1912 menemukan kromosom dan perananya terhadap pewarisan sifat keturunan. Al-Qur'an mengemukakan teori genetika dan embrio sebagai berikut: epigenetika, dimana nutfah amsyaj (zigot), berkembang menjadi alaqah (sesuatu yang melekat dirahim) kemudian menjadi mudigah (tahap somit). Somit kemudian berdifrensiasi menjadi tulang dan otot yang menutupi tulang. Kemudian embrio manusia dibentuk kembali. Maha suci Allah s.w.t, sebaik-baik pencipta. Pra pembentukan, dimana cirri-ciri dan sifat manusia yang akan dating telah ditentukan didalam gamet laki-laki dan wanita. Leslie arey didalam development anatomy menyatakan :"Pandangan sekarang tentang permasalahan ini adalah bahwa perkembangan pada hakekatnya adalah preformasional mengenai gen dan pengaruh keturunan, tetapi epigenetic dalam aktifitas konstruksional actual."semua embriologi sepakat fakta ini: Keith Moore; Hamilton; Boyd dan Mossman; jan langman; bradely pattern. "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah s.w.t menciptakannya? Dari setetes mani, Allah s.w.t menciptakannya lalu menentukannya. (Surat Abasa 17-19). &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Seorang Arab baduwi menceritakan kepada Nabi bahwa isterinya telah melahirkan seseorang anak laki-laki yang berkulit hitam padahal istrinya dan anaknya tidak hitam, sehingga dia bermaksud menolak anak itu. Nabi bertanya kepadanya: "Kamu punya unta?" Orang itu mengatakan: "Ya". Nabi bertanya: "Apa warnanya?" Dia mengatakan: "Kuning kemerah-merahan." Nabi bertanya: "Apakah ada yang kehitam-hitaman diantara mereka?". Orang itu mengiyakan. Nabi kemudian bertanya kepada orang itu: "Bagaimana dia memiliki warna semacam itu?" Orang itu mengatakan: "Bagaimanapun juga, warna itu pasti telah diwarisi." Nabi mengatakan: "Kalau begitu, anakmu mungkin telah mewarisi warna kehitam-hitaman dari leluhurnya" (HR Bukhari Muslim). &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Al-quran dan Hadis Nabi, sebagaimana ditunjukan diatas dengan jelas menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan Hadis menyebutkan fakta ilmiah mengenai hukum pewarisan yang diekspresikan oleh genetika yang berada pada sperma dan ovum dari lelaki dan wanita. Sungguh mengherankan mendapati Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad s.a.w telah membicarakan masalah reproduksi dan genetika. Rasul s.a.w pernah berbicara tentang faktor genetika dan menjelaskan kepada seorang arab bahwa ketika nutfah berada dirahim, Allah s.w.t menentukan hubungan genetiknya dengan leluhurnya hingga kepada Adam (Ibn Jarir ath-Thabari dan Ibn Abi hatim). Beliau s.a.w mengatakan kepada seorang arab baduwi lainnya yantg mengadukan bahwa isterinya melahirkan seorang bayi yang berkulit hitam, padahal kedua orang tuanya tidak berkulit hitam. Tanggapan beliau s.a.w adalah bayi tersebut mungkin mewarisi warna kulit dan leluhurnya (diriwayatkan oleh bukhari, Muslim, Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu dawud, Ahmad ibn Hambal dan Daruqthuni). Pria memiliki gen XY (Kandungan spermatozoa) sedang wanita memiliki XX (kandungan dalam ovum). Keistimewaan yang diberikan Allah s.w.t s.w.t pada pria yaitu kaum pria memiliki gen Y khusus tidak dimiliki wanita dan dalam gen itulah terdapat gen pembawa nasab yaitu gen holandrik, Dimana dari dalam diri Nabi Adam sampai didalam tubuh kita masih sama. Gen itu terdiri dari asam amino yang terdiri dari sugar deoxy-ribosa, phosphate dan basa (purin yaitu adenine dan guanine, pirimidine Thimine, citocyne, urasine) berangkai tersusun dalam peta genom, menentukan:&lt;br /&gt;                    Menentukan pewarisan bentuk fisik (perkembangan model wajah, telinga, tangan),&lt;br /&gt;                    Sifat-sifat penyakit (Trisomi, mongoloid, Diabetes Melitus, Hipertensi dsb) yang dapat menurun&lt;br /&gt;                    Dan sifat-sifat baik dan buruk tabiat manusia kelak.&lt;br /&gt;                    Gen bisa memiliki karakteristik dominant dan resesif ketika terjadi pembentukan zigot ayah dan ibu. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Jikalau gen ayah Dominant berarti dalam menjalankan proses pertumbuhan dan perkembangan maka gen dominant ayah berekspresif dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sedang gen ibu lebih banyak inaktif, begitupula sebaliknya. Pembahasan lebih dikhususkan pada fungsi ketiga dan keempat yaitu sifat dan tabiat serta dominant dan resesif. Ditinjau segi fungsinya maka gen memiliki kemampuan storage (penyimpan) sifat dan tabiat, copy (menyalin sifat dan tabiat) ketika melakukan aktifitas mitosisi dan miosis dan sebagai ekspresif ketika gen berkembang. Holandrik, gen penentu nasab pun memiliki kemampuan ekspresif membawa sifat dan tabiat manusia kelak. Perlu kita ketahui berdasarkan ilmu genetika bahwa sifat dan karakteristik setiap gen yang terdapat pada manusia bisa berubah saat melakukan ketiga fungsi tersebut (istilah kedokterannya mutasi) oleh pengaruh lingkungan, baik lingkungan material maupun spiritual. Pengertian lingkungan material disini yaitu segala sesuatu yang diindrai dan bersifat fisik yaitu mata berfungsi untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk menghidu/penciuman, mulut uintuk pengecapan dan kulit untuk perabaan/merasa ketika kontak dengan material lainnya. Sedang lingkungan tak bisa diindrai itu berupa hati, hawa dan nafsu dsb. (walaupun gen sifat dan tabiat baik bersifat dominant, atau gen non dominant dan non resesif baik dan buruk sama ataupun bahkan gen dominant semua buruk) namun bisa bermutasi sesuai dengan kondisi dan keadaan lingkungan, bisa saja seseorang memiliki gen dominant baik namun terlahir disuatu tempat yang buruk maka sifat dan tabiatnya menjadi buruk, karena lingkungan mampu bersifat dominant hingga gen baik dominant bisa inaktif bahkan mengakibatkan gen buruk yang bersifat resesif lebih aktif dalam hal ekspresif dan mempengaruhi manusia sebagai pemiliknya. begitu pula gen dominant sifat dan tabiat buruk namun terdapat pada lingkungan dominant yang baik maka bisa saja berubah. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Adapun perubahan itu tergantung berapa besar kualitas dan berapa lama intensitas orang itu terpapar oleh lingkungan dalam merubah ekspresif gennya. Namun gen dominant baik yang inaktif hingga menyebabkan gen resesif buruk berekspresif kuat hingga menjadikan pemiliknya buruk oleh lingkungan jika diperbaiki maka lebih mudah dan cepat untuk kembali baik (karena gen baiknya dominant tinggal dipicu untuk berekspresif hingga menekan kembali gen resesif) jika dibandingkan dengan memperbaiki dan memicu ekspresif gen baik resesif yang berkumpul dengan gen dominant buruk. Dalam beberapa hadis banyak menyatakan keutamaan dan kemuliaan Rasulullah s.a.w. Beliau s.a.w adalah manusia pilihan diantara pilihan. Allah s.w.t menciptakan Nabi Adam dan diantara cucunya Nabi Syid terpilih selanjutnya terpilih Nabi Nuh dan terus ke Nabi Ibrahim ke Nabi Ismail ke Adnan ke Abdi manaf ke Hasyim ke Abdul muthalib ke Abdullah dan akhirnya terekspresi dalam diri Rasul s.a.w. Segi islam dikatakan Rasulullah s.a.w manusia pilihan antara pilihan dan hal itu sejalan dengan teori genetika bahwa gen yang turun dari Nabi Adam hingga ke Nabi saaw merupakan bibit unggul, kandungan asam amino yang suci, gen yang tersaring dan terseleksi. Ekspresi genetika yang buruk secara alamiah inaktif bahkan bisa dikatakan tak berfungsi lagi hingga terbuang oleh seleksi alam sedang gen dominan yang unggul dan baik terhimpun pada jiwa Nabi s.a.w. Itulah hikmah kenapa Rasul s.a.w ditakdirkan bukan pada awal zaman. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Dikarenakan Allah s.w.t Yang Maha Berilmu melakukan ketentuan alamiahnya dengan menghimpun genetika dominant baik dan suci pada diri Rasulullah s.a.w dan menginaktifkan gen resesif bahkan tidak berfungsi, hingga dapat disimpulkan genetika Rasul s.a.w dalam hal pewarisan bentuk fisik (perkembangan model wajah, telinga, tangan) sempurna. Lihatlah ekspresif genetika dalam bentuk fisik dimana berbagai riwayat sahabat melukiskan ketampanan wajah rasul s.a.w, perwakan tubuh yang sempurna, tinggi badan proposional mantap. Al-fakir hanya paparkan dua dari berbagai hadis yang ada : Anas bin Malik ra pernah bercerita tentang bentuk tubuh Rasulullah sbb : Adalah Rasul s.a.w mempunyai bentuk tubuh tidak tinggi, tidak pula pendek, serta bentuk tubuh bagus. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kakuu dan kehitam-hitaman warnanya. Bila beliau berjalan, maka jalannya cepat" (HR Hamid bin Mas,adah al bashri dari Abdul Wahab ats tsaqafi dari Hamid dari Anas bin Malik r.a) Adalah Rasulullah s.a.w seorang pria yang berperawakan sedang, bahunya bidang. Rambutnya yang lebat mencapai daun telinganya. Bila beliau mengenakan pakaian berwarna merah, tiada seorangpun yang pernah aku lihat yang lebih tampan darinya. Untuk lebih jelas baca buku Keagungan Nur Muhammad s.a.w Rahmatan Lil'Alamain oleh Ust MA. Asyharie PT Terbit Terang Surabaya. Selain itu genetika rasul s.a.w tidak terdapat berbagai penyakit-penyakit berhubungan dengan keturunan. Ekspresif gen yang sempurna itupun menjadikan rasul s.a.w jenius dan memiliki pemikiran cemerlang dalam menghadapi berbagai hal, sifat dan tabiat 100% dominant gen sifat dan tabiat baik. maka segi kacamata kedokteran terlihat ekspresi gen Rasulullah s.a.w sejak kecil hingga dewasa selalu menampakan kemuliaan cahaya yang suci sedang gen buruk berupa hawa (kecendrungan buruk) dan nafsu yang buruk pada diri Nabi s.a.w sudah inaktif bahkan hilang hingga yang tinggal pada diri Rasul s.a.w adalah hati yang suci dan nafsu mutmainnah. Al-fakir berkesimpulan dari teoritas genetika bahwa Rasul s.a.w memiliki gen sempurna 100%. Alfakir menyebutnya Superior-perfect Holy gene disingkat S-P-H Gene yang telah terhimpun didalam diri Nabi s.a.w. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Kita ketahui pula lingkungan dapat mempengaruhi dan meubah ekspresi genetika lewat penglihatan, pendengaran, makanan, minuman, dsb. Karena lingkungan dapat berpengaruh terhadap S-P-H gene maka sejak beliau s.a.w kecil Allah s.w.t memberikan pertolongan dan perlindungan diri beliau s.a.w sekaligus S-P-H gene beliau s.a.w menyebabkan beliau terhindar dari segala pengaruh menyembah berhala, maksiat dan berahklak buruk. Beliau sendiri pun menjaga S-P-H gene yang dianugerahkan Allah s.w.t kepada beliau s.a.w dengan jalan bertafakur melihat berbagai tanda kebesaran Allah s.w.t s.a.w, berkhalwat menyendiri digua hira menghindari segala pengaruh jelek penduduk makkah (yang nota bene bisa memutasikan gene pembawa sifat dan tabiat beliau s.a.w), shalat dan puasa. Yang pada akhirnya kemudian S-P-H Gene ini terpancar dari jiwa yang suci dan bercahaya Nabi s.a.w hingga pada akhirnya beliau s.a.w siap menerima wahyu suci dari Allah s.w.t saat berumur 40 tahun dan ditugaskan memikul tanggung jawab berat mengajak Umat memeluk agama Islam.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Hal inipun telah disampaikan &lt;em&gt;Al-Habib AlQuthb Ali bin Muhammad Al-Habsy dalam untaian mutiara beliau yaitu simtot dhuror&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Sampai pada suatu hari&lt;br /&gt;                    Ketika sedang mengembala domba&lt;br /&gt;                    Datang kepadanya beberapa malaikat&lt;br /&gt;                    Membawa penghormatan khusus baginya&lt;br /&gt;                    Yang keberkahannya meliputi seluruh umat manusia.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Mereka membaringkannya dengan hati-hati&lt;br /&gt;                    Lalu membelah dadanya dengan lemah-lembut&lt;br /&gt;                    Dan mengeluarkan apa yang mereka keluarkan&lt;br /&gt;                    Lalu menyimpan rahasia ilmu dan hikmah kedalamnya&lt;br /&gt;                  "Tiada suatu kotoran menganggu&lt;br /&gt;                    yang dikeluarkan malaikat dari hatinya&lt;br /&gt;                    tapi mereka menambahkan kesucian di atas kesucian…"&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Dalam pada itu&lt;br /&gt;                    Beliau tetap dalam kekuatan dan ketabahan hati&lt;br /&gt;                    Menyaksikan tanda-tanda kebesaran kuasa ilahi&lt;br /&gt;                    Yang dialami dalam dirinya sendiri&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(simtut dhuror hal 23 putera Riyadh)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Segi ilmiah kemungkinan yang para malaikat keluarkan dari dalam tubuh Rasul s.a.w bukanlah gen buruk / kotoran. tapi hanyalah secuil pengaruh-pengaruh lingkungan masa kanak-kanak yang ditempu beliau bersama keluarga dan lingkungannya hingga beliau s.a.w berbeda dengan anak-anak sebayanya. Perbedaannya yaitu dimana ketika saat umur tersebut anak-anak lain cendrung untuk bermain dan berkumpul serta berbagi keceriaan tapi beliau s.a.w saat kanak-kanak sering duduk diatas bukit untuk berfikir dan merenung tanda-tanda kebesaran Allah dilangit dan dibumi. "Tiada suatu kotoran menganggu yang dikeluarkan malaikat dari hatinya tapi merka menambahkan kesucian di atas kesucian…" menunjukkan bahwa memang dalam diri Rasul s.a.w sudah tidak ada gen buruk, tidak ada kecendrungan-kecendrungan dihati dan fikiran Rasul s.a.w untuk melakukan hal yang tidak baik, yang diibaratkan sebagai kotoran. Dikarenakan Allah s.w.t sejak awal menjaga genetika/cahaya dari sulbi kesulbi setiap Rasul dan Nabi hingga beliau s.a.w terlahir kedunia. Berbeda dengan manusia lain yang pada umumnya terlahir memiliki gen buruk apakah dominant maupun resesif oleh karena perilaku dan tingkah laku buruk para leluhur mereka yang masuk lewat penglihatan, pendengaran, makan dan minuman serta perilaku mereka dan terekam diotak, terakumulasi didalam gen mereka yang memiliki kemampuan menyimpan dan diwarisipada anak cucunya. Adalah sifat alamiah manusia biasa jika diberikan anugerah yang berlebihan maka mereka lupa daratan, berbangga diri dan merasa sombong namun berbeda dengan Rasul s.a.w, beliau tetap tawadhu dan rendah hati ketika menyadari bahwa didalam dirinya terdapat sebuah cahaya dan dirinya pilihan Allah s.w.t sebagaimana tersirat dari syair Dalam pada itu Beliau tetap dalam kekuatan dan ketabahan hati. Menyaksikan tanda-tanda kebesaran kuasa ilahi yang dialami dalam dirinya sendiri.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;S-P-H Gene itulah yang disebut Allah s.w.t berupa cahaya yang diturunkan dari sulbi kesulbi, dari Nabi Adam hingga ke Abdullah berpindah rahim suci dari sitti Hawa hingga ke Aminah, bahkan Nabi dalam hadisnya mengatakan bahwa sejak dari Nabi Adam hingga ayahnya Abdullah tidak ada perzinahan melainkan pernikahan, tidak ada pengaruh makanan dan minuman haram yang dapat merusak gen berbeda dengan keturunan lain yang ada dimuka bumi. Imam Ali kw memiliki ekspresi gen yang mirip dengan Rasul s.a.w karena Abdullah dan Abuthalib saudara seibu berbeda dengan saudara lain yang berbeda ibu maka untuk mencari bibit unggul atau genetika yang mengekspresikan kemuliaan seperti diri beliau s.a.w maka Rasul s.a.w menikahkan Fatimah dengan Imam Ali kw agar ekspresi gen Imam Ali kw yang sama sumber dengan Rasul s.a.w akan menampilakan ekspresi gen unggul pada diri anak-anak Rasul yaitu Hasan dan Husain itu telah menjadi ketentuan Allah s.w.t. lalu apa makna dengan kemuliaan ini? Al-fakir berhipotesis bahwa rangkaian peta genom yang terdapat pada diri beliau s.a.w mirip dengan putri beliau, hal ini dijelaskan dalam berbagai hadis dimana ekspresif gen beliau dan puteri tercinta mirip. AlHakim meriwayatkan dengan sanad dari Anas bin Malik yang berkata bahwa suatu hari ia bertanya kepada ibunya tentang sifat Fatimah r.a. Ibunya menjawab: "Fatimah sangat mirip dengan ayahnya Rasulullah s.a.w. Warna kulitnya putih kemerah-merahan, Rambutnya hitam berikal.". &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Dalam kitab Kasyful Ghummah, ummu salamah ra berkata bahwa fatimah adalah wanita yang paling mirip wajahnya dengan wajah ayahnya, Rasulullah s.aw. Aisyah juga berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang menyerupai Rasulullah s.a.w ketika ia berbicara lebih daripada Fatimah. apa arti dari pembahasan panjang lebar genetika secara umum maupun secara khusus yang berkaitan dengan Rasul s.a.w? Dengan ekspresi gen yang alfaqir maksudkan genetika yang mengandung asam amino yang bebas dari hal-hal tidak baik jika terekspresikan pada anak cucu beliau s.a.w, mereka mewarisi akal fikiran yang mudah menerima agama islam, memiliki hati dan ahklak baik. Lihatlah sejak dahulu hingga kini banyak para alim ulama dan waliullah dari keturunan Rasulullah s.a.w baik dari keturunan Hasani ataupun Husaini. Hal itu merupakan penampakan ekspresi gen dari Rasul s.a.w, dan ekspresi ini lebih cepat dibanding gen bukan dari Rasulullah s.a.w dalam memahami ilmu agama, ahklak mulia dll. Tapi wahai kaum sayyid dan syarifah kemuliaan genetika itu tidak menjadikan alat untuk berbangga hati dan berangan-angan tinggi apa lagi sampai menyombongkan dan salah mempergunakan untuk memperturutkan hawa nafsu. Karena kadar kemuliaan itu adalah hanya kendaraan dan sarana untuk bertakwa pada Allah s.w.t, Hubungan nasab tidak menyebabkan kaum sayyid dan syarifah bisa seenaknya bermaksiat dan dibiarkan serta tidak diazab oleh Allah s.w.t, Bahkan mereka diminta pertanggung jawaban yang lebih besar dari manusia lain yaitu amalan mereka sendiri dan tingkah laku dan sifat yang harus dijaga sebagai penghormatan kepada Rasul s.a.w. Ibarat dalam kondisi lalulintas perkotaan maka genetika sayyid syarifah laksana kendaraan yang mewah, besar, bensin terisi penuh dan berkecepatan yang laju untuk mencapai tujuan, sedangkan umat manusia lain pun memiliki genetika sebagai sarana untuk bertakwa bervariasi semisal ada yang pakai becak, sepeda, motor, mobil biasa, bahkan ada yang jalan kaki. Sedangkan AlQur'an dan Hadis dimisalkan peta dan kompas penunjuk jalan. Dari pemilik mobil mewah sampai pejalan kaki harus mematuhi peraturan lalu lintas, walaupun memiliki kendaraan mewah melanggar lalu lintas maka polisi yang bijak tetap akan menghukum tanpa membeda-bedakan kendaraan yang mereka pergunakan, jikalau Sayyid syarifah yang nota bene memiliki fasilitas dan sarana berupa genetika yang mamadai untuk bertakwa pada Allah s.w.t namun melanggar tetap akan diadili oleh Allah s.w.t yang Maha Adil. Jikalau sayyid syarifah yang memiliki kendaraan mewah dan cepat namun tidak tahu menyetir maka akan terjadi kecelakaan. Jika mereka tidak memahami arah tujuan yang dimaksud kompas dan peta maka mereka akan tersesat dijalan dan boleh jadi orang lain yang memiliki kendaraan minim namun memahami tujuan lewat peta dan kompas akan sampai ketempat tujuan. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Hal itu sebagai sesuatu yang diperumpamakan Sayyid syarifah hanya mengandalkan hubungan nasab/ genetika tanpa mempelajari AlQur'an dan Hadis maka mereka tersesat pula sekaligus mempermalukan Baginda Rasul s.a.w sebagai pembawa AlQur'an dan Hadis. Namun jika Sayyid-Syarifah yang telah memiliki kendaraan yang mewah, besar dan berkecepatan tinggi pintar mengemudi dan menguasai kompas dan peta maka mereka akan lebih cepat sampai kepada tujuannya dibandingkan setiap orang yang berusaha lebih keras dari mereka namun memiliki kendaraan terbatas. Selain itu mobil yang besar tersebut bisa mengantar orang lain yang tidak sampai ketujuan dikarenakan kendaraan mereka mogok, kecelakaan ataupun tersesat kehilangan kompas. Itulah tanggung jawab sayyid dan syarifah selain mereka memahami dan mengamalkan AlQur'an dan Hadis, merka juga harus berahklak seperti Rasul s.a.w dan menolong setiap orang untuk bersama-sama bertakwa kepada Allah s.w.t. Hadis Rasulullah s.a.w mengingatkan kerabat beliau s.a.w: Wahai Bani Hasyim: "Janganlah sampai orang lain menghadapku pada hari qiamat nanti dengan berbagai amal shalih, sedangkan kalian menghadapku hanya dengan membanggakan nasab. (Al Hadis) "Barang siapa yang bermalas-malasan amalnya, tidaklah tertolong atau dipercepat naik derajat karena mengandalkan keturunan". (Al Hadist) Diriwayatkan Sufyan Atsauri, beliau berkata : Bahwa Daud At Toi wafat Tahun 165 H, pernah mendatangi Al Imam Ja'afar shodiq, minta pendapat dan nasehatnya, padahal beliau adala seorang Imam Sufi ahli zuhud pada masanya. Daud berkata : Wahai anak rasul Sllah, wahai cucu Nabi, engkau adalah orang termulia, nasehatmu wajib menjadi pegangan kami, sampaikanlah nasehatmu kepada kami. Imam Ja'far Shodiq menjawab : Sungguh aku takut, datukku akan memegang tanganku di hari kiamat nanti dan berkata : mengapa engkau tidak mengikuti jejakku dengan sebaik-baiknya. Demikianlah jawaban beliau pada Daud At-Toi, padahal beliau tidak pernah meninggalkan jejak datuknya. Maka menangislah Daud dan berkata : Ya Allah, Ya Tuhanku jika demikian sifat orang yang berketurunan Nabi, berahklak dan berbudi datuknya, dari Fatimah Zahra, dalam kebingungan, kuatir tidak atau belum sempurna mengikuti jejak Nabi, bagaimana aku, Daud ini bukan keturunan Nabi?" Nasehat Habib Umar Hafidz dimasjid Riyadh solo Haul '98 Putera Riyadi "Janganlah kalian menyia-nyiakan kegiatan yang paling mulia. Kemuliaan kalian terletak pada ilmu yaitu menuntu ilmu dan mengamalkannya. Kalian memiliki 4 atau 5 anak sedangkan kalian kecintaan, cucu atau keturunan salaf, namun tak satupun dari anak-anak itu yang kalian perintahkan untuk mempelajari ilmu nabi kalian: Ilmu Syariat!? Demi Allah, syariat nabi telah tersebar luas, namun kalian tertidur. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Orang lain datang mendahului kalian, merebut keutamaan dan menyenangkan hati Nabi Muhammad s.a.w, sedang kalian hanya memikirkan makan, minum, permadani dan perabotan rumah tangga. Kalian rela melihat orang lain merebuit kursi pewarisan kekhalifaan dan kedekatan dengan Nabi Muhammad s.a.w Ya khasratah alangkah ruginya jika keturunan rasul didahului orang lain! Alangkah ruginya jika keistimewaan itu direnggut mereka.". Dalam hadis Aisyah r.a melihat Rasul s.a.w shalat dengan tekun dan khusuk hingga menangis, kedua kaki beliau bengkak, maka Aisyah bertanya : "Mengapa engkau menangis dan beribadah begitu lama ya Rasul s.a.w sedang Allah telah menghapus dosamu dimasa lalu dan akan datang serta menjaminmu dengan surgaNYA?. Rasul menjawab: "Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur kepada-NYA?" (AlHadis). Jadi karunia Allah s.w.t ini berupa cahaya dari Rasul s.a.w atau genetika Rasul s.a.w, untuk keturunannya bukan untuk dibanggakan ataupun digunakan pada hal-hal yang tidak baik tetapi itu adalah amanah bagi para keturunan cucu Rasul s.a.w untuk menjaga agama Kakeknya sekaligus berteladan, mengikuti ahklak Nabi saaw, juga untuk dilestarikan agar lahir dari anak-anak cucu beliau bibit unggul yang mudah memahami dan menjaga agama Islam. Sesuai Hadis Rasulullah s.a.w:&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;1. Diriwayatkan oleh Muslim dan tirmidzi bahwasanya Rasul s.a.w telah bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku meninggalkan bagi kamu dua buah benda peninggalan yang berat kadarnya, pada lain riwayat, sesungguhnya aku meninggalkan bagi kamu dua peninggalan yang jika kamu berpegang padanya tidak akan kamu sesat sepeninggalku. Salah satunya lebih besar dari yang kedua, yaitu kitab Allah azza wajalla seumpama tali penghubung yang kokoh terentang dari langit sampai kebumi dan keluargaku ahlil baiku, keduanya tidak akan terpisah satu dengan yang lain hingga bertemu denganku diakhirat ditelaga Haudh/kautsar maka perhatikanlah kamu bagaimana kamu sepeninggalku memperlakukan keduanya".&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Ada satu hal yang menarik yang dapat kita simpulkan makna manfaat keberadaan anak cucu Rasul s.a.w bahwa salah satu manfaat anak cucu beliau saaw yaitu merekalah merupakan bukti otentik bagi seluruh manusia yang memiliki berbeda agama maupun yang tidak mengenal Tuhan bahwa dahulu ada seorang Rasul saaw yang membawa dienul Islam, diutus oleh Allah SWT. Sudah menjadi ilmu Allah s.w.t yang tidak diketahui manusia mengapa Nabi isa lahir tanpa ayah? tapi kita dapat mengambil hikmah yang besar dari hal ini, Allah s.w.t lakukan itu tidak lain kecuali untuk menguji tauhid kaum saat itu, menunjukan kebesaran Allah s.w.t bahwa bukan hanya didasari oleh logika semata atau sunnatullaH saja dipakai dalam memahami sesuatu (zaman Nabi Isa telah berkembang ilmu yang mengacu tentang logika terutama ilmu kedokteran itu sendiri, oleh karena itu Nabi Isa diberi berbagai mu'zizat tentang masalah kedokteran baik masalah pengobatan penyakit maupun menghidupkan orang mati). Mengapa Rasul s.a.w ditakdirkan memiliki keturunan dari Fatimah bukan anak laki-laki? Coba bayangkan sedangkan hanya lewat Fatimah, anak cucu Rasulullah saaw mengekspresikan gen Rasul s.a.w sangat baik menjadi alim, faqih ulama maupun waliullah baik dari Hasani maupun Husaini terutama bani Alawiyyin, (genetika salah satu faktor selain pendidikan dan pembinaan dari ilmu Agama, keluarga yang sholeh dan lingkungan yang baik). bagaimanakah lagi jika Allah s.w.t menjadikan anak cucu Rasulullah dari anak laki-laki dikhawatirkan banyak umat islam yang sesat kemudian hari, ditakutkan mereka menganggap ada Nabi sesudah Rasulullah s.a.w karena ekspresi genetika mulia berupa cahaya sangat dahsyat, jika kalau Allah s.w.t dahulu menghendaki ada Nabi sesudah Rasulullah saaw niscaya anak laki-laki Rasul s.a.w yang menjadi Nabi ada hadisnya (Nabi melihat Ibrahim yang telah sakratul maut berkata "Allah s.w.t tidaklah memanggilmu melainkan karena tidak ada Nabi sesudahku jika ada maka engkaulah Nabi berikutnya) Ketentuan Allah s.w.t telah berlaku sesuai kehendaknya tidak ada Rasul sesudah Nabi saaw, tidak ada ekspresi genetika atau cahaya sebaik cahaya Rasul s.a.w. Para Nabi bani Israil terputus kenabian oleh Allah s.w.t karena Nabi Isa as diangkat ke sorga hingga tidak ada lagi ekspresi genetika yang mulia dapat menjalankan tugas keRasulan. bukankah para nabi itu diwarisi secara genetika dari aba ke anaknya dari anak ibrahim ke ishak ke yakub terus hingga kenabi lain kecuali Nabi isa as. Nabi isa pun memiliki ekspresi gen dari ibunya dari keluarganya imran ahli ibadah. maka seminimal mungkin Rasul s.a.w menikahkan Imam Ali kw dengan Fatimah melainkan mengharapkan ekspresi gen mulia dari anak cucunya hingga mampu menjaga dan mengamalkan Al-Qur'an serta menunjuki kaum muslimin lain. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Itulah makna segi kedokteran. Hadis Rasul s.a.w sahih muslim "jagalah Al-Qur'an dan itrah Ahlul bayt hingga mereka kembali ketelaga haudh dihari akhirat". Bisa ditarik hipotesa dari hadis itu segi kedokteran yaitu jagalah kelestarian anak-cucuku, jagalah genetikaku yang kuturunkan pada anak cucuku hingga akhir zaman. Anak cucu Rasul s.a.w walau pun tidak sama segi genetika dengan Rasul s.a.w, minimal mengekspresikan genetika baik Rasul s.a.w dalam menjaga Al-Qur'an (Imamul Ahlul bayt min si'yah wal Alawiyyin). Ketentuan non alamiah hanya berlaku bagi Maryam yang melahirkan Nabi isa as dan Fatimah azzahra sedangkan anak cucu beliau ra para syarifah tidak demikian anak-anak mereka mengikuti suaminya dalam penasaban. Bagi wanita selain mereka (Sitti Maryam dan Fatimah Azzahra) berlaku ketentuan alamiah, coba renungkan biji jeruk Cina jika ditanam di Bali atau di samping rumahmu akan tumbuh jeruk Cina bukan jeruk Bali atau jeruk lain. sedangkan jeruk bali walaupun ditanam di Cina ataupun di Eropa tidak akan berubah tetap menjadi jeruk Bali, Itulah perumpamaan ekspresi genetika dalam Al-Qur'an. Allah s.w.t memperumpamakan wanita adalah ladang sedang pria yang bercocok tanam, jika sayyid menikah non syarifah maka anaknya sayyid karena mempunyai gen xy dan gen y nya (gen holandrik) yang berekspresi pada anaknya. Jika sayrifah; gen xx menikah non sayyid maka anak-anaknya membawa keturunan dari gen y non sayyid hing ga nasab kemuliaan yang diberikan Allah s.w.t terputus. "Katakanlah :"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuaali kasih saying kepada Al-Qubra" (Ahlul Bayt)(QS 42:23). Hadis ayat ini, Ketika ayat Al-mawaddah (QS 42:23) turun, para sahabat Nabi bertanya: Wahai Rasul, siapakah keluargamu yang wajib atas kita untuk mencintainya? Nabi menjawab: Ali, Fatimah daan kedua puteranya (Hadis Riwayat oleh Ahmad Al-Thabarany, Al-Hakim, Ibnu Hatim, Ibnu Murwadawih, Ibnu Al-Mundzir dan AT-Thabary). Sungguh mengherankan dan menggelikan umat pada zaman sekarang, Pemerintah saat ini melakukan penelitian rekayasa genetika terhadap bidang perternakan, pertanian, perkebunan secara umum. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Di bidang perternakan mereka kini lagi melakukan persilangan antara sapi bali dengan sapi Brahman, diharapkan lahir sapi-sapi dengan kualitas yang baik, memiliki susu yang bermutu tinggi dan tenaga kerja yang baik. Dibidang pertanian terutama padi, pemerintah melakukan peneliatn terhadap persilangan padi lokal dan padi hybrid agar produktifitas tinggi, umur pendek dan tahan terhadap hama penyakit. mereka dengan teknologi mutakhir berusaha mencari bibit unggul. Kebanyakan umat islam sungguh memalukan dihadapan Allah s.w.t dan Rasul s.a.w mengapa memalukan?karena Allah s.w.t telah menganugerahkan secara langsung manusia-manusia unggul yaitu anak cucu rasul s.a.w untuk menjaga agama islam, bukannya kebanyakan umat islam mensyukuri keberadaan anak cucu rasul s.a.w malah mereka memutuskan jalur genetika lewat pernikahan sayyid dan non syarifah maupun sebaliknya. Seakan-akan martabat Rasul s.a.w dan anak cucu beliau s.a.w lebih rendah dan tidak bermanfaat dibanding bibit-bibit unggul dari perternakan dan pertanian. Mereka biarkan kepunahan anak cucu Rasul s.a.w oleh akibat ulah pernikahan tidak sekaffah disisi lain mereka berbangga dengan produk pertanian dan perternakan bibit unggul. Padahal telah diriwayatkan berbagai hadis masyhur bahwa keberadaan ithrah rasul s.a.w itu tidak lain bukan menguntungkan rasul s.a.w dan anak cucu beliau tapi keuntungan umat islam. Dimana anak cucu rasul s.a.w itu diberi beban yang berat untuk menjaga agama Islam dan kaum muslimin secara keseluruhan. Salah satu kewajiban para muslim untuk mencintai para kaum Ahlul bayt bukanlah menikahi para syarifah karena dengan menikahi mereka berarti memutuskan hubungan genetika antara Anak cucu syarifah dengan Rasul saaw. Berdosanya syarifah dalam menikah dengan non sayyid bukan segi pernikahan karena jika rukun nikah terlaksana maka nikah tetap syah tapi segi menolak karunia Allah s.w.t berupa kemuliaan yang diberikan Allah s.w.t berupa gen yang mulia dan mudah menyerap agama Islam. Allah s.w.t menakdirkan sebagai seorang yang memiliki gen sama dengan Rasul s.a.w, darah yang mengalir sama juga apakah orang tersebut mensyukurinya dengan menjaga gen (menikahi sayyid agar genetika Rasul s.a.w tidak terputus) atau menolak rahmat karunia Allah s.w.t yaitu menghilangkan gen Rasul s.a.w (menikahi non sayyid). &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Jadi menikahi non sayyid sama halnya (Karena Gen penentu nasab sekaligus lebih dominant mewarisi perilaku dan tabiat adalah Gen Holandrik yang hanya dimiliki oleh pria) menolak mendapat anak-anak dan cucu keturunan yang mulia. Hal ini dibolehkan jika darurah dan timbul fitnah, namun apakah hanya mementingkan nafsu syahwat terhadap non sayyid maka kita seenaknya membuat keadaan darurah hingga dapat menikahinya dengan berdua-duaan, pacaran dan aktivitas yang dimurkai Allah s.w.t, tidak alfaqir yakin kaum syarifah jauh dari hal itu karena masih mencintai dan memelihara keturunan Rasul s.a.w. Jika membaca sejarah dari yang lampau hingga saat ini maka kemuliaan Rasulullah saaw lebih banyak pada cucu Rasul s.a.w khusus bani alawiyyin mengapa demikian? karena nenek moyang kita Imam Ahmad bin Isa Almuhajir sangat hati-hati dalam hal kaffaah beliau mengadakan pernikahan anaknya dan anak cucu keturunan antara keluarga besar Rasul s.a.w tidak menikahk ananaknya terutama syarifah dengan non sayyid lihatlah Imam Muhammad faqih muqaddam rhm, Imam Abdurahman assegaf faqih asstani rhm, Imam Ahmad asyahid rhm, Imam Umar almuhdar rhm, Imam Abubakar assakran rhm, Imam Abubakar Alaydrus rhm, Imam Abdurahman alattas rhm sesepuh dan imam kita semua itu merupakan ekspresi gen Rasul s.a.w yang terpatri dalam jiwa mereka. Hingga sekarang kaum sayyid Bani Alawiy masih tetap memiliki sifat rendah hati dan tidak menyukai popularitas. Sebagaimana kita saksikan, dan disaksikan juga oleh semua orang yang mengenal mereka dibelahan bumi barat dan timur,mereka masih tetap menegakkan dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh para sesepuh mereka masih terdapat wilayah kubra (unsur kewalian besar) dan rahasia peninggalan (waratsah) Rasulullah saw. Hal ini dinyatakan oleh Imam Al-Haddad pada saat beliau berkata,"Zaman tidak akan kosong dari orang-orang utama (afdhail) Al Ba Alawiy hingga saat keluarnya Al-Mahdiy."Dikatakan juga bahwa beliau mengharap yang menjadi Al-Mahdiy yang dinanti-nantikan itu seorang dari mereka(hal 58 pembaru abad 17 Al Imam Habib Abdullah Al Haddad oleh m h alhamid alhusainiy) berbeda dengan keturunan Rasul s.a.w yang berada selain alawiyyin (tidak semua juga demikian) mereka menikahkan anak-anak mereka dengan yang lain hingga ekspresi gen lambat laun hilang lihatlah kaum keturunan anak cucu rasul s.a.w yang berada diIran mereka mendapati imam-imam mereka sangat sedikit Imam Ali Ar Ridha, Muhammad Al Jawad, Imam Ali Hadi, dan Hasan Al-askari karena ekspresi gen Rasulullah s.a.w pun sedikit banyak tercampur kaum disana hingga kemulian yang seharusnya muncul dihati mereka hilang seiring terputusnya eskpresi gen Rasul s.a.w (karena menurut faham manhaj mereka sendiri manhaj Imamiyah Imam Muhammad Almahdi gaib kubra, hingga terputus nasab beliau). Begitulah yang terjadi dewasa ini dimana ada kaum yang membolehkan pernikahan antara kaum syarifah dan non sayyid akan mendapati sedikitnya para alim Ulama sebaliknya. Itulah hikmah yang besar, jadi syarifah dengan menikah dengan sayyid maka ia secara tidak langsung menolong kelestarian gen Rasul s.a.w yang jika ditempa dengan ilmu agama dan amalan sholehah sangat mungkin anak cucu para syarifah menjadi waliullah yang besar. &lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Memang banyak diluar cucu Rasul s.a.w alim ulama tapi mereka sangat sedikit dan itupun karena mereka belajar pada nenek moyang kita Para Leluhur Ahlul Bayt (pusat Ilmu masa sebelum keempat Imam Ahlu Sunnah yaitu Imam Ja'far Asshadiq). Hadis Rasul yang masyhur, Rasul bersabda: Aku kota Ilmu dan Ali pintunya barang siapa ingin memasuki kota ilmu maka ia harus melewati pintunya"(Al Hadis) . Semua pelarangan ada hikmah dan berita yang dahsyat jangan kaum syarifah merasa dilarang ini itu karena mereka menyiksa dan membebani kaum syarifah dengan larangan. Bahkan kecintaan dan rasa sayang yang mendalam pada syarifah mendorong mereka melarang menikahi non sayyid, apakah syarifah tidak merasa bahwa lahirnya bayi yang membawa gen Rasul s.a.w dirahim syarifah itu suatu kemuliaan dan rahmat Allah s.w.t?, mereka yang melarang syarifah karena sayang dan memuliakan syarifah agar dapat mendapat kemuliaan dan kebahagiaan dari nabi saaw dengan melahirkan anak cucu Rasul s.a.w dari rahim suci syarifah. Adapun mereka yang mendorong dan memperbolehkan kaum syarifah menikah tidak lain karena mereka tidak tahu manfaat dari kelestarian anak cucu Rasul s.a.w atau mereka iri dan ingin menghilangkan kemuliaan yang Allah s.w.t berikan padamu dengan memutuskan genetika kamu dengan anakmu dari genetika cahaya Rasul s.a.w. Ibarat dokter yang ingin pasien sembuh diberikan obat pahit, pasien tidak tahu khasiat obat dia menghindari obat karena rasa pahit,dia tidak menyadari khasiatnya. Jadi walau syarifah merasa dengan membatasi kaum syarifah dalam pernikahan hanya dengan sayyid adalah kepahitan, beban, menindas hak wanita dalam menikah maka. lihat makna dan khasiatnya insya Allah s.w.t syarifah faham dan tulus ikhlas menerima Kemuliaan dari Allah s.w.t Adapun masa lampau mengenai banyak syarifah yang nikah dengan non sayyid, kita tidak boleh mengambil kesimpulan seketika terhadap hal-hal yang telah lampau ada baiknya kita berbaik sangka pada umat lampau mungkin mereka tidak tahu manfaat dari kelestarian gen Rasulullah saaw, atau darurah karena tidak ada sayyid disisi mereka. Masalah perawan tua itu yang sebagaian orang ceritakan, jangan risaukan masalah pernikahan harus ada yang syarat, rukun dan kaffaah dan jika mereka menahan diri untuk tidak menikah dikarenakan mereka ingin mendapatkan kemuliaan dengan melahirkan dari rahim mereka anak cucu Rasul saaw selain itu bukankah pernikahan wadah mencari keturunan yang sholeh?dan mereka berbuat demikian karena mereka menjaga kemuliaan nasab Rasul s.a.w, mereka tidak berdosa banyak, perawan tua solehah tidak menikah karena cintanya pada Allah s.w.t, ditakutkan mereka nikah dengan non sayyid yang kemungkinan mudharatnya lebih banyak misal tidak tahu asal usul genetikanya dan di takutkan memutuskan ekspresi gen Rasul s.a.w ekspresi yang baik dapat menjadikan anak-anak itu lebih baik dalam memahami agama, menerima dengan mudah di banding ekspresi gen lain. Berbaik sangkalah pada mereka (kaum syarifah yang tidak menikah sampai akhir hayatnya) karena di situlah terletak sirr.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Alfakir telah ketahui bahwa ikhtilaf akan tetap ada hingga akhir zaman bukan hanya segi kaffah tetapi juga segi syari'i yang lain seperti yang terjadi pada ilmu furu Aqidah, Ilmu furu Fikih, Hukum dll, dan hal ini bukan terjadi saat sekarang tapi dahulu. Cukup ilmu dari Allah s.w.t yg diiringi berbaik sangka pada Imam-Imam terdahulu dalam menyikapi perbedaan mengenai hal ini, yang paling bijak dan baik jika kita saling menghargai, menghormai dan mengambil pendapat yg rojih (kuat), bermanfaat dan jauh dari kemudharatan atau minimal sedikit dari perbedaan pendapat yang terjadi pada Kalangan Ulama. Dalam menyikapi sesuatu hal kita kaum khalaf perlu banyak baca dan membaca termasuk diri alfaqir sendiri, mengenai buku-buku peninggalan para salaf, kita sendiri kurang adil dan baik jika mengambil kesimpulan atau memutuskan suatu hal hanya dari segi satu atau beberapa buku saja dengan terlalu cepat. Masih banyak kaidah-kaidah yang perlu kita perhatikan masih banyak buku-buku lain yang perlu dipertimbangkan dan alangkah baik kita bersangka baik terhadap Imam-Imam yang berikhtilaf seraya mengembalikan pada Allah s.w.t dan Rasul saaw. Kitapun harus melihat bahwa kadar ilmu pada seseorang yang Allah s.w.t berikan masing-masing ditentukan disisi Allah s.w.t baik para Imam-Imam, penulis atau lain. kitapun masih harus melihat kondisi, situasi, keadaan yang mendorong mereka para Imam mengeluarkan fatwa yang berbeda seperti halnya pada pertengahan buku derita-derita putri Nabi karya M Hasyim Assegaf. Beliau sendiri merinci dan merangkum dipertengahan buku tentang pandangan pendapat dari berbagai mazhab baik imam Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali maupun mazhab imamiyah dan zaidiyah. sebagian besar mengeluarkan fatwa untuk melarang hanya dua mazhab imam yang membolehkan Mazhab Imam maliki dan Mazhab imamiyah.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Kita berbaik sangka pada Imam-Imam mungkin saja bagi yang mengeluarkan fatwa melarang mereka sangat menghormati dan memelihara nasab nabi serta melestarikannya dan mereka Imam rahimullah itu mengetahui manfaat yg begitu besar dalam hal yaitu bukti otentik agama islam, Rasul saaw yaitu nabi Muhammad bin Abdullah saaw adalah AlQuran dan sunnah serta bukti kuat yang hidup berbicara dan yang paling pantas meneladani nabi keturunan ahlul bayt itu sendiri. Karena selain alquran dan sunnah bukti yang cukup untuk membantah kaum ingkar tentang agama islam adalah adanya keturunan Rasul saaw itu sendiri dimuka bumi. selain itu mereka melihat Rasul saaw berpesan mengenai ahlul bayt dengan keturunannya pada kaum muslim dalam hadis tsaqalain, hadis safiqah nuh yg sahih bahwa kaum muslim menjaga Alquran dan Ahlul bayt keduanya tidak terpisah hingga ditelaga haud kelak. Alquran berarti mengamalkan isinya dan ikuti sunnah Rasul saaw sedang bagaimana dengan Ahlul bayt? Alquran sendiri terdapat surah assyura 23 (42:23) bahwa Allah s.w.t berfiman pada Nabi Muhammad agar berseru pada kaum muslimin bahwa beliau tidak meminta upah atas seruan dakwah kecuali kasih sayang dan kecintaanpada keluarga beliau (alqubra). Kita penuhi hak keturunan ahlul bayt khususnya Ahlul Bayt Al-Kissa anak cucu Rasul saaw sepeninggal Rasul saaw dengan mengikuti tariqah mereka karena merekalah yg paling tahu nabi sendiri dibanding yang lain. sebagaimana antum lebih dikenal oleh saudara antum atau anak-anak antum atau keluarga antum dibanding teman antum sekeliling bukankah begitu? Kita juga memelihara dan menghormati janji Allah s.w.t pada Nabi pada surah Alkautsar, mungkin kita semua telah ketahu semua, sebagian ulama meriwayatkan asbabul nuzul alkautsar bahwa banyak tokoh quarys mencemohkan dan menertawakan Nabi karena ketika itu anak laki nabi meninggal, dan menganggap nabi tidak punya keturunan, hingga turun surah itu artinya ayat terakhir mengatakan "bukan engkau tapi melainkan mereka yang terputus". bagaimana mungkin telah Allah s.w.t menjanjikan Rasul saaw dengan keturunan, sedang kaum muslim tega dan berani menyalahi janji itu dengan mencoba memutuskan keturunan Nabi dengan menikahkan syarifah dengan non sayyid (padahal pernikahan sayyid-syarifah membawa manfaat segi genetika dan kedokteran). Jangankan segi syari'i segi ahklak dan etika saja sangat tidak baik kita lakukan itu pada Rasul saaw, lihatlah pembahasan Habib Isa Firdaus tentang Ahklak dn etika Imam Syafi'I terhadap anak-cucu Rasul saaw yang menolak keinginan seorang syarifah menikah dengannya.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Kemudian pasti ada sebagian yang bertanya tentang Imam-Imam termasuk penulis (Derita putri Nabi) sendiri yang membolehkan pernikahan antara syarifah dan non sayyid. kita berbaik sangka pada mereka dan itu sebaik-baik kita menghormati yang lain mereka menfatwakan demikian karena takut timbul mudharat dari pernikahan itu mereka takut timbul status sosial dimasyarakat secara duniwai, yang menyebabkan sebagian kaum keturunan Rasul saaw membanggakan diri, menonjolkan diri bahkan melecehkan kaum muslim lain dan tidak mengikuti tariqah para sesepuhnya yang bersambung pada Rasul saaw dari generasi ke generasi hingga membolehkan. Penulis (Derita putri Nabi) pun mungkin berpikiran demikian karena kenyataan yang mungkin dihadapi atau lihat bahwa banyak para sadaah mulai menyimpang dan secara ekstrem mempertahankan hukum kaffaah sampai tidak melihat situasi dan kondisi tertentu atau hal darurah yg diperbolehkan. Bagaimana ketidakadilan yang sangat banyak terutama pada para sayyid yg boleh menikah non-itrah ahlul bayt sedangkan syarifah dilarang keras.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Alangkah baiknya para syarifah menghindari hal-hal yang menimbulkan fitnah, dan masaalah ini diserahkan pada para Habib-habib, wali dan alim ulama yang mengerti betul tentang ini. Adapun para sayyid termasuk memiliki tanggung jawab terhadap kafa'ah bagi seorang syarifah, menjaga dan membantu para syarifah agar tetap dapat menjalin nasab dengan Rasul s.a.w. Jangan sampai kaum syarifah terseret pada faham-faham yang membingungkan sehingga menyebabkan keluar dari manhaj dan tariqah kaum alawiyyn namun kita juga tetap berbaik sangka pada orang-orang yang kurang mengerti masalah kaffah ini. Barangkali hanya itulah yang alfaqir sampaikan mungkin ada manfaatnya keterangan ini cukup diyakini dihati tidak perlu memperdebatkan lagi karena orang-orang yang suka berbantah-bantahan akan keras hatinya. maqam kaum wahai para syarifah saat ini untuk kamu syukuri pada Allah s.w.t berteladanlah pada leluhur kita, shalaful sholeh dari anak cucu Rasul s.a.w yang terdahulu,karena terbukti para imam-imam kita selalu bertemu dengan Rasul s.a.w baik dimimpi maupun secara sadar. Misalnya Imam Muhammad faqih muqaddam, Imam Alwi Algayyur, Imam Abdurahman Assegaf, Imam Ahmad as-syahid, Kita berbaik sangka pada Imam-Imam mungkin saja bagi yang mengeluarkan fatwa melarang mereka sangat menghormati dan memelihara nasab nabi serta melestarikannya dan mereka Imam rahimullah itu mengetahui manfaat yg begitu besar dalam hal yaitu bukti otentik agama islam, Rasul saaw yaitu nabi Muhammad bin Abdullah saaw adalah AlQuran dan sunnah serta bukti kuat yang hidup berbicara dan yang paling pantas meneladani nabi keturunan ahlul bayt itu sendiri. Karena selain alquran dan sunnah bukti yang cukup untuk membantah kaum ingkar tentang agama islam adalah adanya keturunan Rasul saaw itu sendiri dimuka bumi. selain itu mereka melihat Rasul saaw berpesan mengenai ahlul bayt dengan keturunannya pada kaum muslim dalam hadis tsaqalain, hadis safiqah nuh yg sahih bahwa kaum muslim menjaga Alquran dan Ahlul bayt keduanya tidak terpisah hingga ditelaga haud kelak. Alquran berarti mengamalkan isinya dan ikuti sunnah Rasul saaw sedang bagaimana dengan Ahlul bayt? Alquran sendiri terdapat surah assyura 23 (42:23) bahwa Allah s.w.t berfiman pada Nabi Muhammad agar berseru pada kaum muslimin bahwa beliau tidak meminta upah atas seruan dakwah kecuali kasih sayang dan kecintaanpada keluarga beliau (alqubra). Kita penuhi hak keturunan ahlul bayt khususnya Ahlul Bayt Al-Kissa anak cucu Rasul saaw sepeninggal Rasul saaw dengan mengikuti tariqah mereka karena merekalah yg paling tahu nabi sendiri dibanding yang lain. sebagaimana antum lebih dikenal oleh saudara antum atau anak-anak antum atau keluarga antum dibanding teman antum sekeliling bukankah begitu? Kita juga memelihara dan menghormati janji Allah s.w.t pada Nabi pada surah Alkautsar, mungkin kita semua telah ketahu semua, sebagian ulama meriwayatkan asbabul nuzul alkautsar bahwa banyak tokoh quarys mencemohkan dan menertawakan Nabi karena ketika itu anak laki nabi meninggal, dan menganggap nabi tidak punya keturunan, hingga turun surah itu artinya ayat terakhir mengatakan "bukan engkau tapi melainkan mereka yang terputus". bagaimana mungkin telah Allah s.w.t menjanjikan Rasul s.a.w dengan keturunan, sedang kaum muslim tega dan berani menyalahi janji itu dengan mencoba memutuskan keturunan Nabi dengan menikahkan syarifah dengan non sayyid (padahal pernikahan sayyid-syarifah membawa manfaat segi genetika dan kedokteran). Jangankan segi syari'i segi ahklak dan etika saja sangat tidak baik kita lakukan itu pada Rasul saaw, lihatlah pembahasan Habib Isa Firdaus tentang Ahklak dn etika Imam Syafi'i terhadap anak-cucu Rasul saaw yang menolak keinginan seorang syarifah menikah dengannya.&lt;/p&gt;                   &lt;p&gt;Kemudian ada pula sebagian yang bertanya tentang Imam-Imam termasuk penulis buku Derita putri Nabi sendiri mengapa mereka membolehkan pernikahan antara syarifah dan non sayyid. kita berbaik sangka pada mereka dan itu sebaik-baik kita menghormati yang ulama lain, mereka menfatwakan demikian karena takut timbul mudharat dari pernikahan itu mereka takut timbul status sosial dimasyarakat secara duniwai, yang menyebabkan sebagian kaum keturunan Rasul saaw membanggakan diri, menonjolkan diri bahkan melecehkan kaum muslim lain dan tidak mengikuti tariqah para sesepuhnya yang bersambung pada Rasul saaw dari generasi ke generasi hingga membolehkan. Penulis (Derita putri Nabi) pun mungkin berpikiran demikian karena kenyataan yang mungkin dihadapi atau lihat bahwa banyak para sadaah mulai menyimpang dan secara ekstrem mempertahankan hukum kaffaah sampai tidak melihat situasi dan kondisi tertentu atau hal darurah yang diperbolehkan. Bagaimana ketidakadilan yang sangat banyak terutama pada para sayyid yang boleh menikah non-itrah ahlul bayt sedangkan syarifah dilarang keras. Imam Abubakar assakran, Imam Abdullah Alaydrus dan anaknya. Mereka selalu berjumpa dengan Rasul s.a.w dan sangat dekat dengan beliau dimasanya dibandingkan ulama-ulama saat itu pula dan jika kalau pernikahan sayyid dan syarifah adalah bi'dah dhalalah, tidak syari'i dan bermanfaat niscaya Rasul s.a.w datang pada mereka dan menegur mereka ataupun menegur Imam sesudah mereka seperti Habib Addullah Alhaddad, Habib Ali Muhammad Alhabsy dll. Berpegang teguhlah pada Al Qur'an, Sunnah Nabi saaw dan Imamul Ahlul bayt shalaf wal khalaf min hadramy. Akhir dari pembahasan ini maka diharapkan para cucu Rasul s.a.w mengikuti langkah rasul s.a.w dalam menjaga keturunan beliau s.a.w,. masalah pernikahan anak cucu beliau s.a.w. Bersyukur namun tawadhu serta rendah hati ketika mengetahui kemuliaan yang diberikan Allah pada kita tanpa diminta dengan jalan mengikuti Tariqah leluhur kita para Imam dan Auliyah dalam meneladani Nabi. Genetika yang suci dan baik didalam darah anak cucu Rasul s.a.w harus dijaga dengan mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi larangan-NYA, karena kita ketahui perubahan struktur genetika yang telah ada bisa terjadi dengan paparan lingkungan yang hebat dan intensitas tinggi dan lama melalui panca Indra dan terekam dalam Otak tercatat dihati kita. Jika kita selalu melakukan hal-hal yang baik akan dan menjauhi hal yang buruk maka genetika kita terjaga sebaliknya jika kita bermaksiat makan dan minum yang haram, melakukan perilaku yang tidak baik seperti berjudi, berzina maka panca indera akan merekam kedalam otak selanjutnya mempengaruhi struktur kromosom, DNA dan Genetika kita kearah yang lebih buruk. Pengaruh makanan dan minuman yang haram lagi buruk merusak komposisi struktur asam amino, protein yang terkecil yang tersimpan dalam lokus-lokus Gen dan DNA, hingga dikemudiaan hari genetika lewat sel-sel mempengaruhi komposisi metabolisme tubuh kita untuk lebih ringan berbuat maksuiat dan berat untuk taat pada Allah. Sudah seharusnya kita lebih bersungguh-sungguh dan berusaha keras mendekatkan diri pada Allah sebagaimana yang Rasul s.a.w lakukan karena mendapat kemuliaan dari Allah bukannya malah menyombongkan dan berbangga diri serta merendahkan mahkluk Allah yang lain. Wabillahi taufik wal hidayah. Wassalamualaikum wr wb. Wallah Ua'lam bi shawab&lt
